saiidusshiddiqiyah.ac.id— Nama Abuya Dimyati sangat lekat dengan Cidahu, Pandeglang, Banten. Pesantren menjadi pusat penting dalam pewarisan ilmu dan pembentukan jaringan murid. Melalui kegiatan mengaji, santri mengenal kitab-kitab klasik, mempelajari disiplin ilmu keislaman, dan membiasakan diri dengan tata kehidupan pesantren. Hubungan guru dan murid juga membuat pengetahuan tidak berhenti pada pemahaman tekstual, tetapi berlanjut melalui perilaku dan praktik keagamaan.
Tradisi pesantren memiliki ciri kesinambungan. Seorang santri belajar kepada guru, kemudian sebagian dari mereka mengajar kembali di lingkungan masing-masing. Dengan cara ini, pengaruh seorang ulama dapat meluas melewati tempat tinggalnya. Pengaruh tersebut tidak selalu berupa lembaga formal atau karya yang diterbitkan, tetapi juga dapat berupa kebiasaan mengaji, cara memahami kitab, amalan yang diwariskan, serta nilai-nilai akhlak yang dibawa para murid.
Dalam kajian mengenai Abuya Dimyati, Murtadlo Hadi menempatkannya dalam pembahasan tentang guru-guru sufi di Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa ketokohannya juga dihubungkan dengan tradisi tasawuf dan pembinaan rohani. Meski demikian, tasawuf dalam tradisi pesantren tidak seharusnya dipahami terpisah dari ilmu syariat. Keduanya berkaitan dalam upaya membentuk keberagamaan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pengamalan dan akhlak.
Kholid Ma’mun dalam artikel Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten menyoroti kepribadian Abuya Dimyati sebagai sisi yang layak diteladani. Tulisan semacam ini memperlihatkan bahwa ingatan masyarakat terhadap ulama sering kali bertumpu pada gabungan antara ilmu dan perilaku. Bagi santri, kedalaman ilmu menjadi lebih bermakna ketika disertai kerendahan hati, kesungguhan belajar, dan tanggung jawab dalam mengamalkan pengetahuan.
Karya Tulis dan Warisan Intelektual
Selain dikenal melalui pengajaran dan keteladanan, Abuya Dimyati juga dikaitkan dengan sejumlah karya keagamaan. Artikel Harits Fadlly yang diterbitkan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an menyebutkan beberapa karya yang dicetak di Pesantren Raudatul ‘Ulum Cidahu, antara lain Minhaj al-Istifa fi Khashaish Hizb an-Nashr wa Hizb al-Ikhfa, al-Hadiyyah al-Jalaliyyah fi ath-Thariqah asy-Syaziliyyah, Ashl al-Qadr fi Khashaish Fadlail Ahl Badr, Rasm al-Qashr fi Khashaish Hizb an-Nashr, Bahjah al-Qalaid fi ‘Ilm al-‘Aqaid, Nur al-Hidayah fi Ba‘d ash-Shalawat ‘ala Khair al-Bariyyah, dan Majmu‘ah al-Khutab.
Daftar tersebut memperlihatkan keluasan tema yang dikaitkan dengan karya-karyanya, meliputi akidah, sholawat, amalan, dan tradisi tasawuf. Salah satu karya yang mendapat perhatian dalam kajian NU Online Banten adalah Ashl al-Qadr fi Qashasi Fadhaili Ahli Badr. Pembahasan terhadap karya ini menunjukkan bahwa peninggalan tertulis seorang ulama dapat dikaji bukan hanya dari isi keagamaannya, tetapi juga dari cara teks itu dibaca, diajarkan, dan diterima oleh masyarakat.
Karya tertulis penting karena dapat ditelaah oleh generasi berikutnya meskipun penulisnya telah wafat. Akan tetapi, keberadaan buku saja belum cukup untuk menjelaskan seluruh pengaruh seorang ulama. Sebuah teks memperoleh kehidupan sosial ketika dibaca dalam pengajian, dijelaskan oleh guru, dan diterapkan dalam kehidupan murid. Oleh sebab itu, penelitian mengenai warisan Abuya Dimyati perlu memadukan kajian teks dengan penelusuran sejarah pesantren dan kesaksian orang-orang yang mewarisi tradisinya.
Dalam penulisan sejarah, perlu pula dibedakan antara karya yang secara jelas tercatat sebagai tulisan tokoh dan karya yang hanya menceritakan tentang dirinya. Pembedaan ini membantu menghindari kekeliruan dalam penyebutan pengarang, judul, maupun isi kitab. Untuk penelitian lebih mendalam, setiap naskah sebaiknya diperiksa langsung melalui edisi cetak atau manuskripnya, termasuk informasi penerbitan dan kemungkinan perubahan judul.
Sejarah Lisan dan Pengaruh Abuya Dimyati di Banten
Sari dan rekan-rekannya menegaskan bahwa sejarah lisan dapat menjadi sumber penting ketika dokumen tertulis terbatas atau tidak lengkap. Melalui wawancara dengan saksi, murid, dan orang yang mewarisi ingatan tentang suatu peristiwa, peneliti dapat mengetahui bagaimana sebuah tokoh dikenang oleh masyarakat. Dalam kajian Abuya Dimyati, sejarah lisan membantu menjelaskan mengapa namanya tetap hadir dalam kehidupan keagamaan warga Banten.
Meskipun demikian, sejarah lisan tidak berarti menerima setiap cerita tanpa pemeriksaan. Ingatan seseorang dapat dipengaruhi jarak waktu, pengalaman pribadi, rasa hormat, atau cerita yang didengar dari orang lain. Oleh karena itu, keterangan lisan perlu dibandingkan dengan kesaksian lain, dokumen, buku, dan bukti yang dapat diperiksa. Kesamaan antara beberapa sumber dapat memperkuat suatu informasi, sedangkan perbedaan harus dicatat dan dijelaskan secara terbuka.
Pengaruh Abuya Dimyati juga dapat dipahami melalui jaringan murid dan reputasinya sebagai guru. Ketika murid membawa pelajaran dari pesantren ke daerah asalnya, ilmu yang diperoleh dapat menyebar dalam bentuk pengajian, pembukaan lembaga pendidikan, atau pembinaan masyarakat. Proses ini menunjukkan bahwa sejarah ulama bukan hanya sejarah individu, melainkan juga sejarah jaringan pendidikan dan hubungan sosial.
Dalam konteks Banten, pembahasan mengenai Abuya Dimyati turut memperlihatkan hubungan antara identitas keislaman lokal dan tradisi pesantren. Namun, pengaruh seorang tokoh tidak sebaiknya digambarkan sebagai satu-satunya faktor yang membentuk karakter masyarakat. Kehidupan keagamaan Banten juga dibentuk oleh ulama lain, lembaga pendidikan, keluarga, organisasi sosial, dan perubahan zaman. Menempatkan Abuya Dimyati dalam jaringan yang lebih luas justru membuat pembahasan sejarah menjadi lebih seimbang.
Daftar Pustaka
Hadi, H. Murtadlo. 2009. Jejak Spiritual Abuya Dimyati. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Hadi, H. Murtadlo. 2010. Tiga Guru Sufi Tanah Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Shoheh, Muhamad. 2015. Sejarah Lisan Eksistensi Buya Dimyati. Serang: LP2M IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Sari, M., Muhamad Shoheh, Mohammad Shofin Sugito, dan Aliyah Hidayati. 2016. “Sejarah Lisan Eksistensi Buya Dimyati dan Ajarannya di Banten”. Tsaqofah: Jurnal Agama dan Budaya, Vol. 14, No. 1, hlm. 66–80. https://doi.org/10.32678/tsaqofah.v14i1.3384.
Fadlly, Harits. “Abuya KH Muhammad Dimyati (1920–2003)”. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Kementerian Agama Republik Indonesia. https://web.lpmqkemenag.id/berita-dan-artikel/artikel/abuya-kh-muhammad-dimyati-1920-2003.html. Diakses pada 13 Oktober 2026.
Ma’mun, Kholid. 2021. “Meneladani Kepribadian Abuya Dimyathi”. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, 11 Februari 2021. https://dpk.bantenprov.go.id/berita/meneladani-kepribadian-abuya-dimyathi. Diakses pada 13 Oktober 2026.
Kontributor: Syafiqurrahman
