saiidusshiddiqiyah.ac.id – Resensi Buku Islam di Mata Orang Jepang karya Hisanori Kato.
Identitas Buku
- Judul Buku: Islam di Mata Orang Jepang
- Penulis: Dr. Hisanori Kato
- Penerbit: Penerbit Buku Kompas
- Tahun Terbit: 2014 (cetakan 1)
- Jumlah Halaman: 264 Halaman
Mengkaji Islam di Indonesia selalu menghadirkan ruang diskusi yang dinamis dan tidak pernah usai. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki lanskap keagamaan yang sangat kaya, bercabang, dan sering kali sarat akan ketegangan ideologis. Menariknya, dinamika ini kerap kali dinilai secara emosional oleh masyarakat lokal yang terlibat langsung di dalamnya. Di sinilah letak pentingnya kehadiran pengamat luar (outsider) yang mampu memberikan sudut pandang alternatif yang lebih jernih dan berjarak. Buku berjudul Islam di Mata Orang Jepang: Ulil, Gus Dur, sampai Ba’asyir karya Dr. Hisanori Kato, seorang sosiolog terkemuka dari Jepang, menawarkan sebuah cermin sosiologis yang objektif bagi umat Islam di Indonesia.
Hisanori Kato bukanlah orang asing yang sekadar lewat dan membuat kesimpulan prematur. Ia adalah seorang ilmuwan yang mendedikasikan waktu lebih dari satu dekade untuk melakukan penelitian lapangan di Indonesia. Melalui kacamata seorang sosiolog, Kato memposisikan dirinya sebagai pengamat total (complete observer). Pendekatan ini memungkinkannya untuk melakukan pengamatan mendalam tanpa harus memihak pada salah satu doktrin, mazhab, atau kepentingan politik praktis yang sedang berkembang di tanah air. Hasilnya adalah sebuah karya ilmiah populer yang tidak hanya memetakan pemikiran para tokoh, tetapi juga menguliti akar kultural dan sosial dari gerakan Islam di Indonesia.
Kekuatan utama buku ini terletak pada metodologi yang digunakan oleh Kato. Sebagai sosiolog, ia sangat memahami bahwa memahami sebuah agama tidak cukup hanya dengan membaca teks-teks sucinya, melainkan harus melihat bagaimana agama tersebut dihidupi oleh para pemeluknya. Kato menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatoris yang terukur. Ia mendatangi langsung basis-basis massa, pesantren, kantor organisasi keagamaan, hingga ruang-ruang diskusi terbatas untuk mendapatkan data primer yang valid.
Dalam sosiologi agama, posisi Kato sebagai warga negara Jepang yang secara kultural tumbuh di lingkungan masyarakat yang cenderung sekuler atau menganut Shinto-Buddha memberikan keuntungan akademis berupa objektivitas yang tinggi. Ia tidak memiliki beban teologis untuk membenarkan satu kelompok dan menyalahkan kelompok lain. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Amin Abdullah, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga, pengamatan dari seorang outsider yang terlatih sering kali jauh lebih tajam dan kritis jika dibandingkan dengan pengamatan dari dalam (insider) yang rentan terjebak dalam bias subjektivitas dan pembelaan kelompok.
Buku ini secara genius membagi bab-babnya berdasarkan representasi ideologi Islam yang ada di Indonesia. Kato secara berani mengetuk pintu dan berdialog dengan figur-figur sentral yang memiliki pengaruh besar namun saling bertolak belakang dalam spektrum pemikiran keislaman. Diantara tokoh-tokoh tersebut yakni Ulil Abshar Abdalla dan Jaringan Islam Liberal (JIL), K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Islam Moderat, Abu Bakar Ba’asyir dan Gerakan Fundamentalisme.
Ia melihat adanya upaya sebagian intelektual Muslim seperti Jaringan Islam Liberal (JIL) yang berusaha menghubungkan Islam dengan nilai-nilai modern seperti demokrasi, HAM, dan sekularisme, meskipun gagasan ini sering mendapat penolakan karena dianggap terlalu kritis terhadap tafsir tradisional yang sudah mapan. Di sisi lain, Kato juga menggambarkan Gus Dur sebagai representasi Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan mampu memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal melalui konsep pribumisasi Islam, sehingga Islam dapat tetap relevan dengan kehidupan masyarakat, meskipun pemikirannya tetap menuai pro dan kontra. Sementara itu, Abu Bakar Ba’asyir dipahami melalui pendekatan sosiologis sebagai tokoh yang memperjuangkan penerapan syariat Islam secara menyeluruh dan menolak sistem demokrasi Barat, di mana ia dipandang sebagai ulama yang konsisten oleh para pendukungnya, tetapi juga dinilai keras dan kontroversial oleh sebagian pihak.
Secara keseluruhan, Kato menegaskan bahwa Islam di Indonesia tidak bersifat tunggal, melainkan memiliki spektrum pemikiran yang luas dan dinamis. Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan adanya proses dialektika yang hidup dalam masyarakat Muslim Indonesia, yang dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan politik. Hal ini juga memperlihatkan bahwa cara pandang “orang luar” dapat memberikan sudut pandang baru yang lebih netral dalam memahami kompleksitas Islam di Indonesia.
Selain tokoh perorangan, Kato memberikan porsi pembahasan yang cukup signifikan terhadap gerakan kolektif seperti Front Pembela Islam (FPI). Pada masa penelitian dilakukan, FPI dikenal sebagai ormas yang sangat vokal dan kerap terlibat dalam aksi-aksi penertiban sepihak yang memicu kontroversi nasional. Masyarakat umum sering kali langsung memberikan cap negatif bahwa seluruh anggota FPI adalah kelompok radikal yang gemar melakukan kekerasan fisik. Namun, Kato tidak berhenti pada permukaan saja. Ia melakukan investigasi sosiologis untuk mencari tahu apa yang menggerakkan massa FPI di akar rumput. Ia menemukan adanya faktor kesenjangan sosial, rasa ketidakadilan hukum, serta tuntutan moralitas lingkungan yang menjadi bahan bakar gerakan ini. Meskipun Kato tetap mengkritik metode kekerasan yang tidak sejalan dengan prinsip hukum, analisisnya berhasil memberikan gambaran yang lebih utuh bahwa fenomena FPI tidak bisa dilihat secara hitam-putih, melainkan ada seluk-beluk masalah sosial-ekonomi perkotaan yang melatarbelakanginya.
Sebagai sebuah karya ulasan, penting untuk menimbang secara objektif nilai akademis dan praktis dari buku ini. Buku karya Hisanori Kato ini memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya sangat layak untuk dibaca. Pertama, narasi yang dibangun sangat mudah dipahami sehingga masyarakat awam pun dapat menikmatinya tanpa kehilangan substansi ilmiah. Kedua, kejujuran intelektual penulis dalam menyajikan transkrip wawancara memberikan ruang bagi pembaca untuk ikut berpikir dan menarik kesimpulan sendiri.
Di sisi lain, buku ini bukan tanpa kelemahan. Karena penelitian ini mencakup rentang waktu yang sangat panjang (lebih dari satu dekade), ada beberapa konteks politik dan peta gerakan keagamaan yang telah mengalami pergeseran pasca buku ini diterbitkan. Misalnya, dinamika pembubaran beberapa ormas keagamaan di Indonesia akhir-akhir ini tentu belum terekam dalam buku ini. Selain itu, fokus yang terlalu berpusat pada tokoh-tokoh besar di Pulau Jawa membuat buku ini sedikit kurang merepresentasikan suara-suara Muslim dari wilayah luar Jawa yang memiliki karakteristik kultural yang berbeda.
Buku Islam di Mata Orang Jepang: Ulil, Gus Dur, sampai Ba’asyir adalah sebuah karya yang monumental dalam studi sosiologi agama di Indonesia. Dr. Hisanori Kato telah berhasil menyediakan sebuah cermin yang jernih agar umat Islam di Indonesia mau dan mampu berkaca secara objektif. Melalui dialog-dialog antar-tokoh yang berseberangan, buku ini membawa pesan kuat bahwa perbedaan pemikiran adalah sebuah keniscayaan, namun dialog yang sehat dan keterbukaan pikiran adalah kunci untuk mencegah polarisasi yang merusak peradaban.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi kalangan akademisi, mahasiswa sosiologi, peneliti studi Islam, para politisi, hingga masyarakat umum yang ingin memahami peta pemikiran Islam di Indonesia secara komprehensif. Membaca buku ini akan melatih kita untuk tidak mudah menghakimi suatu kelompok hanya berdasarkan label permukaan, melainkan mendalaminya melalui pemahaman konteks sosial yang utuh.
Peresensi: Siti Katibatul Malihah, semester IV
