saiidusshiddiqiyah.ac.id — Resensi Buku Kitab Sejarah Wali Sanga dari Masa Majapahit sampai Mataram Islam Karya M. Masykur Arif.
Judul buku: Kitab Sejarah Wali Songo dari Masa Majapahit sampai Mataram Islam
Penerbit: DIVA Press
Tahun Terbit: 2025
Penulis: M. Masykur Arif
Jumlah Hal.: 416
Bagaimana mungkin sebuah ajaran baru dapat diterima oleh masyarakat yang telah berabad-abad hidup dengan tradisi dan keyakinan yang berbeda? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya menyimpan salah satu kisah paling menarik dalam sejarah Nusantara. Ketika Islam mulai berkembang di Pulau Jawa pada abad ke-15, para penyebarnya tidak datang dengan pasukan besar atau kekuatan politik yang memaksa. Mereka hadir melalui pasar-pasar pelabuhan, surau-surau kecil, pertunjukan wayang, lantunan tembang, hingga keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Dari proses panjang itulah lahir sebuah babak baru dalam sejarah Indonesia yang hingga kini jejaknya masih dapat ditemukan di berbagai sudut Jawa.
Kisah besar tersebut menjadi fokus utama dalam buku Kitab Sejarah Wali Sanga dari Masa Majapahit sampai Mataram Islam: Potret Perjalanan Penyebaran Islam di Tanah Jawa karya M. Masykur Arif. Melalui buku ini, pembaca diajak menelusuri perjalanan sembilan tokoh yang dikenal sebagai Wali Sanga, para ulama yang memainkan peran penting dalam proses islamisasi Jawa sekaligus membentuk wajah Islam Nusantara yang moderat dan akrab dengan budaya lokal.
Buku ini hadir di tengah banyaknya kisah tentang Wali Sanga yang beredar di masyarakat. Sebagian besar masyarakat mengenal para wali melalui cerita tutur, tradisi ziarah, atau kisah-kisah karamah yang diwariskan turun-temurun. Namun, M. Masykur Arif berusaha menyusun potret yang lebih utuh dengan menggabungkan unsur sejarah, biografi, dakwah, dan warisan budaya yang ditinggalkan para wali.
Pembahasan dalam buku disusun secara sistematis. Setiap bab mengupas satu tokoh wali beserta latar belakang keluarga, perjalanan hidup, aktivitas dakwah, ajaran yang dikembangkan, hingga peninggalan sejarah yang masih dapat ditemukan sampai saat ini. Pembaca diajak mengenal Sunan Gresik sebagai pelopor dakwah Islam di Jawa, Sunan Ampel sebagai pendidik yang melahirkan banyak ulama besar, Sunan Bonang yang memanfaatkan seni sebagai sarana dakwah, hingga Sunan Kalijaga yang terkenal karena kemampuannya menjembatani Islam dan budaya Jawa.
Dari seluruh tokoh yang dibahas, Sunan Kalijaga menjadi salah satu figur yang paling menarik perhatian. Dalam banyak literatur, beliau dikenal sebagai wali yang memahami betul karakter masyarakat Jawa. Buku ini memperlihatkan bagaimana dakwah tidak selalu dilakukan melalui mimbar dan ceramah. Wayang, gamelan, tembang, dan berbagai tradisi lokal justru dijadikan sarana untuk menyampaikan nilai-nilai Islam. Pendekatan ini menunjukkan bahwa para wali tidak memandang budaya sebagai ancaman, melainkan sebagai jembatan yang dapat menghubungkan masyarakat dengan ajaran agama.
Di sinilah kekuatan terbesar buku ini. Penulis tidak hanya menceritakan siapa para wali, tetapi juga mengajak pembaca memahami mengapa mereka berhasil. Keberhasilan Wali Sanga bukan semata karena kedalaman ilmu agama yang dimiliki, melainkan karena kemampuan mereka membaca kondisi sosial masyarakat. Mereka memahami bahwa perubahan tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan kesabaran, keteladanan, dan penghormatan terhadap tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat.
Buku ini juga memperlihatkan bahwa peran para wali jauh melampaui urusan dakwah. Mereka turut membangun lembaga pendidikan, memperkuat kehidupan sosial masyarakat, mengembangkan jaringan ekonomi, bahkan berperan dalam proses lahirnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Dengan kata lain, Wali Sanga tidak hanya menyebarkan agama, tetapi juga ikut membentuk fondasi peradaban baru di tanah Jawa.
Meski demikian, pembaca tetap perlu bersikap kritis. Sebagaimana banyak buku yang membahas tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam Nusantara, karya ini juga memuat berbagai kisah karamah yang telah lama berkembang di masyarakat. Kisah-kisah tersebut tentu menarik dan menjadi bagian penting dari tradisi budaya. Namun dari sudut pandang akademik, tidak semuanya dapat diverifikasi melalui sumber sejarah primer. Oleh karena itu, pembaca perlu membedakan antara fakta sejarah dan cerita yang berkembang sebagai memori kolektif masyarakat.
Terlepas dari hal tersebut, buku ini memiliki kelebihan yang menonjol. Bahasa yang digunakan ringan dan mudah dipahami sehingga tidak membuat pembaca merasa sedang membaca buku sejarah yang berat. Penyajiannya yang sistematis juga memudahkan pembaca mengikuti perjalanan masing-masing wali. Selain itu, pembahasan mengenai peninggalan sejarah dan lokasi makam para wali menjadi nilai tambah yang memperkaya isi buku.
Hal yang membuat buku ini relevan untuk dibaca saat ini adalah pesan yang terkandung di dalamnya. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin beragam dan kompleks, kisah para Wali Sanga mengingatkan bahwa perubahan sosial dapat dilakukan melalui pendekatan yang damai dan penuh kebijaksanaan. Mereka mengajarkan bahwa agama dan budaya tidak selalu harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan berdampingan dan saling memperkaya.
Pada akhirnya, Kitab Sejarah Wali Sanga dari Masa Majapahit sampai Mataram Islam bukan hanya buku tentang sembilan ulama besar. Buku ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah peradaban dibangun melalui ilmu, keteladanan, dan penghormatan terhadap manusia. Membacanya membuat kita memahami bahwa sejarah Islam di Nusantara tidak lahir dari penaklukan, melainkan dari kemampuan merangkul perbedaan dan membangun kepercayaan.
Dan mungkin, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini, warisan terbesar Wali Sanga bukanlah makam-makam yang diziarahi ribuan orang setiap tahun. Warisan terbesar mereka adalah cara berpikir yang mengedepankan hikmah, toleransi, dan kemanusiaan nilai-nilai yang tetap relevan, bahkan setelah berabad-abad berlalu.
Kontributor: M. Aldy Kurniadi, semester IV
