saiidusshiddiqiyah.ac.id — Resensi Buku Sejarah Ringkas Perang Jawa: Kisah Kepahlawanan Pangeran Diponegoro karya Adora Kinara.
Identitas Buku
Judul Buku: Sejarah Ringkas Perang Jawa: Kisah Kepahlawanan Pangeran Diponegoro
Penulis: Adora Kinara
Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta
Tahun Terbit: 2025
Jumlah Halaman: 104 halaman
Perang Jawa atau yang lebih dikenal sebagai Perang Diponegoro merupakan salah satu peristiwa besar dalam sejarah Indonesia. Perang yang berlangsung pada tahun 1825 – 1830 ini menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap campur tangan dan penindasan pemerintah kolonial Belanda di tanah Jawa. Dalam perang tersebut, Pangeran Diponegoro tampil sebagai tokoh utama yang memimpin perjuangan dengan keberanian, keteguhan, dan pengaruh besar di tengah masyarakat.
Melalui buku Sejarah Ringkas Perang Jawa, Adora Kinara berusaha menghadirkan gambaran singkat mengenai latar belakang, jalannya perang, hingga dampak yang ditimbulkan oleh Perang Jawa. Buku ini tidak hanya membahas konflik bersenjata antara pasukan Diponegoro dan tentara kolonial Belanda, tetapi juga mengulas strategi perjuangan, kondisi sosial masyarakat Jawa, serta berbagai upaya kolonial dalam melemahkan kekuatan lokal.
Untuk memudahkan pembaca memahami isi buku, Adora Kinara membagi pembahasannya ke dalam beberapa bagian, mulai dari latar belakang Perang Jawa, biografi Pangeran Diponegoro, kronologi peperangan, dampak perang, hingga keteladanan sosok Diponegoro sebagai pemimpin perjuangan. Penyusunan yang sistematis tersebut membuat buku ini mudah diikuti oleh pembaca, terutama bagi mereka yang ingin mengenal sejarah Perang Jawa secara ringkas.
Latar Belakang Meletusnya Perang Jawa
Pada bagian awal buku, pembaca diajak memahami berbagai faktor yang melatarbelakangi terjadinya Perang Jawa. Salah satu penyebab utamanya adalah campur tangan pemerintah kolonial Belanda dalam urusan keraton di Jawa. Bagi masyarakat Jawa, keraton bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga simbol kehormatan dan identitas budaya.
Dalam buku ini dijelaskan bahwa Belanda berupaya melemahkan kekuatan keraton melalui berbagai kebijakan politik yang memecah belah kekuasaan lokal. Peristiwa seperti Perjanjian Giyanti dan Perjanjian Salatiga menjadi contoh bagaimana kolonialisme perlahan mengurangi kekuatan politik kerajaan-kerajaan di Jawa.
Selain itu, tindakan Belanda yang dianggap merendahkan tradisi dan nilai-nilai masyarakat Jawa semakin memicu kebencian rakyat. Budaya Barat yang dibawa oleh pemerintah kolonial dinilai bertentangan dengan tradisi masyarakat setempat. Ketegangan tersebut mencapai puncaknya ketika Belanda membangun jalan yang melewati tanah leluhur Pangeran Diponegoro. Tindakan itu dianggap sebagai penghinaan terhadap kehormatan keluarga dan tradisi Jawa sehingga memicu pecahnya perang besar.
Sosok Pangeran Diponegoro
Buku ini juga menjelaskan latar belakang kehidupan Pangeran Diponegoro sebagai putra Sultan Hamengkubuwono III. Meskipun berasal dari lingkungan bangsawan, Diponegoro lebih memilih hidup dekat dengan rakyat di daerah Tegalrejo. Kedekatannya dengan masyarakat membuat dirinya memperoleh dukungan luas dari berbagai kalangan selama perang berlangsung.
Melalui penjelasan tersebut, pembaca dapat memahami bahwa kekuatan utama Pangeran Diponegoro bukan hanya terletak pada kemampuan militernya, tetapi juga pada kemampuannya membangun kepercayaan dan persatuan rakyat. Hal inilah yang membuat perjuangannya mampu bertahan cukup lama dalam menghadapi kekuasaan kolonial Belanda.
Jalannya Perang dan Strategi Perlawanan
Bagian utama buku ini membahas tahapan dan jalannya Perang Jawa. Penulis menjelaskan bahwa perang bermula dari memanasnya hubungan antara Pangeran Diponegoro dan pemerintah kolonial Belanda akibat berbagai bentuk campur tangan politik serta penghinaan terhadap adat Jawa.
Konflik semakin besar ketika Residen Belanda, Anthony Hendrik Smissaert, melakukan pembangunan jalan dari Yogyakarta menuju Magelang yang melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro. Peristiwa tersebut dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap martabat keluarga dan budaya Jawa.
Perang antara pasukan Diponegoro dan pemerintah kolonial Belanda pun tidak dapat dihindari. Dalam menghadapi Belanda, Diponegoro menerapkan strategi perang gerilya dengan memanfaatkan kondisi geografis Jawa yang berbukit dan berhutan. Strategi tersebut terbukti cukup efektif dalam melemahkan pasukan Belanda yang terbiasa menggunakan pola perang ala Eropa.
Dominasi pasukan Diponegoro membuat Belanda mengalami banyak kesulitan. Hingga akhirnya, pemerintah kolonial mengadakan perundingan dengan tujuan menangkap Diponegoro. Dalam perundingan yang dipimpin oleh Hendrik Merkus de Kock tersebut, Diponegoro akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Manado sebelum dipindahkan ke Makassar hingga akhir hayatnya. Ia wafat pada 8 Januari 1855 setelah menjalani masa pengasingan selama bertahun-tahun.
Dampak Perang Jawa
Pada bagian berikutnya, buku ini menjelaskan berbagai dampak yang ditimbulkan oleh Perang Jawa, baik dalam bidang sosial, politik, maupun ekonomi. Perang yang berlangsung selama lima tahun tersebut menyebabkan banyak masyarakat kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke daerah yang lebih aman.
Selain menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, perang juga mengakibatkan kerusakan pada lahan pertanian yang menjadi sumber utama kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan kesulitan ekonomi dan kekurangan pangan di berbagai wilayah Jawa.
Melalui penjelasan ini, pembaca dapat memahami bahwa perang tidak hanya meninggalkan kisah kepahlawanan, tetapi juga penderitaan panjang bagi masyarakat pada masa itu.
Keteladanan Sosok Diponegoro
Pada bagian akhir, penulis menjelaskan nilai-nilai keteladanan yang dapat dipetik dari sosok Pangeran Diponegoro. Sebagai pemimpin perjuangan, Diponegoro dikenal sebagai pribadi yang berani, teguh pendirian, mencintai keadilan, serta memiliki semangat religius yang kuat.
Sifat-sifat tersebut menjadi alasan mengapa dirinya memperoleh dukungan besar dari masyarakat Jawa. Keteladanan Diponegoro juga menjadi pelajaran penting bagi generasi masa kini tentang arti perjuangan, kepemimpinan, dan pengorbanan demi mempertahankan kehormatan bangsa.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Salah satu kelebihan utama buku ini terletak pada gaya penyampaiannya yang runtut dan mudah dipahami. Penulis berhasil mengemas peristiwa sejarah yang cukup kompleks menjadi bacaan yang ringan tanpa menghilangkan inti pembahasannya. Hal tersebut membuat buku ini cocok dibaca oleh pelajar maupun pembaca umum yang ingin mengenal sejarah Perang Jawa secara singkat.
Selain itu, pembahasan mengenai strategi perang gerilya dan kondisi sosial masyarakat Jawa juga disampaikan dengan cukup menarik sehingga pembaca tidak mudah merasa bosan ketika membaca buku ini.
Meskipun demikian, buku ini masih memiliki beberapa kekurangan. Pada beberapa bagian, pembahasan terasa terlalu singkat sehingga sejumlah peristiwa penting belum dijelaskan secara mendalam. Selain itu, masih ditemukan beberapa kesalahan penulisan dan penggunaan istilah yang mungkin cukup sulit dipahami oleh pembaca umum tanpa penjelasan tambahan.
Namun, secara keseluruhan buku ini tetap layak dijadikan bacaan pengantar untuk memahami sejarah Perang Jawa dan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kolonialisme Belanda.
Peresensi: Muhammad Farik Al-Farisi, semester IV
