Dosen dan Alumni Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta Presentasikan Riset Filologi di Pusat Riset Internasional Singapura

SINGAPURA — Dosen sekaligus alumni Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta, Muhamad Abror, mempresentasikan hasil penelitian filologinya di Asia Research Institute (ARI), National University of Singapore (NUS), pada Jumat (17/7/2026).

Dalam presentasinya, Abror mengangkat polemik penggunaan kentongan sebagai penanda waktu salat yang berkembang di kalangan Muslim Asia Tenggara pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Didirikan pada 2001, Asia Research Institute merupakan salah satu pusat riset terkemuka yang berfokus pada kajian Asia. Lembaga ini dikenal secara internasional melalui kontribusinya dalam pengembangan diskursus akademik, fasilitasi kolaborasi interdisipliner, serta penelitian mengenai dinamika sosial, budaya, politik, dan sejarah Asia.

Dalam forum tersebut, Abror mempresentasikan makalah berjudul “Kentongan Manuscript and Early 20th-Century Traditionalist Muslim Ambiguity in Southeast Asia.” Melalui penelitian ini, ia menelusuri sejumlah sumber manuskrip yang membahas polemik penggunaan kentongan, mulai dari koleksi pesantren di Indonesia hingga manuskrip yang tersimpan di British Library dan sejumlah sumber di Kairo, Mesir.

Menurut Abror, persoalan penggunaan kentongan yang sekilas tampak sederhana justru membuka ruang untuk membaca kembali dinamika intelektual Muslim tradisional di Asia Tenggara pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

“Menariknya, manuskrip-manuskrip tentang kentongan menunjukkan bahwa ulama Asia Tenggara pada awal abad ke-20 memiliki keterhubungan intelektual dan ideologis yang kuat dengan jaringan ulama di Haramain yang telah terbentuk sejak abad ke-17,” paparnya.

Menurutnya, temuan tersebut juga memberikan perspektif baru terhadap sejumlah kajian akademik mengenai Muslim tradisional di Asia Tenggara yang selama ini cenderung melihat dinamika kelompok tersebut secara lebih sederhana dan homogen.

Presentasi tersebut mendapat respons dari Dr. Bosman Batubara, peneliti Asian Urbanisms Cluster di National University of Singapore. Menurutnya, penelitian Abror memiliki analisis akademik yang kuat dan berhasil mengangkat isu yang sangat lokal menjadi bagian dari diskursus akademik yang lebih luas, khususnya dalam kajian Asia Tenggara.

“Saya sangat tertarik dengan riset ini. Semoga bisa dikembangkan tidak hanya menjadi riset filologi, tetapi juga dari aspek geografi,” tutur Bosman, yang meraih gelar PhD dari University of Amsterdam dan berafiliasi dengan Water Governance Department, IHE Delft Institute for Water Education.

Bermodal Manuskrip Pesantren

Menariknya, riset yang dipresentasikan Abror di ARI berangkat dari sebuah manuskrip koleksi Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur, berjudul Hukm al-Naqus. Manuskrip tersebut telah didigitalisasi oleh British Library melalui program Endangered Archives Programme (EAP).

Manuskrip yang hanya terdiri atas tujuh halaman itu merekam salah satu polemik mengenai penggunaan kentongan yang berkembang di kalangan Muslim Asia Tenggara pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dari manuskrip tersebut, Abror kemudian menelusuri sejumlah teks lain yang memiliki keterkaitan dengan isu serupa.

Di antara sumber yang dikaji adalah Al-Jasus fi Bayani Hukmin Naqus karya KH Hasyim Asy’ari, Hazzur Ruus karya KH Faqih Maskumambang, serta sejumlah fatwa dan risalah yang ditulis oleh ulama Nusantara, antara lain Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Nawawi al-Bantani, dan Sayyid Utsman bin Yahya.

“Mulanya, teks-teks ini tampak sederhana dan sekilas biasa saja. Namun, ketika dibaca, ditelaah, dan dikaji secara mendalam, teks-teks tersebut dapat menghasilkan riset yang menarik dan relevan bagi diskusi akademik global,” tutur Abror.

Berangkat dari manuskrip-manuskrip tentang kentongan tersebut, Abror mengembangkan kajian filologi yang tidak hanya berfokus pada aspek tekstual, tetapi juga mendiskusikan dinamika dan polemik keislaman di Asia Tenggara pada awal abad ke-20.

Melalui pembacaan terhadap sumber-sumber manuskrip tersebut, Abror juga memgoreksi sejumlah kajian akademik mengenai Muslim tradisional di Asia Tenggara, termasuk kajian yang dikembangkan oleh sejumlah sarjana senior seperti Greg Fealy, Associate Professor di Australian National University (ANU), dan Katharine McGregor, Professor of History di University of Melbourne.

Menurut Abror, manuskrip-manuskrip tersebut memperlihatkan kompleksitas jaringan intelektual dan dinamika pemikiran Muslim tradisional di Asia Tenggara yang tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui kategori-kategori sosial dan politik yang telah digunakan dalam kajian sebelumnya.

“Temuan dari manuskrip-manuskrip ini menunjukkan bahwa perdebatan mengenai kentongan tidak berdiri sendiri sebagai persoalan lokal. Di baliknya terdapat jaringan transmisi ilmu, otoritas keagamaan, dan hubungan intelektual yang menghubungkan ulama Nusantara dengan jaringan keilmuan Islam yang lebih luas,” jelasnya.

Ia menilai, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa manuskrip pesantren memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber penelitian yang mampu menjangkau diskursus akademik internasional.

“Sebagai alumni pesantren dan Ma’had Aly, saya percaya bahwa para santri memiliki potensi yang sangat kuat untuk mendalami dan mengkaji manuskrip, kemudian mengembangkannya menjadi riset berbobot yang dapat diakui di tingkat internasional,” pungkasnya.

Diketahui, Muhamad Abror merupakan alumni Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta dan saat ini mengajar mata kuliah filologi di almamaternya. Ketertarikannya terhadap kajian manuskrip karya ulama Nusantara telah membawanya mempresentasikan hasil penelitian dalam berbagai forum akademik, baik nasional maupun internasional.

Selain aktif dalam penelitian dan pengajaran, Abror saat ini dipercaya sebagai Ketua Lingkar Filologi Ciputat (LFC), sebuah komunitas yang berfokus pada pengembangan dan kaderisasi filolog muda. Ia juga menjadi pengurus Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Pusat pada bidang riset.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *