Genghis Khan: Sosok di Balik Kebangkitan Imperium Mongol

saidusshiddiqiyah.ac.id—Genghis Khan merupakan sosok pemimpin yang dikenal dalam sejarah sebagai penakluk dunia. Ia menjadi gambaran seorang pemimpin yang memiliki kegagahan dan berjiwa kepahlawanan. Genghis Khan merupakan pemimpin bangsa barbar yang kuat, tangguh, penyabar, pemberani, dan pantang menyerah.

Ia lahir pada tahun 1155 M di tengah luasnya padang stepa Mongolia, tepatnya di bantaran Sungai Onon,  sebagian sumber lain menyebutkan tahun kelahirannya adalah 1167 Masehi. Nama aslinya adalah Temujin, dan ia terlahir dari keluarga bangsawan suku Borjigin Mongol, yang menjadi awal dari perjalanan panjangnya menuju tampuk kekuasaan dan ketenaran dunia.

Pada saat ia dilahirkan, ayahnya yang bernama Yesugei sedang tidak ada dirumah karena mendapatkan kesempatan untuk bertempur melawan salah satu pemimpin Tatar yang bernama Temujin.

Yesugei pun berhasil memenangkan pertempuran tersebut dan membawa pulang cerita kemenangan itu kerumahnya. Sesampainya di rumah, kebahagiaan itu tampak bertambah dengan hadirnya sang buah hati di tengah-tengah mereka yang diberi nama Temujin, dalam sumber lain disebut Temuchin yang bermakna pandai besi. 

Ketika ia mengamati anaknya itu, ia pun mendapati anak tersebut sedang menggenggam segumpal darah beku di tangannya yang bentuknya seperti batu merah. Lalu Yesugei pun menanyakan hal tersebut kepada orang yang percaya tentang hal mistis dan ia mendapat kabar bahwa kejadian itu menjelaskan tentang kemenangan yang ia dapatkan dari pemimpin Tatar. Karena itu lah ia menamai anaknya dengan nama pemimpin Tatar yakni Temujin, yang ia kalahkan sebagai lambang kemenangannya ketika dapat mengalahkan musuhnya.

Temujin kecil merupakan anak tertua Yesugei bersama istrinya Hoelun atau Yolun (dalam sumber lain). Selain Temujin, Yolun pun melahirkan 3 orang putra Yesugei lainnya yang bernama Juchi Khussar, Khachium Ulchi dan Tenege Ochigin, dan seorang putri yang bernama Taimulun. Istri kedua Yesugei melahirkan dua orang anak, yaitu Begutai dan Bekter.

Ketika temujin menginjak usia sembilan tahun, ia diajak oleh ayahnya untuk berkunjung ke rumah pamannya. Namun dalam perjalanan, ia bertemu dengan salah satu pembesar Mongol Onggirat, yang memberitahukan kepadanya bahwa Temujin akan memiliki masa depan yang cemerlang. Pembesar itu meminta dengan sangat agar Temujin dapat dinikahkan dengan putrinya yang Bernama Borte, padahal ketika itu usianya baru sepuluh tahun.
Tidak lama berselang dari perjalanan itu, Yesugei pun menemui ajalnya saat ia tengah melakukan perjalanan pulang kerumah. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa bangsa Tatar telah meracuninya hingga ia meninggal dunia. Peristiwa itu pun terjadi pada tahun 1176 Masehi.

Membentuk Aliansi dan Menjadi Pemimpin

Ketika Temujin tumbuh dewasa, ia pun berpikir untuk menikah. Apalagi ayahnya dulu pernah meminangkannya dengan Borte, putri kepala suku Qanqarad (Onggirat). Setelah mereka menikah dan pindah ke hulu sungai kerulen bersama seluruh anggota keluarganya, ia pun mulai terjun dalam dunia perpolitikan.

Temujin berdiri sejajar dengan para pemuka dari bangsa mongol dan berusaha untuk menyatukan suku-suku Mongol yang terpecah belah. Temujin berusaha untuk mengikuti langkah ayahnya yang pada saat itu sudah menanamkan benih persaudaraan ketika ia menjalin kerjasama dengan pemimpin Khereit, hingga ia menjadi salah satu kepala suku terkuat di wilayah Stepa.

Situasi semakin berpihak pada Temujin. Hingga banyak orang dari berbagai suku berdatangan kepadanya untuk menjalin aliansi. Akhirnya suku-suku yang suka berperang pada masa itu pun bersatu dalam satu pemerintahan untuk pertama kalinya. Setelah sudah sekian banyak orang yang hendak menyatukan suku dan klan Mongol tersebut namun tidak ada yang berhasil. Ketika itu Temujin dibantu oleh pendamping yang sangat setia, yaitu Gilmi. 

Empat kepala suku yang baru saja bergabung dengan Temujin melakukan pertemuan untuk bermusyawarah. Lalu mereka pun sepakat untuk memilih Temujin sebagai seorang Khan bangsa Mongol dan memberikan nama baru kepadanya yaitu Genghis Khan yang artinya penguasa Segala Manusia. Salah satu hal yang membuatnya berbeda dari pemimpin Mongol lainnya adalah bahwa ia tidak hanya mengutamakan garis keturunan bangsawan, melainkan memberi kesempatan kepada siapa pun yang berbakat dan setia untuk menduduki posisi tinggi dalam pasukannya.

Tujuan sebenarnya dari pengangkatan Genghis Khan menjadi Pemimpin bangsa Mongol yang dipilih oleh segenap petinggi tidak lain adalah untuk menanggulangi perpecahan di antara suku dan bangsa Mongolia, lalu mengembalikan kepemimpinan kekaisaran kepada keluarga Qiyas, serta mengambil kesempatan emas untuk membalaskan dendam kepada suku Tatar.

Mendirikan Kekaisaran Mongol

Setelah dinobatkan sebagai Genghis Khan, ia pun memperluas wilayah kekaisarannya dan mulai menyatukan seluruh suku Mongol di bawah satu kepemimpinan. Itu merupakan sebuah langkah awal untuk membangun kekaisaran yang mencakup sebagian besar negeri di dunia yang cukup terkenal kala itu. Dia juga mengatur pasukannya dengan sistem yang rapi dan menggunakan taktik-taktik baru yang belum pernah digunakan sebelumnya, seperti serangan mendadak dan pengepungan.

Genghis Khan mulai bergerak untuk mewujudkan tujuannya sesuai dengan rencana militer pusat yang sangat kompleks. Adapun rencana militer tersebut adalah:

  1. Menghadapi Bangsa Cina

Penaklukan yang dilakukan oleh Genghis Khan terhadap wilayah Cina mencakup berbagai ekspedisi militer yang sistematis dan brutal. Salah satunya adalah penyerangan terhadap suku Tangut dari kerajaan Xia Barat. Dengan menaklukkan suku ini, maka Genghis Khan akan lebih mudah untuk mengepung Dinasti Jin dari wilayah barat, yang di mana Dinasti Jin ini merupakan musuh utama bangsa Mongol dalam hal tradisi.

Pada tahun 606 H/1209 M barulah wilayah ini dapat ditaklukkan, setelah kepala suku Tangut menerima otoritas kaisar Mongolia, yang kepemimpinannya tetap akan diberikan kepadanya, dengan syarat ia harus membayar upeti rutin kepada Genghis Khan.

  1. Dinasti Jin (Dinasti Emas)

Pada saat Genghis Khan hendak menyerang Dinasti Jin yang terkenal sangat kuat, ia pun menghadapi banyak kesulitan yang tidak ia temui ketika berperang melawan suku lainnya. Diantaranya, menembus benteng yang kokoh, keberadaan “The Great Wall of China” (Tembok Cina) dan benteng yang memanjang dari barat hingga timur di wilayah itu.

Dari tahun 608-609 H/1211-1212 M mereka pun belum mampu menguasai kota tersebut, kecuali hanya beberapa kantor pusat yang tidak penting sama sekali, sehingga pada bulan Rabiul Awal tahun 1212 M datanglah kesempatan emas. Saat salah satu pemimpin Khitai yang menyimpan bara dendam di hatinya terhadap Dinasti Jin, menyatakan dukungannya terhadap pasukan Mongol.

Genghis Khan pun segera merespon kabar tersebut dengan mengutus salah satu tangan kanannya ke wilayah Liaoyang, Selatan Manchuria. Namun pasukan Mongol dapat dipatahkan oleh Dinasti Jin di depan benteng Liaoyang, Hingga Jebe pun harus mundur untuk mengatur kembali kekuatannya. Lalu mereka kembali menyerang kota tersebut dan berhasil mendudukinya.

Kepribadian Jenghis Khan 

Genghis Khan adalah perpaduan antara kebengisan seorang penakluk dan kecerdasan seorang negarawan. Ia keras, tegas, dan kejam saat dibutuhkan, tetapi juga adil, terbuka, dan visioner dalam membangun sistem pemerintahan, ia juga merupakan sosok yang kuat, tangguh, dan pantang menyerah. Karakter inilah yang membuatnya bukan hanya dikenang sebagai penakluk besar, tetapi juga sebagai pembangun peradaban yang mampu menghubungkan Timur dan Barat dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Panglima tertinggi bangsa Mongol ini memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam hal-hal berikut ini: membentuk dan membangun pasukan, taktik, perencanaan, memilih kaki tangannya, strategi, dan menyikapi titik lemah orang dan memanfaatkannya untuk kepentingan dirinya. 

Semua kelebihan ini sangat penting untuk dimiliki oleh siapa pun, baik seorang anggota militer atau pun rakyat sipil. Orang yang berakal adalah orang yang mau mengambil pelajaran dan pengetahuan dari manapun sumbernya, karena pengetahuan adalah kekuatan, dan juga karena pengetahuan adalah sumber cahaya yang akan menghalau gelapnya kebodohan.

Kematian Genghis Khan

Pada saat menjelang akhir hayatnya, Genghis Khan sedang memimpin kampanye militer melawan Kerajaan Xia Barat (suku Tangut) di wilayah barat laut. Mengenai penyebab atau teori kematiannya tidak ada yang pasti namun jatuh dari kuda adalah teori paling populer dan paling diterima oleh banyak sejarawan. Menurut The Secret History of the Mongols—salah satu sumber utama sejarah awal Mongol—Genghis Khan mengalami cedera fatal akibat terjatuh dari kudanya saat sedang melakukan kampanye militer melawan suku Tangut (Xia Barat) dan mengalami sakit parah akibat insiden tersebut.

Akhirnya Genghis Khan pun wafat pada awal bulan Ramadhan 624 H/ Agustus 1227 M di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Gansu. Lalu jasadnya dibawa ke Mongolia dan dimakamkan di wilayah yang dekat dengan sungai Onon dan sungai Kerulen. Namun lokasinya secara pasti tetap dirahasiakan sebagaimana kebiasaan bangsa Mongol.

Referensi

Muhibbuddin, Muhammad. 2018. Jenghis Khan: Kisah-Kisah Penaklukkan Dunia dan Keruntuhan Mongolia. Yogyakarta: Araska.

Yuliani, Nurjannah. 2021. Genghis Khan: Sang Kaisar Semesta Penakluk Dunia. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia.

Man, John. 2023. “Pesan-Pesan Kemanusiaan Novel Jenghis Khan. Jurnal Sastra dan Budaya, Universitas Al-Azhar Indonesia. 

Putra, D. A., dan Ghazalie. 2024. “Analisis Historis Strategi Perang Mongol dalam Penaklukan Irian Barat oleh bangsa Eurasia”.  Jurnal Pendidikan dan Sejarah 7(2): 127–138. https://doi.org/10.17977/um022v7i2p127-138

Universitas Negeri Makassar. 2018. Kekaisaran Mongol pada Masa Kekuasaan Genghis Khan (1206–1227). Tesis. http://eprints.unm.ac.id/id/eprint/4976/

Kontributor: Roudotul Barida Dalimunthe, Semester III

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *