saiidusshiddiqiyah.ac.id—Pada masa penjajahan Belanda, rakyat Indonesia hidup dalam keterbatasan dan kesulitan. Dengan kecerdikannya, Belanda yang menjajah Nusantara selama puluhan tahun berhasil membangun negaranya dengan kemegahan yang luar biasa. Selama periode tersebut, mereka mengeksploitasi kekayaan alam Nusantara secara kejam, menyebabkan penderitaan yang mendalam bagi rakyat, bahkan tak sedikit yang kehilangan nyawa.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kuatnya penjajahan adalah bidang pendidikan. Belanda hanya memberikan kesempatan belajar kepada segelintir orang pribumi, sementara sebagian besar rakyat dibiarkan dalam kebodohan agar mudah dikendalikan. Keadaan ini sangat bertentangan dengan semangat keadilan dan kemanusiaan, serta memperlihatkan betapa timpangnya akses terhadap ilmu pengetahuan.
Kebijakan politik etis yang diterapkan Belanda pada awal 1900-an membuka peluang bagi anak-anak pribumi untuk bersekolah. Dr. Wahidin Sudirohusodo adalah salah satu orang memanfaatkan kesempatan ini untuk menggalang dana beasiswa bagi pelajar pribumi. Ia melihat penderitaan yang dialami rakyat kecil, akibat penjajahan Belanda. Dari sini dia berkeinginan untuk memajukan kesejahteraan rakyat melalui pendidikan dan organisasi. Gagasan Wahidin tentang pentingnya pendidikan ini menginspirasi para mahasiswa di STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) di Batavia.
Dari kalangan terpelajar yang dipimpin oleh Soetomo mulai tumbuh kesadaran bahwa Indonesia harus bangkit dan berjuang untuk mencapai kemajuan. Kesadaran inilah yang kemudian menjadi awal kebangkitan nasionalisme Indonesia, saat rakyat mulai memahami pentingnya persatuan dan pendidikan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dari semangat dan ide-ide itu, lahirlah sebuah organisasi yang kelak menjadi tonggak sejarah kebangkitan nasional.Gagasan tersebut menginspirasi para pelajar di STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) untuk mendirikan organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908.
Budi Utomo menjadi organisasi modern pertama di Indonesia yang menumbuhkan semangat persatuan dan cinta tanah air. Dari sinilah lahir berbagai organisasi lain yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena perannya yang besar, tanggal 20 Mei kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, simbol lahirnya semangat nasionalisme dan persatuan bangsa.
Lahirnya Organisasi Budi Utomo
Organisasi Budi Utomo didirikan pada 20 Mei 1908 di gedung STOVIA Jakarta oleh para pemuda pelajar Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) yang dipimpin oleh Soetomo. Organisasi ini menjadi organisasi nasional pertama di Indonesia yang muncul dari semangat kaum terpelajar untuk memajukan bangsa.
Kehadiran Budi Utomo sebagai organisasi pertama di tanah air menjadikannya pelopor gerakan kebangsaan Indonesia. Semangat yang dibawanya menginspirasi lahirnya berbagai organisasi lain, seperti Sarekat Islam, Indische Partij, dan Muhammadiyah, yang kemudian turut memperkuat perjuangan menuju kemerdekaan bangsa.
Kehadiran organisasi-organisasi baru setelah Budi Utomo menandai tumbuhnya kesadaran nasional di berbagai lapisan masyarakat. Perjuangan rakyat Indonesia sebelumnya hanya bersifat kedaerahan dan menggunakan kekuatan senjata, maka sejak munculnya Budi Utomo arah perjuangan mulai bergeser menuju perjuangan yang bersifat intelektual, terorganisir, dan berlandaskan persatuan.
Semangat baru ini menyebar ke seluruh penjuru Nusantara. Para pemuda dari berbagai daerah mulai menyadari bahwa persatuan adalah kunci utama untuk mencapai keberhasilan, baik dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat maupun dalam mewujudkan kemakmuran bangsa secara keseluruhan. Melalui pendidikan, diskusi, dan organisasi, mereka berusaha menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kesadaran bahwa Indonesia adalah satu kesatuan bangsa.
Dari sinilah lahir semangat nasionalisme Indonesia yang semakin kuat. Para pelajar mulai menyadari bahwa menyediakan dana bagi pelajar tidak akan cukup membawa perubahan yang signifikan. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk merancang sebuah organisasi modern yang mampu mewadahi aspirasi lebih luas. Organisasi tersebut dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, tetapi juga untuk mencakup seluruh aspek kehidupan rakyat, termasuk budaya, kesenian, kesejahteraan, dan upaya mengatasi kemiskinan.
Pendirian Budi Utomo menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang menuju kemerdekaan. Karena peran besarnya, tanggal 20 Mei kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sebagai simbol lahirnya kesadaran persatuan, perjuangan, dan cita-cita menuju Indonesia merdeka.
Budi Utomo merumuskan tujuannya untuk memajukan tanah Hindia melalui peningkatan pendidikan, kebudayaan, dan kesejahteraan rakyat. Pada awalnya, ruang gerak organisasi ini hanya terbatas di wilayah Jawa dan Madura, tetapi seiring berkembangnya waktu, Budi Utomo memperluas jangkauannya untuk seluruh penduduk Hindia Belanda tanpa membedakan jenis kelamin, agama, maupun keturunan.
Terbentuknya organisasi Budi Utomo menjadi titik balik penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Sejak saat itu, bentuk perjuangan rakyat Indonesia mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya perlawanan terhadap penjajah masih bersifat kedaerahan dan mengandalkan kekuatan fisik, maka kehadiran Budi Utomo membawa arah baru perjuangan yang bersifat intelektual, terorganisir, dan berlandaskan persatuan nasional.
Dengan demikian, lahirnya Budi Utomo bukan hanya menjadi awal kebangkitan nasional, tetapi juga fondasi bagi tumbuhnya kesadaran bersama bahwa bangsa Indonesia memiliki tujuan yang harus diperjuangkan dengan persatuan dan pendidikan. Munculnya organisasi ini membuka perubahan yang besar kepada rakyat dalam melihat diri mereka dalam suatu bangsa, serta mendorong generasi muda untuk terus berperan dalam membangun masa depan yang maju.
Referensi
Nuralia, L., Imadudin, I., Renggana, R. (2010). Kisah Perjuangan Pahlawan Indonesia. Indonesia: Ruang Kata.
Swantoro, P. (2002). Dari buku ke buku, sambung menyambung menjadi satu. Indonesia: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Rumah Budaya TeMBI.
Manilet-Ohorella, G. A. (1985). Prof. Dr. Abu Hanifah Dt. M.E.: karya dan pengabdiannya. Indonesia: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Muljana, S. (2008). Kesadaran nasional: dari kolonialisme sampai kemerdekaan. Indonesia: LKiS.
Mudhiah, H. N., Azzahra, S., & Ajmain, M. (2025). SEJARAH LAHIRNYA BUDI UTOMO. Jurnal Intelek Insan Cendikia, 2(5), 10003-10011.
Khairiyah, S. (2025). Peran Budi Utomo dalam Perkembangan Pendidikan dan Nasionalisme. Jurnal Intelek Insan Cendikia, 2(5), 8260-8266.
Kontributor: Rani Wahyuni
