Studium Generale 2026: Tegaskan Pesantren Sebagai Skriptorium dan Pelestari Naskah Ulama Nusantara

saiidusshiddiqiyah.ac.id — Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah dan Lingkar Filologi Ciputat bersama Yayasan Dompet Dhuafa menggelar studium generale dalam rangka Hari Santri Nasional 2026 dengan tema “Pesantren Sebagai Skriptorium dan Pelestari Naskah Ulama Nusantara” yang dilaksanakan pada hari Jumat (23/10) di Pendopo Asshiddiqiyah.

Seminar umum ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Agus Iswanto, M.Hum dan Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, M.Hum yang merupakan seorang akademisi, filolog, sejarawan Islam Nusantara. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi mendalam bagi para mahasantri dan akademisi untuk memahami peran sejarah pesantren sebagai pusat pemikiran, penyebaran, serta penyelamatan warisan intelektual Islam di Nusantara. Acara ini juga dihadiri langsung oleh Muhamad Abror sebagai Ketua Lingkar Filologi Ciputat dan Haryo Mojopahit selaku General Manager pengembangan Program Pendidikan, Riset dan Budaya Dompet Dhuafa.

Dalam pemaparannya, Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban menguraikan sejarah pergeseran skriptorium naskah Islam Nusantara dari lingkungan istana hingga merambah ke bilik-bilik pesantren. Beliau memperlihatkan kekayaan koleksi naskah Nusantara yang kini tersimpan di Universiteit Leiden, Belanda yang merupakan salah satu pusat kajian naskah Nusantara dan Bahasa Arab terkemuka di Eropa. Untuk menggambarkan luasnya pengaruh keilmuan Nusantara pada masa itu, beliau mengisahkan perjumpaan Al-Hajari (Apokai) dengan Pieter Maertensz dan Thomas Erpenius, yang telah memiliki pengetahuan dan kemahiran berbahasa Arab secara fasih berkat interaksi mereka dengan masyarakat serta manuskrip-manuskrip Nusantara.

“Dari sini kita menyadari bahwa tradisi skiptorium naskah yang ada di Indonesia itu sudah banyak sejak abad tersebut.” ungkap Dr. Ginanjar.

Sosok yang sering disapa Ajengan Ginanjar itu juga menambahkan bahwa pada tahun 1590-an, Indonesia telah menjadi pusat studi keilmuan yang mapan, yang bukan hanya bagi umat Islam lokal setempat, tapi juga bagi komunitas nasional yang singgah di Nusantara. Beliau menganalogikan seperti anak macan yang diculik dan dilatih oleh sirkus hingga tidak menyadari jati dirinya sebagai raja hutan dan malah menganggap dirinya sekadar kucing atau badut sirkus.

Sehingga, dari analogi tersebut muncul pertanyaan, “Apakah kondisi anak macan yang menjadi badut itu terjadi juga kepada jati diri peradaban muslim di Nusantara kita? Mereka punya sejarah besar peradaban muslim yang luar biasa, tapi kita lihat sekarang menjadi Islam pinggiran, kita pernah menjadi pusat studi Islam pada dahulu sekali,” tanya Ajengan.

Selanjutnya, Dr. Ginanjar memaparkan rekam jejak Banten pada akhir abad ke-16 (sekitar tahun 1599) sebagai kota kosmopolitan bernilai internasional. Pelabuhan Banten kala itu menjadi titik temu para pedagang, musafir, ulama, dan cendekiawan dari berbagai belahan dunia, mulai dari Persia, Arab, Turki, Asia Tengah, hingga Eropa. Lingkungan istana Kesultanan dan Masjid Agung Banten berfungsi sebagai skriptorium naskah keislaman (Khazanah Makhtutat). Salah satu karya monumental yang lahir dari tradisi ini adalah Kitab Mukhtasar Marqum yang ditulis pada tahun 1570 M (977 H/Tahun Alif dalam penanggalan Jawa-Islam) oleh Sultan Abu Muhammad dari Kesultanan Banten.

Kitab Mukhtasar Marqum menjadi karya ilmiah yang sangat populer dengan daya jangkau global. Salinan naskah ini ditemukan beredar luas di berbagai pelosok Nusantara, mulai dari Banten, Jawa  Timur dengan terjemahan interlinear bahasa Jawa, Sumatra Barat, hingga Aceh dalam bahasa Melayu. Pengakuan internasional terhadap karya ini terlihat saat ulama besar di Mekah, seperti Ibnu ‘Allan mulai mengkaji, menyalin, serta memberikan syarah terhadap kitab tersebut. Bahkan, Kitab Mukhtasar Marqum turut dibaca dan dikaji di lingkungan istana Kekaisaran Mughal di India atas perintah pangeran Dara Shikoh (putra Shah Jahan) yang menunjukkan eratnya jaringan intelektual antara Nusantara dan Kesultanan Mughal.

“Mengapa hal itu berkembang di lingkungan istana? Karena ternyata para bangsawan-bangsawan istana itu di samping mereka menjadi penguasa, mereka adalah ahli ilmi dan ulama. Dan ini yang banyak kita lupakan sekarang. Dan yang meniliti naskah itu hanya sedikit orang. Maka bangkitlah dari tidur panjang peradaban kita, ada banyak sekali tambang-tambang emas yang belum diekstrasi oleh kita semua.” Tutur Dr. Ginanjar.

Terkait keberlangsungan warisan tersebut, Dr. Ginanjar menekankan urgensi upaya penyelamatan serius melalui katalogisasi, digitalisasi, revitalisasi, hingga ekstraksi isi kandungan ilmunya. Ia juga menyinggung fenomena ketertarikan lembaga asing terhadap naskah Nusantara.

“Lembaga asing seperti Sofia University di Jepang aktif mengoleksi dan merawat naskah-naskah Asia Tenggara karena mereka menyadari nilai strategisnya. Ini harus menjadi pengingat bagi kita bangsa Indonesia untuk lebih peduli terhadap warisan leluhur sendiri,” tegas Dr. Ginanjar.

Di akhir pemaparannya, Dr. Ginanjar menegaskan bahwa mengkaji manuskrip ulama Nusantara ini harus kita kaji dengan kesadaran bahwa inilah rute jalan peradaban kita, dan hal ini tidak mudah. Dan untuk menjalankan itu kata beliau butuh akan ilmu Nabi Sulaiman, kesabaran Nabi Ayyub, usia Nabi Nuh, dan harta seperti Qorun.

Melalui penyelengaraan Studium Generale ini diharapkan para santri semakin termotivasi untuk menjaga, meneliti, dan melestarikan khazanah intelektual pesantren demi kejayaan peradaban ilmu di Indonesia.

Pewarta: Sabela Anjani, Semester III

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *