saiidusshiddiqiyah.ac.id—Di era digital hari ini, media sosial telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Banyak orang memulai hari dengan membuka TikTok, Instagram, atau YouTube, lalu mengakhirinya dengan aktivitas yang sama. Tanpa mereka sadari, waktu berjam-jam dapat habis hanya untuk scrolling menonton konten yang terus muncul di layar ponsel.
Fenomena ini sebenarnya tidak terjadi begitu saja. Di balik berbagai video dan postingan yang muncul, terdapat sistem algoritma yang bekerja secara canggih untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Algoritma mempelajari apa yang disukai orang-orang, video apa yang sering ditonton, konten apa yang membuat mereka berhenti scrolling, bahkan hal-hal yang dapat memancing emosi dan rasa penasaran mereka. Setelah itu, media sosial akan terus menyajikan konten serupa secara berulang.
Akibatnya, manusia modern hidup di tengah banjir visual yang hampir tidak pernah berhenti. Konten hiburan, sensasi, gaya hidup, hingga tayangan yang memancing syahwat dapat muncul kapan saja hanya melalui satu sentuhan jari. Jika dahulu seseorang harus keluar rumah untuk melihat sesuatu yang memuaskan syahwat dan nafsu, kini semuanya dapat datang sendiri melalui layar ponsel yang selalu berada di genggaman.
Dalam konteks ini, media sosial sebenarnya tidak benar-benar netral. Platform digital dirancang berdasarkan prinsip attention economy, yaitu bagaimana perhatian manusia dapat diubah menjadi keuntungan ekonomi. Semakin lama seseorang menggunakan aplikasi, semakin besar pula keuntungan yang diperoleh platform melalui iklan dan interaksi pengguna. Karena itu, berbagai media sosial berlomba-lomba menciptakan sistem yang mampu membuat manusia sulit berhenti scrolling.
Fenomena tersebut membuat banyak orang perlahan kehilangan kontrol terhadap penggunaan media sosialnya sendiri. Seseorang mungkin awalnya hanya berniat membuka aplikasi selama lima menit, tetapi tanpa sadar waktu berjam-jam telah berlalu. Hal ini terjadi karena otak manusia terus-menerus menerima rangsangan visual dan emosional yang memicu rasa penasaran serta dopamine secara berulang.
Ajaran Ghadhul Bashor dalam Islam
Di sinilah ajaran Islam tentang Ghadhul Bashor atau menjaga pandangan menjadi sangat relevan untuk dibahas kembali. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan laki-laki dan perempuan beriman untuk menjaga pandangan serta menjaga kehormatan diri mereka, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nur ayat 30–31.
قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِم
Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya…..” (QS. An-Nur ayat 30-31)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam meletakkan mata bukan sekadar alat melihat, tetapi juga pintu masuk yang sangat mempengaruhi kondisi hati dan pikiran manusia. Bahkan menurut para ulama ahli tafsir bahwa mata yang merupakan indera penglihatan yang dianugerahkan oleh Allah swt diibaratkan sebagai pintu masuk segala macam informasi visual. Pada akhirnya segala informasi visual tersebut bermuara di hati manusia. Dan pada hati ini diproses menjadi pujian atau hinaan. Jika enak dipandang, maka biasanya akan memuji dan pada akhirnya membangkitkan syahwat. Namun jika tidak enak dipandang, maka biasanya cenderung menghinanya. Inilah bentuk nyata fitnah yang sering dikhawatirkan.
Seringkali konsep Ghadhul Bashor dipahami secara sempit hanya sebagai larangan melihat lawan jenis dengan syahwat. Padahal, makna menjaga pandangan dalam Islam jauh lebih luas dari itu. Ghadhul Bashormerupakan bentuk pengendalian diri terhadap segala hal yang dapat merusak hati, mengganggu pikiran, dan melalaikan manusia dari kebaikan. Apa yang sering dilihat akan mempengaruhi apa yang dipikirkan, kemudian mempengaruhi kebiasaan dan perilaku seseorang.
Praktik Ghadhul Bashor di Era Modern
Dalam kehidupan modern, konsep ini menjadi semakin penting. Media sosial membuat manusia terus-menerus menerima rangsangan visual tanpa jeda. Konten hiburan berlebihan, gaya hidup mewah, sensualitas, hingga berbagai tayangan yang memancing emosi dapat muncul kapan saja. Akibatnya, banyak orang merasa sulit fokus, mudah lalai, bahkan merasa gelisah ketika jauh dari ponsel mereka.
Jika diperhatikan lebih jauh, hubungan antara media sosial dan manusia sebenarnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga pertarungan antara algoritma dan pengendalian diri. Di satu sisi, algoritma terus bekerja untuk menarik perhatian manusia. Namun di sisi lain, manusia dituntut untuk tetap mampu menjaga hati dan pikiran mereka sendiri.
Algoritma bekerja berdasarkan kecenderungan manusia. Konten yang paling banyak mendapatkan perhatian biasanya adalah konten yang mampu membangkitkan emosi secara cepat, seperti sensasi, konflik, hiburan berlebihan, hingga hal-hal yang berkaitan dengan syahwat. Semakin sering seseorang menikmati suatu jenis konten, semakin kuat pula algoritma menyimpulkan bahwa konten tersebut menarik baginya. Akibatnya, pengguna seperti masuk ke dalam lingkaran yang terus berulang.
Di sinilah Islam menghadirkan konsep pengendalian nafsu sebagai penyeimbang. Islam memahami bahwa manusia memiliki keinginan dan kecenderungan terhadap hal-hal yang menyenangkan. Namun Islam juga mengajarkan bahwa manusia tidak boleh diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri. Sebab ketika manusia kehilangan kemampuan mengendalikan diri, maka mereka akan mudah dikendalikan oleh apa pun yang paling menarik perhatian mereka.
Konsep Ghadhul Bashor bukan berarti Islam menolak teknologi atau media sosial. Teknologi tetap dapat menjadi sarana dakwah, pembelajaran, komunikasi, dan penyebaran kebaikan apabila digunakan secara bijak. Namun Islam mengingatkan bahwa manusia harus tetap menjadi pengendali teknologi, bukan justru dikendalikan oleh algoritma.
Karena itu, menjaga pandangan di era digital juga berarti menjaga apa yang dikonsumsi setiap hari melalui media sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan membatasi waktu scrolling, mengurangi konsumsi konten yang tidak bermanfaat, memblokir akun yang sering menampilkan hal-hal negatif, serta memperbanyak nonton konten yang mendidik dan menenangkan.
Pada akhirnya, tantangan terbesar manusia modern bukan sekadar bagaimana mengikuti perkembangan teknologi, tetapi bagaimana tetap menjaga hati di tengah derasnya arus digital. Di era ketika perhatian manusia terus diperebutkan oleh algoritma, kemampuan untuk menjaga pandangan dan mengendalikan diri menjadi bentuk kekuatan spiritual yang semakin berharga.
Ghadhul Bashor bukan hanya ajaran tentang menjaga mata, tetapi juga tentang menjaga arah hidup manusia. Ketika seseorang mampu mengendalikan apa yang ia lihat, maka ia sedang menjaga pikirannya, hatinya, waktunya, bahkan masa depannya sendiri dari pengaruh dunia digital yang tidak pernah berhenti memburu perhatian manusia.
Referensi
Al-Qurthubi. 2006. al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an. Beirut: Muassasah al-Risalah.
Al-Razi, Fakhruddin. 1981. Mafatihul Ghaib. Beirut: Daar al-Fikr.
Al-Thabari, Ibnu Jarir. 2011. Jami’ul Bayan ‘An Ta’wil Ayil Qur’an. Turki: Dar Hijr Publishing.
As-Suyuthi, Jalaluddin. 2011. Tafsir Ad-Durrul Mantsur fit Tafsir Al-Ma’tsur. Beirut: Daar al-Fikr.
Kurniawan, Juli Armadhan & Rapiun. 2023. Penyuluh Agama Islam Melek Digital. Surabaya: CV. Pustaka MediaGuru
Rif’an, Ali & Etnis Somantri. 2025. Algoritma Opini Publik: Perspektif dan Transformasi Digital. Yogyakarta: IRCiSoD
Rozi, Fakhrur. 2024. Tabayyun Digital, Dialektika Algoritma dan Penggunaan Media Sosial Konten Islami. Sumatera Utara: UMSU Press.
Kontributor: M. Wildan Saputra
