saidusshiddiqiyah.ac.id—Syekh Subakir, seorang ulama asal Persia, memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di tanah Jawa pada abad ke-13 M. Dikenal sebagai sosok yang memiliki karomah luar biasa, beliau tidak hanya membawa ajaran agama tetapi juga berkontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan Islam, khususnya dalam ilmu hadis dan tafsir Al-Qur’an.
Latar Belakang dan Peran Sejarah
Syekh Subakir diutus oleh Kesultanan Turki Utsmaniyah pada masa Sultan Muhammad I untuk menyebarkan dakwah Islam di Nusantara. Kedatangannya ke Jawa bertujuan untuk mengatasi tantangan spiritual yang menghalangi penyebaran Islam, terutama yang berkaitan dengan pengaruh makhluk halus di masyarakat Jawa saat itu.
Beliau merupakan seorang ulama Wali Songo periode pertama di bumi Nusantara. Dia dikirim Kesultanan Turki Utsmaniyah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan ajaran agama Islam di wilayah Nusantara (Indonesia). Konon Syekh Subakir telah menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di Nusantara. Kisahnya itu dimulai saat Sultan Muhammad I bermimpi mendapatkan wangsit untuk menyebarkan dakwah Islam ke Timur Asia atau tanah Jawa. Adapun mubalighnya diharuskan berjumlah sembilan orang. Jika ada yang pulang atau wafat maka akan digantikan ulama lain asal tetap berjumlah sembilan. Sehingga dikumpulkanlah beberapa ulama terkemuka dari seluruh dunia Islam waktu itu. Karomah Sunan Kalijaga membuat Jaka Tingkir menepati janji menyerahkan hutan Mentaok para ulama yang dikumpulkan tersebut mempunyai keahlian di bidang masing-masing. Ada yang ahli tata negara, berdakwah, pengobatan, tumbal atau rukyah, dan lain-lain. Lalu dikirimlah beberapa ulama ke Nusantara atau tanah Jawa. Namun sudah beberapa kali utusan dari Kesultanan Turki Utsmaniyah yang datang ke tanah Jawa, untuk menyebarkan agama Islam tapi mengalami kegagalan dan kebuntuan. Penyebabnya, masyarakat Jawa saat itu sangat memegang teguh aliran kepercayaan turun temurun. Sehingga para ulama yang dikirim mendapatkan halangan, meskipun berkembang tetapi ajaran Agama Islam hanya dalam lingkungan skala kecil saja, tidak bisa berkembang secara luas. Karena, penguasa tanah Jawa kala itu tak mengizinkan agama lain masuk dan berkembang di wilayahnya. Konon kala itu, Pulau Jawa masih merupakan hutan belantara angker dan dipenuhi makhluk halus dan jin-jin sangat jahat. Lalu diutuslah Syekh Subakir, ulama asal Persia yang ahli dalam meruqyah, ekologi, meteorologi, dan geofisika ke tanah Jawa.
Kontribusi dalam Ilmu Hadis dan Tafsir
Dalam bidang ilmu hadis, Syekh Subakir dikenal sebagai ahli hadits terkemuka pada zamannya. Dalam usahanya untuk memahami, mengumpulkan, dan mengklasifikasikan hadis-hadis, Syekh Subakir berperan penting dalam menjaga akurasi dan keotentikan tradisi lisan Nabi Muhammad.
Karya terkenalnya, “Kitab al-Kuna,” merupakan salah satu karya monumental dalam ilmu hadis yang berisi sejumlah besar hadis yang dikelompokkan berdasarkan nama-nama perawi hadisnya, serta evaluasi terperinci terhadap perawi-perawi tersebut. Selain itu, beliau juga menulis tafsir Al-Qur’an yang dianggap signifikan dalam memahami makna dan pesan Al-Qur’an. Tafsirnya memadukan penjelasan tentang ayat-ayat Al-Qur’an dengan pengetahuan dan pemahaman kontekstual, membantu para pembaca Al-Qur’an untuk memahami pesan Karya agama dengan lebih mendalam dan relevan dengan kehidupan sehari-hari tersebut sangat dihormati dalam dunia ilmu hadis dan dianggap sebagai sumber utama dalam menentukan keabsahan hadis-hadis tertentu.
Pendekatan Dakwah dan Spiritualitas
Syekh Subakir menggunakan pendekatan dakwah yang lunak dan sinkretis, menggabungkan ajaran Islam dengan budaya lokal Jawa. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat Jawa untuk menerima ajaran Islam dengan lebih mudah, mengingat mereka masih sangat dipengaruhi oleh kepercayaan tradisional dan penguasaannya oleh makhluk halus.
Selain sebagai pendakwah, beliau juga dikenal memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Kemampuan berbicara dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa malaikat, jin, dan hewan, serta kekuatan “Kun Fayakun,” menjadikannya sosok yang dihormati dalam masyarakat Jawa.
Syekh subakir menggunakan pendekatan Kultural dan Spiritual dalam menyebarkan islam. Ia tidak menentang kepercayaan lokal secara Frontal, melainkan melakukan asimilasi dengan cara menyucikan dan mengislamkan nilai-nilai local. Misalnya, ia dikenal menggunakan ajian dan wirid untuk menetralisir energi negatif di tanah Jawa, termasuk mitos tentang tentang penaklukan Jin makhluk halus.
Dalam aspek spiritual, Syekh Subakir menekankan penguatan batin, zikir, dan pengendalian diri. Ia disebut memiliki kekuatan ruhani tinggi, hasil dari riyadhoh (Latihan spiritual) yang intens. Spiritualitasnya menunjukkan dimensi sufistik yang menekankan tauhid, ketenangan jiwa, dan pembersihan hati. Dalam pendekatan ini membuat dakwah islam lebih mudah diterima oleh Masyarakat jawa kala itu, karena tidak menghilangkan identitas budaya, tetapi justru mengarahkan ke jalan lebih Islami.
Warisan dan Pengaruh
Syekh Subakir merupakan salah satu tokoh sentral dalam fase awal penyebaran Islam di tanah Jawa. Meski kehadirannya lebih banyak dikenang dalam bentuk narasi spiritual dan mitologis, warisan dan pengaruh beliau terhadap masyarakat Jawa dan perkembangan Islam sangatlah nyata. Pengaruh ini meliputi aspek spiritual, budaya, sosial, bahkan geopolitik lokal. Berikut ini uraian mendalam mengenai warisan dan pengaruh Syekh Subakir.
Pengaruh Syekh Subakir tidak terbatas pada masa hidupnya. Karya-karyanya, baik dalam ilmu hadis maupun tafsir Al-Quran, tetap menjadi referensi utama dalam dunia ilmu pengetahuan Islam hingga saat ini. Para ulama dan peneliti Islam generasi berikutnya sering mengacu pada karya-karyanya dalam penelitian mereka.
Selain warisan intelektual nya, peran sosial dan moralnya telah membentuk pandangan banyak individu terhadap praktik agama dan moralitas dalam Islam. Pesan-pesan perdamaian, toleransi, dan kasih sayang yang diungkapkannya dalam khutbah-khutbah dan nasehatnya telah menjadi panduan berharga dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Syekh Subakir adalah salah satu ulama besar dalam sejarah Islam yang memberikan kontribusi besar dalam bidang ilmu hadis, tafsir Al-Quran, dan pengajaran agama. Namanya dihormati dalam dunia Islam dan menjadi salah satu penentu arah pemikiran dan praktik keagamaan umat Islam.
Ia juga dikenal sebagai sosok yang mendorong perdamaian, toleransi, dan moralitas dalam masyarakat Islam, dan pesan-pesan tersebut tetap relevan hingga saat ini. Dengan begitu banyak kualitas dan kontribusi penting, Syekh Subakir adalah contoh nyata tentang bagaimana pemahaman yang mendalam tentang agama dapat membawa pengaruh positif dalam masyarakat dan sejarah Islam.
Referensi:
Hakim, Husnul. (2022). Sejarah lengkap Islam Jawa. Jakarta: Laksana.
Jawa Dwipa. (n.d.). Mengenal Syekh Subakir: Tokoh penyebar Islam yang sakti mandraguna. Diakses 4 Mei 2026, pukul 11.45 WIB, dari https://jawadwipa.co.id/mengenal-syekh-subakir-tokoh-penyebar-islam-yang-sakti-mandraguna
Romadhon. (2017). Melacak jejak Syekh Subakir: Riwayat penemuan tanah Jawa dan Walisanga generasi pertama. Pustaka Istantren.
Rumilah, S., et al. (2020). Islamisasi tanah Jawa abad ke-13 M dalam kitab Musarar karya Syekh Subakir. SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 1(1).
Sukri, Ed. (n.d.). Kitab Musarar Syekh Subakir: Asal muasal tanah Jawa (Terjemahan dan kajian naskah klasik). Pustaka Pesantren.
Contributor: Najmah Mumtazah
