saiidusshiddiqiyah.ac.id—Pada masa awal kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq ra, umat Islam menghadapi masa-masa sulit. Beliau dihadapkan dengan banyaknya pemberontakan dari orang-orang murtad (keluar dari Islam). Hal ini dikarenakan mereka merasa perjanjian setia kepada Islam hanya berlangsung ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup. Alhasil, ketika Nabi SAW wafat, perjanjian itu pun batal.
Fakta terkait adanya kelompok murtad juga dapat dijelaskan dari segi kedangkalan dan motivasi dalam beragama. Sebagian dari mereka memeluk Islam tanpa keimanan yang kokoh. Mereka tidak sempat mempelajari Islam secara mendalam sehingga ajaran Islam belum meresap ke dalam sanubari mereka. Selain itu, ada juga yang memeluk Islam guna menghindari perang melawan kaum Muslimin, karena faktor ekonomi lantaran ingin mendapat barang rampasan perang, serta nama dan kedudukan.
Kelompok murtad tersebut terdiri dari orang-orang yang secara terang-terangan kembali menjadi kafir dan menentang kepemimpinan Abu Bakar, orang-orang yang enggan membayar zakat, bahkan juga ada yang mengaku sebagai nabi. Di antara mereka, yang paling berpengaruh adalah Musailamah al-Kadzab dari suku Bani Hanifah di Yamamah.
Munculnya Musailamah al-Kadzab
Musailamah al-Kadzab memiliki nama asli Abu Tsumamah Musailamah bin Habib dan memiliki gelar Rahmanul Yamamah (Maha Pengasih dari Yamamah). Ia berasal dari bani Hanifah, salah satu suku terbesar di jazirah Arab yang terletak di Yamamah (daerah yang terletak di kota Riyadh).
Musailamah dikenal memiliki kemampuan dalam berbicara dan pintar menarik perhatian orang-orang. Tak heran, banyak orang-orang terpesona kepada dirinya hingga ekstremnya mereka mengakui bahwa Musailamah adalah seorang nabi. Sedikit demi sedikit orang-orang bani Hanifah dan suku Arab Tengah mulai percaya bahwa Musailamah benar-benar nabi yang diutus Allah kepada mereka.
Dalam kitab Rahiq al-Makhtum karya Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri terdapat keterangan bahwa setelah pembebasan kota Mekah, Nabi Muhammad SAW didatangi malaikat Jibril dengan membawa kabar tentang Haudzah bin Ali (penguasa Yamamah pada saat itu) telah meninggal dunia. Kemudian Nabi Muhammad Saw bersabda:
“Dari Yamamah akan muncul seorang pendusta yang mengaku sebagai nabi, yang akan membunuh orang-orang setelahku”. (HR. Ahmad)
Perlu diketahui, Rasulullah SAW adalah orang pertama yang memberikan julukan al-Kadzab (yang artinya si pendusta) kepada Musailamah karena ia telah berkata dusta dan membuat fitnah. Musailamah selalu berusaha meniru mukjizat Rasulullah SAW, akan tetapi usahanya begitu sia-sia. Ia pernah mengusap kedua mata orang yang sakit akan tetapi yang terjadi adalah orang tersebut menjadi buta.
Musailamah juga pernah membuat beberapa karya sastra yang bertujuan untuk menandingi ayat-ayat Al-Qur’an. Akan tetapi, karya-karya yang dibuat Musailamah ini begitu tak bermutu, jauh di bawah standar sastra Arab kala itu. Walau demikian, masih ada saja orang yang percaya bahwa Musailamah benar-benar nabi dan rasul Allah. Tidak hanya satu atau dua, tapi ribuan, bahkan puluhan ribu orang percaya dan menjadi pengikutnya.
Kedatangan Pasukan Muslim di Yamamah
Ketika Khalifah Abu Bakar mengetahui bahwa ajaran sesat yang disebarkan oleh Musailamah semakin meluas, beliau segera mengirimkan surat ultimatum kepada Musailamah dan para pengikutnya agar kembali kepada ajaran Islam. Namun, Musailamah menolak ajakan tersebut sehingga terjadilah peperangan antara kaum muslimin dan kelompok pembangkang itu.
Khalifah Abu Bakar segera mengirimkan pasukan kaum muslimin di bawah komando Ikrimah bin Abu Jahal. Ketika pasukan tersebut tiba di Yamamah, ia terkejut melihat jumlah pasukan Musailamah yang sangat besar, mencapai sekitar 40.000 orang. Karena perbedaan kekuatan yang begitu jauh, pasukan kaum muslimin mengalami kekalahan di tangan tentara Musailamah.
Tatkala kabar kekalahan itu sampai ke telinga Khalifah Abu Bakar, beliau segera mengirimkan pasukan tambahan di bawah komando Syurahbil bin Hasanah. Pasukan tersebut ditugaskan untuk membantu Ikrimah bin Abu Jahal, tetapi perintahnya hanya mengawasi pergerakan pasukan Musailamah.
Pasukan bantuan yang dijanjikan oleh Khalifah Abu Bakar akhirnya tiba di Yamamah. Pasukan tersebut dipimpin oleh panglima perang Khalid bin Walid, yang sebelumnya telah berhasil menumpas pasukan nabi palsu Thulaihah di daerah Buzakhah. Dengan kedatangan pasukan ini, jumlah kaum muslimin bertambah menjadi sekitar tiga belas ribu orang. Pasukan Gabungan itu kemudian bersiap untuk menghadapi Musailamah al-Kadzab dan bala tentaranya.
Sementara itu, kabar kedatangan pasukan kaum muslimin yang dipimpin Khalid bin Walid sampai ke telinga Musailamah. Ia segera memerintahkan pasukannya untuk bersiap di daerah Aqraba’, yang terletak di perbatasan wilayah Yamamah. Di tempat inilah kedua pasukan kemudian berhadapan dan terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat.
Sebagai panglima perang, Khalid bin Walid menyusun kekuatan pasukan kaum muslimin menjadi tiga bagian. Pasukan tengah dipimpin langsung olehnya, sayap kanan dipimpin oleh Zaid bin Khattab (saudara Umar bin Khattab), dan sayap kiri dipimpin oleh Abu Hudzaifah.
Di pihak lawan, Musailamah sendiri memimpin pasukan tengahnya. Sedangkan sayap kiri dipimpin oleh Nahar ar-Rahal bin Unfuwah dan sayap kanan oleh Mahkam bin Thufail. Keduanya merupakan pembantu Musailamah dalam menyebarkan kesesatannya.
Berkecamuknya Pertempuran di Aqraba’
Pertempuran berlangsung sangat sengit di bumi Aqraba’. Pada awalnya, pasukan Muslim terdesak karena jumlah musuh jauh lebih banyak. Korban mulai berjatuhan, termasuk para penghafal Al-Qur’an. Namun semangat juang para sahabat tidak padam.
Melihat banyaknya pasukan Muslim yang berguguran, Khalid bin Walid segera menyusun strategi baru dengan memisahkan barisan Muhajirin, Anshar, dan tiap kabilah agar bertempur bersama kelompoknya masing-masing. Langkah itu membangkitkan semangat baru dalam barisan Muslimin. Mereka menyerang dengan kekuatan penuh hingga pasukan Musailamah mulai goyah.
Tak disangka, siasat perang yang dilakukan Khalid membuahkan hasil yang luar biasa. Kaum Muhajirin yang bersatu padu mampu memukul mundur lawan-lawan yang mereka hadapi, begitu juga kaum Anshar dan kabilah-kabilah lain. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya tubuh-tubuh pendukung Musailamah mulai berjatuhan dari puluhan kemudian ratusan kemudian ribuan.
Melihat keadaan yang berbalik, Musailamah dan pasukannya melarikan diri ke dalam Benteng Hadiqaturrahman (taman kenikmatan). Namun, benteng itu segera berubah menjadi Hadiqatul Maut (taman kematian) karena pertempuran yang begitu dahsyat.
Keberanian Al-Bara’ bin Malik, Tewasnya Musailamah, dan Kemenangan Kaum Muslimin
Dalam situasi genting itu, sahabat pemberani Al-Bara’ bin Malik (saudara dari Anas bin Malik) mengusulkan agar dirinya dilemparkan ke dalam benteng menggunakan tombak agar bisa membuka pintu dari dalam.
Rencana itu sangat berisiko, tetapi semangat Al-Bara’ membakar keberanian pasukan Muslim. Dengan tekad yang kuat, ia akhirnya dilemparkan ke dalam benteng dan berhasil membuka gerbang.
Pasukan Muslim pun menyerbu dan menaklukkan benteng tersebut. Pertempuran di dalam benteng berlangsung dahsyat. Akhirnya Musailamah al-Kadzab tewas oleh lemparan tombak Wahsyi bin Harb, tombak yang sama yang dulu digunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib.
Dengan tewasnya Musailamah, perang di Yamamah berakhir dan kemenangan berpihak kepada kaum Muslimin.
Menurut Ibnu Katsir (diungkapkan melalui Kitab Bidayah wan Nihayah nya), dalam pertempuran dahsyat tersebut, jumlah pasukan Musailamah yang tewas mencapai sekitar 10.000 hingga 20.000 orang. Sedangkan dari pihak Muslim, sekitar 600 orang gugur sebagai syuhada, termasuk 70 penghafal Al-Qur’an.
Hikmah Perang Yamamah
Perang Yamamah meninggalkan pelajaran besar bagi umat Islam. Banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang gugur membuat para sahabat menyadari betapa pentingnya menjaga wahyu Allah agar tidak hilang. Dari peristiwa inilah muncul gagasan untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, sebuah langkah besar yang menjadi bagian penting dari sejarah Islam.
Perang ini bukan sekadar kisah tentang darah dan senjata, tetapi juga tentang iman, pengorbanan, dan tanggung jawab menjaga agama Allah. Para sahabat menunjukkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya dalam perang, melainkan dalam menjaga kebenaran dan kemurnian wahyu Ilahi.
Demikianlah sedikit pembahasan mengenai Perang Yamamah. Perang yang menjadi bukti bukti keteguhan iman dan keberanian para sahabat dalam membela Islam. Perang yang mengajarkan arti keteguhan, pengorbanan, dan cinta terhadap Al-Qur’an. Semoga semangat itu senantiasa hidup dalam hati setiap generasi Muslim.
Referensi:
Abdurahman, F., Sudansah, A. 2018. The Great Of Abu Bakar Ash-Shiddiq: Keping-keping Mozaik Menakjubkan Kehidupan Khalifah Pertama. Solo: Tinta Medina.
Al- Azizi, A.S. 2021. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Yogyakarta: Diva Press
Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman. 2020. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Mesir: Dar Al-Wafa’
As-Said, S.M. 2024. Abu Bakar Ash-Shiddiq, Patner Hijrah Rasulullah Yang Dijamin Masuk Surga. Solo: Aqwam
Buchori, Dindin Saefuddin. 2009. Sejarah Politik Islam. Jakarta: Pustaka Intermasa.
Katsir, Ibnu. 2004. Tartib wa Tahdzib Al-Kitab Bidayah wan Nihayah. Terj. Abu Ihsan al-Atsari. Jakarta: Darul Haq
Komandoko, G. 2015. Sehari-hari Bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pontianak: Derwati Press
Suruc, Salih. 2015. Best Stories Of Abu Bakar Shiddiq. Terj. Abdul Aziz dan Andi Setiawan. Sunt. Bunda Ina. Depok: Kaysa Media
Kontributor: Muhammad Farik Al-Farisi, semester IV
