Sayyidah Nafisah: Perempuan Salehah yang Dihormati Imam Syafi’i

saiidusshiddiqiyah.ac.id – Ketika berbicara tentang tokoh besar dalam sejarah Islam, banyak orang lebih mengenal ulama laki-laki sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan. Padahal, dalam perjalanan peradaban Islam, terdapat banyak perempuan mulia yang memiliki keluasan ilmu, keteguhan ibadah, dan pengaruh besar terhadap masyarakat maupun para ulama. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam membangun tradisi keilmuan Islam.

Salah satu sosok perempuan tersebut adalah Sayyidah Nafisah. Beliau dikenal sebagai perempuan salehah yang memiliki kedalaman ilmu agama, ketekunan dalam ibadah, serta akhlak yang mulia. Ketinggian ilmunya membuat banyak orang datang untuk belajar dan meminta nasihat kepadanya. Bahkan, Imam Syafi’i, salah satu imam mazhab terbesar dalam Islam, dikenal memiliki hubungan yang dekat dan penuh penghormatan terhadap Sayyidah Nafisah.

Kisah hidup Sayyidah Nafisah tidak hanya menggambarkan keteladanan seorang perempuan dalam menjaga ilmu dan ibadah, tetapi juga menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam dibangun melalui sikap saling menghormati, kerendahan hati, dan semangat mencari ilmu.

Mengenal Sosok Sayyidah Nafisah

Nama “Nafisah” berasal dari kata an-nafasah yang berarti kemuliaan dan keistimewaan. Nama tersebut mencerminkan pribadi beliau yang dikenal mulia dan dihormati banyak orang. Ayah beliau, Hasan al-Anwar, merupakan tokoh terpandang yang dikenal karena ketakwaannya dan pernah menjadi gubernur Madinah pada masa Khalifah Ja’far al-Mansur.

Sayyidah Nafisah lahir di Mekah pada 11 Rabiul Awal 145 H. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dipenuhi ilmu, ibadah, dan kecintaan terhadap agama. Sejak kecil, Sayyidah Nafisah telah menunjukkan kecerdasan serta semangat belajar yang tinggi.

Lingkungan keluarga yang saleh membuat beliau tumbuh menjadi pribadi yang dekat dengan Al-Qur’an dan mencintai ilmu pengetahuan. Hal tersebut menjadi dasar yang membentuk kepribadian dan keluasan ilmu Sayyidah Nafisah di kemudian hari.

Keilmuan dan Ketekunan Ibadah

Sejak usia muda, Sayyidah Nafisah telah menghafal Al-Qur’an dan aktif menghadiri majelis ilmu yang diadakan ayahnya. Selain dikenal sebagai ahli ibadah, beliau juga memiliki pemahaman fikih yang mendalam. Karena keluasan ilmunya, para ulama menjulukinya “Nafisah al-‘Ilmi”.

Ketekunan dalam belajar dan beribadah menjadikan beliau dihormati oleh banyak orang. Tidak sedikit masyarakat yang datang untuk meminta nasihat, doa, dan belajar langsung darinya. Kehidupan Sayyidah Nafisah menunjukkan bahwa ilmu dan ibadah dapat berjalan beriringan dalam membentuk pribadi yang mulia.

Di tengah kedudukannya yang dihormati masyarakat, Sayyidah Nafisah tetap hidup sederhana dan lebih mengutamakan kedekatan kepada Allah SWT. Beliau dikenal sebagai pribadi yang zuhud, rendah hati, dan senantiasa mengisi waktunya dengan ibadah.

Hijrah ke Mesir dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat

Setelah dewasa, Sayyidah Nafisah menikah dengan Ishaq al-Mu’tamin, seorang lelaki saleh keturunan Sayyidina Husain. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu Al-Qasim dan Ummu Kultsum.

Beberapa waktu kemudian, Sayyidah Nafisah bersama keluarganya pergi ke Mesir untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga keturunan Rasulullah SAW yang tinggal di sana. Kedatangan beliau disambut hangat oleh masyarakat Mesir. Berita tentang keluasan ilmu dan ketakwaannya segera tersebar hingga banyak orang datang untuk belajar dan meminta nasihat kepadanya.

Rumah Sayyidah Nafisah kemudian menjadi tempat berkumpulnya para penuntut ilmu. Kehadirannya memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan keagamaan masyarakat Mesir pada masa itu. Banyak orang menghormatinya bukan hanya karena keturunannya, tetapi juga karena ilmu dan akhlaknya yang mulia.

Meskipun dikenal luas oleh masyarakat, Sayyidah Nafisah tetap menjaga kesederhanaan hidup dan memperbanyak ibadah. Hal tersebut membuat beliau semakin dicintai dan dihormati oleh masyarakat Mesir.

Kedekatan dengan Imam Syafi’i

Sebelum datang ke Mesir, Imam Syafi’i telah lama mendengar tentang sosok Sayyidah Nafisah yang terkenal karena keluasan ilmu dan ketakwaannya. Ketika menetap di Mesir, Imam Syafi’i sering mengunjungi beliau untuk berdiskusi, meminta nasihat, dan memohon doa.

Hubungan keduanya dibangun atas dasar rasa hormat dan kecintaan terhadap ilmu. Meskipun Imam Syafi’i dikenal sebagai ulama besar, beliau tetap menunjukkan kerendahan hati di hadapan Sayyidah Nafisah. Bahkan, ketika sakit, Imam Syafi’i sering mengirim utusan untuk meminta doa darinya.

Kedekatan tersebut menunjukkan bahwa Sayyidah Nafisah memiliki kedudukan istimewa di mata Imam Syafi’i. Sosoknya dihormati bukan hanya karena keturunannya, tetapi juga karena ilmu, ibadah, dan keteladanannya.

Sebelum wafat, Imam Syafi’i bahkan berwasiat agar Sayyidah Nafisah bersedia menyalatkan jenazahnya. Wasiat tersebut menjadi bukti besarnya penghormatan Imam Syafi’i kepada Sayyidah Nafisah.

Keteladanan Sayyidah Nafisah

Selain dikenal karena ilmunya, Sayyidah Nafisah juga dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan tekun beribadah. Beliau menghabiskan banyak waktunya untuk membaca Al-Qur’an, berzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Keteladanan beliau terlihat dari kesederhanaan hidup, keluasan ilmu, dan kepeduliannya terhadap masyarakat. Sosok Sayyidah Nafisah menjadi inspirasi bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan Islam serta mampu memberikan pengaruh besar bagi lingkungan sekitarnya.

Kehidupan beliau juga mengajarkan bahwa ilmu tidak cukup hanya dipelajari, tetapi juga harus disertai dengan akhlak dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Wafatnya Sayyidah Nafisah

Sayyidah Nafisah wafat di Mesir pada 15 Ramadan 208 H setelah menghabiskan hidupnya untuk ibadah dan mengajarkan ilmu kepada masyarakat. Menjelang wafatnya, beliau tetap memperbanyak ibadah dan membaca Al-Qur’an.

Kepergian Sayyidah Nafisah meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Mesir dan para penuntut ilmu. Hingga saat ini, beliau tetap dikenang sebagai salah satu perempuan mulia yang memberikan kontribusi besar dalam tradisi keilmuan Islam.

Kisah hidup Sayyidah Nafisah menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Melalui keluasan ilmu, ketekunan beribadah, dan akhlaknya yang mulia, beliau menjadi sosok yang dihormati oleh banyak ulama, termasuk Imam Syafi’i.

Hubungan Sayyidah Nafisah dengan Imam Syafi’i juga menjadi bukti bahwa tradisi keilmuan Islam dibangun melalui sikap rendah hati, saling menghormati, dan semangat menuntut ilmu. Keteladanan beliau dapat menjadi inspirasi bagi generasi Muslim masa kini untuk terus mencintai ilmu pengetahuan serta menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi:

Asy’ari, Farida. 2024. Fuqaha’ Syafi’iyah. Yogyakarta: Deepublish.

Indera, Ahmad Perdana, dan Angraini Tuti. 2022. Sejenak Segarkan Jiwa Kita. Medan: Merdeka Kreasi Group.

Muhammad, Husein. 2023. Hiburan Orang-Orang Saleh. Yogyakarta: DIVA Press.

Watiniyah, Ibnu. 2022. Nisa’ul Auliya Kisah Wanita Kekasih Allah. Depok: Puspa Swara.

Muazzam, Isa Almas. 2021. Habib Umar bin Hafidz Menabur Cinta dari Tarim. Jakarta Selatan: Laksana.

Anisah, Rafiqatul, dan Asriana Kibtiyah. (2022). “Sayyidah Nafisah Seorang Sufi Ulama.” Jurnal Studi Islam dan Mu’amalah. Vol.10, No. 1.

Kontributor: Ulfa Nabila Hasibuan, semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *