sa’iidusshiddiqiyah.ac.id—Pernahkah kita membayangkan seorang remaja berusia 13 tahun yang sudah dianggap sebagai salah satu pemikir paling tajam di seluruh jazirah Arab? Bukan karena ia anak orang kaya, bukan karena ia punya tampang tampan, dan bukan pula karena ia terkenal di kalangan artis melainkan karena kecerdasan, ketekunan, dan kedalaman ilmunya yang luar biasa. Itulah gambaran singkat dari sosok Abdullah bin Abbas, atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Abbas, seorang pemuda luar biasa yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW dan meninggalkan warisan ilmu yang masih dirasakan oleh umat Islam hingga hari ini.
Kisah hidupnya bukan sekadar cerita masa lalu yang membosankan. Sebaliknya, perjalanan hidup Ibnu Abbas penuh dengan pelajaran berharga yang sangat relevan bagi generasi muda di zaman modern ini. Ia membuktikan bahwa usia muda bukan halangan untuk meraih prestasi besar, dan bahwa ilmu yang sungguh-sungguh dipelajari akan memberikan manfaat yang tidak terbatas oleh waktu.
Siapa Ibnu Abbas?
Ibnu Abbas lahir sekitar tiga tahun sebelum peristiwa Hijrah, yakni perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Ayahnya bernama Abbas bin Abdul Muthalib, yang merupakan paman kandung Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, Ibnu Abbas adalah sepupu langsung dari Rasulullah. Ia tumbuh dan besar di lingkungan terbaik yang bisa dibayangkan dekat dengan cahaya kenabian, mendengar langsung sabda-sabda Rasulullah SAW, dan menyaksikan sendiri berbagai peristiwa penting dalam sejarah awal Islam.
Ketika Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 11 Hijriah, Ibnu Abbas baru berusia sekitar 13 tahun. Usia yang masih sangat muda. Namun justru di sinilah keistimewaan Ibnu Abbas mulai tampak ia tidak menyia-nyiakan masa mudanya. Sebaliknya, ia menjadikan masa muda sebagai pondasi untuk membangun dirinya menjadi seorang ulama besar yang kelak diakui oleh seluruh dunia Islam.
Doa Nabi untuk ibnu Abbas
Salah satu momen paling bersejarah dalam kehidupan Ibnu Abbas terjadi pada suatu malam ketika ia masih kecil. Saat itu, ibunya mengizinkan Ibnu Abbas untuk menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits, yang merupakan salah satu istri Nabi Muhammad SAW. Pada malam itu, Nabi Muhammad SAW bangun untuk melaksanakan Shalat malam, dan Ibnu Abbas pun ikut berdiri di samping beliau untuk ikut Shalat bersama.
Setelah selesai Shalat, Nabi Muhammad SAW menoleh kepada Ibnu Abbas yang masih kecil itu, lalu memanjatkan sebuah doa yang sangat pendek namun luar biasa dampaknya:
“Allahumma faqqihhu fid-diin wa ‘allimhut ta’wiil”
“Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama dan ajarkanlah ia tafsir (ta’wil).”
Doa singkat itu seolah menjadi titik awal dari sebuah perjalanan ilmiah yang luar biasa. Allah SWT mengabulkan doa Nabinya, dan Ibnu Abbas pun tumbuh menjadi sosok yang pemahamannya terhadap agama Islam sangat mendalam, jauh melampaui banyak orang yang lebih tua darinya.
Semangat Belajar yang kuat
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Ibnu Abbas tidak berpangku tangan. Ia menyadari bahwa ilmu yang ia miliki masih sangat sedikit, dan para sahabat Nabi yang tersebar di berbagai penjuru adalah sumber ilmu yang harus segera dijemput sebelum mereka wafat satu per satu.
Maka Ibnu Abbas pun memulai perjalanan ilmiahnya. Ia mendatangi satu per satu sahabat Nabi untuk bertanya, mendengar, dan mencatat segala sesuatu yang pernah mereka dengar dari Rasulullah SAW. Dikisahkan bahwa ia pernah berdiri menunggu di depan pintu rumah seorang sahabat dari pagi hingga siang hanya untuk menanyakan satu hadis. Ketika sahabat tersebut keluar dan melihat Ibnu Abbas berdiri di sana dengan pakaian yang sudah berdebu, ia merasa terharu dan berkata:
“Wahai sepupu Rasulullah, mengapa engkau tidak memberitahuku bahwa engkau di sini? Aku pasti akan keluar menemuimu.”
Ibnu Abbas menjawab dengan tenang:
“Sayalah yang harus mendatangimu. Ilmu itu harus dijemput, bukan ditunggu datang.”
Jawaban sederhana itu mengandung filosofi yang sangat dalam. Ibnu Abbas memahami bahwa ilmu tidak akan datang sendiri kepada orang yang bermalas-malasan. Ilmu harus dicari, diperjuangkan, dan dijemput dengan penuh kesungguhan. Prinsip inilah yang mengantarkannya menjadi salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam.
Pemuda yang Mengalahkan Para Seniornya
Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab r.a. mengadakan sebuah majelis diskusi dan mengundang para sahabat senior untuk membahas persoalan-persoalan penting. Di antara mereka, Umar juga mengundang Ibnu Abbas yang saat itu masih sangat muda. Sebagian sahabat senior merasa heran dan sedikit keberatan mengapa seorang pemuda diundang ke majelis para senior?
Namun Umar bin Khattab r.a. punya pandangan yang berbeda. Ia sudah melihat sendiri kecerdasan dan kedalaman ilmu Ibnu Abbas, dan ia ingin para sahabat yang lain juga menyaksikannya. Ketika diskusi berlangsung dan pertanyaan-pertanyaan sulit dilontarkan, Ibnu Abbas menjawab satu per satu dengan jawaban yang tepat, mendalam, dan memuaskan. Para sahabat senior yang semula meragukan pun terdiam kagum.
Umar bin Khattab r.a. kemudian berkata:
“Sebaik-baik pemuda adalah seperti ini.”
Peristiwa ini bukan hanya membuktikan kecerdasan Ibnu Abbas, tetapi juga mengajarkan kita bahwa kepercayaan diri yang didasarkan pada ilmu adalah sesuatu yang mulia. Ibnu Abbas tidak minder hanya karena ia lebih muda dari orang-orang di sekitarnya. Ia percaya pada apa yang ia ketahui, dan ia menyampaikannya dengan penuh keyakinan.
Pencapaian Ibnu Abbas
1. Bapak Tafsir Al-Qur’an
Ibnu Abbas dikenal dengan gelar mulia “Turjumanul Qur’an“, yang berarti Penerjemah atau Penjelas Al-Qur’an. Gelar ini bukan sekadar penghormatan kosong ini adalah pengakuan nyata atas kontribusinya yang luar biasa dalam bidang tafsir Al-Qur’an.
Sebelum ada penjelasan yang sistematis dan terperinci, banyak umat Islam yang kesulitan memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an. Ibnu Abbas hadir dengan penjelasan yang jernih, mendalam, dan mudah dipahami. Penafsirannya menjadi rujukan utama bagi para ulama tafsir selama berabad-abad. Kitab-kitab tafsir klasik yang terkenal seperti Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir, hingga tafsir-tafsir modern, semuanya merujuk kepada pendapat dan penjelasan Ibnu Abbas. Inilah salah satu cara nyata bagaimana ia mengubah cara umat Islam memahami kitab sucinya.
2. Perawi Hadis yang Produktif
Selain dalam bidang tafsir, Ibnu Abbas juga dikenal sebagai salah satu perawi hadis yang paling produktif. Ia meriwayatkan lebih dari 1.660 hadis sebuah angka yang sangat besar mengingat keterbatasan sarana pada zaman itu. Tidak ada alat perekam, tidak ada mesin fotokopi, tidak ada komputer. Semua hadis disimpan dalam ingatan dan kemudian ditulis dengan tangan.
Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas mencakup berbagai bidang kehidupan, mulai dari ibadah, muamalah, akhlak, hingga hukum-hukum Islam. Hadis-hadis tersebut menjadi salah satu pilar utama dalam pembangunan hukum Islam yang kita kenal hingga hari ini.
3. Penasihat Para Khalifah
Kecerdasan dan kedalaman ilmu Ibnu Abbas tidak hanya diakui di kalangan masyarakat biasa. Para khalifah pun menjadikannya sebagai penasihat kepercayaan. Ia menjadi penasihat bagi Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib r.a. tiga dari empat khalifah yang paling berpengaruh dalam sejarah Islam.
Pendapat Ibnu Abbas selalu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan-keputusan penting yang menyangkut urusan umat. Ini membuktikan bahwa ia bukan hanya seorang ulama yang duduk di menara gading, tetapi juga seorang pemikir yang terlibat aktif dalam kehidupan nyata masyarakat Muslim pada zamannya.
4. Gubernur Basrah
Selain sebagai ulama dan penasihat, Ibnu Abbas juga pernah mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin pemerintahan. Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. mengangkatnya sebagai Gubernur Basrah, sebuah kota besar dan strategis di wilayah Iraq. Jabatan ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu dalam hal kepemimpinan dan manajemen pemerintahan.
Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
Kisah hidup Ibnu Abbas mengandung banyak pelajaran berharga yang sangat relevan bagi generasi muda masa kini:
Pertama, jangan remehkan masa muda. Ibnu Abbas mulai membangun fondasi ilmunya sejak usia sangat dini. Ia tidak menunggu sampai dewasa untuk mulai belajar dengan serius. Masa muda adalah waktu yang paling produktif untuk belajar, dan Ibnu Abbas memanfaatkannya dengan maksimal.
Kedua, ilmu harus dijemput dengan usaha. Ibnu Abbas tidak menunggu ilmu datang kepadanya. Ia rela berjalan jauh, menunggu berjam-jam, dan merendahkan dirinya di hadapan para guru demi mendapatkan satu tambahan ilmu. Semangat inilah yang membedakan orang-orang luar biasa dari yang biasa-biasa saja.
Ketiga, percaya diri itu penting. Meski masih muda, Ibnu Abbas tidak gentar berdiskusi dengan para sahabat senior. Ia percaya pada ilmu yang ia miliki dan menyampaikannya dengan keyakinan penuh tanpa rasa minder.
Keempat, rendah hati adalah kunci. Meski sudah sangat terkenal dan dihormati, Ibnu Abbas tidak pernah berhenti belajar dan tidak pernah merasa dirinya paling pintar. Ia tetap terbuka menerima pendapat orang lain dan tidak segan mengakui ketika ia belum mengetahui sesuatu.
Kelima, ilmu yang bermanfaat akan abadi. Ibnu Abbas wafat lebih dari 1.400 tahun yang lalu, tetapi namanya masih disebut setiap hari di seluruh penjuru dunia Islam. Warisan ilmunya terus hidup dan memberikan manfaat bagi jutaan orang. Inilah bukti nyata bahwa ilmu yang ikhlas dan bermanfaat tidak akan pernah mati.
Referensi
kinnas, Muhammad Raji Hassan (2012). Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Jakarta: Pustaka Azzam. hlm. 45-48. ISBN 978-979
Sa’id Khan, Musthafa. , 2024, Ibnu Abbas: Ahli Takwil Al-Qur’an dan Pemuka Para Ahli Tafsir. Jakarta: Alvabet. (288 halaman)
Ezokanzo Tethy. 2016, 99 Kisah Menakjubkan Sahabat Nabi. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama,
Khalid Muhammad Khalid, 2017, Biografi 60 Sahabat Rasulullah SAW. Jakarta Timur. Penerbit Qisthi.
Arief Priambudi, 2020, Abdullah bin Abbas: Sahabat yang cerdas dan Berhati Mulia. Yogyakarta, Hikam Pustaka.
MISYKAT, Muhammad izdiyan muttaqin. 2019. Abdullah bin abbas dan perannya dalam penafsiran al qur’an.studi abbas dalam Nuskhah Ali bin Abi Thalhah, MISYKAT jurnal ilmu- ilmu Al-qur’an hadist Syari’ah dan Tarbiyah, Vol 04, Nomor 02, Desember 2019.
Muhammad Nur Faqih,S.Ag. Biografi Abdullah Radhiyallahu’anhuma/ Biografi Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma/ di akses pada 05 Mei 2026 pukul 17.10
Muammar. Abdullah bin Abbas, lautan Ilmu dan Tinta/ Abdullah bin Abbas, Lautan Ilmu dan Tinta – WAHDAH INSPIRASI ZAKAT/ di akses pada 05 Mei 2026 pukul 17.20
Nisa Azizatul, Aida Andryanto, Putri Adinda Yulia Handayani, Andini Dwi Andani, 2024. Tafsir Era Sahabat: Mengenal Tafsir Ibnu Abbas, Al Furqan Jurnal Ilmu Al quran dan Tafsir, Volume 7, Nomor 1, Juni 2024. (PDF) Tafsir Era Sahabat: Mengenal Tafsir Ibnu Abbas
Kontributor: Muhamad Rofik
