saiidusshiddiqiyah.ac.id — Di tengah dunia digital yang bergerak cepat, dakwah tidak lagi hadir hanya melalui mimbar masjid atau ruang-ruang pengajian. Hari ini, tulisan menjadi salah satu medium paling kuat dalam menyampaikan gagasan, membangun kesadaran, bahkan menggerakkan perubahan sosial. Jauh sebelum era internet lahir, Aisyah al-Ba’uniyah telah menunjukkan bagaimana pena dapat menjadi alat dakwah yang lembut, cerdas, dan menyentuh hati.
Di tengah budaya digital yang serba cepat, manusia sering kehilangan ruang untuk benar-benar mendengar suara hatinya sendiri. Informasi datang tanpa jeda, opini saling bertabrakan, dan manusia perlahan terbiasa berbicara tanpa sempat memahami. Dalam situasi seperti ini, pemikiran Aisyah al-Ba’uniyah terasa seperti oase yang menenangkan. Ia mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar tentang siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang mampu menghadirkan makna.
Aisyah al-Ba’uniyah merupakan seorang ulama perempuan, penyair, dan tokoh sufi asal Damaskus yang hidup pada abad ke-15. Dalam sejarah Islam, ia dikenal sebagai salah satu perempuan paling produktif dalam dunia literasi keislaman. Melalui karya-karyanya, Aisyah tidak hanya berbicara tentang agama sebagai aturan formal, tetapi juga tentang spiritualitas, cinta kepada Tuhan, dan pembentukan akhlak manusia.
Peneliti tasawuf Th. Emil Homerin menyebut Aisyah al-Ba’uniyah sebagai “one of the most prolific female authors in premodern Islamic history” (Homerin, 2018). Pernyataan ini menunjukkan bahwa kontribusi Aisyah dalam dunia intelektual Islam tidak dapat dipandang kecil. Ia hadir bukan sekadar sebagai penulis perempuan, melainkan sebagai pemikir yang membangun tradisi dakwah melalui sastra dan refleksi spiritual.
Lebih dari itu, Aisyah menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang penting dalam membangun tradisi keilmuan Islam. Ia hadir bukan sebagai pelengkap sejarah, tetapi sebagai tokoh intelektual yang berdiri dengan gagasan dan pengaruhnya sendiri. Keberaniannya menulis di tengah dominasi laki-laki pada masa itu menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan tidak seharusnya dibatasi oleh gender.
Dakwah Melalui Kata-Kata
Berbeda dengan pola dakwah yang keras dan konfrontatif, Aisyah memilih jalan yang lebih halus, yakni menyentuh manusia melalui bahasa. Dalam banyak puisinya, ia mengajak pembaca untuk mendekat kepada Allah melalui cinta, introspeksi diri, dan penyucian hati.
Bagi Aisyah, dakwah bukan sekadar menyampaikan hukum agama, tetapi juga menghadirkan ketenangan bagi jiwa manusia. Karena itu, tulisannya dipenuhi nuansa reflektif dan penuh makna. Ia percaya bahwa hati manusia lebih mudah disentuh dengan kelembutan daripada kemarahan.
Pemikiran ini terasa sangat relevan dengan kondisi masyarakat modern saat ini. Di media sosial, misalnya, perdebatan agama sering berubah menjadi ruang saling menyerang. Padahal, pesan spiritual seharusnya membawa kedamaian dan kebijaksanaan.
Dalam salah satu pembahasan tentang tasawuf, William C. Chittick menjelaskan bahwa inti spiritualitas Islam adalah proses penyucian diri dan penguatan hubungan manusia dengan Tuhan. Gagasan inilah yang tampak kuat dalam karya-karya Aisyah al-Ba’uniyah.
Aisyah memahami bahwa manusia tidak hanya membutuhkan nasihat, tetapi juga ketenangan jiwa. Karena itu, ia menyampaikan pesan agama melalui bahasa yang puitis, lembut, dan menyentuh emosi pembacanya. Baginya, jalan menuju Tuhan tidak dibangun dengan kebencian, tetapi dengan cinta dan kesadaran diri. Pendekatan inilah yang membuat dakwahnya tetap terasa hidup dan relevan hingga sekarang.
Perempuan yang Menembus Batas Zaman
Keistimewaan Aisyah al-Ba’uniyah tidak hanya terletak pada isi pemikirannya, tetapi juga keberaniannya hadir sebagai perempuan intelektual di tengah dominasi laki-laki dalam dunia keilmuan saat itu.
Ia mempelajari berbagai disiplin ilmu seperti hadis, fikih, tafsir, dan sastra Arab. Bahkan, karya-karyanya terus dipelajari hingga sekarang oleh akademisi di berbagai universitas dunia. Kehadirannya menjadi bukti bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam sejarah intelektual Islam.
Mirjam Künkler dalam penelitiannya tentang otoritas perempuan Muslim menyebut bahwa sejarah Islam sebenarnya menyimpan banyak tokoh perempuan ulama yang kontribusinya sering terlupakan dalam narasi modern (Künkler, 2021). Aisyah al-Ba’uniyah adalah salah satu contoh paling kuat dari tradisi tersebut.
Di tengah meningkatnya kesadaran perempuan untuk berkarya dan bersuara, figur Aisyah al-Ba’uniyah menjadi sangat relevan bagi generasi muda hari ini. Ia membuktikan bahwa perempuan dapat menjadi pusat ilmu, spiritualitas, dan perubahan sosial sekaligus.
Relevansi Pemikiran Aisyah di Era Sekarang
Di era digital, pena Aisyah al-Ba’uniyah dapat dimaknai ulang sebagai kekuatan literasi. Hari ini, dakwah bisa hadir melalui artikel, opini, puisi, video edukasi, hingga unggahan media sosial yang membawa pesan positif.
Aisyah mengajarkan bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk membentuk cara berpikir masyarakat. Karena itu, kata-kata seharusnya digunakan untuk menyebarkan pengetahuan, empati, dan nilai kemanusiaan.
Ketika ruang publik dipenuhi ujaran kebencian dan informasi yang memecah belah, pendekatan dakwah yang humanis seperti yang dilakukan Aisyah menjadi semakin penting. Ia menunjukkan bahwa ilmu dan spiritualitas dapat berjalan berdampingan tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
Jika dahulu Aisyah menggunakan manuskrip dan tinta, hari ini “pena” dapat hadir dalam bentuk artikel digital, podcast, konten edukasi, hingga media sosial yang menyebarkan pesan positif. Pemikiran Aisyah mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu harus hadir dalam bentuk ceramah formal. Menulis hal-hal yang mencerahkan, membangun diskusi sehat, dan menghadirkan empati di ruang digital juga merupakan bagian dari dakwah di era modern.
Karya-Karya Aisyah al-Ba’uniyah
Aisyah al-Ba’uniyah dikenal sebagai salah satu ulama dan penulis perempuan paling produktif dalam sejarah Islam abad pertengahan. Karya-karyanya banyak membahas tasawuf, spiritualitas, puisi religius, hingga refleksi cinta kepada Tuhan. Berikut beberapa karya penting Aisyah al-Ba’uniyah:
- Al-Muntakhab fi Usul al-Rutab (Pilihan tentang Dasar-Dasar Tingkatan Spiritual)
- Fayd al-Fadl wa Jam‘ al-Shaml (Limpahan Keutamaan dan Penyatuan Jiwa)
- Al-Fath al-Mubin fi Madh al-Amin (Kemenangan Nyata dalam Memuji Nabi Muhammad)
- Diwan al-Ba‘uniyyah (Kumpulan Puisi Aisyah al-Ba’uniyah)
- Al-Qawl al-Sahih fi Takhmis Burdat al-Madih (Komentar dan Pengembangan terhadap Qasidah Burdah)
- Mawrid al-Hana’ fi al-Mawlid al-Asna (Sumber Kebahagiaan dalam Maulid Nabi)
Aisyah al-Ba’uniyah membuktikan bahwa pena bukan hanya alat menulis, tetapi juga medium dakwah dan perubahan sosial. Melalui tulisan-tulisannya, ia menghadirkan Islam yang lembut, reflektif, dan penuh cinta.
Di tengah dunia modern yang sering bising oleh konflik dan polarisasi, pemikiran Aisyah menjadi pengingat bahwa kata-kata yang baik masih memiliki kekuatan untuk menyentuh hati manusia.
Karena pada akhirnya, dakwah yang paling kuat bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling mampu menghidupkan nurani.
Referensi
Homerin, Th. Emil. 2018. The Principles of Sufism by A’ishah al-Ba‘uniyyah. New York: New York University Press.
Chittick, William C. 2020. Sufism: A Short Introduction. Oxford: Oneworld Publications.
Schimmel, Annemarie. 2021. Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press.
Cornell, Vincent J. 2007. Voices of Islam Volume II: Voices of Spirituality. Westport: Praeger.
Kunkler, M. (2021). Forgotten Histories of Female Religious Authority in Islam. Journal of the Royal Asiatic Society. Vol. 31, No. 2.
Deep, G. A. (2021). Symbols of mystical ecstasy and divine love in the poetry of ‘A’ishah al-Ba‘uniyya and W.B. Yeats. Fayoum University Journal of the Faculty of Arts. Vol. 13. No. 2.
Geissinger, A. (2021). Women scholars in Islamic history. Journal of Islamic Studies. Vol. 32, No. 1.
Temirbaeva, A., Temirbaev, T., Tyshhan, K., & Kamarova, R. (2021). Gender aspects of Sufi practices in Kazakhstan and abroad. Adam Alemi. Vol. 90. No. 4.
Muhammad Afiq Zahara. https://nu.or.id/tokoh/mengenal-aisyah-al-ba-uniyah-penulis-produktif-dari-kalangan-sufi-perempuan-suxsh. Diakses pada 23 Juli 2026 pukul 14.00 WIB.
Kontributor: Syafiqurrohman, semester II
