Arwa al-Sulayhi Sang Ratu Permata Peradaban Islam dari Tanah Yaman

saiidusshiddiqiyah.ac.id — Arwa al-Sulayhi adalah salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Islam dan Dinasti Fatimiyah.  Ia lahir sekitar 1048 M di Haraz, daerah pegunungan Yaman yang menjadi pusat Ismailiyah. Arwa merupakan sosok yang yatim sejak kecil, dan dibesarkan di istana Sana’a oleh bibinya, Asma binti Shihab. Asma merupakan ratu Yaman yang cerdas dan berkuasa bersama suaminya, Ali al-Sulayhi. Dari Asma, Arwa belajar politik, agama, puisi, hadits, dan sejarah. Kronik abad ke-12 menggambarkan Arwa sebagai perempuan yang memiliki ingatan kuat dan pemahaman agama yang mendalam. Sejak kecil, ia dididik dalam urusan politik dan pemerintahan sehingga dipersiapkan menjadi sosok penting di lingkungan istana. 

Pada tahun 1066 M, Arwa menikah dengan Ahmad al-Mukarram al-Sulayhi, putra dari Ali al-Sulayhi yang juga merupakan sepupunya sendiri. Pernikahan ini dilaksanakan untuk memperkuat dinasti. Mahar pernikahan yang diberikan oleh suaminya adalah Kota Aden.  Dalam sejarah dunia Islam, Arwa menjadi sosok yang sangat istimewa karena tidak hanya memegang kekuasaan politik, tetapi juga dianggap memiliki pengaruh besar dalam urusan dakwah dan keagamaan Ismailiyah.  

Awalnya, Arwa hanyalah seorang permaisuri dari Ahmad al-Mukarram. Setelah menikah, kehidupan Arwa berubah drastis. Ayah mertuanya terbunuh dalam konflik politik, sedangkan beberapa tahun kemudian suaminya, Ahmad al-Mukarram, mengalami kelumpuhan akibat sakit.

Kondisi kesehatannya membuat Ahmad sulit menjalankan pemerintahan secara langsung, suaminya mengalami kelumpuhan sekitar tahun 1074 – 1075. Kondisi ini membuat Arwa perlahan mengambil alih urusan pemerintahan di Yaman.

Karena pada masa itu wilayah Yaman sedang dilanda banyak pemberontakan terhadap kekuasaan Sulayhid. Sana’a sebagai ibu kota juga sering terancam oleh kelompok Zaydi dan konflik antarsuku. Karena keadaan yang tidak aman, Arwa memindahkan ibu kota pemerintahan ke Dhu Jibla agar kerajaan lebih aman dan strategis. Keputusan ini dianggap sangat cerdas karena wilayah tersebut lebih mudah dipertahankan dan lebih aman untuk menjalankan pemerintahan. 

Selain itu, Arwa juga dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, sabar, dan lebih suka menggunakan diplomasi daripada perang langsung. Pada awalnya, sebagian masyarakat merasa aneh dipimpin oleh seorang perempuan. Dalam budaya politik saat itu, kepemimpinan biasanya dipegang laki-laki. Namun Arwa berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu menjalankan pemerintahan dengan baik. Bahkan sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa suaminya sendiri mempercayakan seluruh urusan negara kepadanya.

Setelah suaminya meninggal pada tahun 1084 M, Arwa tetap melanjutkan kekuasaannya. Secara resmi, putranya diangkat sebagai penguasa, tetapi sebenarnya Arwa yang menjalankan pemerintahan. Tidak lama kemudian putranya juga meninggal, sehingga Arwa termasuk salah satu penguasa perempuan muslimah paling berpengaruh. Hal ini juga  menjadikan Arwa sebagai salah satu ratu muslimah pertama yang memerintah secara langsung atas namanya sendiri.

Hubungan dengan Dinasti Fatimiyah

Arwa menggunakan strategi politik yang cermat.  Hubungan Arwa dengan Dinasti Fatimiyah di Mesir sangat erat. Khalifah Fatimiyah mempercayakan berbagai urusan dakwah Ismailiyah di Yaman kepadanya. Karena pengaruhnya yang besar, Arwa kemudian memperoleh kedudukan tinggi dalam tradisi Ismailiyah dan dianggap sebagai hujjah atau wakil spiritual imam. Dari Yaman, dakwah Ismailiyah juga berkembang hingga ke India melalui jaringan para da’i yang berada di bawah pengaruhnya.

Sebagian orang menganggap Arwa bukan hanya pemimpin politik, tapi juga memiliki kedudukan spiritual tinggi. Pada tahun 1084 M, Khalifah Fatimiyah memberikan kepada Arwa gelar hujjah dalam tradisi Ismailiyah. Dalam hierarki Ismailiyah gelar ini menunjukkan bahwa Arwa dianggap sebagai wakil spiritual yang memiliki pengetahuan agama mendalam.

Kedudukan Spiritual dalam Ismailiyah

Arwa bersama Lamak ditunjuk untuk memimpin dakwah Ismailiyah di  Yaman, setelah itu, Arwa mengangkat Dhu’ayb sebagai da’i. Peristiwa ini dianggap sebagai awal resmi dakwah Tayyibi dengan garis penerus da’i mutlaq yang terus berlanjut.  Sejarawan Ismailiyah, Idris, berusaha membuktikan bahwa Arwa memiliki kedudukan spiritual tinggi sebagai hujjah (wakil spiritual imam). Ia menggambarkan Arwa sebagai perempuan yang sangat alim, memahami ilmu agama dan tafsir batin (ta’wil), serta mampu mendidik para da’i. Karena itu, Idris menilai Arwa layak memegang otoritas spiritual tertinggi setelah imam tersembunyi al-Tayyib.

Namun para sejarawan berbeda pendapat tentang apakah gelar tersebut benar-benar resmi atau hanya penghormatan simbolis. Meski begitu, semua sepakat bahwa Arwa memiliki pengaruh besar dalam kehidupan keagamaan masyarakat Ismailiyah. 

Warisan dan Pengaruh Arwa al-Sulayhi

Arwa memiliki sisi keras terhadap musuh-musuhnya. Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan bahwa ia melakukan balas dendam terhadap pihak yang pernah menyakiti keluarga Sulayhid. Hal ini menggambarkan bahwa Arwa adalah pemimpin yang kuat dan tidak mudah ditindas.

Sebagai penguasa perempuan, Arwa memiliki kedudukan yang hampir tidak ada bandingannya di dunia Islam saat itu. Bersama ibu mertuanya, Asma bint Shihab, Arwa termasuk perempuan muslimah yang namanya disebut dalam khutbah Jumat. Penyebutan nama dalam khutbah merupakan tanda resmi bahwa seseorang diakui sebagai penguasa negara. Ini adalah penghormatan politik yang sangat tinggi.

Di bidang pembangunan, Arwa mendirikan berbagai bangunan dan masjid. Salah satu peninggalannya yang paling terkenal adalah Queen Arwa Mosque di Yaman. Masjid tersebut menjadi simbol kejayaan Dinasti Sulayhid dan masih dikenal hingga sekarang.

Menjelang akhir hidupnya, Arwa tetap mempertahankan pengaruh politik dan spiritualnya. Ia terus menjaga hubungan dengan para da’i Ismailiyah dan mempertahankan stabilitas Yaman meskipun kekuasaan Sulayhid mulai melemah. Arwa wafat pada tahun 1138 M dalam usia yang cukup lanjut. Bersamaan dengan wafatnya, Dinasti Sulayhid juga berakhir.

Meskipun begitu, nama Arwa tetap dikenang dalam sejarah sebagai salah satu perempuan paling hebat dalam dunia Islam. Ia berhasil memimpin kerajaan di tengah kondisi politik yang sulit, mempertahankan dakwah Ismailiyah, serta membuktikan bahwa perempuan juga mampu menjadi pemimpin besar. Hingga kini, Arwa al-Sulayhi dipandang sebagai simbol kecerdasan, keberanian, dan keteguhan seorang perempuan Muslim dalam sejarah peradaban Islam.

Kesimpulannya, Arwa al-Sulayhi merupakan salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam. Ia tidak hanya berhasil memimpin Dinasti Sulayhid di Yaman pada masa penuh konflik politik, tetapi juga memainkan peran besar dalam perkembangan dakwah Ismailiyah di bawah pengaruh Dinasti Fatimiyah. Dengan kecerdasan, keberanian, dan kemampuan diplomasi yang dimilikinya, Arwa mampu mempertahankan stabilitas kerajaan serta membangun pusat pemerintahan yang lebih aman di Dhu Jibla. Selain dikenal sebagai penguasa politik, Arwa juga dihormati karena kedalaman ilmu agamanya hingga mendapat kedudukan spiritual tinggi dalam tradisi Ismailiyah. Kepemimpinannya membuktikan bahwa perempuan juga mampu menjadi pemimpin besar dan berpengaruh dalam dunia Islam. Hingga kini, nama Arwa al-Sulayhi tetap dikenang sebagai simbol keteguhan, kecerdasan, dan kejayaan perempuan Muslim dalam sejarah Islam.

Referensi

Cortese, Delia, dan Simonetta Calderini. 2006. Women and the Fatimids in the World of Islam. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Daftary, Farhad. 2025. Historical Dictionary of the Ismailis. London: Bloomsbury Publishing. 

El-Azhari, Taef Kamal. 1997. The Saljuqs of Syria during the Crusades 463–549 A.H./1070–1154 A.D. Berlin: Klaus Schwarz Verlag.

El-Azhari, Taef Kamal. 2016. Zengi and the Muslim Response to the Crusades: The Politics of Jihad. New York: Routledge.

El-Azhari, Taef Kamal. 2019. Queens, Eunuchs and Concubines in Islamic History, 661–1257. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Kontributor: Hanhan Hanipah, semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *