saiidusshiddiqiyah.ac.id—Hari Kesaktian Pancasila, yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober, adalah hari bersejarah yang memiliki makna mendalam bagi bangsa Indonesia. Dimana Pancasila mampu menjadi benteng ideologis bagi bangsa Indonesia di tengah kekacauan politik dan sosial pada masa itu. Kesaktian Pancasila juga dapat membantu kita dalam menghadapi tantangan digitalisasi pada saat sekarang ini.
Kenapa 1 Oktober dijadikan Hari Kesaktian Pancasila?
1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk mengenang peristiwa Gerakan 30S/PKI dan meneguhkan kembali pancasila sebagai ideologi negara yang teguh. Hari Kesaktian Pancasila telah diperingati sejak era pemerintahan Orde Baru. Sebagaimana yang tercantum dalam Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat Nomor Kep 977/9/1966. Peringatan ini juga tercantum dalam Keputusan Presiden RI Nomor 153 Tahun 1967.
Latar belakang G30S/PKI
Pada bulan Juli 1965, Presiden Soekarno dikabarkan mendadak jatuh sakit, lalu tim dokter sempat menyimpulkan bahwa kondisi Presiden cukup serius dan dikhawatirkan dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Dari keadaan ini muncul-lah kekosongan pemimpin dan dikhawatirkan terjadi perebutan kekuasaan, akhirnya Partai Komunis Indonesia (PKI), yang merupakan partai terbesar keempat pada saat itu memanfaatkan situasi ini untuk menggeser pemerintahan Presiden Soekarno menjadi pemerintahan yang pro-komunis. Komando PKI memutuskan untuk bergerak bersama bironya pada tanggal 28 September 1965.
Pada tanggal 30 September 1965, PKI ingin merebut kekuasaan di bawah pimpinan Komandan Batalyon 1 Resimen Cakrabirawa. Komando tersebut memerintahkan untuk menangkap para jenderal baik dalam keadaan hidup ataupun mati. Diantara mereka ada tujuh jendral yang diculik yaitu: Letjen Ahmad Yani, Mayjen M.T Haryono, dan Brigjen D.I. Panjaitan, ketiga jendral ini hendak di bunuh di rumah mereka masing-masing. Sedangkan Mayjen Soeprapto, Mayjen S. Parman, dan Brigjen Sutoyo ditangkap dalam keadaan hidup.
Semua jasad yang dibunuh akan dibuang di dalam satu sumur tua berdiameter 75 cm dengan kedalaman 12 cm. Sumur ini juga dinamakan dengan lubang buaya. Mayat tersebut ditemukan pada 4 Oktober 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Kalibata, Jakarta. Setelah satu tahun dari peristiwa ini Soeharto menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan wajib diikuti seluruh warga negara Indonesia.
Tradisi memperingati Hari kesaktian Pancasila
Pada masa Orde baru Hari Kesaktian Pancasila diwarnai dengan banyak ritual tradisi kenegaraan. Di antara tradisi tersebut, terdapat dua kegiatan utama yang selalu dilaksanakan. Pertama ketika Pelaksanaan upacara kemerdekaan di Lubang Buaya. Upacara ini dilaksanakan selama dua hari yakni pada 30 September bendera dinaikkan setengah tiang, sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan yang gugur pada peristiwa G30S PKI, kemudian pada tanggal 1 Oktober bendera dinaikkan sampai ke atas tiang, sebagai bentuk keberhasilan Orde baru dalam memberantas komunis dan menjaga nilai kesaktian Pancasila.
Adapun tradisi yang kedua ketika pelaksanaan upacara, pemimpin upacara menyelipkan kisah sejarah G30S PKI untuk mengenang perjuangan pahlawan dan pesan yang didapatkan dari peristiwa tersebut.
Naskah Ikrar Hari Kesaktian Pancasila
Dengan Ridho Tuhan Yang Maha Esa, kami yang melakukan upacara ini menyadari sepenuhnya:
- Bahwa sejak diproklamasikan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 pada kenyataannya telah banyak terjadi rongrongan baik dari dalam negeri maupun luar negeri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
- Bahwa rongrongan tersebut dimungkinkan oleh karena kelengahan, kekurangwaspadaan Bangsa Indonesia terhadap kegiatan yang berupaya untuk menumbangkan Pancasila sebagai Ideologi Negara.
- Bahwa dengan semangat kebersamaan yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur ideologi Pancasila, Bangsa Indonesia tetap dapat memperkokoh tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Maka di hadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila, kami membulatkan tekad untuk tetap mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber kekuatan menggalang kebersamaan untuk memperjuangkan, menegakkan kebenaran dan keadilan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Rosmawanti Panggalo, 2025).
Makna dari Hari Kesaktian Pancasila
- Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan kita akan perjuangan Pahlawan revolusi. Sehingga masyarakat Indonesia dapat memahami sejarahnya dan nilai perjuangan.
- Kesaktian Pancasila ini sebagai ideologi bangsa Indonesia yang tidak pernah terganti.
- Momentum untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme yang mulai luntur. Nilai-nilai utama dalam pancasila bisa dimaknai sebagai semangat untuk membangun kembali jati diri bangsa.
Disamping itu, Pancasila juga memiliki peran penting sebagai pedoman dalam mengimplementasikan nilai-nilainya di era kontemporer. Di Tengah perubahan global yang begitu cepat dan begitu instan membawa pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat di Indonesia. Perkembangan teknologi yang begitu cepat dan perubahan sosial yang dinamis menuntut seseorang untuk mengikuti perkembangannya. Akan tetapi sangat disayangkan banyak masyarakat yang terpengaruh dengan budaya asing, sehingga melupakan identitas bangsanya sendiri.
Tradisi banyak yang ditinggalkan dan moral bangsa semakin miris. Disinilah Kesaktian Pancasila tetap ditumbuhkan bukan hanya jadi cerminan sejarah saja, tapi Pancasila mempunyai peranan penting sebagai pedoman masyarakat di era modern ini. Terutama dalam menjaga etika dalam bermedia sosial. Dengan pengimpelematisian ini masyarakat dapat menggunakan media sosial dengan baik tidak mudah terpengaruh dengan hoax apalagi menyebar luaskannya.
Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari:
- Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa, implementasi sila pertama memberikan kebebasan untuk semua individu menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Indonesia adalah negara yang pluralistik secara agama, dengan prinsip ini terciptalah toleransi antar umat beragama, sehingga setiap orang dapat menjalankan agamanya dengan tenang dan nyaman tanpa ada gangguan dari orang lain.
- Sila Kedua: Kemanusian Yang Adil dan Beradab, implementasi sila kedua ini menekankan kita pentingnya perlakuan yang adil, keadilan, dan kemanusian dalam semua aspek kehidupan. Dalam konteks kontemporer sila ini mencerminkan pentingnya hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
- Sila Ketiga: Persatuan Indonesia, implementasi sila ketiga ini menekankan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam keberagamaan etnis, budaya, dan bahasa. Di era digital tantangan terhadap persatuan semakin kompleks karena informasi dapat menyebar dengan cepat. Dengan sila ini seseorang dapat menggunakan media sosial dengan bijaksana, tidak mudah menyebarkan hoaks, sebelum bertindak terlebih dahulu kita memverifikasi data yang benar, serta tidak ikut menyebarkan ujar kebencian atau konten provokatif yang bisa memecah belah masyarakat.
- Sila Keempat: Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, implementasi sila keempat ini menekankan pentingnya demokrasi, partisipasi rakyat, dan pengambilan keputusan bersama dalam pemerintahan. Dalam konteks kontemporer, ini mengingatkan kita betapa pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik dalam pengambilan keputusan.
- Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, implementasi nilai ini dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat, seperti pemerataan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan teknologi. Nilai ini juga diwujudkan melalui kepedulian sosial dan penolakan terhadap segala bentuk ketidakadilan.
Referensi:
Sjahdeini, Sutan Rem. 2021. Sejarah Hukum Indonesia. Jakarta: Kencana.
Pertiwi, Dhianita Kusuma .2021. Mengenal Orde Baru.Yogyakarta: Buku Mojok Grup 2021
Saputra, Eko. 2025. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan: Di Pendidikan Tinggi Membangun Karakter Bangsa serta Tantangan Kontemporer. Sumatera Barat: PT Mafy Literasi Indonesia .
Taum, Yoseph Yapi. 2015. Sastra dan Politik: Representasi Tragedi 1985 dalam Negara Orde Baru. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press .
Samosir, Khoirun. 2023. Pancasila.Padang Sidempuan: PT Inovasi Pratama Internasional
Widodo, R.M.Wibawanto Nugroho,dkk. 2024. Pancasila Di Era Globalisasi dan Digitalisasi.Yogyakarta: Deepublish Digital.
Nadya, Amalia, dkk. 2025.”G30S PKI Menanamkan Nilai Pancasila Dalam Menjaga Persatuan Bangsa di Kalangan Generasi”. Muda Jurnal lentera Ilmu , vol. 1, no. 1
Panggalo, Osmawanti. Naskah Ikrar Hari Kesaktian Pancasila 2025 Resmi dari Pemerintahan Lengkap PDF. https://www.detik.com/sulsel/berita/d-8132008/naskah-ikrar-hari-kesaktian-pancasila-2025-resmi-dari-pemerintah-lengkap-pdf, diakses pada 26 September 2025 pukul 23.00 WIB.
Kontributor: Nur Saidah, semester 6
