Ketika Gengsi Menghalangi Kebenaran: Sikap Kaum Quraisy terhadap Nabi

saiidusshiddiqiyah.ac.id —Kaum Quraisy merupakan suku yang memiliki kedudukan paling tinggi di Jazirah Arab, khususnya di kota Makkah. Mereka dikenal sebagai penjaga Ka‘bah dan penguasa perdagangan yang memiliki pengaruh besar di tengah bangsa Arab. Banyak kabilah menghormati Quraisy karena posisi mereka sebagai pengurus Baitullah. Dengan kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan yang mereka miliki, para pembesar Quraisy merasa bahwa merekalah golongan paling mulia di antara bangsa Arab.

Di tengah masyarakat Quraisy, Nabi Muhammad sebenarnya telah dikenal jauh sebelum masa kenabian sebagai sosok yang jujur, amanah, dan memiliki akhlak yang baik. Beliau bahkan mendapat gelar al-Amīn yang berarti orang terpercaya. Tidak ada seorangpun di Makkah yang pernah mengenal Nabi sebagai pendusta. Karena itu, ketika beliau mulai menyampaikan dakwah Islam, sebenarnya banyak tokoh Quraisy mengetahui bahwa beliau berkata benar. Akan tetapi, kesombongan dan gengsi membuat mereka tidak mau menerima ajaran yang dibawa Nabi. Tentang keadaan mereka ini Allah berfirman:

قَدْ نَعْلَمُ اِنَّهٗ لَيَحْزُنُكَ الَّذِيْ يَقُوْلُوْنَ فَاِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُوْنَكَ وَلٰكِنَّ الظّٰلِمِيْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ ۝٣٣

Sungguh, Kami mengetahui bahwa sesungguhnya apa yang mereka katakan itu betul-betul membuatmu (Nabi Muhammad) bersedih. (Bersabarlah) karena sebenarnya mereka tidak mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu selalu mengingkari ayat-ayat Allah.(QS. Al-Qur’an Al-An‘am: 33)

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum Quraisy sebenarnya mengetahui kebenaran Nabi, tetapi mereka tetap menolak karena kesombongan dan kezaliman dalam hati mereka.

Penghinaan dan Ejekan terhadap Nabi 

Salah satu cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghadapi dakwah Nabi adalah dengan penghinaan dan ejekan. Mereka berusaha menjatuhkan kehormatan Nabi di hadapan masyarakat agar orang-orang tidak tertarik kepada Islam. Tokoh seperti Umayyah bin Khalaf sering menghina Nabi baik dengan ucapan maupun isyarat. Dalam Sirah Ibnu Hisyam dijelaskan bahwa Umayyah selalu menghina dan mencaci Rasulullah. Allah kemudian menurunkan Surah Al-Humazah sebagai kecaman terhadap perilaku tersebut:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ ۝١

Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al-Qur’an Al-Humazah: 1)

Kaum Quraisy menggunakan penghinaan sebagai senjata untuk melemahkan dakwah Nabi karena mereka takut kehilangan pengaruh dan kedudukan apabila Islam berkembang di Makkah. Selain mengejek, mereka juga menuduh Nabi sebagai tukang sihir, penyair, bahkan orang gila. Padahal mereka sendiri mengetahui bahwa Nabi bukanlah orang seperti itu. Tuduhan-tuduhan tersebut hanyalah cara untuk mempengaruhi masyarakat agar tidak mendengarkan Al-Qur’an.

Kesombongan Sosial dan Penolakan terhadap Kenabian

Kaum Quraisy juga merasa bahwa Nabi Muhammad SAW tidak layak menjadi rasul karena beliau bukan orang paling kaya atau paling berkuasa di Makkah. Mereka berpikir bahwa kenabian seharusnya diberikan kepada pembesar Quraisy atau tokoh besar dari Thaif. Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa Al-Walid bin Al-Mughirah merasa dirinya lebih pantas menerima wahyu karena kedudukan dan hartanya lebih tinggi. Allah mengabadikan ucapan mereka dalam firman-Nya:

وَقَالُوْا لَوْلَا نُزِّلَ هٰذَا الْقُرْاٰنُ عَلٰى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ ۝٣١

Mereka (juga) berkata, “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada (salah satu) pembesar dari dua negeri ini (Mekah dan Thaif)?” (QS. Az-Zukhruf: 31)

Yang dimaksud dengan dua negeri adalah Makkah dan Thaif. Kaum Quraisy menilai kemuliaan hanya berdasarkan kekayaan dan kekuasaan. Mereka merasa gengsi apabila harus mengikuti seorang nabi yang yatim dan tidak memiliki kekuasaan besar seperti mereka. Padahal Allah menegaskan bahwa manusia tidak berhak menentukan kepada siapa wahyu diturunkan. Allah memilih Nabi Muhammad karena kemuliaan akhlak dan kelayakan beliau, bukan karena ukuran duniawi.

Fanatisme terhadap Tradisi Nenek Moyang

Penyebab lain penolakan Quraisy terhadap Nabi adalah fanatisme terhadap tradisi nenek moyang mereka. Sejak lama masyarakat Quraisy hidup dengan penyembahan berhala. Berhala-berhala itu ditempatkan di sekitar Ka‘bah dan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Ketika Nabi mengajak mereka menyembah Allah semata dan meninggalkan berhala, mereka merasa agama leluhur mereka sedang dihina. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa para pembesar Quraisy takut kehilangan kehormatan dan keuntungan ekonomi apabila masyarakat Arab meninggalkan penyembahan berhala.

Padahal sebenarnya mereka mengetahui bahwa berhala-berhala tersebut tidak memiliki kekuatan apa pun. Akan tetapi karena tradisi itu telah diwariskan turun-temurun, mereka lebih memilih mempertahankannya daripada menerima ajaran tauhid.

Pengaruh Teman dan Lingkungan

Pengaruh lingkungan juga sangat besar dalam penolakan terhadap Nabi. Dalam Sirah Ibnu Hisyam disebutkan kisah Uqbah bin Abi Mu’ith yang pernah duduk mendengarkan Nabi. Namun ketika sahabat dekatnya, Ubay bin Khalaf, mengetahui hal tersebut, ia marah dan mengancam akan memutuskan hubungan persahabatan apabila Uqbah tidak menghina Nabi. Karena takut kehilangan teman dan kedudukannya di tengah Quraisy, Uqbah akhirnya ikut memusuhi Nabi. 

Tentang hal ini Allah berfirman:

يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا ۝٢٨

“Wahai, celaka aku! Sekiranya dulu ketika di dunia aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab-ku, temanku itulah yang ikut mempengaruhiku, sehingga aku menjadi pendosa dengan kekafiran dan kemusyrikan.” (QS. Al-Qur’an Al-Furqan: 28)

Ayat ini menunjukkan bahwa teman yang buruk dapat menghalangi seseorang dari menerima kebenaran.

Dari berbagai peristiwa tersebut terlihat bahwa kaum Quraisy sebenarnya mengetahui kejujuran dan kebenaran Nabi Muhammad. Sebagian dari mereka bahkan sadar bahwa beliau benar-benar seorang rasul. Akan tetapi gengsi, kesombongan, persaingan antar suku, fanatisme terhadap tradisi nenek moyang, dan rasa takut kehilangan kedudukan membuat mereka menolak Islam. Kisah-kisah ini menjadi pelajaran bahwa kesombongan dapat menutup hati seseorang dari menerima kebenaran meskipun bukti telah jelas di hadapannya.

Referensi:

Harun, Abdus Salam (Ed.). (1995). Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam. Beirut: Muassasah al-Risalah.

Darwazah, Muhammad ‘Izzah. (1995). Sirah ar-Rasul fi Dhau’ al-Qur’an al-Karim. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.

Ibnu Katsir. (1998). Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Buti, Muhammad Sa‘id Ramadan. (1991). Fiqh Sirah Nabawiyah. Beirut: Dar al-Fikr al-Mu‘ashir.

Harefa, Y., & Ilo, Y. (2023). Tinjauan Biblikal Terhadap Tujuan Ucapan Kutuk Elisa Dalam 2 Raja-Raja 2: 23-25. Philoxenia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani2(1), 1-10.

Fithrotin, F., & Ishlaha, N. (2022). Bullying dalam Al-qur’an: Analisis Terhadap Ayat-ayat Bullying dengan Pendekatan Maqashid. Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran Dan Tafsir5(2), 187-200.

Kontributor: Syaparuddin Hasibuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *