Family Gathering Ma’had Aly Jakarta Hadirkan Workshop Moderasi Beragama dan Ekoteologi

saidusshiddiqiyah.ac.id —Pada Ahad, 28 Desember 2025, bertempat di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, Badan Eksekutif Mahasantri (BEM) berkolaborasi dengan CSSMoRA sukses menyelenggarakan acara Family Gathering. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasantri dan dihadiri oleh jajaran staf akademika Ma’had Aly Jakarta.

Family Gathering kali ini terasa berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Selain memeriahkan acara, staf Ma’had Aly turut berperan aktif sebagai narasumber dalam sesi workshop.

Dua staf yang menjadi narasumber merupakan penerima Beasiswa Penguatan Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi dari Kementerian Agama Tahun 2025, yakni Ustazah Baqiyatus Solikhah, S.Ag. dan Ustazah Winda Khoerun Nisa, S.Ag. Kegiatan dibuka dengan workshop bertema Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi yang disampaikan oleh kedua narasumber tersebut.

Workshop dibagi menjadi tiga sesi, yaitu Moderasi Beragama, Internalisasi Ekoteologi, dan Praktik (Ekstrem Inklusif). Pelaksanaan workshop dikemas dalam bentuk halaqah, di mana mahasantri dibagi ke dalam beberapa kelompok. Kegiatan juga diselingi dengan ice breaking agar suasana tetap hidup dan tidak monoton.

Pemaparan pertama disampaikan oleh Ustazah Baqiyatus Solikhah, S.Ag. dengan materi Penerapan Moderasi Beragama dalam Kehidupan Sehari-hari. Dalam pemaparannya, Ustazah Baqi memberikan berbagai contoh yang relevan dan mudah dipahami.

“Anggi sedang berkendara menuju sebuah bukit. Kira-kira, kalau jalan di sebelah kanan itu apa? Sebelah kiri apa? Jika Anggi terlalu ke kanan atau ke kiri, hasilnya sama-sama berisiko: bisa terperosok ke jurang atau menabrak pembatas jalan. Nah, moderasi beragama adalah jalan tengah agar perjalanan lebih aman. Sederhananya, yang dimoderasi bukan agamanya, melainkan cara kita beragama atau cara kita memahami agama,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Ustazah Baqi juga menambahkan konsep dalam moderasi beragama, yaitu Ladder of Inference dan Scenario Thinking. Ladder of Inference (tangga kesimpulan) meliputi tahapan kejadian, seleksi data, pemberian makna, asumsi, kesimpulan, keyakinan, hingga tindakan. Seluruh tahapan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar tidak tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan.

Selanjutnya, pemaparan kedua disampaikan oleh Ustazah Winda Khoerun Nisa, S.Ag. dengan materi Ekoteologi dan Krisis Ekologis. Sebelum memasuki materi, Ustazah Winda mengajak mahasantri untuk merenungi berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia, seperti penebangan hutan, banjir, dan kerusakan lingkungan lainnya.

“Dahulu, nenek moyang kita memandang alam bukan sekadar sebagai objek, melainkan sebagai mitra hidup. Mereka meyakini bahwa manusia harus memberi manfaat bagi alam semesta, dan sebaliknya alam juga memberi manfaat bagi manusia. Namun kini, semuanya seolah berbalik; manusia membangun dinding tebal antara dirinya dan alam,” jelas beliau.

Ustazah Winda menegaskan bahwa krisis ekologis muncul akibat pola pikir antroposentris, yakni pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu. Ekoteologi hadir sebagai refleksi keagamaan tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan alam, yang bertujuan mengembalikan kesadaran ekologis manusia untuk menjaga, melestarikan, dan peduli terhadap bumi.

Sesi pemaparan ditutup dengan ice breaking dan praktik kelompok melalui presentasi hasil diskusi masing-masing kelompok. Kegiatan Family Gathering tahun ini tidak hanya menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga ruang pembelajaran yang memadukan nilai spiritual, sosial, dan ekologis. Para peserta diharapkan mampu menerapkan moderasi beragama serta meningkatkan kesadaran ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

Pewarta: Atikah Sa’diatus Zahra, Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *