Asma binti Abu Bakar: Sosok di Balik Suksesnya Hijrah Rasulullah

saiidusshiddiqiyah.ac.id — Asma binti Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’id bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay merupakan putri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Qutailah binti Abdul Uzza bin Abdul As’ad bin Nashr bin Malik bin Hasl bin Amir bin Lu’ay. Asma adalah saudari Abdullah bin Abu Bakar dari pihak ayah dan ibu. Ia kemudian menikah dengan Zubair bin Awwam dan dikaruniai beberapa orang anak, di antaranya Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair, Mundzir bin Zubair, Muhajir bin Zubair, dan Ashim bin Zubair.

Asma binti Abu Bakar juga merupakan saudari Aisyah radhiyallahu ‘anha dari pihak ayah. Ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan suaminya, Zubair bin Awwam, termasuk sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga. Kehidupan Asma menjadi teladan bagi umat Islam karena keberanian, keteguhan iman, kesabaran, kecerdasan, serta pengorbanannya dalam perjuangan menegakkan dakwah Islam. Berbagai peristiwa dalam hidupnya menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung perjuangan Rasulullah SAW.

Sikap Asma terhadap Ibunya yang Masih Musyrik

Hubungan Asma dengan ibunya sempat diwarnai perbedaan keyakinan karena sang ibu belum memeluk Islam. Suatu hari, ibunya datang membawa hadiah berupa keju, roti, dan lemak sebagai tanda kasih sayang kepada putrinya. Pada awalnya, Asma menolak pemberian tersebut karena khawatir terhadap hukum menerima makanan dari orang yang masih musyrik.

Kemudian, Asma bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai hal tersebut. Rasulullah memerintahkannya untuk menerima hadiah dari ibunya serta tetap menjalin hubungan baik dengannya. Beliau juga memerintahkan Asma agar tetap berbakti kepada ibunya meskipun berbeda keyakinan.

Peristiwa ini menjadi salah satu dalil penting bahwa Islam menjunjung tinggi kasih sayang, toleransi, dan penghormatan kepada kedua orang tua. Perbedaan agama tidak menghapus kewajiban seorang anak untuk tetap berbuat baik selama tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan.

Kehidupan Sederhana Bersama Zubair bin Awwam

Setelah menikah dengan Zubair bin Awwam, kehidupan Asma jauh dari kemewahan. Suaminya bukanlah seorang pejabat ataupun saudagar kaya, meskipun termasuk salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.

Karena keterbatasan ekonomi, Asma mengerjakan hampir seluruh pekerjaan rumah tangga sendiri. Ia menggiling gandum hingga menjadi tepung untuk membuat roti, mengangkut air, serta merawat seekor kuda milik keluarganya. Rasulullah SAW juga pernah memberikan sebidang kebun kepada Zubair, tetapi letaknya cukup jauh sehingga Asma harus menempuh perjalanan yang melelahkan untuk mengurusnya.

Meskipun hidup dalam kesederhanaan, Asma tidak pernah mengeluh. Ia tetap sabar, taat kepada suaminya, dan menjalankan setiap tanggung jawab dengan penuh keikhlasan. Kesederhanaan hidupnya menjadi contoh bahwa kebahagiaan keluarga tidak selalu diukur dari banyaknya harta, melainkan dari keimanan dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Mendapat Gelar Dzatun Nitaqain (Pemilik Dua Selendang)

Salah satu peristiwa paling bersejarah dalam kehidupan Asma terjadi ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersiap melaksanakan hijrah ke Madinah. Saat itu, keduanya bersembunyi di Gua Tsur untuk menghindari kejaran kaum Quraisy. Asma mendapat amanah untuk mengantarkan makanan kepada Rasulullah dan ayahnya, padahal saat itu ia sedang mengandung.

Ketika hendak membawa bekal, Asma tidak menemukan tali untuk mengikat wadah makanan. Abu Bakar kemudian memintanya membelah selendang yang dikenakannya menjadi dua bagian. Satu bagian digunakan untuk mengikat bekal makanan, sedangkan bagian lainnya tetap dipakai sebagai ikat pinggang.

Melihat kecerdikan, keberanian, dan pengorbanan Asma, Rasulullah SAW memberinya gelar Dzatun Nitaqain, yang berarti pemilik dua selendang. Gelar tersebut menjadi penghormatan yang sangat mulia atas jasa Asma dalam membantu keberhasilan hijrah Rasulullah, sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam.

Kecerdasan Asma Menenangkan Kakeknya

Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar hijrah ke Madinah, Abu Bakar membawa seluruh hartanya, yang diperkirakan berjumlah sekitar lima ribu hingga enam ribu dinar. Setelah kepergian mereka, Abu Quhafah, kakek Asma yang saat itu telah kehilangan penglihatannya, datang ke rumah dan merasa khawatir keluarganya ditinggalkan tanpa bekal harta.

Untuk menenangkan hati sang kakek, Asma mengambil beberapa batu dan meletakkannya di tempat penyimpanan harta, kemudian menutupinya dengan sehelai kain. Selanjutnya, ia memegang tangan Abu Quhafah dan mengarahkannya agar menyentuh batu-batu tersebut sehingga beliau mengira Abu Bakar masih meninggalkan banyak harta bagi keluarganya.

Kecerdasan, ketenangan, dan kebijaksanaan Asma dalam menghadapi situasi sulit menunjukkan kedewasaan berpikirnya meskipun usianya masih relatif muda. Ia mampu menjaga perasaan keluarganya tanpa mengurangi rasa hormat kepada ayahnya.

Keteguhan Asma binti Abu Bakar

Suatu hari, Abu Jahal datang ke rumah Asma untuk mencari informasi mengenai keberadaan Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Meskipun saat itu Asma masih berusia muda, ia memahami bahwa keselamatan Rasulullah dan ayahnya merupakan amanah yang harus dijaga.

Asma hanya menjawab bahwa dirinya tidak mengetahui keberadaan keduanya. Mendengar jawaban tersebut, Abu Jahal menjadi sangat marah. Ia kemudian menampar wajah Asma dengan keras hingga anting-anting yang dikenakannya terlepas.

Walaupun mengalami perlakuan kasar dan merasakan kesakitan, Asma tetap teguh menjaga rahasia persembunyian Rasulullah dan ayahnya. Ia tidak sedikit pun tergoda untuk membocorkan informasi tersebut. Keberanian dan keteguhan iman Asma menjadi salah satu bukti besarnya pengorbanan kaum perempuan dalam perjuangan dakwah Islam.

Tidak lama kemudian, Asma bersama suaminya menyusul Rasulullah dan Abu Bakar berhijrah ke Madinah. Saat itu, ia sedang mengandung tua. Sesampainya di daerah Quba, Asma melahirkan putra pertamanya, Abdullah bin Zubair. Kelahiran Abdullah menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi kaum Muslimin karena ia merupakan bayi pertama yang lahir dari kalangan Muhajirin setelah hijrah ke Madinah.

Kezuhudan yang Luar Biasa

Semakin bertambah usia, sifat zuhud Asma semakin tampak dalam kehidupannya. Pada masa tuanya, beliau mengalami kebutaan pada kedua matanya. Namun, keadaan tersebut tidak mengurangi semangatnya dalam beribadah dan menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan.

Suatu hari, putranya, Mundzir, menghadiahkan pakaian yang sangat lembut dan halus. Ketika meraba kain tersebut, Asma meminta agar pakaian itu dikembalikan karena khawatir bahannya terlalu tipis sehingga dapat menerawang.

Setelah itu, Mundzir menggantinya dengan pakaian yang lebih tebal dan sederhana, lalu Asma menerimanya. Sikap tersebut menunjukkan kehati-hatian Asma dalam menjaga kehormatan diri serta kezuhudannya terhadap kemewahan dunia. Baginya, pakaian bukanlah sarana untuk bermegah-megahan, melainkan sebagai penutup aurat yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Kedermawanan Asma binti Abu Bakar

Asma dikenal sebagai perempuan yang sangat dermawan. Suatu hari, ia bertanya kepada Rasulullah SAW apakah dirinya boleh menyedekahkan sebagian harta milik suaminya, Zubair bin Awwam. Rasulullah menjawab agar ia berinfak sesuai dengan kemampuannya dan tidak menahan harta karena Allah SWT akan memberikan balasan kepada orang-orang yang gemar bersedekah.

Asma memiliki prinsip hidup untuk tidak menimbun harta. Ia meyakini bahwa sedekah merupakan salah satu jalan untuk memperoleh keberkahan hidup dan membuka pintu rezeki. Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ketika sedang sakit, Asma membebaskan hamba sahaya sebagai bentuk amal saleh dan harapan akan rahmat Allah SWT.

Beliau juga sering menasihati anak-anak serta anggota keluarganya agar rajin bersedekah dan tidak menunggu kaya untuk berbuat baik kepada sesama. Menurutnya, orang yang ikhlas berinfak di jalan Allah tidak akan pernah merugi, karena setiap kebaikan akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.

Penutup

Kisah hidup Asma binti Abu Bakar merupakan teladan yang sangat berharga bagi umat Islam. Beliau tidak hanya dikenal karena keberaniannya membantu perjuangan hijrah Rasulullah SAW, tetapi juga karena keteguhan iman, kesabaran, kecerdasan, penghormatannya kepada kedua orang tua, kesederhanaan hidup, serta kedermawanannya.

Semoga kisah hidup Asma binti Abu Bakar menjadi inspirasi bagi setiap muslim untuk menjadi pribadi yang kuat, sabar, dermawan, serta senantiasa taat kepada Allah SWT Keteladanan beliau membuktikan bahwa keimanan yang kokoh akan melahirkan keberanian, kebijaksanaan, dan pengorbanan yang memberikan manfaat besar bagi agama dan umat manusia sepanjang zaman.

Referensi

Hisyam, Ibnu. 2004. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. Terj. Fadhli Bahri. Jakarta: Darul Falah.

Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman. 2015. Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Jakarta: Qisthi Press.

Ulla R., Desita. 2018. Wanita-Wanita Teladan di Zaman Rasulullah. Buku elektronik (e-book). Anak Hebat Indonesia. 

Devi Setya. Asma binti Abu Bakar, Wanita yang Mendapat Julukan Dzatun Nithaqain. Asma binti Abu Bakar, Wanita yang Mendapat Julukan Dzatun Nithaqain di akses pada tanggal 26 mei 2026.

Syarifah, Nadya. Asma binti Abu Bakar, Perempuan Dermawan dan Pemberani. https://islami.co/asma-binti-abu-bakar-perempuan-dermawan-dan-pemberani/  Di akses pada tanggal 26 Mei 2026.

Kontributor: Aini Rahmawati, Semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *