Di Balik Singgasana Delhi: Perlawanan Razia Sultana Terhadap Patriarki

saiidusshiddiqiyah.ac.id — Ditengah megahnya istana kesultanan Delhi abad ke-13, Ketika kekuasaan sepenuhnya di dominasi laki-laki, Razia muncul sebagai sosok perempuan yang membawa keberanian yang melampaui batas-batas sosial pada masa itu. Razia bukan hanya hadir sebagai seorang penguasa, tetapi juga sebagai simbol perlawanan terhadap sistem patriarki yang mengakar kuat dalam politik Kerajaan Islam di India.

Nama aslinya adalah Radiyya binti Shamsuddin Iltutmish, namun kebanyakan orang mengenalnya dengan nama Razia Sultana. Beliau merupakan seorang putri Kerajaan yang kemudian meneruskan kepemimpinan ayahnya. Bukan karena tak memiliki seorang putra, namun Shamsuddin Iltutmish melihat adanya kualitas dari seorang penguasa besar dalam diri Razia.

Razia lahir di Budaun sekitar tahun 1205 M. Sejak kecil, Razia tumbuh di lingkungan istana Dinasti Mamluk, Delhi. Ayahnya melihat kecerdasan dan kemampuan politik dalam diri putrinya. Razia bukan hanya belajar dan menguasai ilmu tentang tata pemerintahan saja, tetapi juga strategi militer, diplomasi, dan administrasi negara. Kemampuannya bahkan dinilai lebih unggul dari saudara laki-laki nya.

Latar belakang kekuasaannya di mulai dari kakeknya yang bernama Qutbuddin Aibiek selaku pendiri kekuasaan besar dinasti mamluk di Delhi yang meninggal dunia setelah menjalankan pemerintahan selama 4 tahun. Kematian Aibiek terjadi secara mendadak ketika ia bermain polo di Lahore, sehingga belum ada persiapan penunjukan penerus selanjutnya. Akhirnya para bangsawan Turki di Lahore mengangkat Aram Shah menjadi sultan demi menjaga stabilitas Kerajaan. Namun sejak awal masa pemerintahannya, Aram Shah dianggap lemah karena kurang memiliki kemampuan dalam bidang politik dan militer. Banyak bangsawan di Delhi yang tidak mendukungnya. Selain itu, banyak terjadi pemberontakan di beberapa wilayah karena menganggap pemerintahan pusat sedang rapuh. Dalam situasi tersebut, akhirnya sekelompok bangsawan penting mengangkat Iltutmish karena dianggap lebih memiliki kemampuan dalam memerintah kerajaan.

Pada tahun 1236, ayahnya Razia, Shamsuddin Iltutmish wafat. Bangsawan turki mengangkat Ruknuddin Firuz sebagai sultan. Pada mulanya sultan Iltutmish menunjuk putrinya, Razia, untuk meneruskan kepemimpinan kesultanan Delhi, namun Keputusan tersebut dianggap kontroversi bagi sebagian para bangsawan. Akhirnya Ruknuddin Firuz lah yang dinaikan ke tahta kerajaan. Seiring berjalannya waktu, pemerintahan Ruknudin ternyata lemah dan menimbulkan banyak kekacauan. Akhirnya sebagian bangsawan berbalik mendukung Razia. Pada tahun 1236 Razia naik tahta sebagai pemimpin pemerintahan di Delhi. Hal tersebut sebenarnya masih tetap menjadi sebuah kontroversi bagi sebagian bangsawan Kerajaan lainnya.

Menjadi perempuan di singgasana Delhi bukanlah perkara yang mudah. Setelah masa naik tahtanya, Razia segera menghadapi penolakan dari para elite Turki yang menganggap perempuan tidak pantas untuk menjadi pemimpin negara. Dalam masyarakat patriarkis saat itu, perempuan lebih sering ditempatkan di belakang, di balik dinding istana, jauh dari urusan politik dan peperangan. Kehadiran Razia sebagai sultan dianggap ancaman terhadap tradisi dan kekuasaan laki-laki.

Namun atas dasar tekanan tersebut Razia tidak tinggal diam, ia menolak dipanggil “sultana”, karena panggilan tersebut disematkan untuk istri dari seorang penguasa, bukan sebagai penguasanya sendiri. Ia memilih gelar “sultan” untuk menunjukan bahwa ia memiliki otoritas penuh atas Kerajaan. Langkah ini menjadi simbol perlawanan terhadap budaya patriarki yang berusaha membatasi identitas politik perempuan.

Keberanian Razia juga terlihat dari caranya memimpin. Ia tampil di depan publik tanpa purdah kerajaan, mengenakan pakaian layaknya penguasa laki-laki pada umumnya, dan memimpin pasukan di medan perang. Tindakan tersebut memicu kontroversi besar, tetapi sekaligus menunjukan kepada semua kalangan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, melainkan bagaimana ia memiliki jiwa kepemimpinan dan keberanian.

Dalam pemerintahannya, Razia berusaha untuk mengurangi dominasi kelompok turki yang selama ini memegang kendali politik kesultanan di Delhi. Ia mengangkat pejabat istana sesuai dengan kemampuan bukan karena keturunan ataupun ras etnis. Kebijakan ini membuat sebagian rakyat mendukungnya, tetapi para bangsawan Turki merasa kehilangan pengaruh politik. Konflik semakin besar ketika Razia mengangkat Jamaluddin Yaqut, seorang pejabat non-Turki ke jabatan penting kerajaan. Hal ini menjadi penyebab para bangsawan untuk merencanakan perlawanan terhadap Razia.

Akhirnya perjuangan Razia harus berhadapan dengan kerasnya intrik politik istana. Pada tahun 1240, Razia digulingkan dari tahta kerajaan. Setelah itu ia menikah dengan Ikhtiyaruddin Altunia dan mencoba merebut kembali Kesultanan Delhi. Namun usaha tersebut gagal ketika pasukannya kalah melawan Bahram Shah. Tidak lama kemudian, Razia wafat di Kaithal pada tahun yang sama. Masa pemerintahannya terhitung singkat, hanya sekitar empat tahun, tetapi pengaruhnya sangat besar dalam sejarah India. 

Masa pemerintahan Razia telah runtuh, namun meski demikian hal tersebut tidak menghapus jejak keberanian nya yang tertulis dalam sejarah. Razia Sultana tetap dikenang sebagai perempuan yang berani menantang struktur patriarki di tengah dunia politik yang tidak memberi ruang kepada perempuan.

Referensi:

Banerjee, Rishav, ed. 2022. Becoming Razia Sultan. India: Routledge India.

Jamila. 1990. Sultan Raziya. New Delhi: Rupa Publications.

Das, Suprita. 2024. The Teenage Diary of Razia Sultan. New Delhi: Speaking Tiger Books.

Zakaria, Rafiq. 2000. Razia: Queen of India. Mumbai: Popular Prakashan.

Mishra, Patit Paban. “Razia Sultan” dalam World History Encyclopedia. https://www-worldhistory-org.translate.goog/Razia_Sultan/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc diakses 26 Mei 2026 pukul 15.00 WIB.

Kontributor: Denok Aprianti, semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *