Ketika Syahadat Menjadi Mahar: Kisah Menggetarkan Ummu Sulaim dan Abu Talhah

saiidusshiddiqiyah.ac.id Ummu Sulaim adalah seorang perempuan dari kalangan Anshar yang berasal dari Bani Najjar, salah satu kabilah dari suku Khazraj di Madinah. Nama aslinya adalah Rumaysha’ (atau Sahlah) binti Milhan. Ia memiliki saudara laki-laki bernama Haram bin Milhan, seorang sahabat Nabi SAW yang termasuk di antara para qurra’ (ahli membaca dan menghafal Al-Qur’an). Ia menjadi salah seorang dari tujuh puluh sahabat yang syahid dalam peristiwa Bi’r Ma’unah. Saudara perempuannya adalah Ummu Haram binti Milhan, istri sahabat Nabi SAW, Ubadah bin Shamit. 

Ummu Sulaim menikah dengan Malik bin Nadhar an-Najjari pada zaman jahiliah. Beliau kemudian memeluk Islam di Madinah sebelum Rasulullah SAW hijrah, dan langsung berbaiat kepada Rasulullah SAW ketika tiba di Madinah. Dari hasil pernikahannya dengan Malik bin Nadhar ini, lahirlah Anas bin Malik, yang kelak menjadi pelayan Rasulullah SAW yang sangat terkenal.

Ummu Sulaim termasuk di antara perempuan Anshar yang lebih dahulu memeluk Islam. Keislamannya membuat suaminya, Malik bin an-Nadhr, marah. Menurut beberapa riwayat, Malik bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah meninggalkan agama nenek moyangmu?” Ummu Sulaim menjawab dengan tegas, “Aku tidak meninggalkan kebenaran. Aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Keteguhan Ummu Sulaim tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia juga mendidik putranya, Anas bin Malik, dengan ajaran Islam sejak kecil. Ketika Malik mendengar istrinya mengajarkan kalimat tauhid kepada Anas, ia semakin marah dan menuduh Ummu Sulaim telah memengaruhi anak mereka. Namun, dengan tenang Ummu Sulaim menjawab bahwa ia tidak sedang merusak anaknya, melainkan membimbingnya kepada kebenaran.

Beberapa hari kemudian, Malik pergi ke Syam. Di sana, ia dihadang oleh musuhnya hingga akhirnya tewas terbunuh. Sejak menjanda, Ummu Sulaim berikrar, “Aku tidak akan menyapih Anas dari menyusu hingga ia sendiri yang memintanya. Dan aku tidak akan menikah lagi sebelum Anas yang mengizinkanku.” Menanggapi keteguhan hati ibunya, Anas selalu berdoa kepada Allah agar berkenan membalas jasa dan kebaikan sang ibu.

Keteguhan iman, kemuliaan akhlak, dan kasih sayang Ummu Sulaim kepada putranya menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Madinah. Kabar tersebut sampai kepada Abu Talhah al-Anshari. Pada waktu itu, Abu Talhah masih memeluk agama kaumnya. Ia pun datang untuk melamar Ummu Sulaim. 

Akan tetapi, sebuah kejutan besar menantinya. Lidah Abu Talhah terasa kelu saat Ummu Sulaim menolak pinangan tersebut dengan penuh harga diri. Ummu Sulaim berkata, “Aku tidak layak menikah dengan seorang musyrik.”

Abu Talhah merasa tersinggung. Ia langsung berbalik badan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Akan tetapi, keesokan harinya Abu Talhah kembali lagi. Ia menawarkan mahar yang lebih tinggi dan menjanjikan kehidupan yang lebih sejahtera dengan harapan hati Ummu Sulaim akan luluh.

Ummu Sulaim menyambut kedatangannya dengan penuh kesantunan. Namun, ia berkata, “Wahai Abu Talhah, orang sepertimu sebenarnya tidak pantas ditolak. Akan tetapi, engkau masih seorang musyrik, sedangkan aku seorang muslimah. Tidak halal bagiku menikah denganmu.”

Mendengar penolakan itu, Abu Talhah terdiam. Ummu Sulaim kemudian melanjutkan perkataannya, “Jika engkau masuk Islam, maka keislamanmu itulah yang akan menjadi maharku. Aku tidak meminta mahar selain itu.”

“Bagaimana dengan harta yang telah aku persiapkan untukmu?” tanya Abu Talhah.

“Memangnya apa yang telah engkau persiapkan?” tanya Ummu Sulaim kembali.

“Harta berupa emas dan perak,” jawab Abu Talhah.

“Aku tidak menginginkan emas dan perak. Yang aku inginkan hanyalah keislamanmu. Masuk Islamlah!” pinta Ummu Sulaim dengan tegas.

Abu Talhah masih ragu. Melihat keraguannya, Ummu Sulaim mengajaknya berpikir tentang berhala yang selama ini ia sembah. Ia berkata, “Wahai Abu Talhah, tidakkah engkau mengetahui bahwa berhala yang engkau sembah dibuat dari kayu yang tumbuh dari bumi? Sebagian kayu itu bahkan dijadikan bahan bakar oleh manusia. Bagaimana mungkin sesuatu yang dibuat oleh tangan manusia dijadikan sesembahan?”

Nasihat yang disampaikan dengan kelembutan dan keyakinan itu menggugah hati Abu Talhah. Ia pun memutuskan untuk memeluk Islam. 

“Kalau begitu, siapa yang dapat membimbingku masuk Islam?” tanya Abu Talhah.

Ummu Sulaim menjawab, “Akulah yang akan melakukannya untukmu.”

Abu Talhah bertanya lagi, “Bagaimana caranya?”

Ummu Sulaim menjawab, “Ucapkanlah kalimat syahadat, bersaksilah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Akhirnya, Abu Talhah luluh dan menyatakan keislamannya. Kaum muslimin saat itu pun berkata, “Kami tidak pernah mendengar mahar yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa setelah mendengar penjelasan Ummu Sulaim, Abu Talhah masuk Islam di hadapan Nabi Muhammad SAW dan menceritakan apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim. Kemudian, Nabi Muhammad SAW menikahkan mereka dengan maskawin masuk Islam.

Setelah menikah, Ummu Sulaim dan Abu Talhah menjalani kehidupan rumah tangga yang dipenuhi keimanan dan kasih sayang. Dari pernikahan itu, Allah menganugerahkan seorang anak laki-laki. Rasulullah SAW kerap berkunjung ke rumah mereka dan menunjukkan perhatian kepada keluarga tersebut.

Namun, Allah kemudian menakdirkan sebuah ujian yang berat. Anak mereka jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia ketika Abu Talhah sedang berada di luar rumah. Dengan hati yang tabah, Ummu Sulaim memandikan, mengafani, dan menyelimuti jenazah putranya. Ia meminta anggota keluarganya agar tidak memberitahukan kabar itu kepada Abu Talhah sebelum ia sendiri yang menyampaikannya.

Ketika Abu Talhah pulang, ia bertanya tentang keadaan anak mereka. Ummu Sulaim menjawab dengan tenang bahwa anak itu telah memperoleh ketenangan. Abu Talhah memahami bahwa keadaan putranya mulai membaik. Saat waktu berbuka tiba, Ummu Sulaim menyiapkan makanan untuk suaminya. Setelah itu, ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan penuh kasih sayang.

Keesokan harinya, Ummu Sulaim berkata kepada Abu Talhah, “Bagaimana pendapatmu jika seseorang meminjamkan suatu barang kepada orang lain, kemudian pemiliknya meminta kembali barang itu? Apakah orang yang meminjam boleh menolaknya?”

Abu Talhah menjawab, “Tentu tidak. Barang pinjaman harus dikembalikan kepada pemiliknya.”

Dengan lembut Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya Allah telah meminjamkan seorang anak kepada kita, kemudian Dia mengambil kembali titipan-Nya. Bersabarlah dan harapkanlah pahala dari-Nya.”

Mendengar penjelasan itu, Abu Talhah sangat terpukul. Ia kemudian mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang telah terjadi. Rasulullah SAW mendoakan keberkahan bagi pasangan tersebut. Allah mengabulkan doa Nabi SAW. Dari pernikahan mereka lahirlah Abdullah bin Abu Talhah, seorang putra yang saleh. Dari keturunannya lahir banyak ulama dan penghafal Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat para ulama.

Kehidupan Ummu Sulaim menjadi teladan bagi setiap muslimah. Keteguhannya dalam mempertahankan keimanan, keberaniannya menjadikan Islam sebagai mahar pernikahan, kesabarannya menghadapi musibah, serta kebijaksanaannya dalam mendidik keluarga menunjukkan bahwa keimanan kepada Allah jauh lebih berharga daripada seluruh kenikmatan dunia. Kisahnya mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada harta atau kedudukan, melainkan pada keteguhan hati dalam menaati Allah dan Rasul-Nya.

Referensi

El-Syafa, Ahmad Zacky. 2013. Ia hidup kembali setelah mati 100 tahun. Yogyakarta: Media Pressindo.

Al-Ba’sya, Abdurrahmat Rafa’at. 2016. Sirah 65 sahabat Rasulullah. Terj. Bobby Herwibowo. Jakarta: Zikrul Hakim Bestari.

Muchlisin, A. B. 2009. Ia masuk surga padahal tak pernah salat. Yogyakarta: Mutiara Media.

Tim Radaksi Asy-Syariah. 2015. Majalah Asy-Syari’ah Edisi 107. Yogyakarta: Oase Media.

Tosca, Biru. 2021. 356 hari bersama sahabat Nabi Muhammad SAW. Cirebon: Penerbit LovRinz.

Kontributor: Ismi Meliyani Noer Sa’adah, semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *