Shafiyyah binti Abdul Muthalib: Bibi Rasulullah yang Gagah Berani di Medan Perang

saiidusshiddiqiyah.ac.id — Di antara deretan perempuan mulia dalam sejarah Islam, nama Shafiyyah binti Abdul Muthalib berdiri tegak sebagai simbol keberanian, keteguhan iman, dan kecintaan yang tak tergoyahkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia bukan sekadar bibi Nabi Muhammad SAW, melainkan juga seorang mujahidah sejati dalam sejarah peradaban Islam.

Nasab dan Kelahiran

Shafiyyah memiliki nama lengkap Shafiyyah binti Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab al-Qurasyiyah al-Hasyimiyah. Ia adalah bibi Rasulullah SAW, saudara perempuan dari Singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Shafiyyah binti Abdul Muthalib lahir di Mekah pada tahun 53 sebelum Hijrah, kira-kira 10 tahun sebelum Tahun Gajah (‘Amul Fil). Ayahnya adalah Abdul Muthalib dan ibunya adalah Halah binti Wahib bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah, yang merupakan bibi Nabi dari jalur ibu. Ia juga merupakan ibu dari salah satu sahabat, yaitu Zubair bin Awwam.

Ia terlahir dari keluarga terpandang dan disegani. Ayahnya, Abdul Muthalib, adalah seorang pembesar Quraisy, dan ibunya juga berasal dari keluarga terpandang.

Keberanian di Perang Uhud

Pada saat Perang Uhud, Shafiyyah bergabung bersama para wanita kaum muslim untuk membantu merawat para mujahid yang terluka, mengambilkan air minum, dan memperbaiki sebagian alat perang. Kemenangan yang pada awalnya berada di pihak kaum muslimin berbalik menjadi kekalahan akibat tidak taatnya kaum muslimin terhadap perintah Rasulullah.

Melihat kekalahan di barisan kaum muslimin serta diserangnya Rasulullah oleh kaum musyrikin, akhirnya Shafiyyah pun ikut terjun ke medan perang dengan bersenjatakan tombak.

Shafiyyah tetap berdiri dengan berani. Di tangannya tergenggam tongkat yang ia pukulkan ke wajah orang-orang yang mundur dari peperangan seraya berkata, “Kalian hendak meninggalkan Rasulullah SAW?”

Ketika Zubair menemui ibunya dan menyampaikan pesan Rasulullah agar kembali, Shafiyyah menjawab, “Mengapa? Sungguh telah sampai kepadaku tentang dicincangnya saudaraku, namun dia syahid karena Allah. Kami sangat rida dengan apa yang telah terjadi. Sungguh, aku akan bersabar dan tabah, insyaallah.”

Setelah Zubair memberitahukan kepada Rasulullah tentang jawaban ibunya, beliau bersabda, “Berilah jalan baginya!” Maka, Shafiyyah mendatangi jasad Hamzah, lalu mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” kemudian memohonkan ampun baginya.

Kepahlawanan di Perang Khandaq

Pada saat Pertempuran Khandaq, para wanita, orang tua, dan anak-anak dititipkan di benteng Hassan bin Tsabit yang bangunannya terletak di tempat yang tinggi dan berpagar kuat. Pada saat kaum muslimin sibuk dalam Pertempuran Khandaq, kaum Yahudi dari Bani Quraizhah yang telah melanggar perjanjian dengan Muhammad mengutus seorang dari mereka untuk memata-matai para wanita.

Apabila tidak ada laki-laki yang melindungi mereka, mereka akan dijadikan tawanan. Apabila hal itu terjadi, maka akan menjadi pukulan hebat bagi kaum muslimin.

Shafiyyah berkata, “Seorang Yahudi mendekati kami dan mengitari benteng. Rasulullah dan kaum muslimin sedemikian terdesak oleh musuh sehingga tidak dapat mengontrol kami.

Aku berkata kepada Hassan, ‘Demi Tuhan, aku tidak aman dari lelaki Yahudi ini, turunlah dan bunuhlah dia.’ Hassan menjawab, ‘Demi Tuhan, kamu sendiri tahu bahwa ini bukan pekerjaanku.’ Karena Hassan menjawab seperti ini, akhirnya aku mengambil tombak dan membunuhnya sendiri.”

Shafiyyah memenggal kepala mata-mata Yahudi itu dan melemparkannya ke bawah bukit. Melihat kepala temannya menggelinding turun dari atas benteng, nyali orang-orang Yahudi menjadi ciut dan berkata, “Sekarang kami tahu bahwa orang ini tidak akan meninggalkan keluarganya tanpa ada yang menjaga mereka.”

Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa Shafiyyah adalah wanita pertama yang membunuh salah seorang musuh Nabi SAW.

Syair Shafiyyah binti Abdul Muthalib

Shafiyyah memiliki syair-syair tentang penggalian sumur Zamzam oleh keluarganya, duka atas wafatnya ayahnya, Abdul Muthalib, kepergian saudaranya, Hamzah, setelah Perang Uhud, serta duka atas wafatnya Nabi SAW.

Dalam syairnya tentang Rasulullah, Shafiyyah mengungkapkan:

“Wahai mata, tumpahkanlah air mata dan janganlah tidur….
Tangisilah sebaik-baik manusia yang telah tiada….
Tangisilah al-Musthafa dengan tangisan yang sangat….
Yang merasuk ke dalam hati laksana terkena pukulan….”

Warisan dan Kebaikan Shafiyyah

Nama Shafiyyah binti Abdul Muthalib telah abadi dalam sejarah Islam dan masih terus memberikan inspirasi serta motivasi yang luar biasa bagi perempuan masa kini untuk berjuang atas nama Islam. Shafiyyah binti Abdul Muthalib menjadi simbol keberanian perempuan dalam membela agama Islam.

Kedudukannya sebagai bibi Rasulullah SAW yang memeluk Islam, ibunda dari Zubair bin Awwam, serta gelar sebagai wanita pertama yang berhasil membunuh seorang musyrik menjadikan namanya harum dalam sejarah Islam.

Semoga Allah merahmati Shafiyyah binti Abdul Muthalib dan menempatkannya di antara orang-orang yang diridai-Nya. Kisah hidupnya menjadi cermin bagi generasi Muslim bahwa keberanian, iman, dan kecintaan kepada Allah tidak memandang perbedaan gender.

Referensi

Pramono, Teguh. 2015. 100 Muslim Paling Berpengaruh dan Terhebat Sepanjang Sejarah. Yogyakarta: DIVA Press. 

Ahmad, jamil. 1994. 100 Muslim Terkemuka. Jakarta : Pustaka Firdaus.

Al-Baqi, Muhammad Fu’ad Abdul. 2010. Al-Lu’lu’ wal Marjan: Ensiklopedi Hadis-Hadis Shahih yang Disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Jakarta: Pustaka As-Sunnah. 

Al-Istambuli, Mahmud Mahdi, dan Muhammad Abu Nashr asy-Syalabi. 2006. Sirah Shahabiyah: Kisah Para Sahabat Wanita. Diterjemahkan oleh Abu Muqbil al-Atsari. Tegal: Maktabah Salafy Press. 

Khalid, Khalid Muhammad. 2006. Karakteristik Kehidupan Enam Puluh Sahabat Rasulullah. Bandung: CV Diponegoro. 

Kontributor: M. Sopyan Sauri, Semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *