saiidusshiddiqiyah.ac.id — Maryam binti Imran merupakan salah satu perempuan paling mulia dalam sejarah Islam. Namanya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai nama sebuah surah, yaitu Surah Maryam. Dalam ajaran Islam, Maryam dikenal sebagai perempuan yang suci, taat beribadah, menjaga kehormatan diri, serta menjadi ibu dari seorang nabi yang mulia, yakni Nabi Isa AS Sosok Maryam menjadi teladan bagi umat manusia, khususnya kaum perempuan, dalam menjaga keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Maryam memiliki kedudukan istimewa karena merupakan satu-satunya perempuan yang disebut namanya secara langsung dalam Al-Qur’an. Kisah hidupnya menggambarkan kesabaran, keteguhan hati, dan keyakinan yang penuh kepada Allah SWT dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Oleh karena itu, kisah Maryam tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Islam, tetapi juga mengandung nilai-nilai pendidikan moral dan spiritual yang relevan bagi umat Islam sepanjang zaman.
Nasab dan Keluarga Maryam
Maryam adalah putri Imran yang berasal dari keluarga saleh dan taat kepada Allah SWT Keluarga Imran bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an melalui Surah Ali ‘Imran. Sejak masih berada dalam kandungan, Maryam telah dinazarkan oleh ibunya untuk menjadi hamba yang mengabdikan diri kepada Allah SWT dan berkhidmat di Baitul Maqdis.
Allah SWT berfirman:
إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًۭا فَتَقَبَّلْ مِنِّيٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
Artinya: “(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang mengabdi kepada-Mu. Karena itu, terimalah nazar itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 35)
Permohonan tersebut diterima oleh Allah SWT Maryam kemudian tumbuh menjadi perempuan yang suci, bertakwa, dan tekun beribadah. Nabi Zakaria AS menjadi pengasuh Maryam serta senantiasa memperhatikan kehidupannya. Allah SWT bahkan menganugerahkan rezeki secara khusus kepada Maryam ketika berada di mihrab tempat ibadahnya. Hal ini menunjukkan kemuliaan dan kedekatan Maryam kepada Allah SWT
Keutamaan Maryam dalam Islam
Maryam memiliki banyak keutamaan yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT memilih, menyucikan, dan mengangkat derajatnya di atas seluruh perempuan pada zamannya. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT:
وَإِذْ قَالَتِ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرْيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصْطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلْعَٰلَمِينَ
Artinya: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 42)
Ayat tersebut menunjukkan tingginya kedudukan Maryam di sisi Allah SWT Selain itu, Maryam dikenal sebagai perempuan yang menjaga kehormatan diri, tekun beribadah, sabar menghadapi ujian, memiliki keimanan yang kokoh, serta senantiasa bertawakal kepada Allah SWT
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa Maryam termasuk salah satu perempuan terbaik di dunia. Oleh karena itu, kisah Maryam menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk menjaga keimanan dan akhlak mulia.
Mukjizat Nabi Isa AS
Salah satu peristiwa terbesar dalam kehidupan Maryam adalah ketika Allah SWT mengabarkan bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang suci, yaitu Nabi Isa AS, tanpa melalui pernikahan. Malaikat Jibril datang menyampaikan kabar gembira tersebut sebagai bukti kekuasaan Allah SWT
Pada awalnya, Maryam merasa heran dan khawatir karena dirinya belum pernah disentuh oleh laki-laki mana pun. Namun, Allah SWT menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil bagi-Nya. Kehamilan Maryam menjadi ujian yang sangat berat karena ia harus menghadapi tuduhan dan cibiran masyarakat.
Meskipun demikian, Maryam tetap bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT Ketika Nabi Isa AS lahir, Allah SWT memperlihatkan salah satu mukjizat-Nya dengan menjadikan Nabi Isa mampu berbicara ketika masih bayi untuk membela ibunya dari tuduhan masyarakat. Peristiwa tersebut menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT sekaligus menunjukkan kemuliaan Maryam sebagai perempuan pilihan-Nya.
Keteladanan Maryam Bagi Umat Islam
Maryam binti Imran merupakan simbol perempuan salehah yang memiliki akhlak mulia. Terdapat banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kisah hidupnya, di antaranya sebagai berikut.
- Menjaga Kesucian Diri
Maryam senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya meskipun harus menghadapi berbagai ujian dan fitnah. - Tekun Beribadah
Sejak kecil, Maryam dikenal sebagai perempuan yang tekun beribadah dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT - Sabar Menghadapi Cobaan
Maryam menghadapi berbagai ujian berat dengan penuh kesabaran dan keyakinan kepada Allah SWT - Bertawakal kepada Allah SWT
Dalam keadaan sesulit apa pun, Maryam tetap meyakini bahwa Allah SWT akan memberikan pertolongan yang terbaik. - Memiliki Akhlak Mulia
Maryam menunjukkan sikap rendah hati, taat, sabar, dan teguh dalam menjalani kehidupan.
Keteladanan Maryam menjadikannya sosok yang dihormati bukan hanya dalam Islam, tetapi juga dalam tradisi agama-agama samawi lainnya.
Penutup
Maryam binti Imran merupakan perempuan suci yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Kisah hidupnya mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan diri, memperkuat keimanan, bersabar dalam menghadapi ujian, serta senantiasa bertawakal kepada Allah SWT Sebagai ibu Nabi Isa AS dan perempuan pilihan Allah SWT, Maryam menjadi teladan sepanjang masa bagi seluruh umat manusia.
Kisah Maryam juga menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT tidak ditentukan oleh harta maupun kedudukan, melainkan oleh keimanan, ketakwaan, dan kesabaran dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya meneladani sifat-sifat mulia Maryam dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal untuk meraih rida Allah SWT.
Referensi
Al-Bukhari, Imam. 2002. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.
Al-Qurthubi. 2006. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Ath-Thabari. 2001. Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an. Kairo: Dar al-Hadits.
Ibnu Katsir. 2008. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Muslim, Imam. 2006. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi.
Shihab, M. Quraish. 2001. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
Kontributor: Destian Angga Fahrezi, Semester II
