saiidusshiddiqiyah.ac.id — Resensi Buku Sejarah Dunia Versi Islam yang Dihilangkan Karya Tamim Ansary.
Identitas Buku
Judul Buku: Sejarah Dunia Versi Islam yang Dihilangkan
Penulis: Tamim Ansary
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: Renebook
Jumlah Hal.: 480 halaman
Sejarah dunia, sebagaimana yang selama ini banyak diajarkan di lembaga pendidikan formal, pada umumnya masih didominasi oleh narasi Barat yang menempatkan Eropa sebagai pusat peradaban. Akibatnya, kontribusi peradaban Islam dalam membentuk tatanan dunia modern sering kali terpinggirkan atau bahkan tidak mendapat tempat yang semestinya. Buku Sejarah Dunia Versi Islam yang Dihilangkan karya Tamim Ansary hadir sebagai upaya untuk meluruskan pandangan tersebut. Melalui buku ini, Ansary mengajak pembaca untuk melihat sejarah dunia dari sudut pandang peradaban Islam, sebuah perspektif yang kerap absen dalam literatur sejarah arus utama.
Tamim Ansary adalah seorang sejarawan dan penulis asal Afghanistan yang telah lama bermukim di Amerika Serikat. Pengalaman hidupnya yang berada di persimpangan antara dunia Islam dan dunia Barat menjadikannya sosok yang tepat untuk menjembatani dua perspektif besar ini. Buku setebal 480 halaman ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Yuliani Liputo, sehingga dapat diakses oleh pembaca Indonesia secara lebih luas.
Isi Buku
Ansary membagi narasi sejarahnya ke dalam beberapa babak besar yang mengikuti alur perjalanan peradaban Islam dari masa ke masa. Buku ini dimulai dengan menggambarkan kondisi Jazirah Arab sebelum Islam hadir, yakni sebuah kawasan yang secara geografis terisolasi, dipenuhi oleh konflik antarsuku, dan belum memiliki tatanan sosial-politik yang stabil. Di tengah kondisi inilah Nabi Muhammad SAW lahir dan membawa misi kenabian yang kelak mengubah wajah dunia secara fundamental.
Setelah membahas masa awal Islam, Ansary menelusuri perkembangan politik Islam pada masa Khulafaur Rasyidin, kemudian dilanjutkan dengan kebangkitan Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Pada masa inilah peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya. Baghdad berkembang menjadi kota metropolis intelektual, Baitul Hikmah menjadi pusat pengetahuan dunia, dan para ilmuwan Muslim menjadi pelopor dalam berbagai disiplin ilmu seperti matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat.
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada kemampuan Ansary dalam menjelaskan bagaimana dunia Islam berinteraksi dengan peradaban-peradaban lain, termasuk Persia, India, dan Yunani. Proses inkulturasi dan adaptasi ilmu pengetahuan ini menunjukkan bahwa peradaban Islam tidak berkembang dalam ruang hampa, melainkan melalui dialog aktif dengan tradisi-tradisi intelektual yang sudah ada sebelumnya.
Bagian tengah buku ini juga membahas era Perang Salib dan invasi Mongol yang menjadi salah satu titik kritis dalam sejarah Islam. Ansary dengan cermat menjelaskan dampak kedua peristiwa besar ini terhadap stabilitas dunia Islam, termasuk hancurnya Baghdad pada tahun 1258 M yang menandai runtuhnya kekhalifahan Abbasiyah. Namun demikian, Ansary menegaskan bahwa kejatuhan ini tidak berarti matinya peradaban Islam, karena berbagai pusat kekuasaan Islam baru bermunculan, termasuk Kekaisaran Ottoman, Safawiyah, dan Mughal.
Pada bagian akhir buku, Ansary membahas pertemuan dunia Islam dengan modernitas Barat, mulai dari era kolonialisme hingga pergolakan politik abad ke-20. Ia menjelaskan bagaimana negara-negara Muslim berjuang merespons hegemoni Barat sambil tetap berusaha mempertahankan identitas keislaman mereka. Buku ini ditutup dengan refleksi kritis tentang posisi dunia Islam di era kontemporer dan tantangan yang dihadapinya.
Baca Juga: Bagaimana Sosiolog Jepang Membaca Islam di Indonesia?
Kelebihan Buku
Buku ini memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya layak menjadi referensi utama dalam studi sejarah peradaban Islam.
Pertama, gaya penulisan Ansary sangat komunikatif dan mengalir, sehingga mampu menyajikan materi sejarah yang kompleks dengan cara yang mudah dicerna oleh pembaca awam sekalipun. Ansary berhasil menghindari jebakan penulisan akademik yang kaku tanpa mengorbankan kedalaman analisis.
Kedua, perspektif yang ditawarkan buku ini sangat segar dan berbeda dari buku-buku sejarah umum. Dengan menempatkan peradaban Islam sebagai subjek, bukan sekadar objek, dalam narasi sejarah dunia, Ansary berhasil mengisi kekosongan yang selama ini ada dalam literatur sejarah berbahasa Indonesia.
Ketiga, buku ini kaya akan konteks budaya dan sosial. Ansary tidak hanya memaparkan urutan peristiwa politik, tetapi juga menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim, dinamika pemikiran intelektual, serta perkembangan seni dan arsitektur Islam. Hal ini membuat pembaca mendapatkan gambaran yang lebih utuh dan menyeluruh tentang peradaban Islam.
Kekurangan Buku
Di samping berbagai kelebihannya, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu dicatat. Karena cakupan waktunya yang sangat panjang, mencakup lebih dari seribu empat ratus tahun sejarah, beberapa peristiwa penting hanya dibahas secara ringkas. Pembaca yang menginginkan pembahasan mendalam tentang periode tertentu, seperti sejarah Islam di Asia Tenggara atau perkembangan ilmu fikih, mungkin akan merasa kurang terpuaskan.
Selain itu, meskipun buku ini berupaya bersikap objektif, sudut pandang Ansary sebagai seorang Muslim diaspora di Barat terkadang terasa kuat dalam narasi yang disajikannya. Beberapa pembaca mungkin perlu membaca buku ini berdampingan dengan literatur lain agar mendapatkan perspektif yang lebih berimbang.
Secara keseluruhan, Sejarah Dunia Versi Islam yang Dihilangkan adalah sebuah karya yang penting dan menginspirasi. Buku ini tidak hanya memperkaya wawasan tentang sejarah Islam, tetapi juga mengajak pembaca untuk mempertanyakan narasi sejarah yang selama ini diterima begitu saja. Ansary berhasil menunjukkan bahwa sejarah selalu ditulis dari suatu sudut pandang, dan peradaban Islam memiliki cerita yang layak untuk didengar oleh dunia.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, akademisi, maupun pembaca umum yang ingin memahami dunia dari perspektif yang lebih luas dan berkeadilan. Membaca buku ini adalah langkah awal yang baik untuk mengembalikan kesadaran kita akan besarnya kontribusi peradaban Islam bagi kemajuan umat manusia.
Peresensi: Aziza Sholahudin, semester IV
