saiidusshiddiqiyah.ac.id — Sudah menjadi rahasia umum bahwa kemajuan peradaban sangat ditentukan oleh pendidikan. Semakin baik kualitas pendidikan suatu negeri, niscaya peluang untuk majunya sebuah peradaban itu lebih besar. Untuk meraih ilmu secara komprehensif dan menyeluruh, diperlukan suatu sistem yang sistematis. Sekolah menjadi salah satu jalan untuk bisa menuntut ilmu secara disiplin, sistematis dan terorganisir. Pendidikan memiliki jenjangnya masing-masing, mulai dari Pendidikan Dasar, Menengah Pertama, Menengah Atas hingga tingkat penjurusan spesifik ilmu yaitu Universitas atau Perguruan Tinggi.
Namun pernahkah terbersit dalam pikiran kita, siapakah pendiri Universitas pertama di dunia?
Fatimah Al-Fihri, begitulah nama yang tercatat dalam sejarah. Ia adalah sosok perempuan muslimah yang berpengaruh dalam pendidikan Islam yang lahir di Qairouan pada tahun 800 M, sekarang kita kenal dengan Kota Tunisia. Ayahnya bernama Muhammad bin Abdullah Al-Fihri, seorang pedagang kaya yang hidup pada masa Idris II. Sekitar tahun 820 M, ayahnya terpaksa mengajak Fatimah Al-Fihri dan kedua saudaranya bermigrasi dari Tunisia ke Kota Fez, Maroko. Disebabkan karena Qairouan sedang dilanda pemberontakan oleh penguasa lokal. Sehingga sekitar 2000 keluarga di Qairouan terpaksa berimigrasi ke Kota Fez, Maroko.
Peristiwa ini terjadi setelah beberapa waktu keluarga Al-Fihri berhijrah, Fatimah sempat menghadapi masa yang sangat menyedihkan, yaitu ayah, suami dan saudara laki-lakinya secara bertahap menghadap sang ilahi. Kemudian tinggal-lah Fatimah dan saudara perempuannya, yang bernama Maryam Al-Fihri. Sepeninggal ayahnya, mereka mewarisi harta yang sangat berlimpah. Mereka memutuskan untuk mewakafkan harta warisannya untuk umat. Terpicu dari latar belakang ketersediaan masjid yang kurang bisa menampung banyak jamaah, mereka pun berinisiatif membangun masjid untuk beribadah sekaligus tempat untuk menuntut ilmu. Akhirnya, Fatimah membangun masjid Al-Qarawiyyin, sedangkan saudaranya Maryam membangun masjid Al-Andalus.
Dari Fez untuk Dunia
Fatimah sendiri adalah orang yang menentukan lokasi pembangunan masjid Al-Qorawiyyin. Fatimah sangat gembira ketika mengetahui bahwa tanah yang dipilih merupakan sumber batu kuning dan tanah yang berkualitas tinggi, yang merupakan material ideal untuk konstruksi. Dalam upayanya, Fatimah sangat berhati-hati agar dana untuk pembangunan masjid sepenuhnya sesuai hukum syariah, Fatimah pun mengiringi pembangunan masjid tersebut dengan puasa untuk memohon berkah dari Allah SWT. Seiring berjalannya waktu, Fatimah mengembangkan masjid ini menjadi sebuah Universitas pada tahun 859 M/245 H.
Kemegahan arsitektur dan desain interiornya begitu memukau setiap mata yang memandang. Pembangunan masjid dan Universitas Al-Qarawiyyin mengambil gaya arsitektur Moor dengan struktur bangunan mengikuti bentuk tradisional bangsa Arab. Arsitektur semacam ini merupakan perpaduan antara gaya Afrika Utara dengan gaya Visigoth dari Semenanjung Liberia.
Tak membutuhkan waktu lama, Fatimah mempopulerkan model pendidikan Universitas Al-Qarawiyyin yang kemudian diadopsi di seluruh dunia dan menjadikan universitas sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban dunia. Universitas ini menjadi tujuan bagi para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia, mulai dari sekitar Maroko, Jazirah Arab, bahkan dari Asia dan Eropa. Pada abad ke-14 M, lebih dari 8000 mahasiswa belajar di universitas ini. Kota Fez yang awalnya kecil, kemudian berkembang menjadi kota yang dipenuhi berbagai aktivitas keilmuan. Universitas Al-Qarawiyyin menjadi pusat intelektual di Mediterania, lalu berkembang menjadi cahaya pendidikan yang mencerahkan dunia. Fatimah Al-Fihri wafat pada tahun 224 H/880 M.
Pada tahun 1998, Universitas Al-Qarawiyyin mendapat rekor dunia dari Guinness Book Of World Records dengan kategori universitas tertua dan universitas pertama yang memberikan gelar akademis kepada lulusannya. Sebelumnya, Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 juga menuliskan kisah berdirinya Universitas Al-Qarawiyyin. Dalam tulisan berjudul Renaissance in Fez, disebutkan bahwa universitas ini telah memiliki peran besar bagi perkembangan Eropa. Universitas ini terbuka bagi semua kalangan dari manapun. Tidak hanya umat Islam, bahkan banyak mahasiswa non muslim pun yang turut belajar di universitas ini. Bahkan Universitas Al-Qarawiyyin masih beroperasi hingga kini.
Cahaya Ilmu yang Tak Pernah Padam
Universitas ini melahirkan cendikiawan-cendikiawan hebat dan ternama. Tersebutlah seperti Waliyuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrahman bin Khaldun atau lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun, didaulat sebagai Bapak Sosiologi Islam yang buah pemikirannya berpengaruh hingga saat ini. Salah satu karya terbesarnya adalah kitab Al-‘Ibar yang terdiri dari 7 jilid dengan Muqaddimah menjadi pengantar, Al-‘Ibar menjadi isi dan Al-Ta’rif menjadi penutup. Berbagai cendekiawan barat seperti Nicolas Cleynaerts (1495-1542) dan Jocobus Golius (1596-1667), Cleynaerts seorang Yahudi yang mempelajari bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an. Ada juga Moses Maimonides merupakan seorang dokter, ilmuan sekaligus pendeta Yahudi yang sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran pada abad pertengahan, khususnya dalam kesusastraan Yahudi. Ia mewarisi banyak sekali karya dalam berbagai macam disiplin ilmu seperti filsafat, astronomi, teologi, pengobatan, farmasi, dan lain sebagainya. Karya-karyanya menjadi salah satu sumber rujukan utama dalam kajian keilmuan Yahudi hingga kini.
Keberadaan Al-Qarawiyyin menjadi bukti bahwa pendidikan Islam sejak awal telah bersifat holistik, mengintegrasikan aspek spiritual, intelektual dan sosial. Kisah sosok perempuan muda ini yaitu Fatimah Al-Fihri memiliki relevansi yang sangat kuat terhadap dunia pendidikan masa kini. Universitas ini juga menjadi salah satu penghubung transfer ilmu dari dunia Islam ke Eropa, terutama pada masa kejayaan Andalusia.
Jejak Perempuan bagi Generasi Masa Kini
Dengan demikian, peran Fatimah Al-Fihri dalam mendirikan lembaga ini tidak hanya berdampak pada masyarakat muslim, akan tetapi pada perkembangan peradaban dunia secara umum.
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Fatimah Al-Fihri, diantaranya:
- Memiliki visi, tujuan, impian yang besar dan berpikir jauh melampaui ratusan tahun ke depan untuk mencetak generasi yang cerdas dari berbagai kalangan. Sehingga ia menghabiskan hidupnya untuk membangun sesuatu yang bermanfaat dalam jangka waktu yang abadi.
- Memiliki kemandirian dalam kontribusi publik. Dengan memanfaatkan modal warisan dan keyakinan yang kuat, Fatimah berani tampil di ruang publik. Ia memimpin pembangunan masjid dan universitas yang memberi dampak dan kemanfaatan secara luas.
- Menjadikan dunia sebagai ladang untuk menanam kebaikan, sehingga di akhirat kelak ia akan memanen kebaikan yang telah ia lakukan selama hidup di dunia.
Tiga diantara banyaknya pelajaran yang bisa kita ambil, selaras dengan sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara), yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa untuknya.”
Fatimah Al-Fihri menjadi bukti bahwa pendidikan mampu menjadi cahaya peradaban, dan perempuan memiliki peran penting dalam menyalakan cahaya itu bagi generasi masa yang akan datang.
Referensi
Muftisany, Hafidz. 2021. Kisah Pahlawan Muslimah Dunia. Yogyakarta: Elementa Media.
Semesta, Tim. 2020. Buku Catatan Semesta. Bogor: Guepedia.
Penulis Smart Media, Tim. 2020. Tokoh Muslim Terkemuka. Sidoarjo: Intera.
Ningrum,Y, H, N., Rahman, M, A, & Sugiyono. 2025. “Cahaya dari Fez : Kontribusi Fatimah Al-Fihri dalam Evolusi Pendidikan Dunia”. Jurnal Basataka, Vol. 8, No. 2.
Basyaiban, Lia. Menyelami Samudera Ilmu Bersama Fatima Al-Fihri. https://mataair.co/menyelami-samudera-ilmu-bersama-fatima-al-fihri/ diakses pada 26 Februari 2024 pukul 08.45 WIB
Sutisna Nata. Fatimah Al-Fihri: Perintis Universitas di Dunia Islam. https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/fatimah-al-fihri-perintis-universitas-di-dunia-islam-nYUbF diakses pada 10 Maret 2021 pukul 08.00 WIB
Kontributor: Aulia Sopiatul Mukaromah, semester II
