saiidusshiddiqiyah.ac.id — Sumayyah binti Khayyat merupakan sosok perempuan mulia yang dikenal sebagai syahidah pertama dalam Islam. Ia adalah seorang budak perempuan milik Abu Hudzaifah bin Mughirah. Sumayyah kemudian menikah dengan Yassir bin Amir, seorang pendatang dari Yaman yang datang ke Mekah untuk mencari saudaranya.
Setelah urusannya selesai, saudara Yassir kembali ke kampung halamannya. Sedangkan Yassir memilih menetap di Mekah karena merasa nyaman tinggal di sana. Sebagai pendatang, Yassir tidak memiliki perlindungan kabilah sehingga kehidupannya cukup sulit di tengah masyarakat Arab pada masa jahiliah. Dari pernikahan Sumayah dan Yasir lahirlah seorang anak bernama Ammar bin Yassir. Setelah kelahiran Ammar, Abu Hudzaifah memerdekakan Sumayyah. Namun, tidak lama kemudian Abu Hudzaifah meninggal dunia sehingga keluarga Yassir kehilangan perlindungan. Selanjutnya, Bani Makhzum mengambil alih perlindungan terhadap keluarga Yassir dan Sumayyah.
Ketika Islam datang melalui dakwah Rasulullah SAW, Ammar yang telah beranjak dewasa menerima ajaran Islam dengan hati yang tentram. Setelah memeluk Islam, Ammar pulang menemui kedua orang tuanya dan menceritakan keindahan iman yang mulai tumbuh dalam jiwanya. Ammar kemudian mengajak ayah dan ibunya untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Tanpa ragu, Yassir dan Sumayyah langsung bersyahadat dan masuk Islam seperti putranya.
Sumayyah termasuk golongan pertama yang masuk Islam. Dalam riwayat Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa tujuh orang pertama yang menampakkan keislamannya secara terang-terangan adalah Rasulullah SAW, Abu Bakar, Ammar, Sumayyah, Shuhaib, Bilal, dan Al-Miqdad.
Penyiksaan Kaum Quraisy terhadap Sumayyah Binti Khayyat
Keislaman keluarga Yassir diketahui oleh Bani Makhzum. Ammar dan keluarganya tidak pernah menyembunyikan keyakinan mereka, bahkan mereka dengan tegas menyatakan keislamannya di hadapan masyarakat Quraisy. Akibatnya, orang-orang kafir Quraisy memberikan berbagai siksaan dan permusuhan kepada mereka. Banyak sahabat dan budak yang disiksa oleh majikannya karena memeluk agama Islam
Pada saat itu, Rasulullah SAW belum memiliki kekuatan untuk melindungi para sahabat yang lemah. Yassir, Sumayyah, dan Ammar diseret ke tengah padang pasir, dijemur di bawah terik matahari, serta tidak diberi makanan dan minuman. Mereka dicambuk berkali-kali dan tubuh mereka ditimbuni pasir yang sangat panas.
Kaum Quraisy memaksa keluarga Yassir untuk meninggalkan keyakinan tauhid dan kembali kepada agama nenek moyang mereka. Akan tetapi, keluarga Yassir tetap teguh mempertahankan keimanannya. Bahkan ketika sebongkah batu besar diletakkan di atas dada Sumayyah, tidak terdengar keluhan ataupun tangisan darinya. Ia justru terus mengucapkan kalimat tauhid, “Ahad… Ahad…” sebagaimana Bilal bin Rabah ketika disiksa oleh kaum Quraisy.
Suatu hari Rasulullah SAW bersama Utsman bin Affan melewati tempat penyiksaan keluarga Yassir. Rasulullah SAW sangat berduka melihat keadaan mereka, tetapi belum mampu memberikan pertolongan secara langsung. Yassir kemudian mengadukan penderitaan yang dialami keluarganya kepada Rasulullah SAW. Mendengar hal tersebut, Rasulullah bersabda: “Bersabarlah wahai keluarga Yassir, karena sesungguhnya surga adalah tempat yang dijanjikan bagi kalian.” Ucapan Rasulullah SAW tersebut semakin menguatkan iman dan keteguhan hati keluarga Yassir.
Ketika kaum Quraisy merasa putus asa untuk memaksa Sumayyah meninggalkan Islam, Abu Jahal menusukkan tombaknya kepada Sumayyah hingga wafat. Dengan demikian, Sumayyah binti Khayyat menjadi wanita pertama yang syahid di jalan Allah.
Tidak lama setelah itu, Yassir juga wafat akibat beratnya siksaan yang diterimanya. Sebelum meninggal, ia tetap mengucapkan kalimat tauhid, “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah.” Keduanya wafat sebagai syuhada pada tahun ketujuh sebelum hijrah.
Dalam kitab Usd al-Ghabah fi Ma’rifat ash-Shahabah, Ibnu Atsir menjelaskan bahwa Abu Jahal membunuh Sumayyah dengan menusukkan tombak ke tubuhnya hingga ia meninggal dunia. Sumayyah merupakan orang pertama yang mati syahid dalam Islam dan termasuk golongan yang menampakkan keislamannya secara terang-terangan pada masa awal dakwah Islam.
Allah SWT juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan tetap teguh dalam menghadapi ujian. Hal tersebut dijelaskan dalam Surah An-Nahl ayat 41:
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sungguh, pahala di akhirat itu lebih besar sekiranya mereka mengetahui.”
Peristiwa syahidnya Sumayyah dan Yassir menjadikan putranya, Ammar bin Yassir sebagai sahabat yang sangat dihormati di kalangan kaum muslimin. Ammar senantiasa ikut bersama Rasulullah SAW dalam berbagai perjuangan melawan kaum kafir Quraisy.
Kisah Sumayyah binti Khayyat memberikan pelajaran besar bagi setiap muslimah agar meneladani ketegaran, keteguhan iman, dan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup. Ketabahan Sumayyah menunjukkan bahwa kesabaran seorang mukmin tidak memiliki batas selama ia tetap bersandar kepada Allah SWT.
Referensi
Watiniyah, Ibnu. 2020. Nisa’ul Auliya: Kisah Wanita-Wanita Kekasih Allah. Jakarta: Kaysa Media.
An-Naisaburi, Al-Hakim. 1990. Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Katsir, Ibnu. 2004. Al-Bidayah wa an-Nihayah, terj. Abu Ihsan Al-Atsari, Jilid 1. Jakarta: Darul Haq.
Al-Istanbuli, Mahmud Mahdi, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dkk. 2005. Para Shahabiyat. Solo: At-Tibyan.
Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2011. Sirah Nabawiyah Ar-Rahiq Al-Makhtum, terj. Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Kontributor: Salsabila, semester II
