saiidusshiddiqiyah.ac.id— Mahasantri Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta, Muhamad Fathul Bari, berhasil mempresentasikan hasil penelitiannya pada forum International Conference on Istiqlal Declaration, Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace di ruang PKUMI (Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal) pada Jumat (25/9/2026).
Dalam presentasinya, Bari mengangkat tema ekoteologi dengan menyoroti isu sampah naskah dan teks keagamaan khas pesantren yang sangat lekat dengan dunia santri, seperti kitab kuning, kitab putih, dan sobekan al-Qur’an usang yang sudah tak terpakai yang kemudian diistilahkan menjadi “Sampah Mulia atau limbah sakral”.
Dalam forum tersebut, Bari mempresentasikan makalah berjudul “Program Pengelolaan Sampah Mulia di Pesantren: Sinergi Ekologi dan Etika Keislaman.” Melalui penelitian ini, ia menguak satu problematika lokal khas pesantren yang luput dari perhatian mayoritas kaum santri, yakni penanganan limbah kitab kuning dan kitab suci al-Qur’an yang cenderung terabaikan, padahal memiliki dimensi sakralitas yang kuat dalam tradisi islam.
Menurut Bari, persoalan yang sekilas tampak sederhana justru membuka ruang bagi kalangan pesantren untuk membaca kembali kitab-kitab mereka mengenai pentingnya perlakuan khusus yang berbeda terhadap jenis limbah satu ini.
“Beberapa kitab karya ulama klasik juga menyoroti pentingnya penanganan sampah mulia ini, seperti Hasyiyah Qulyubi wa Umairah karya Imam Qulyubi, al-Bahru al-Raiq karya Ibnu Nujaim, Nihayah al-Muhtaj Karya Syamsuddina al-Ramli, Fath al-Qadir karya Ibnu Humam, al-Majmu’ karya Imam an-Nawawi, dan Tuhtat al-Muhtaj fi Syarkh al-Minhaj karya al-Haitami,” paparnya.
“Mayoritas pesantren hanya berfokus pada limbah domestik, sedangkan perhatian terhadap limbah sakral ini sangatlah minim dan cenderung terabaikan, padahal memiliki dimensi sakral dalam tradisi islam. Bahkan dari tiga pesantren besar di Jakarta yang diteliti, sekitar 50-70% limbah sakral ini dikelola dengan cara dibakar yang sangat jelas tidak ramah lingkungan”, papar mahasantri penerima beasiswa PBSB Kemenag Angkatan 2022 itu.
Menurut Bari, minimnya perhatian itu harus segera ditangani dengan model pengelolaan limbah yang lebih terstruktur, sistematis, ramah lingkungan dan sesuai dengan etika keislaman. Dalam papernya, Bari mengusulkan terobosan final yang mencakup kategorisasi limbah sakral, pembentukan badan pengawas, penyediaan wadah khusus, sosialisasi berbasis adab, dan pemusnahan ramah lingkungan melalui pelarutan, penguburan, atau insinerasi non-polutan.
Diskusi paper ini merupakan salah satu rangkaian dari agenda International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang diinisiasi oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Forum ini berhasil mempertemukan sebanyak 49 delegasi internasional dari 39 negara yang terdiri dari para grand imam, grand mufti, serta tokoh agama lintas benua dari berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah, Eropa, Amerika, Amerika Latin, dan Asia, dan Afrika.
International Grand Imams International (IGIC) 2026 merupakan pertemuan pertama imam-imam besar sedunia yang diarahkan untuk membicarakan isu konflik, lingkungan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta persoalan kemanusiaan lainnya.
Acara dibuka pada Jum’at, 25 September di aula utama Masjid Istiqlal Jakarta bersamaan dengan dimulainya sesi diskusi panel dari seluruh panelis lintas negara yang berlokasi di ruangan kelas PKUMI.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan secara seremonial pada Sabtu, 26 September 2026, di Hotel Bidakara Jakarta. Pada agenda tersebut, para imam besar, grand mufti, dan tokoh agama dari berbagai negara mengikuti forum diskusi yang membahas mengenai peran kepemimpinan keagamaan dalam membangun harmoni sosial, memperkuat diplomasi keagamaan, serta mendorong perdamaian di tingkat global.
Dalam sambutannya, Prof. Nasar menegaskan bahwa kehadiran para imam memiliki peran penting sebagai ambasador perdamaian sekaligus penghubung kemauan tuhan dengan keinginan manusia.
“Kehadiran imam sebagai moderator antara kemauan Tuhan dengan kehendak manusia. Mari kita jadikan masjid sebagai meeting point, tempat perjumpaan antara hamba dan Tuhan,” paparnya.
Menurut Nasaruddin, posisi imam sangat strategis karena memiliki intensitas komunikasi yang tinggi dengan umat. Dalam sehari semalam, para imam dapat berjumpa dengan umat hingga lima kali melalui pelaksanaan ibadah berjamaah.
Diantara para grand imam dan mufti yang hadir adalah Prof. Quraish Shihab (ulama pakar tafsir kontemporer abad ini), Dr. Khallifa Ezzat (Imam Besar United Kingdom), Syaikh Mohammed A.M Hosein (Imam Besar Masjid Al-Aqsha Palestina), Abbas Shouman (Sekjen Dewan Ulama Senior Al-Azhar), Imam Aziz ef. Hasanović (Grand Mufti Kroasia), Dr. Khadija Abu Zaid (Anggota Dewan Lokal Ulama di Syakirat, distrik Tabarak, Maroko), dan Sheikh Muhammad Abdullah Al-Maghribi (Brasil).
Masing-masing dari para grand imam bertukar gagasan, menyerukan perdamaian, dan peran strategis para imam dunia yang diawali oleh Menteri agama.
“Di tengah semua kekacauan ini, kita ingin para imam ini yang dipelopori oleh imam kita, Imam Masjid Istiqlal dan Kementerian Agama Republik Indonesia, menyusun satu narasi bersama yang tidak hanya ditujukan untuk umat Islam, tetapi ditujukan untuk umat manusia seluruhnya,” ujar Nasaruddin.
Gagasan tersebut mendapat respons dari Grand Imam dari Italia Nader Akkad yang hadir dalam pertemuan. Ia menyampaikan bahwa para imam dari berbagai kawasan dapat membahas hal-hal yang dapat dilakukan bersama dalam menghadapi persoalan dunia.
Sementara itu, Imam Besar Masjid Al-Aqsa Syekh Muhammad Hussein menyampaikan pentingnya peran para imam dalam menyebarkan perdamaian global serta membangun keharmonisan antara manusia dan alam.
Rangkaian konferensi kemudian berlanjut di hari ke 3 yang bertempat di Hotel Grand Syahid Jaya, Jakarta, hingga berlangsungnya penutupan secara seremonial pada malam hari dengan ditutup oleh Menteri Agama secara langsung.
