Kesedihan yang Tak Terlupakan: Refleksi Atas Wafatnya Sang Nabi Terakhir

saiidusshiddiqiyah.ac.id—Senin, 12 Rabiul Awal 11 H, menjadi hari yang menyelimuti Madinah dengan kedukaan yang amat mendalam. Pada waktu dhuha, saat matahari mulai memancarkan teriknya, berita wafatnya Rasulullah SAW tersebar dengan cepat, mengubah suasana kota menjadi kelabu. Anas bin Malik memberikan gambaran yang sangat menyentuh mengenai perbedaan suasana batin penduduk Madinah pada saat itu: “Aku tidak mendapatkan hari yang lebih indah dan lebih bercahaya daripada hari di kala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasuki Madinah, dan aku tidak pernah menemukan hari yang lebih buruk dan lebih gelap daripada hari ketika Rasulullah SAW wafat.” Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin, melainkan padamnya cahaya nubuwwah yang selama ini menuntun umat manusia. 

Rentetan peristiwa ini bermula pada akhir bulan Safar, tepatnya tanggal 28 atau 29 Safar 11 H. Sepulang dari menghadiri penguburan jenazah seorang sahabat di pemakaman Baqi’, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai merasakan pusing di kepala dan panas yang merambat ke sekujur tubuhnya. Demam tinggi dan sakit kepala yang sangat intens tersebut menandai awal melemahnya kondisi fisik beliau. 

Meskipun kondisi kesehatan beliau semakin menurun, Rasulullah SAW tetap berupaya menjalankan tanggung jawabnya. Namun, saat tubuh beliau semakin tidak berdaya, beliau meminta izin kepada istri-istrinya untuk dirawat di satu tempat yang beliau kehendaki. Suatu hari beliau bertanya kepada istri-istrinya, ’’Di mana giliranku besok? Di mana giliranku besok? Beliau akhirnya menetap di rumah Aisyah, tempat beliau menghabiskan hari-hari terakhirnya. Dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, beliau berjalan menuju bilik Aisyah dengan dipapah oleh dua orang kerabatnya, yaitu Fadhl bin Al-Abbas dan Ali bin Abi Thalib, dengan kedua kaki yang melangkah lemah. 

Keteguhan Rasulullah SAW dalam menjaga ibadah salat tidak goyah meskipun fisiknya terus melemah. Hingga akhirnya, Ketika beliau tidak lagi sanggup keluar menuju masjid, beliau memberikan instruksi tegas, “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami orang-orang salat.”  

Aisyah sempat mengajukan keberatan dan mengusulkan sahabat lain untuk menggantikan posisi tersebut. Kekhawatiran Aisyah didasari oleh kondisi ayahnya, Abu Bakar, yang merupakan seorang laki-laki berfisik lemah, bersuara pelan, dan sangat mudah menangis saat membaca Al-Qur’an. Aisyah khawatir orang-orang akan berprasangka buruk kepada ayahnya jika ia menempati posisi imam di tengah suasana duka tersebut. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap pada keputusannya. Menanggapi desakan Aisyah, beliau berkata, “Engkau seperti wanita Yusuf.” Kalimat ini menegaskan otoritas beliau bahwa posisi imam tidak boleh diisi oleh selain Abu Bakar. Tercatat dalam sejarah bahwa sejak waktu Isya di hari Kamis hingga Subuh di hari Senin, Abu Bakar telah menggantikan posisi beliau sebagai imam salat sebanyak 17 kali. 

Di tengah penderitaan fisik yang kian memuncak pada hari Kamis itu, perhatian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap masa depan umat tidak sedikit pun surut. Dalam kondisi payah, beliau memanggil keluarganya dan berkata, “Kemarilah kalian, aku tuliskan untuk kalian sebuah pesan yang kalian tidak akan tersesat setelahnya.” Rasulullah menyampaikan tiga wasiat utama sebagai pegangan umat:

  • Perintah untuk mengeluarkan kaum Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrik dari Jazirah Arab.
  • Pemberian penghargaan kepada para utusan sebagaimana yang biasa beliau lakukan semasa hidup. 
  • Perintah untuk senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau dalam riwayat lain beliau menekankan wasiat ini dengan kalimat, “Jagalah salat dan budak-budak kalian.

Namun, pada hari Sabtu atau Ahad Rasulullah SAW merasakan penyakitnya yang sedikit berkurang dalam tubuhnya, sehingga beliau memerintahkan Aisyah untuk menyiapkan air di bejana kemudian ketika keluar beliau dipapah oleh dua orang sahabatnya. Ketika Nabi masuk kedalam masjid, Abu Bakar berada dalam posisi sebagai imam, Abu Bakar menyadari akan kehadiran beliau, kemudian ia berusaha untuk mundur. Namun, Rasulullah memberikan isyarat kepadanya dengan anggukan kepalanya agar Abu Bakar tidak mundur, beliau berkata, ”Dudukanlah aku di samping Abu Bakar.” Kemudian dua orang sahabat tersebut mendudukkan Rasulullah di sebelah kiri, sehingga Abu Bakar mengikuti salatnya Rasulullah, dan memperdengarkan takbir Rasulullah kepada para jamaah.

Pada hari Senin, 12 Rabiulawal, tepat di waktu subuh ketika para sahabat sedang melaksanakan salat di masjid, Rasulullah SAW tiba-tiba membuka tirai kamarnya. Beliau memandang jemaah yang teratur itu dan tersenyum sangat lebar. Pemandangan ini sempat menerbitkan harapan di hati para sahabat bahwa beliau telah pulih, sebelum akhirnya kondisi beliau kembali menurun saat hari beranjak siang.

Di waktu dhuha, suasana dramatis kian menyelimuti. Rasulullah memanggil putrinya, Fatimah, dan membisikkan sesuatu yang membuatnya menangis tersedu-sedu, namun setelah bisikan kedua, Fatimah pun tertawa. Kelak diketahui bahwa tangisan itu karena kabar wafatnya beliau, sementara tawa itu muncul karena kabar bahwa Fatimah adalah anggota keluarga pertama yang akan menyusul beliau.

Di detik-detik terakhir, Aisyah menarik tubuh Rasulullah SAW ke pangkuannya. Aisyah mengatakan bahwa ini adalah limpahan nikmat yang telah Allah SWT berikan kepadanya. Karena Rasulullah SAW meninggal pada saat hari gilirannya, berada di rumahnya, berada dalam rengkuhan dadanya, dan Allah menyatukan ludah beliau dan ludah istri kesayangannya itu. 

Di pangkuan Aisyah, Rasulullah sempat memberikan isyarat ingin bersiwak saat melihat Abdurrahman bin Abu Bakar membawa kayu siwak. Setelah Aisyah membantu beliau bersiwak dengan lembut, Rasulullah mengangkat jarinya ke arah langit dan mengucapkan doa terakhirnya: “Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Ya Allah, ampunilah dosaku dan rahmatilah aku. Pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Mahatinggi, Kekasih Yang Mahatinggi.”

Beliau mengulang kalimat tersebut sebanyak tiga kali hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pada waktu dhuha di usianya yang ke-63 tahun lebih empat hari. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Sang Nabi telah kembali ke haribaan Ilahi.

Kabar wafatnya Nabi memicu reaksi yang kontras di kalangan sahabat. Umar bin Khattab, didorong oleh kecintaan yang luar biasa, berada dalam kondisi penyangkalan yang hebat. Ia menegaskan di hadapan orang banyak bahwa Rasulullah tidak wafat, melainkan hanya pergi menemui Tuhannya sebagaimana Musa dan akan kembali lagi. Ia bahkan mengancam siapa pun yang menyebut Nabi telah wafat.

Di tengah keguncangan tersebut, Abu Bakar As-Siddiq tampil dengan ketenangan monumental. Setelah mencium kening Nabi dan memastikan kewafatannya, ia berpidato untuk menenangkan umat: “Amma ba’du, barang siapa di antara kalian menyembah Muhammad, maka sesungguhnya dia telah wafat, dan barang siapa di antara kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu maha hidup dan tidak akan mati.” Abu Bakar kemudian membacakan Surah Ali-Imran ayat 144:

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ ۝١٤٤

Artinya:“(Nabi) Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali-Imran: 144).

Kala mendengar ayat yang dibacakan Abu Bakar tersebut, Umar berkata, ”Demi Allah, Tidaklah aku mendengar Abu Bakar membacanya, kecuali aku tercengang hingga kedua kakiku tak mampu lagi menyanggaku, kemudian aku terjatuh ke tanah pada saat ia membacanya, pada saat itu baru aku menyadari bahwa Rasulullah SAW benar-benar telat wafat. Sikap Umar ini merupakan suatu bentuk perhatian dan kecintaan beliau terhadap Nabi dan agama Islam secara pasti. Ia menunjukan sikap patriotismenya untuk menegaskan bahwa Nabi tidak wafat melainkan Allah yang mengambilnya. Ini merupakan bentuk kesigapan Umar agar orang-orang tidak berbalik murtad setelah kepergian baginda Nabi Muhammad SAW.

Prosesi pengurusan jenazah Rasulullah SAW dilakukan dengan penuh penghormatan dan rasa duka oleh para sahabat. Beliau dimandikan, dikafani, dan disalatkan secara bergelombang oleh umat. Sesuai dengan tradisi kenabian bahwa seorang Nabi dimakamkan di tempat ia wafat, maka liang lahat pun digali di dalam kamar Aisyah. Seluruh prosesi pemakaman selesai dilaksanakan pada akhir malam Rabu. Kepergian beliau meninggalkan luka yang tak terhapuskan, namun warisan iman dan ajarannya tetap hidup, menjadi pelita bagi umat manusia hingga akhir zaman.

Referensi :

Al-Buti, Muhammad Sa’id Ramadan. 1999. Fiqh as-Sīrah an-Nabawiyyah. Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2001. Ar-Rahiq al-Makhtum. Jakarta: Pustaka as-Shofwa.

Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2018. Ar-Rahiq al-Makhtum: Sirah Nabawiyah Sejarah Lengkap Kehidupan Nabi Muhammad SAW. Jakarta: Qisthi Press.

Ibn Hisham, Abd al-Malik. 2009. As-Sirah an-Nabawiyyah. Beirut: Dar Ibn Hazm.

Ibn Ishaq, Muhammad. 1976. As-Sirah an-Nabawiyyah. Tahqiq oleh Muhammad Hamidullah. Rabat: Maktabah al-Ma‘arif.

Karmala, K., Candra Suwandi, & Bahaking Rama. 2024. “Biografi Nabi Muhammad SAW Masa di Makkah dan Madinah Hingga Wafat”. ULIL ALBAB.

Kontributor: Dani Abdul Ghani, semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *