saidusshiddiqiyah.ac.id—Sebelum Islam muncul di wilayah Eropa, kondisinya sangat memperihatinkan. Mereka hidup dalam kebodohan dan keterbelakangan yang luar biasa. Kezaliman sudah menjadi hal yang lumrah di sana. Para penguasa menguasai harta dan kekayaan negeri, sementara rakyat biasa hidup dalam kemiskinan yang parah.
Pada abad ke-4 Masehi bangsa Ghotik barat di bawah kepemimpinan Alarik berhasil menguasai bagian barat dari imperium Romawi dari penaklukan ini bangsa Eropa mulai berkembang. Akan tetapi tidak berlangsung lama kekuasaan ini mulai melemah sehingga mudah ditaklukkan oleh Islam.
Pada waktu itu, kaum Muslimin telah berhasil menaklukkan seluruh kawasan Afrika Utara hingga mencapai ujung barat Maroko dan tepian laut Atlantik. Ketika wilayah daratan sudah tak lagi menyisakan ruang ekspansi, pandangan mereka pun tertuju ke seberang Selat Gibraltar ke daratan Eropa yang masih asing, namun penuh peluang dakwah. Tujuan mereka bukan sekadar memperluas kekuasaan atau mengumpulkan sumber daya alam, melainkan menyebarkan risalah Islam dan mengajak umat manusia mengenal jalan Allah.
Maka dimulailah penaklukan ke Semenanjung Iberia, sebuah langkah besar yang bukan hanya mencetak kemenangan militer, tetapi juga membuka lembaran baru dalam sejarah Islam. Dari peristiwa ini lahirlah Al-Andalus, sebuah wilayah yang kelak berkembang menjadi pusat peradaban gemilang, rumah bagi ilmu pengetahuan, seni, dan harmoni antar keyakinan di jantung Eropa Barat. Dalam waktu yang relatif singkat, kekuasaan Islam tumbuh kuat di tanah asing, membawa warna baru yang mencengangkan dunia (As-Sirjani 2013).
Penaklukan
Penaklukan Andalusia ini terjadi pada tahun 92 H/ 711 M. Pada masa Kekuasaan bani Umayyah tepatnya pada masa Khalifah Al-Walid Bin Abdul Malik. Maka pada tahun tersebut bergeraklah pasukan yang terdiri dari 7000 prajurit Islam yang dipimpin oleh panglima Thariq bin Ziyad. Kelompok ini bergerak menyebrangi Selat Gibraltar menuju Andalusia. Dalam penaklukan Andalusia, terdapat tiga tokoh sentral yang memiliki kontribusi bagi pembukaan gerbang Andalusia, yaitu Tarif bin Malik, Musa Bin Nusair, dan Tariq bin Ziyad (Pesantren et al. 2016).
Awalnya pasukan ini menawarkan Islam dengan damai akan mereka malah memilih untuk berperang. Maka terjadilah pertempuran antara dua pihak hingga akhirnya Thariq bin Ziyad berhasil mengalahkan mereka. Andalusia segera meminta bantuan Roderick, tetapi mereka tetap mengalami kekalahan.
Orang-orang islam ketika di negeri orang lain mereka menampakkan diri sebagai orang yang ahli ibadah. Oleh karena itu, ketika pertempuran terjadi orang-orang Eropa terkejut sehingga mereka mengatakan, “kami tidak tahu apakah mereka itu makhluk dari bumi atau dari langit ”. Karena mereka melihat tidak sesuai dengan penampilan awal yang ditunjukkan oleh kaum Muslim.
Ketika wilayah ini sudah ditaklukkan mereka pemimpin kaum Muslimin mulai menegakkan pilar-pilar Islamiyah kepada para masyarakat di sana. Orang orang tersebut menerima dengan cepat setelah mereka mengetahui hakikat Islam yang sebenarnya. Mereka seolah-olah menemukan agama yang sempurna dan komprehensif mengurus seluruh kehidupan manusia dan juga akidah yang jelas. Mengingat sebelumnya mereka terbelenggu oleh kebodohan dan juga keterbelakangan.
Fase Pembentukan dan Perkembangan
Ketika Dinasti Umayyah mengalami pembantaian dan pengepungan dari bani Abbasiyah maka khalifah Abdurrahman Ad-Dakhil yang memimpin pada masa itu berhasil melarikan hingga sampai di daerah Andalusia. Abdurrahman yang memiliki kecemerlangan dan kecerdasan mulai menyusun rencana terhadap kondisi Andalusia karena negeri ini sudah terpisah dengan pemerintahan Islam. Jadi ia bebas terhadap negeri tersebut.
Ia yang memiliki kecerdasan dan kecemerlangan ia mulai memadamkan pemberontakan satu persatu yang terjadi di berbagai daerah. Dalam fase kepemimpinannya negeri mulai mengalami perkembangan yang sangat pesat. Ia mulai membentuk pembangunan terhadap negeri itu dan memposisikan ilmu dan keagamaan sebagai pokok yang yang harus dikembangkan (Lathif n.d.).
Kejayaan Islam di Andalusia
Di bawah kepemimpinan Bani Umayyah, Al-Andalus tumbuh menjadi pusat keilmuan yang bersinar di tengah Eropa yang kala itu masih berada dalam zaman kegelapan. Dalam ilmu pengetahuan Al-Andalusia menjadi tempat berkembangnya berbagai disiplin ilmu.
Abd Rahman Ad-Dakhil mulai mendirikan masjid dan sekolah di Cordoba, kota terbesar di Spanyol pada masa itu. Banyak ulama juga berkontribusi dalam mengembangkan kota tersebut. Selanjutnya, pada masa kekuasaan Al-Rahman Al-Tsani, pemikiran filosofis mulai bermunculan. Ia mengundang para ahli dari berbagai negara dengan tujuan agar masyarakat memahami betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan pemikiran terbuka dalam membangun peradaban (Matondang 2021).
Kota Cordoba yang menjadi jantung peradaban di Eropa. Dengan perpustakaan yang menampung ribuan manuskrip dan universitas-universitas yang menarik para pelajar di berbagai belahan dunia, Cordoba dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan terbesar di Eropa pada masa itu. Kota ini bukan hanya menjadi pusat intelektual, tetapi juga lambang keindahan arsitektur dan budaya islam.
Kemegahan arsitektur Islam tercermin dengan jelas dalam bangunan Masjid Córdoba, sebuah mahakarya yang memadukan keindahan seni Islam dengan teknik bangunan yang megah. Masjid ini dihiasi deretan pilar-pilar dan lengkungan khas yang mengagumkan, menciptakan suasana spiritual dan estetika yang menawan. Selain itu, istana Madinat Al-Zahra yang dibangun di dekat Córdoba menjadi simbol kejayaan politik dan kebudayaan, sebuah kompleks istana megah yang menunjukkan kemewahan, keindahan, dan kecanggihan arsitektur Al-Andalus (Hidayati et al. 2021).
Kemajuan Islam di Andalusia sangat menonjol dalam berbagai bidang diantaranya dalam bidang Intelektual yang menyebabkan kebangkitan Eropa, seperti kemajuan dibidang filsafat, akidah undang-undang, seni, bahasa, dan sastra maupun bidang-bidang lainnya. Puncak kemajuan peradaban Islam di Andalusia berdampak terhadap kemajuan peradaban Eropa.
Melalui pembangunan peradaban, Bani Umayyah di Al-Andalus membuktikan bahwa kekuasaan sejati bukan hanya diukur dari luasnya wilayah yang ditaklukkan, tetapi juga dari seberapa besar mereka mampu menerangi dunia dengan ilmu, seni, dan budaya.
Kejayaan Al-Andalusia menjadi saksi nyata bagaimana Islam menghadirkan peradaban yang gemilang di tanah asing, membangun pusat ilmu pengetahuan,seni, dan budaya di tengah-tengah dunia barat. Andalusia bukan hanya sekedar wilayah kekuasaan, melainkan puncak kejayaan umat islam dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan juga kebudayaan. Kota-kota seperti Cordoba menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan, filsuf, seniman dan pelajar berbagai penjuru dunia.
Sejarah ini mengajarkan kepada kita bahwa kejayaan suatu umat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau kekayaan, tetapi oleh kemampuan untuk menciptakan lingkungan yang mencerdaskan, damai, dan beradab. Al-Andalus menjadi contoh bahwa Islam adalah agama yang membawa kemajuan dan kedamaian, bukan hanya untuk umat Muslim, tetapi juga bagi seluruh manusia.
Referensi :
As-Sirjani, Raghib. 2013. Bangkit dan Runtuhnya Andalusia. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
Astuti, Marfuah Panji. 2013. Journey To Andalusia: Jelajah 3 Daulah. Indonesia: Bhuana Ilmu Populer.
Himalayah, Ahmad Mahmud. 2003. Kebangkitan Islam di Andalusia. Indonesia: Gema Insani.
Latif, Abdussyafi, Muhammad Abdul. 2008. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
Ulum, Shohibul. 2024. Sejarah Penaklukan Andalusia: Menelusuri Kronologi Perjuangan Pahlawan Muslim di Semenanjung Liberia. Jawa Timur: Anak Hebat Indonesia.
Hidayati, Nurul, Yazida Ichsan, Ratna Wulandari, and Dwi Aknan Lutfiyan. 2021. “Pengaruh Seni Arsitektur Terhadap Perkembangan Pendidikan Islam Di Andalusia.” Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah 3 (1): 73–86. doi: 10.32939/ishlah.v3i1.40.
Matondang, Muhammad Alfaridzi. 2021 “Peradaban Dan Pemikiran Islam Di Andalusia.” Tasyri` : Jurnal Tarbiyah-Syari`ah-Islamiyah 28(02): 56–73. doi: 10.52166/tasyri.v28i02.135.
Kontributor: Rani Wahyuni, Semester V
