saiidusshiddiqiyah.ac.id — Resensi Buku “Kisah Para Ulama Terdahulu Mengelola Waktu” Karya Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah.
Identitas Buku:
Judul Buku: Kisah Para Ulama Terdahulu Mengelola Waktu
Penulis: Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah
Penerjemah: Faris Jihady
Penerbit: Gema Insani
Tahun Terbit: Januari 2025
Jumlah halaman: 376 hlm
“Sepasang kaki seorang hamba tetap berpijak pada hari Kiamat hingga ditanya tentang usianya, untuk apa dia habiskan; tentang ilmunya, apa yang dia sudah lakukan dengannya; tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya dan dalam perkara apa membelanjakannya; tentang fisiknya, bagaimana dia mempergunakannya.”
(H.R. At-Tirmidzi)
Rasulullah SAW telah menjelaskan dalam haditsnya bahwa usia, yang pada intinya adalah waktu, merupakan objek yang akan dihisab dan ditanyakan pada hari Kiamat. Orang beruntung adalah orang yang berlomba dengan cara beramal saleh yang produktif dan ketaatan yang murni.
Buku Kisah Para Ulama Terdahulu Mengelola Waktu mengangkat kisah nyata para ulama salaf (ulama terdahulu) dalam memanfaatkan waktu secara maksimal untuk menuntut ilmu, beribadah, menulis, dan memberikan manfaat kepada umat. Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah menjelaskan bagaimana para ulama sangat menghargai waktu, bahkan menganggap setiap detik sebagai kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan.
Melalui berbagai kisah inspiratif, pembaca diajak melihat teladan para ulama yang memiliki produktivitas luar biasa, seperti membaca sambil berjalan, menulis di sela-sela kesibukan, serta menghindari kegiatan yang tidak bermanfaat. Buku ini bukan hanya berisi cerita, tetapi juga memberikan pesan moral tentang pentingnya disiplin, fokus, dan manajemen waktu dalam kehidupan.
Di dalam buku tersebut terdapat cuplikan dari kitab Bidayah al-Hidayah, Imam al-Ghazali berkata: “Waktumu adalah usiamu, usiamu adalah modal utama, dan itulah bisnis perdagangan. Dengannya, engkau dapat mencapai kenikmatan abadi di sisi Allah. Setiap helaan nafasmu adalah mutiara yang tidak ternilai karena ia tidak mungkin diganti jika hilang. Jika pergi, ia tidak mungkin kembali. Janganlah engkau seperti orang-orang pandir yang senang dengan bertambahnya harta setiap hari, padahal usia mereka berkurang. Adakah kebaikan dengan harta yang bertambah, sedangkan usia berkurang? Janganlah bergembira, kecuali dengan bertambahnya ilmu atau amal. Itulah pendamping yang kelak akan menemanimu di alam kubur saat keluarga, harta, anak, dan kerabat pergi meninggalkanmu.” Hal ini menjelaskan tentang betapa berharganya waktu dan usia manusia. Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa usia bukan sekedar hitungan tahun, melainkan modal utama kehidupan yang akan menentukan keselamatan dan kebahagiaan abadi di akhirat.
Setiap detik kehidupan diibaratkan sebagai mutiara yang sangat berharga karena sekali berlalu tidak akan pernah kembali. Oleh sebab itu, manusia tidak seharusnya lalai atau hanya sibuk mengejar kekayaan dunia, sementara umur terus berkurang. Harta yang bertambah tidak akan membawa manfaat jika kehidupan justru semakin jauh dari Allah dan amal kebaikan. Disana juga terdapat pesan agar manusia tidak merasa bangga dengan pencapaian duniawi semata. Kebahagiaan sejati seharusnya muncul ketika ilmu bertambah, ibadah meningkat, dan amal saleh semakin banyak. Sebab, pada akhirnya semua yang bersifat duniawi keluarga, harta, jabatan, dan kerabat akan ditinggalkan saat kematian datang. Yang akan menemani manusia di alam kubur hanyalah ilmu yang bermanfaat dan amal saleh yang dikerjakan selama hidup.
Dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa dalam kitab Madarij as-Salikin, Imam Ibnu al-Qayyim menyebutkan tentang ghirah (kecemburuan) terhadap waktu. Dia berkata: “Kecemburuan terhadap waktu yang telah berlalu adalah kecemburuan yang mematikan (ghirah qatilah) karena waktu sangat cepat berlalu, bersifat angkuh, dan begitu lambat untuk kembali.”
Bagi seorang abid (ahli ibadah), waktu adalah ibadah dan melantunkan wirid. Sementara itu, bagi seorang murid (penempuh jalan ruhani), waktu adalah kesempatan berkonsentrasi kepada Allah, menghimpun seluruh jiwanya untuk Allah, dan memusatkan hati secara total untuk Allah. Baginya, waktu adalah sesuatu yang paling berharga. Dia cemburu jika waktu pergi begitu saja tanpa semua hal tersebut. Jika waktu melewatinya, tidak mungkin disusul sama sekali. Waktu yang datang berikutnya memiliki hak tersendiri yang wajib dipenuhi. Oleh karena itu, jika waktu berlalu, tidak ada jalan untuk menyusulnya lagi.
Para ulama terdahulu, salafush shalih dan orang-orang yang menempuh jalan mereka adalah orang yang paling bersemangat untuk mengoptimalkan waktu dan mengisinya dengan kebaikan, baik dari kalangan alim (orang berilmu) maupun abid (ahli ibadah) di antara mereka. Mereka selalu berlomba dengan waktu, bersegera memanfaatkan kesempatan, dan begitu “kikir” dengan waktu karena antusiasme mereka agar waktu tidak berlalu begitu saja.
Dalam buku tersebut ada sebuah kisah yang diceritakan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala menggambarkan Qatadah sebagai seorang ulama besar yang memiliki hafalan sangat kuat, sehingga dikenal sebagai ahli tafsir, ahli hadits, sekaligus penjaga ilmu pada zamannya. Kekuatan hafalannya bahkan sering dijadikan perumpamaan oleh para ulama karena luar biasanya daya ingat beliau.
Kisah tentang kebiasaan beliau mengkhatamkan Al-Qur’an menunjukkan betapa tinggi semangat ibadahnya. Dalam keadaan biasa, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tujuh hari. Ketika bulan Ramadan tiba, beliau meningkatkan ibadahnya dengan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari. Bahkan pada sepuluh malam terakhir Ramadan, beliau mampu mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam. Hal ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam memanfaatkan waktu-waktu mulia untuk beribadah.
Selain tekun beribadah, Qatadah juga sangat semangat dalam menuntut ilmu. Diceritakan bahwa beliau belajar kepada Sa’id bin Musayyib selama beberapa hari hingga gurunya kagum terhadap kecerdasan dan cepatnya beliau memahami ilmu. Ucapan Sa’id bin Musayyib: “Engkau telah menggali habis seluruh ilmuku,” menunjukkan bahwa Qatadah adalah murid yang sangat cerdas, rajin, dan bersungguh-sungguh dalam belajar.
Kisah-kisah dalam buku tersebut menjadi teladan bagi umat Islam agar selalu menghargai waktu, tekun belajar, dan bersungguh-sungguh dalam beramal saleh.
Penulis buku ini, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah adalah seorang ulama besar asal Suriah yang lahir pada tahun 1917 di Aleppo dan wafat pada tahun 1997. Beliau dikenal sebagai ahli hadis, fikih, pendidikan Islam, serta salah satu ulama kontemporer yang produktif dalam menulis karya ilmiah. Abu Ghuddah pernah belajar kepada banyak ulama besar di Suriah dan Mesir, termasuk di Universitas Al-Azhar. Beliau juga dikenal sebagai tokoh yang sangat peduli terhadap adab, ilmu, dan pembinaan generasi Islam. Banyak karya beliau yang menekankan pentingnya disiplin, etika belajar, dan penghargaan terhadap waktu, sehingga pemikiran beliau sangat relevan bagi pelajar dan pencari ilmu hingga saat ini.
Dalam buku ini, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah mengumpulkan berbagai kisah nyata tentang para ulama salaf yang memanfaatkan setiap detik hidup mereka dengan penuh kesungguhan. Ada ulama yang membaca sambil berjalan, menulis di sela-sela kesibukan, mengurangi waktu tidur demi ilmu, serta menjauhi kegiatan yang tidak bermanfaat. Kisah-kisah tersebut memberikan teladan bahwa waktu adalah aset berharga yang harus dijaga dan digunakan untuk hal-hal produktif. Melalui buku ini, pembaca tidak hanya mendapatkan cerita inspiratif, tetapi juga pelajaran berharga tentang manajemen waktu, kedisiplinan, fokus, dan semangat menuntut ilmu. Buku ini mengajak pembaca untuk meneladani produktivitas para ulama agar dapat mengisi kehidupan dengan aktivitas yang bermanfaat dan bernilai ibadah.
Kisah Para Ulama Terdahulu Mengelola Waktu adalah buku yang sangat layak dibaca, terutama bagi pelajar, santri, mahasiswa, dan siapa saja yang ingin meningkatkan produktivitas dengan meneladani kehidupan para ulama. Buku ini memberikan motivasi kuat bahwa keberhasilan besar dimulai dari cara seseorang menghargai waktu. Buku ini mengajarkan bahwa waktu adalah nikmat yang sangat berharga. Kesuksesan para ulama bukan hanya karena kecerdasan, tetapi karena kemampuan mereka menjaga waktu, disiplin, dan mengisinya dengan hal-hal bermanfaat.
Peresensi: Ani Fitriani, Semester V
