Cahaya Al-Qur’an yang Mengislamkan Sekelompok Jin

saiidusshiddiqiyah.ac.id—Jin merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang diberi akal serta kemampuan untuk memilih jalan hidup mereka sendiri. Sama seperti manusia, mereka memiliki kebebasan untuk menentukan apakah akan taat kepada Allah atau justru berpaling  darinya. Karena itu, di kalangan jin ada yang beriman dan patuh, namun ada pula yang kufur dan membangkang. Kisah tentang sebagian jin yang memilih Islam sebagai pedoman hidup mereka menjadi salah satu bagian menarik dalam sejarah dakwah Rasulullah.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa jin diciptakan dari api yang sangat panas. Makhluk ini hidup di alam yang berbeda dengan manusia sehingga keberadaan mereka tidak dapat dilihat oleh manusia biasa. Meski demikian, para jin dapat melihat manusia. Mereka juga memiliki kehidupan layaknya manusia, seperti hidup berkelompok, memiliki keluarga, serta mempunyai keyakinan dan golongan masing-masing.

Islam mengajarkan bahwa jin juga memiliki kewajiban untuk beribadah kepada Allah. Oleh sebab itu, Rasulullah diutus tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk bangsa jin. Di antara mereka ada yang menerima dakwah Islam dengan hati terbuka setelah mendengar kebenaran Al-Qur’an, dan ada pula yang menolaknya. Hal ini menunjukkan bahwa jin juga memiliki tanggung jawab terhadap ajaran agama dan akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan mereka.

Dalam kitab-kitab sirah diceritakan bahwa setelah Rasulullah kembali dari Thaif dalam keadaan sedih akibat penolakan dan perlakuan buruk penduduk Thaif, beliau singgah di daerah Nakhlah bersama sahabatnya. Pada malam hari, Rasulullah melaksanakan shalat dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan. Bacaan tersebut terdengar begitu indah dan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya.

Pada masa itu, para jin sering berusaha mencuri berita dari langit untuk disampaikan kepada para dukun dan tukang ramal di bumi. Namun, ketika mereka hendak mendengarkan berita dari langit, mereka mendapati bahwa pintu-pintu langit telah tertutup dan dijaga dengan sangat ketat sehingga mereka tidak lagi dapat mencuri berita seperti sebelumnya. Kejadian tersebut membuat para jin merasa heran dan saling bertanya-tanya tentang penyebabnya. Akhirnya, mereka berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. (Fiqih Sirah Nabawiyah, Syaikh Buthi, hlm. 120). 

Maka mereka menelusuri seluruh penjuru bumi dari ujung Timur sampai ujung Barat, mencari apa yang menghalangi mereka dari berita langit. Para Kumpulan jin ini, berangkat dari Tihamah sehingga sampai di Nikhlah, di sana mereka bertemu dengan Rasulullah yang mengimami sahabatnya melaksanakan sholat. 

Dalam shalatnya Rasulullah membaca surah Ar-Rahman. Kemudian para jin melihat hal tersebut bergabung dan duduk di belakang sembari mendengarkan lantunan ayat yang dibacakan Rasulullah karena mereka belum pernah mendengar ucapan tersebut. Dalam Sebagian Riwayat mereka berjumlah 9 orang ada juga yang menyebutkan mereka berjumlah 3 sampai 10.  Sebagaimana firman Allah. 

 قُلۡ اُوۡحِىَ اِلَىَّ اَنَّهُ اسۡتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًاعَجَبًا 

Katakanlah (Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku Bahwasanya: Ada nafarun minal jin (sekumpulan Jin), mereka telah mendengarkan Al-Qur’an, lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan. (Q.S Jin : 1)

Para jin mendengarkan ayat demi ayat yang dilantunkan Rasulullah dengan khusuk dan penuh khidmat. Sehingga ketika ada satu di antara mereka yang bertanya, jin yang paling sepuh diantara mereka berkata, “Diamlah kalian (dengarkan bagus-bagus)”. Disinilah mereka menyatakan keislamanan. Setelah bacaan Rasulullah selesai mereka Kembali kepada kaum mereka untuk memberi peringatan. Dan mengajak kaum mereka masuk islam.  

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al Ahqaf ayat 29.

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِم مُنذِرِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (Q.S Al Ahqaf: 29).

Dari peristiwa di atas Pelajaran penting yang perlu kita ambil, para jin yang begitu menikmati bacaan Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah. Sehingga mereka menyerap makna dari setiap makna ayat Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah.  Maka seharusnya juga kita sebagai manusia harus melakukan hal yang sama, bahkan harus lebih dari itu. Karena kita merupakan makhluk yang paling dimuliakan Allah (Usman Jakfar, Tadabbur Al Qur’an, hlm 195-201). 

Imam Al-Qurthubi mengatakan bahwa perlu diketahui Rasulullah bukan hanya diutus Allah kepada kalangan manusia saja, akan tetapi termasuk kepada kalangan jin. Alam ini mencakup kepada semua yang berakal, seperti manusia dan jin. Rasulullah diutus untuk semua kalangan,baik manusia maupun jin dengan membawa Cahaya kebenaran dan petunjuk kepada setiap insan. 

Jadi inti dari pada kisah ini yaitu hendaklah kita membaca dan mendengarkan Al-Qur’an harus dengan rasa nikmat, rasa nyaman, dan khusuk. Sehingga kita bisa merasakan keindahan dan kedamaian yang terpancar dari ayat-ayat suci-Nya. Dengan hati yang tenang dan penuh kesadaran, kita tidak hanya memahami maknanya, tetapi juga meresapi pesan-pesan ilahi yang menjadi pedoman hidup.

Referensi :

Ulum, A.R. Shohibul. (2022).  Kitab Fiqih Sehari-hari: 365 Pertanyaan Seputar Fiqih untuk Semua Permasalahan dalam Keseharian. Jawa timur : Anak Hebat Indonesia. 

Harun, Abdul Salam Muhammad. (2018). Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam. Lebanon : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 

Syafiurrahman al-Mubarokfuri. (2007). Rohiqul  Makhtum. Lebanon : Dar al-Kutub      al-Ilmiyyah. 

Al-Buthi, Muhammad Said Ramadhan. (2023). Fiqih Sirah Nabawiyah. Lebanon: Dar al-Fikr al-Masri.

Hadi, Riyadh Hasyim.(2020).  Terj. Sirah Nabawiyah Riwayat Imam Al-Bukhari. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.

Kontributor: Rani Wahyuni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *