saiidusshiddiqiyah.ac.id—Sejarah seringkali mencatat Dinasti Mamluk di Mesir sebagai sebuah rezim militer yang maskulin, yang lahir dari ketajaman pedang para budak ksatria perkasa. Di bawah bayang-bayang kejayaan para sultan dan benteng-benteng batu yang kokoh, nama-nama seperti baybars atau Qutuz kerap mendominasi narasi penaklukan atas tentara salib dan Mongol.
Namun, di balik panggung politik yang penuh darah dan intrik tersebut, terdapat sebuah realitas yang jarang terungkap: fondasi awal kekuasaan Dinasti mamluk justru diletakan, dipertahankan, dan dilegitimasi oleh tangan-tangan Perempuan Tangguh yang bergerak di balik dinding-dinding harem istana.
Perempuan dalam rumah tangga elite mamluk bukanlah sekedar komoditas domestik atau simbol status sosial. Lebih dari itu, mereka Adalah arsitek politik yang ulung. Mulai dari sosok legendaris Shajar Al-Durr satu-satunya perempuan yang pernah naik tahta sebagai sultanah dan secara De facto menjembatani transisi dari Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamluk hingga para ibu suri dan selir yang mengendalikan aliansi pernikahan, mengelola kekayaan lewat institusi wakaf, serta menentukan ahli waris takhta
Aliansi pernikahan antar keluarga sangat terikat erat dengan pasang surutnya keluarga individu dalam politik dan Masyarakat. Keberlanjutan keluarga melalui pernikahan dan kelahiran anak memastikan transmisi pengetahuan dan keterampilan khusus, serta kekayaan.
Shajar Al-Durr merupakan satu-satunya Perempuan yang pernah duduk di tahta kesultanan Mesir. Ia hanya memegang gelar kesultanan selama 80 hari, namun meninggalkan pengaruh besar melalui bangunan-bangunan arsitektur yang dihiasi simbol khasnya: pohon berlapis Mutiara dan bertatah emas.
Karena sedikitnya sumber, tanggal lahir Shajar al-Durr tidak diketahui secara pasti. Namun beberapa sejarawan memperkirakan bahwa ia lahir sekitar tahun 1230 M, kemungkinan besar di wilayah Armenia modern. Menurut penulis Emily fu: Ia berasal dari bangsa Qipchaq (Kipchak) di padang stepa wilayah Rusia Selatan saat ini, lalu diperbudak.
Pada masa itu, bangsa Mongol sedang melakukan ekspansi besar ke Asia Barat. Sebagian suku Kipchak bergabung dengan Mongol, sementara yang lain tercerai-berai. Banyak dari mereka ditawan dan dijual sebagai budak kepada kalangan penguasa, termasuk Dinasti Ayyubiyah di Mesir. Dalam keadaan inilah Shajar al-Durr dibawa dari tanah kelahirannya dan dijual ke harem khalifah Abbasiyyah.
Pada usia 11 tahun, ia diberikan sebagai hadiah kepada pangeran muda al-Salih Ayyub. Tidak diketahui secara pasti agama asalnya. Sejarawan Hossein kamaly menjelaskan bahwa jika ia memang berdarah Armenia maka kemungkinan besar sebagai Kristen, sedangkan jika berasal dari etnis Turki maka kemungkinan lahir sebagai muslim. Yang jelas, pada tahun 1239 M ia tinggal di harem khalifah Baghdad dan namanya tercatat di antara budak Perempuan di istana .
Ketika berusia sekitar 11 tahun, ia dipindahkan dari Damaskus atau Kairo dan diberikan kepada al-Salih Ayyub, yang saat itu menjadi gubernur Hisn Kayfa. Pada masa itu, seorang selir memang dianggap hadiah yang layak untuk sekutu politik. Namun hidup Shajar berubah setelah bertemu sang pangeran.
Shajar menjalin hubungan penuh kasih sayang dengan Al-Salih hingga akhirnya menjadi selir kesayangannya. Sang pangeran memberi gelar Shajar Al -Durr yang berarti pohon Mutiara .
Ia sempat melahirkan seorang putra, namun anak itu meninggal Ketika masih bayi. Pada masa itu, posisi seorang selir menjadi kuat jika dia mampu melahirkan pewaris bagi tuannya. Meski demikian, takdir berkata lain.
Pada tahun 1247 M, sepupu as-Salih merebut takhta Mesir dan mengasingkannya ke benteng Kerak. Al-Salih hanya ditemani beberapa orang setia, salah-satunya Shajar Al–Durr. Kesetiaan Shajar kepada Al-Salih membuatnya Semak. Ia bahkan menggelar tradisi dengan menikahi Shajar secara resmi, memerdekakannya dan memberinya gelar ratu.
Dengan bantuan jaringan Kipchak milik Shajar, Al-Salih berhasil merekrut pasukan Mamluk dari kalangan Kipchak laki-laki. Ia kemudian merebut Kembali Mesir dan mengokohkan kekuasaannya.
Setelah Kembali berkuasa, as-Salih menghadapi Sembilan tahun penuh gejolak. Dalam salah satu Riwayat disebutkan bahwa ia sempat pergi ke Syam untuk memperluas wilayah kekuasaannya dan meninggalkan Shajar Al-Durr sebagai pemangku pemerintahan. Kepercayaan sebesar itu menunjukan kemampuan Shajar dalam mengelola negara . Ketika kabar datang bahwa Raja Louis IX dari Perancis memimpin perang Salib Ketujuh menuju Mesir, Shajar segera mengirim Fakhr al-Din untuk menghadang pasukan salib sambil mengirim pesan kepada suaminya .
Riwayat lain menyebutkan bahwa Al-Salih sebenarnya tidak meninggalkan Mesir karena sedang sakit keras. Apapun kenyataannya, satu hal yang pasti Adalah: Al-Saleh meninggal dunia di Tengah peperangan.
Peperangan sultan pada saat genting dapat menghancurkan moral pasukan Mesir Namun Shajar Al-Durr bertindak cerdas. Selama tiga bulan ia menyembunyikan kematian suaminya. Dokter tetap keluar masuk tenda sultan, makanan terus diantar, dan music dimainkan di luar tenda agar orang mengira sultan masih hidup.
Sementara itu, Shajar memimpin pemerintahan dan bahkan memalsukan tanda tangan suaminya pada berbagai Keputusan negara. Strateginya berhasil. Pasukan Mesir akhirnya mampu memukul mundur tentara salib dan bahkan menangkap raja Louis IX.
Setelah ancaman perang salib mereda, Shajar dan para Mamluk mengangkat Turan Shah, putra al -Saleh, sebagai sultan baru. Namun Turan Shah membuat banyak kesalahan dan menjauh dari shajar maupun para Mamluk.
Puncaknya terjadi Ketika ia mengancam Shajar dan berusaha merampas hartanya. Shajar meminta perlindungan kepada para Mamluk. Karena telah melihat kecakapannya memimpin negara, mereka setuju untuk menggulingkan Turan Shah.
Pada 2 Mei 1250 M, Turan Shah dibunuh. Sejarawan abad ke-13, ibn Wasil, mencatat bahwa para mamluk memutuskan; “Jabatan sultan dan penguasa Mesir harus dipegang oleh Shajar Al-Durr “
Namanya kemudian disebut dalam khutbah Jumat sebagai “Sultana Kairo dan Mesir.” Ini sangat luar biasa, karena dalam Sejarah Islam sangat sedikit Perempuan yang Namanya disebut dalam khutbah sebagai penguasa resmi.
Tindakan pertama Shajar sebagai penguasa Adalah menegosiasikan tebusan Raja Louis IX dan mengakhiri perang salib ketujuh melalui perjanjian damai. Dari perundingan itu, Mesir memperoleh tebusan yang sangat besar sehingga kas Kerajaan Kembali penuh.
Shajar juga mencetak koin atas Namanya sendiri, membangun makam suaminya, serta mendirikan berbagai proyek arsitektur. Namun tidak semua pihak menerima Perempuan sebagai sultan. Khalifah Abbasiyah di Baghdad menolak mengakui kekuasaannya. Karena tekanan politik dan ancaman pemberontakan, setelah hanya 80 hari berkuasa, Shajar menikahi Izz al-Din Aybak pada tahun 1250 M, Salah Satu syarat pernikahan itu ialah Aybak harus menceraikan istri pertamanya .
Walaupun Aybak Menjadi sultan secara resmi, kekuasaan nyata dan tetap berada di tangan Shajar. Semua Keputusan penting dan urusan administrasi masih ia kendalikan. Namun Aybak ingin memiliki kekuasaan penuh. ia bahkan berselisih dengan Shajar mengenai harta peninggalan al-Salih yang diduga disembunyikan oleh shajar agar aybak tidak bisa memperkuat posisinya.
Pada tahun 1257 M, Aybak mencoba menikahi putri dari Mosul untuk memperbesar pengaruh politiknya. Shajar menganggap itu sebagai pengkhianatan.
Tak lama kemudian, Aybak ditemukan terbunuh di paviliun istana. Banyak orang menduga shajar berada di balik pembunuhan itu, meskipun tidak ada bukti pasti.
Setelah kematian Aybak, putranya yang masih berusia 15 tahun, Al-Manshur Ali, naik tahta dengan dukungan para Mamluk. Pembunuhan Aybak membuat Shajar kehilangan dukungan politik. ia akhirnya diserahkan kepada mantan istri Aybak untuk dihukum.
Shajar al-Durr dipukuli hingga mati menggunakan bakiak kayu, lalu jasadnya diseret ke benteng dan dilempar dari atas .Tubuhnya bahkan sempat dicabik anjing sebelum akhirnya dimakamkan di mausoleum yang ia bangun sendiri.
Meski pemerintahannya singkat, Shajar Al-Durr tetap dikenang sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Islam dan pendiri awal kesultanan Mamluk di Mesir.
Referensi :
Mazor, Amir. 2015. The rise and fall of a Muslim regiment: The Manṣūriyya in the first Mamluk sultanate, Göttingen: V&R Unipress.
Hourani, Albert. 1991 . A History of the Arab Peoples. London: Faber and Faber.
Nicolle, David. 1993 The Mamluks: 1250–1517. London: Osprey Publishing.
Irwin, Robert. 1986 The Middle East in the Middle Ages: The Early Mamluk Sultanate, 1250–1382. Carbondale: Southern Illinois University Press.
Mernissi, Fatima. 1993 “Shajar al-Durr: The First Muslim Woman Ruler.” Dalam The Forgotten Queens of Islam, hlm. 1–15. Minneapolis: University of Minnesota Press.
Rahmadi, dan Minanurrohman. “Syajarat Ad-Durr: Budak menjadi Raja (Sejarah berdirinya Dinasti Mamalik).” Jurnal Pendidikan Tambusai 8, no. 3 (2024): 47393–47404.
Kontributor: Aas Noer Asiyah
