saiidusshiddiqiyah.ac.id — Al-Khansa merupakan salah satu penyair perempuan paling terkenal dalam sejarah sastra Arab. Nama aslinya adalah Tumadhar binti Amru bin Al-Harits bin asy-Syarid as-Sulamiyah, tetapi ia lebih dikenal dengan julukan Al-Khansa, yang berarti “kijang”. Julukan tersebut diberikan karena matanya yang indah menyerupai mata kijang, yang dalam tradisi Arab menjadi simbol keindahan dan kelembutan.
Al-Khansa hidup pada masa Jahiliah hingga awal perkembangan Islam. Ia dikenal luas berkat syair-syair eleginya yang sarat emosi dan menggambarkan kesedihan mendalam atas kehilangan anggota keluarganya, terutama kedua saudaranya. Kepiawaiannya dalam merangkai kata menjadikannya salah satu penyair perempuan terbesar dalam sejarah Arab, bahkan namanya tetap dikenang hingga sekarang sebagai simbol kekuatan sastra dan keteguhan iman.
Kehidupan Al-Khansa
Al-Khansa lahir di wilayah Najd, Jazirah Arab, sekitar abad ke-7 Masehi. Ia berasal dari Bani Sulaim, salah satu suku terpandang di Jazirah Arab yang dikenal memiliki banyak tokoh pemberani dan ahli sastra.
Sejak usia muda, Al-Khansa telah menunjukkan kecerdasan bahasa serta kemampuan bersyair yang luar biasa. Kepekaannya terhadap perasaan dan kemampuannya memilih diksi membuat syair-syairnya mudah menyentuh hati para pendengarnya.
Kehidupan Al-Khansa dipenuhi berbagai tragedi keluarga. Dua saudaranya, Mu’awiyah dan Sakhr, gugur akibat peperangan antarsuku. Kehilangan tersebut menjadi sumber inspirasi utama bagi karya-karyanya. Syair-syair yang ditulisnya dipenuhi ungkapan duka, cinta kepada keluarga, penghormatan terhadap keberanian kedua saudaranya, serta refleksi mendalam mengenai kehidupan dan kematian.
Al-Khansa menikah dengan Rahawah bin Abdul Aziz As-Sulami. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai empat orang putra, yaitu Yazid, Mu’awiyah, ‘Amr, dan ‘Amrah. Keempat putranya kemudian memeluk Islam dan kelak dikenal sebagai pejuang yang gugur di jalan Allah SWT.
Islamnya Al-Khansa
Setelah dakwah Islam mulai berkembang, Al-Khansa datang menemui Rasulullah SAW bersama kaumnya dari Bani Sulaim. Pada saat itulah ia memeluk agama Islam dan menerima ajaran tauhid dengan penuh keikhlasan.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat mengagumi kemampuan Al-Khansa dalam bersyair. Beliau bahkan pernah memintanya membacakan syair di hadapan beliau. Ketika Al-Khansa melantunkan syairnya, Rasulullah memberikan apresiasi dan mendorongnya untuk terus melanjutkan pembacaan syair tersebut.
Setelah memeluk Islam, cara pandang Al-Khansa terhadap kehidupan berubah secara mendasar. Apabila sebelumnya ia larut dalam kesedihan akibat kehilangan orang-orang yang dicintainya, setelah mengenal Islam ia menghadapi setiap ujian dengan kesabaran yang dilandasi keimanan dan dihiasi ketakwaan. Kesedihan duniawi berganti menjadi harapan akan rahmat Allah SWT dan kehidupan akhirat.
Perubahan tersebut tergambar dalam ucapannya yang terkenal, “Dahulu aku menangisi kematian keluargaku, tetapi kini aku menangis karena takut akan siksa neraka.”
Ucapan tersebut menunjukkan bahwa Islam telah mengubah orientasi hidup Al-Khansa dari kesedihan dunia menuju kesadaran akan kehidupan akhirat.
Syahidnya Keempat Putra Al-Khansa
Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab r.a, pasukan kaum Muslimin berangkat menuju Perang Qadisiyah di bawah komando Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menghadapi Kekaisaran Persia. Al-Khansa turut menyertai rombongan tersebut bersama keempat putranya.
Keempat putra Al-Khansa bergabung dengan pasukan Islam yang akan menghadapi salah satu peperangan terbesar dalam sejarah penaklukan Persia pada tahun 16 Hijriah. Menjelang peperangan, Al-Khansa mengumpulkan putra-putranya dan menyampaikan sebuah wasiat yang menggambarkan kuatnya iman serta kecintaannya terhadap agama Allah.
Ia berkata, “Wahai putra-putraku, kalian memeluk Islam dengan sukarela dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah, tidak ada tuhan selain Dia, kalian berasal dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak pernah mengkhianati ayah kalian dan tidak pernah mencemarkan kehormatan keluarga kalian. Ketahuilah bahwa negeri akhirat lebih baik daripada dunia yang fana. Bersabarlah, tabahlah, tetaplah teguh, dan bertakwalah kepada Allah agar kalian memperoleh kemenangan. Apabila peperangan telah berkecamuk dan api pertempuran menyala, majulah menuju barisan terdepan musuh. Dengan demikian, kalian akan memperoleh kemuliaan di dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat.”
Keesokan harinya, keempat putra Al-Khansa bertempur dengan penuh keberanian. Setiap kali semangat salah seorang di antara mereka mulai melemah, saudara-saudaranya mengingatkan kembali pesan sang ibu sehingga semangat mereka bangkit kembali. Mereka maju menghadapi musuh dengan penuh keberanian hingga akhirnya gugur satu per satu sebagai syuhada.
Ketika kabar gugurnya keempat putranya sampai kepadanya, Al-Khansa tidak meratap sebagaimana kebiasaannya pada masa Jahiliah. Sebaliknya, ia menerima takdir Allah SWT dengan hati yang penuh keimanan dan kesabaran.
Ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan gugurnya mereka sebagai syuhada. Aku berharap Allah menghimpunkanku bersama mereka dalam limpahan rahmat-Nya.”
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bukti bagaimana Islam membentuk keteguhan jiwa Al-Khansa. Perempuan yang dahulu dikenal sebagai penyair ratapan berubah menjadi sosok yang tegar menghadapi kehilangan demi mempertahankan agamanya.
Karakteristik Syair Al-Khansa
Keistimewaan syair Al-Khansa terletak pada kekuatan emosional, kejujuran ekspresi, serta kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. Gaya tutur dan pilihan katanya sangat indah sehingga mampu membangkitkan empati pembaca maupun pendengarnya.
Melalui rangkaian kata yang sederhana tetapi sarat makna, Al-Khansa menggambarkan kesedihan, kerinduan, perjalanan waktu, serta kefanaan hidup manusia. Keindahan bahasa dan kedalaman makna syairnya dapat dilihat pada bait berikut.
إني أرِقْتُ فبتّ الليلَ ساهرة
كأنّما كُحِلَتْ عَينى بعُوّر
Sungguh, mataku terus terjaga. Malam kulalui tanpa dapat terpejam, seakan-akan kedua mataku dicelaki dengan kebutaan.”
Salah satu karya Al-Khansa yang paling terkenal ialah elegi yang dipersembahkan untuk mengenang kedua saudaranya, Mu’awiyah dan Sakhr. Melalui syair tersebut, ia mengungkapkan kesedihan yang mendalam sekaligus memperlihatkan kepiawaiannya dalam merangkai kata-kata yang menyentuh hati.
Berikut salah satu bait syairnya.
أَعَينَي خُودا ولاتَجمُدا
أَلاَتَبكِيانِ لِصَخرِ الندى
طَويلِ النِجاد رَفيعِ العِماد
سادَ عَشيرَتَهُ أمرداً
“Wahai kedua mataku, bercucuranlah air mata dan jangan berhenti. Tidakkah kalian menangisi Sakhr yang dermawan? Ia adalah sosok yang berpandangan jauh, berkedudukan tinggi, dan telah menjadi pemimpin kaumnya sejak masih belia.”
Syair-syair Al-Khansa menjadi rujukan penting dalam perkembangan sastra Arab klasik, khususnya puisi elegi (ritha’). Banyak kritikus sastra Arab menempatkannya sebagai penyair elegi terbaik sepanjang sejarah Arab. Keindahan bahasanya tidak hanya terletak pada pilihan kata, tetapi juga pada kejujuran perasaan yang mengalir dalam setiap bait syairnya.
Meskipun seorang perempuan, Al-Khansa sangat dihormati oleh para sastrawan Arab. Melalui karya-karyanya, ia berhasil mengangkat puisi elegi ke tingkat yang sangat tinggi dalam khazanah sastra Arab sehingga menjadi salah satu bentuk puisi yang paling dihargai pada masanya.
Al-Khansa wafat pada tahun 24 Hijriah (645 M) dalam usia sekitar 70 tahun. Warisan syair-syairnya tetap hidup hingga kini dan menjadi bukti bahwa kekuatan kata-kata mampu mengabadikan sejarah, menguatkan keimanan, serta menjadi inspirasi bagi generasi sesudahnya.
Referensi
Al-Mishri, Mahmud. 2012. 35 Sirah Nabawiyah: 35 Sahabat Wanita. Jakarta: Al-I’tishom.
Al-Asqalani, Ibn Hajar. 2001. Fi Tamyiz al-Sahabah. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.
Al-Tantawi, Ali Jawa. 1998. Al-Khansa: Sha’ira wa Faqihah. Kairo: Dar al-Maarif.
Khafaga, Samiha. 2003. Women poets in Pre-Islamic Arabia. London: Routledge.
Sa’d, Ibn. 1995. Kitab al-Tabaqat al-Kubra. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.
Kontributor: Pitri Handayani, Semester II
