saidusshiddiqiyah.ac.id—Perang Badar merupakan salah satu peristiwa monumental dalam sejarah Islam pada masa Rasulullah SAW yang berlangsung pada bulan Ramadan. Pertempuran ini menjadi saksi nyata akan turunnya pertolongan Allah SWT kepada kaum Muslimin. Saat itu, Rasulullah SAW memimpin langsung pasukan berjumlah sekitar 313 orang, dan dengan kekuatan yang jauh lebih kecil mereka berhasil mengalahkan pasukan Quraisy yang mencapai kurang lebih 1.000 prajurit.
Perang Badar bukanlah pertempuran yang dipicu oleh kaum Muslimin, melainkan sebuah langkah mempertahankan diri demi menjaga keberlangsungan umat Islam yang saat itu terancam untuk dimusnahkan oleh kaum kafir Quraisy. Allah SWT pun menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
“Telah diizinkan berperang bagi orang-orang Mukmin yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu”. (QS. Al-Hajj: 39).
Peristiwa besar ini mungkin tampak mustahil dari sudut pandang manusia, namun yakinlah bahwa pertolongan Allah SWT selalu nyata bagi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Mari kita telusuri perjalanan penuh ketegangan dan keyakinan ini, kisah langkah umat Islam menuju Perang Badar.
Penyebab Perang Badar
Ketika kafilah Abu Sufyan tengah kembali berdagang dari Syam, Rasulullah SAW mendengar kabar kepulangan rombongan tersebut. Beliau dan para sahabat merencanakan untuk menghadang kafilah tersebut sebagai bentuk tekanan balasan atas perampasan harta kaum Muslimin selama di Mekah. Beliau mengutus Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’id bin Zaid untuk melakukan penyelidikan terhadap kafilah tersebut dan melaporkannya kepada Rasulullah SAW.
Akan tetapi Abu Sufyan yang telah mendengar bahwa kaum Muslimin hendak menghadangnya, ia pun waspada. Dia mengirim Dhamdham bin Amr Al-Ghifari untuk memberitahukan permasalahan ini kepada penduduk Mekah. Mendapat laporan tersebut, Abu Jahal mengerahkan lebih dari 1000 pasukan untuk bergerak menuju tempat Abu Sufyan untuk mempertahankan dan menyelamatkan barang dagangan mereka.
Mendengar laporan dari kedua mata-mata tersebut, Rasulullah SAW mempersiapkan keberangkatan pasukan yang berjumlah 313 orang. Ketika hendak berangkat, Rasulullah SAW memakai baju besinya dan membawa pedangnya yang tajam. Beliau menolak orang-orang yang dianggap masih kecil di antaranya Usamah bin Zaid.
Sesampainya Rasulullah SAW di Dzafiran, beliau telah mendengar bahwa bala tentara Quraisy telah berangkat dari Mekah. Beliau memberikan pilihan kepada para sahabatnya untuk memilih antara mencegat kafilah Abu Sufyan atau memerangi kaum Quraisy. Sebagian para sahabat memilih untuk menghadang kafilah Abu Sufyan dan sebagian lagi memilih untuk berunding terlebih dahulu.
Kemudian Rasulullah SAW mengadakan perundingan di antara para pembesar kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Mereka adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Miqdad bin Amr dari kalangan Muhajirin, sedangkan dari kalangan Anshar adalah Sa’ad bin Mu’adz. Dari hasil perundingan tersebut, mereka sepakat untuk mengikuti kehendak Rasulullah SAW.
Setelah itu, Rasulullah SAW memberangkatkan pasukannya ke wilayah Badar. Ketika pasukan Muslim sampai di wilayah dekat Badar, Rasulullah SAW mengirimkan mata-mata. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Lalu mereka bertemu dengan dua pesuruh pasukan Mekah yang sedang mengambil air dan membawanya kepada Rasulullah SAW.
Dua pesuruh Quraisy diinterogasi oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, mereka ditanyai perihal posisi pasukan Quraisy dan dua pesuruh tadi mengatakan bahwasanya pasukan Quraisy berada di balik bukit pasir yang dapat dilihat dari arah Udwatul Qushwa.
Rasulullah SAW pun memberangkatkan lagi pasukannya ke tempat sumur Badar dengan posisi yang lebih dekat daripada musuhnya atas saran Al-Hubab bin Mundzir. Beliau menganggap pendapat dari Al-Hubab ini adalah ide yang sangat brilian karena berhubungan dengan kesejahteraan pasukan Muslimin.
Ketika kaum kafir Quraisy sampai di sumur Badar, mereka kesulitan untuk mendapatkan air. Beberapa orang dari kaum kafir Quraisy yang diutus untuk mengambil air sumur ditembak panah oleh kaum Muslimin. Kecuali Hakim bin Hizam yang merupakan keponakan dari Siti Khadijah. Hal ini yang membuat Hakim bin Hizam untuk masuk Islam.
Pada malam hari pasukan Quraisy meninggalkan perkemahan perang dan berangkat menuju lembah Badar. Sebagian orang diutus untuk memantau perkemahan kaum Muslimin. Abu Jahal sebagai komandan pasukan kaum Quraisy meyakinkan pasukannya untuk memberantas habis kaum Muslimin.
Persiapan Pasukan di Lembah Badar dan Korban Pertama
Ketika kedua pasukan saling berhadapan di lembah Badar, setiap komandan menyiapkan pasukannya. Rasulullah SAW berpesan kepada pasukannya untuk tidak memulai pertempuran sebelum mendapat perintah terakhir dari beliau. Beliau juga berpesan kepada pasukannya supaya tidak gentar melihat jumlah musuh yang banyak.
Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi merupakan korban pertama dalam perang Badar. Ia terkenal memiliki perangai yang sangat buruk dan kasar sehingga ia berkata kepada pasukan Muslimin akan menghancurkan kolam. Akibat perbuatannya ini, Hamzah bin Abdul Muthalib menyambut kedatangannya dengan menebas kakinya sehingga terputus dan akhirnya ia meninggal.
Duel Satu Lawan Satu
Selepas kejadian tersebut, peperangan pun dilanjutkan dengan diadakannya duel satu lawan satu. Dari pihak kaum kafir Quraisy yang diutus adalah Utbah bin Rabi’ah bersama saudaranya Syaibah bin Rabi’ah beserta anaknya Al-Walid bin Utbah. Sementara itu, dari pihak kaum Muslim yang diutus adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, kemudian Hamzah memanggil rekannya yaitu Ali bin Abi Thalib dan Ubaidah bin Al-Harits untuk mendampinginya berduel melawan ketiga wakil kafir Quraisy.
Dalam duel tersebut Hamzah bin Abdul Muthalib berhasil mengalahkan lawan duelnya yaitu Syaibah bin Rabi’ah, begitu juga dengan Ali bin Abi Thalib yang berhasil melibas lawan duelnya yaitu Al-Walid bin Utbah. Lain halnya dengan Ubaidah bin Al-Harits yang melawan lawan duelnya yaitu Utbah bin Walid, karena masing-masing saling melukai lawannya. Kemudian Hamzah dan Ali pun menghampiri Utbah lalu membunuhnya.
Setelah perkelahian tersebut usai, mereka berdua memapah tubuh Ubaidah yang sudah lemah, karena kakinya ditebas hingga putus. Akan tetapi Ubaidah sama sekali tidak mengeluh hingga ia meninggal di Ash-Shafa’, empat atau lima hari setelah perang Badar di tengah perjalanan pulang ke Madinah.
Perang Berkecamuk
Duel pun usai, akan tetapi Perang Badar pun tidak dapat dihindari, anak panah mulai menghujani kedua belah pihak. Melihat pasukan kaum Muslim terpukul mundur oleh pasukan kaum kafir Quraisy, ketika Rasulullah menghadap kiblat dan berdoa. Saat itu juga Rasulullah SAW memerintahkan seluruh pasukan Islam untuk melawan balik dengan pertolongan Allah melalui 1000 malaikat yang membantu umat Islam memerangi kaum kafir Quraisy. Pasukan Islam pun akhirnya berhasil memukul mundur kaum kafir Quraisy.
Kemenangan Kaum Muslimin
Perang Badar telah usai dalam waktu yang sekejap. Kaum kafir Quraisy berlari-lari kembali menuju Mekah. Alhasil umat Islam berhasil memenangkan peperangan yang sangat mustahil untuk dimenangkan.
Korban di Kedua Belah Pihak
Dalam peperangan ini, tercatat ada 14 orang dari pasukan Muslim, 6 orang dari Muhajirin dan 8 dari Anshar yang gugur mati syahid. Sedangkan dari pihak kaum Musyrik mengalami kerugian yang sangat banyak. Korban di antara mereka ada sekitar 70 orang dan 70 orang pula yang tertawan.
Hikmah Perang Badar
Perang Badar merupakan perang antara dua kubu yang sama sekali tidak seimbang dalam segi jumlah pasukan, namun jumlah yang tidak berimbang tersebut tidak menjadikan alasan atas kehendak Allah. Perang Badar menjadi pertaruhan iman, ia adalah perang besar pertama dalam sejarah Islam dengan pertaruhannya yang sangat luar biasa. Oleh karenanya, ia menjadi perang yang sangat ikonik.
Referensi:
Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2022. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Terj. Umar Mujtahid, Lc. Jakarta: Ummul Qura.
Iza, Fahran. 2021. Perang Badar Bukti Nyata Pertolongan Allah. Yogyakarta: Hikam Pustaka.
Supriyadi. 2024. Kisah Perang Badar Dalam Al-Qur’an Bagian 1. Yogyakarta: Relasi Inti Media
Supriyadi. 2024. Kisah Perang Badar Dalam Al-qur’an Bagian 2. Yogyakarta: Relasi Inti Media
Ridha, Muhammad. 2021. Mulai Diizinkannya Perang dan Terjadinya Perang Badar Kubra. Yogyakarta: Hikam Pustaka.
Kontributor: Muhammad Zaidan Ali Zahran, semester IV
