saiidusshiddiqiyah.ac.id—Khalifah Hisyam bin Abdul Malik wafat pada bulan Rabiulawal tahun 125 Hijriah dalam usia sekitar lima puluh tahun. Para sejarawan Muslim menyebut wafatnya Hisyam sebagai salah satu titik awal kemunduran Dinasti Bani Umayyah. Selama kurang lebih sembilan belas hingga dua puluh tahun masa pemerintahannya, Bani Umayyah berada dalam kondisi yang relatif stabil. Situasi politik berlangsung lebih tenang dan tidak banyak terjadi pertumpahan darah sebagaimana pada periode-periode sebelumnya. Namun, setelah Hisyam wafat, tanda-tanda kemerosotan mulai terlihat dalam tubuh pemerintahan Bani Umayyah.
Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kekuasaan yang berlangsung selamanya. Setiap pemerintahan akan mengalami masa kejayaan, kemudian memasuki fase kemunduran sebelum akhirnya digantikan oleh kekuatan politik baru. Demikian pula yang terjadi pada Dinasti Bani Umayyah. Wafatnya Hisyam bin Abdul Malik menjadi salah satu titik penting dalam berakhirnya masa stabilitas yang telah berlangsung cukup lama.
Setelah Hisyam wafat, jabatan khalifah diteruskan oleh keponakannya, Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik. Sebelumnya, Yazid bin Abdul Malik telah menetapkan melalui surat keputusan bahwa setelah dirinya wafat, kekhalifahan akan diteruskan oleh saudaranya, Hisyam bin Abdul Malik. Setelah Hisyam wafat, jabatan tersebut kemudian diberikan kepada putranya, Al-Walid bin Yazid.
Dengan demikian, Al-Walid naik sebagai khalifah sesuai dengan ketetapan yang telah dibuat sebelumnya. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa nama lengkapnya adalah Al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam. Ia dikenal dengan kunyah Abu Al-Abbas dan lahir pada tahun 90 Hijriah. Al-Walid berasal dari keluarga Bani Umayyah yang bermukim di Damaskus.
Ibunya adalah Ummu Al-Hajjaj, putri Muhammad bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Dari garis keturunan ibunya, Al-Walid memiliki hubungan keluarga dengan sejumlah tokoh penting yang berperan dalam ekspansi wilayah Bani Umayyah.
Ibnu Katsir juga menukil sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad mengenai nama Al-Walid. Dalam riwayat tersebut diceritakan bahwa salah seorang kerabat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Al-Walid. Rasulullah SAW kemudian mempertanyakan pemberian nama tersebut dan menyebutkan bahwa kelak akan muncul seorang laki-laki bernama Al-Walid di tengah umat ini yang kerusakannya lebih besar daripada kerusakan yang ditimbulkan Fir‘aun terhadap kaumnya.
Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai status dan penafsiran hadis tersebut. Karena itu, riwayat tersebut perlu dipahami secara hati-hati dan tidak dijadikan satu-satunya dasar dalam menilai sosok Al-Walid bin Yazid.
Menurut riwayat Al-Waqidi, Al-Walid bin Yazid dibaiat sebagai khalifah pada hari yang sama dengan wafatnya Hisyam bin Abdul Malik, yaitu pada bulan Rabiulakhir tahun 125 Hijriah. Saat itu, usianya sekitar tiga puluh empat tahun. Jika dihitung sejak ayahnya wafat dan dirinya ditetapkan sebagai putra mahkota, Al-Walid telah menyandang kedudukan tersebut sejak usia yang relatif muda.
Upaya Hisyam bin Abdul Malik Memperbaiki Al-Walid bin Yazid
Pada awal pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik, hubungan antara paman dan keponakannya berjalan dengan baik. Hisyam memperlakukan Al-Walid dengan penuh penghormatan karena mengetahui bahwa keponakannya kelak akan menjadi penerus kekhalifahan.
Namun, seiring berjalannya waktu, muncul berbagai perilaku Al-Walid yang menimbulkan kekhawatiran. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa ia memiliki kebiasaan buruk, seperti meminum khamar dan bergaul dengan lingkungan yang tidak baik. Ia juga disebut sering menghadiri majelis yang dipenuhi hiburan dan kemaksiatan.
Keadaan tersebut membuat Hisyam khawatir terhadap masa depan pemerintahan Islam jika kekhalifahan berada di tangan Al-Walid. Karena itu, Hisyam berupaya memperbaiki kepribadian dan perilaku keponakannya.
Salah satu upaya tersebut dilakukan dengan menunjuk Al-Walid sebagai Amirul Hajj, yaitu pemimpin rombongan haji. Hisyam berharap tanggung jawab tersebut dapat membentuk Al-Walid menjadi pribadi yang lebih matang dan bertanggung jawab.
Namun, sejumlah riwayat sejarah menyebutkan bahwa selama perjalanan haji, Al-Walid masih menunjukkan sikap yang dinilai tidak sesuai dengan kedudukannya sebagai calon pemimpin umat. Beberapa laporan bahkan menyebut bahwa ia membawa anjing-anjing pemburu dalam rombongan.
Riwayat lain juga memuat berbagai perilaku kontroversial yang semakin memperkuat penilaian negatif terhadap dirinya. Meski demikian, para peneliti sejarah modern mengingatkan pentingnya bersikap kritis terhadap riwayat-riwayat tersebut. Sebab, sumber sejarah mengenai Al-Walid berasal dari berbagai jalur dengan tingkat kekuatan dan kredibilitas yang berbeda.
Penilaian Para Ulama terhadap Al-Walid bin Yazid
Para ulama dan sejarawan memberikan penilaian yang beragam terhadap Al-Walid bin Yazid. Sebagian besar sumber klasik menggambarkannya sebagai sosok yang memiliki banyak kelemahan dalam aspek moral dan keagamaan. Bahkan, beberapa ulama menilai perilakunya telah melampaui batas yang semestinya dimiliki oleh seorang pemimpin kaum Muslimin.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menukil berbagai riwayat yang menggambarkan tindakan Al-Walid sebagai perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Riwayat-riwayat tersebut kemudian menjadi salah satu alasan mengapa sebagian ulama dan sejarawan memandang masa pemerintahannya sebagai periode yang turut mempercepat kemunduran Dinasti Bani Umayyah.
Namun, kondisi politik pada masa itu juga perlu diperhatikan. Persaingan antarkelompok di lingkungan keluarga Bani Umayyah kerap melahirkan berbagai narasi untuk menjatuhkan lawan politik. Karena itu, setiap riwayat mengenai Al-Walid perlu dikaji secara kritis dan dibandingkan dengan sumber-sumber lain agar diperoleh gambaran yang lebih objektif.
Al-Walid bin Yazid kemudian dikepung oleh pasukan yang setia kepada Yazid bin Al-Walid (Yazid III). Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Al-Walid berkata:
“Bukankah aku telah menambah pemberian kepada kalian? Bukankah aku telah meringankan beban-beban kalian? Bukankah aku telah memberi makan orang-orang fakir di antara kalian?”
Para pengepung menjawab:
“Kami tidak membencimu karena kepentingan pribadi. Kami mengepungmu karena engkau telah banyak melanggar batas-batas Allah. Engkau meminum khamar, menikahi istri-istri ayahmu, dan meremehkan perintah-perintah Allah.”
Setelah Al-Walid bin Yazid terbunuh, Yazid III memerintahkan agar kepalanya ditancapkan pada ujung tombak. Ketika melihatnya, saudaranya, Sulaiman bin Yazid, dikisahkan berkata:
“Celakalah dia. Aku bersaksi bahwa ia adalah peminum khamar, orang yang fasik, dan telah menipuku dengan tindakannya.”
Al-Mu‘afi Al-Jariri menyatakan bahwa ia telah menghimpun berbagai riwayat mengenai kehidupan Al-Walid yang menggambarkan kesombongan, kebodohan, dan sikap yang menyimpang dari ajaran agama.
Meski demikian, Adz-Dzahabi berpendapat bahwa tidak terdapat riwayat sahih yang secara tegas membuktikan kekufuran atau kezindikan Al-Walid bin Yazid. Menurutnya, yang dapat dipastikan adalah bahwa Al-Walid dikenal sebagai peminum khamar dan pelaku berbagai kemaksiatan yang menimbulkan kemarahan masyarakat hingga akhirnya terjadi pemberontakan terhadap dirinya.
Dalam sebuah kesempatan, nama Al-Walid disebut di hadapan Khalifah Al-Mahdi. Salah seorang yang hadir berkata, “Ia adalah seorang zindiq.” Al-Mahdi kemudian menjawab:
“Tidak. Kekhalifahan Allah terlalu agung untuk dipegang oleh seorang zindiq.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebagian tokoh Muslim pada masa berikutnya tidak sepakat dengan tuduhan bahwa Al-Walid telah keluar dari Islam. Meski demikian, mereka tetap mengakui adanya berbagai penyimpangan yang dinisbatkan kepadanya.
Awal Kemunduran Dinasti Bani Umayyah
Naiknya Al-Walid bin Yazid sebagai khalifah menandai salah satu fase yang semakin sulit bagi Dinasti Bani Umayyah. Berbagai persoalan yang sebelumnya masih dapat dikendalikan mulai muncul ke permukaan. Ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap pemerintahan pusat meningkat, sementara konflik internal di antara keluarga penguasa semakin tajam.
Di sejumlah wilayah kekuasaan Islam, gerakan oposisi juga mulai berkembang. Kelompok-kelompok yang sebelumnya menyimpan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Bani Umayyah mulai melihat peluang untuk menantang kekuasaan yang sedang melemah. Keadaan tersebut semakin diperburuk oleh persaingan politik di antara anggota keluarga Umayyah yang berebut pengaruh dan kekuasaan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat keruntuhan Dinasti Bani Umayyah. Dalam sejarah, kemunduran sebuah pemerintahan umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan merupakan akumulasi berbagai persoalan politik, sosial, ekonomi, dan moral yang berlangsung dalam waktu panjang.
Dengan demikian, masa pemerintahan Al-Walid bin Yazid menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Bani Umayyah. Di tengah berbagai perbedaan penilaian para ulama mengenai kepribadiannya dan status keagamaannya, periode tersebut menunjukkan semakin melemahnya stabilitas politik yang sebelumnya berhasil dipertahankan oleh para pendahulunya. Pada akhirnya, persoalan internal yang terus menumpuk menjadi bagian dari rangkaian panjang yang membawa Dinasti Bani Umayyah menuju keruntuhannya.
Referensi
Al Ghifari, A. (2024). Imam Nawawi dan Madrasah Darul Hadits: Meneladani Tokoh Pendidikan Keulamaan dan Keumatan (W. Kurniawadi, Ed.). Wawasan Ilmu.
As-Suyuthi, I. (2019). Tarikh Khulafa: Sejarah Para Khalifah (edisi terjemahan). Qisthi Press.
Hakim, M. A. (2021). Hajjaj bin Yusuf: Algojo Bani Umayyah. Pustaka Al-Kautsar.
Saufi, A., & Fadillah, H. (2015). Sejarah Peradaban Islam. Deepublish.
Ibnu Katsir. Al-Bidayah wa an-Nihayah.
Adz-Dzahabi. Siyar A‘lam an-Nubala’.
Imam Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad.
al-Quraibi, Ibrahim. 2012. Tarikh Khulafa’: Sejarah Lengkap Kehidupan Empat Khalifah Setelah Wafatnya Rasulullah S.A.W. Jakarta: Qisthi Press.
Kontributor: Muhammad Rizwan
