Rufaidah Al-Aslamiyah: Perawat Perempuan Pertama dalam Sejarah Islam

saiidusshiddiqiyah.ac.id — Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab pada umumnya belum memberikan ruang yang besar bagi perempuan untuk berperan aktif di luar rumah. Tradisi penguburan bayi perempuan hidup-hidup (wa’d al-banat) menjadi salah satu simbol kuat ketimpangan terhadap perempuan pada masa jahiliah. Perempuan kerap dianggap sebagai beban keluarga dan tidak memiliki kedudukan sosial yang setara dengan laki-laki.

Selain itu, perempuan juga tidak memperoleh hak waris serta sering kali diperlakukan secara tidak adil dalam kehidupan sosial. Dalam praktiknya, laki-laki dapat menikahi banyak perempuan tanpa mempertimbangkan keadilan dan kesejahteraan mereka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perempuan pada masa itu belum dipandang sebagai individu yang memiliki hak dan potensi.

Kehadiran Islam membawa perubahan besar terhadap kondisi tersebut. Rasulullah SAW mengangkat martabat perempuan dengan memberikan hak-hak yang sebelumnya tidak dimiliki, seperti hak memperoleh pendidikan, hak memiliki harta, hak waris, serta hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Sejak masa Rasulullah SAW, banyak perempuan tampil sebagai tokoh penting dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, dakwah, ekonomi, hingga kesehatan.

Dalam dunia kesehatan, masyarakat modern lebih banyak mengenal nama Florence Nightingale sebagai tokoh pelopor keperawatan modern. Namun, jauh sebelum itu, dunia Islam telah mengenal sosok perempuan bernama Rufaidah al-Aslamiyah yang dikenal sebagai pelopor perawat perempuan dalam sejarah Islam. Ia bukan hanya seorang perawat, tetapi juga pendidik, pemimpin, dan pejuang kemanusiaan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pelayanan kesehatan pada masa Rasulullah SAW.

Biografi Rufaidah Al-Aslamiyah

Rufaidah Al-Aslamiyah lahir di Yatsrib, yang kini dikenal sebagai Madinah, sekitar tahun 597 M. Ia berasal dari suku Khazraj dan termasuk golongan Anshar. Rufaidah hidup pada masa jahiliah sekaligus masa Islam sehingga dikenal sebagai perempuan mukhadram, yaitu seseorang yang mengalami dua periode tersebut.

Rufaidah berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang ilmu pengobatan. Ayahnya, Sa’ad Al-Aslami, dikenal sebagai tabib yang dihormati masyarakat Madinah. Sejak usia muda, Rufaidah telah menunjukkan ketertarikan besar terhadap dunia medis. Ia sering mendampingi ayahnya merawat pasien serta mempelajari teknik pengobatan, mengenali gejala penyakit, dan menggunakan ramuan herbal untuk penyembuhan.

Pengalaman tersebut tidak hanya membentuk kemampuan medis Rufaidah, tetapi juga menanamkan nilai empati, kesabaran, dan keikhlasan dalam membantu orang lain. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi dasar pengabdiannya dalam dunia kesehatan setelah memeluk Islam.

Rufaidah dan Perkembangan Islam di Madinah

Islam mulai berkembang di Madinah setelah Rasulullah SAW hijrah dari Makkah pada tahun 622 M. Menurut Ahmad Syauqi Al-Fanjari, Rufaidah telah mengetahui kabar tentang Rasulullah SAW dan ajaran Islam sebelum akhirnya berbaiat kepada beliau setelah hijrah ke Madinah. Ia termasuk perempuan yang awal menerima Islam di kota tersebut.

Setelah memeluk Islam, Rufaidah mulai menyesuaikan metode pengobatan yang sebelumnya ia pelajari dengan nilai-nilai Islam. Ia memperhatikan kebersihan tempat pengobatan agar lebih higienis dan nyaman bagi pasien. Selain itu, praktik-praktik yang berhubungan dengan jampi dan jimat mulai ditinggalkan, kemudian diganti dengan doa-doa yang diajarkan dalam Islam.

Rufaidah juga dikenal aktif melatih perempuan Muslim dalam bidang keperawatan dan pelayanan kesehatan. Atas izin Rasulullah SAW, ia membimbing para perempuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan perawatan medis. Kelompok perawat perempuan tersebut dikenal dengan istilah Al-Asiyah.

Dalam perkembangannya, Rufaidah turut memperkenalkan nilai-nilai etika dalam pelayanan kesehatan, terutama dalam menangani korban perang. Karena kontribusinya yang besar, banyak sejarawan Muslim menyebut Rufaidah sebagai pelopor keperawatan dalam sejarah Islam.

Kontribusi Rufaidah pada Masa Peperangan

Peran Rufaidah semakin terlihat ketika terjadi berbagai peperangan pada masa Rasulullah SAW, seperti Perang Uhud dan Perang Khandaq. Bersama kelompok Al-Asiyah, Rufaidah meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk ikut membantu pasukan Muslim yang terluka. Rasulullah SAW mengizinkan mereka untuk memberikan bantuan medis di medan perang.

Dalam peperangan, Rufaidah bertugas di bagian belakang pasukan untuk merawat tentara yang terluka, menyediakan makanan dan minuman, serta membantu proses pemulihan para korban perang. Ia juga mendirikan tenda perawatan yang berfungsi sebagai tempat pengobatan darurat bagi para sahabat yang terluka.

Tenda perawatan tersebut kemudian dikenal sebagai Khaimah Rufaidah atau Tenda Rufaidah. Banyak sejarawan menyebut tenda tersebut sebagai salah satu bentuk awal pelayanan kesehatan lapangan dalam sejarah Islam. Rasulullah SAW bahkan pernah memerintahkan para sahabat yang terluka untuk dirawat di tenda Rufaidah.

Salah satu kisah yang terkenal adalah ketika Sa’ad bin Mu’adz terluka dalam Perang Khandaq. Rasulullah SAW meminta para sahabat membawa Sa’ad ke tenda Rufaidah agar mendapatkan perawatan yang lebih baik. Rasulullah SAW juga beberapa kali menjenguk Sa’ad selama masa pengobatan tersebut. Kisah ini menunjukkan besarnya kepercayaan Rasulullah SAW terhadap kemampuan dan dedikasi Rufaidah dalam bidang kesehatan.

Warisan Rufaidah bagi Dunia Keperawatan

Di luar masa peperangan, Rufaidah tetap aktif membantu masyarakat melalui pelayanan kesehatan dan kegiatan sosial. Ia memberikan pertolongan kepada siapa saja tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi. Dedikasinya menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan yang harus diberikan kepada seluruh masyarakat.

Kontribusi Rufaidah dalam dunia keperawatan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pelayanan kesehatan dalam peradaban Islam. Ia memperkenalkan pentingnya kebersihan, keterampilan medis, kerja sama tim, serta pelayanan yang berlandaskan empati dan nilai kemanusiaan.

Meskipun konsep keperawatan modern berkembang pada masa yang berbeda, banyak nilai dasar yang diperjuangkan Rufaidah masih relevan hingga saat ini. Oleh karena itu, Rufaidah Al-Aslamiyah tidak hanya dikenal sebagai perawat perempuan pertama dalam sejarah Islam, tetapi juga sebagai simbol dedikasi perempuan dalam bidang kemanusiaan dan kesehatan.

Rufaidah Al-Aslamiyah merupakan salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah Islam yang memberikan kontribusi besar dalam bidang kesehatan dan pelayanan sosial. Di tengah kondisi masyarakat yang masih membatasi peran perempuan, Rufaidah mampu menunjukkan bahwa perempuan dapat berperan aktif dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat.

Melalui dedikasinya dalam merawat pasien, mendidik perempuan Muslim di bidang keperawatan, serta membantu korban perang, Rufaidah menjadi pelopor penting dalam perkembangan pelayanan kesehatan Islam. Keteladanannya menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan.

Hingga saat ini, nama Rufaidah Al-Aslamiyah tetap dikenang sebagai simbol kepedulian, pengabdian, dan semangat kemanusiaan dalam dunia keperawatan.

Referensi:

Al-Fanjari, Ahmad Syauqi. 2019. Rufaidah: Kisah Perawat Wanita Pertama dalam Sejarah Islam, Yogyakarta: Spektrum Nusantara.

Astutiningrum, Ririn. 2023. Meniti Berkah dalam Setiap Langkah. Jakarta: Alex Media Komputindo.

Ihsan, Muhammad, dkk. 2025. Rufaidah Binti Sa’ad: Sang Maestro Perawat Luka Pertama dalam Keperawatan Islam. Yogyakarta: Deepublish.

Saputra, Abdul Hamid. 2020. Rufaidah Al-Aslamiyah: Perawat Pertama di Dunia Islam. Bandung: Sintesia.

Zulfa, Nafilah. 2021. Women of Inspiration: Dari Pra-Islam Sampai Pulau Madura. Sumenep: Duta Media Publishing.

Al Hawari, Sarah Rifat, dkk. (2021). “Keterampilan Kepemimpinan Perempuan dalam Historis Islam.” Diversity: Jurnal Ilmiah Pascasarjana. Vol.1, No. 3.

M. Ishom El Saha. “Rufaidah Al-Anshariyah: Paramedis Pertama dalam Islam.https://kemenag.go.id/opini/rufaidah-al-anshariyah/ diakses pada 29 Mei 2026 pukul 14.00 WIB.

Kontributor: Sabela Anjani, Semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *