KESULTANAN DEMAK: CAHAYA ISLAMI DI TANAH JAWA

Asal Usul Nama Kesultanan Demak

sa’iidusshiddiqiyah.ac.id—Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam yang pertama yang terletak di pulau Jawa pada abad ke-15 M. Sebelumnya, Demak merupakan daerah yang di bawah pemerintahan Majapahit yang dipercayakan Raja Majapahit kepada anaknya yang bernama Raden Fatah. Raden Fatah sendiri itu langsung menjadi raja pertama di Kesultanan Demak. 

Ada beberapa usul yang mengenai asal usul nama Demak. Menurut Poerbatjaraka, namanya berasal dari bahasa Jawa yaitu delemak yang berarti “rawa”. Menurut Hamka, namanya berasal dari bahasa Arab yaitu dimak yang berarti “mata air”(atau “air mata”). Menurut sejarawan lainnya, yaitu Sutjipto Wiryosuparto, nama Demak itu berasal dari sebuah kata dalam bahasa Kawi yang berarti “hadiah” atau “pusaka”.

Sebelum abad ke-15 kerajaan ini masih di bawah kekuasaan Majapahit. Setelah Kerajaan Majapahit runtuh, perkembangan kerajaan ini mulai meningkat pesat. Lambat laun Kesultanan Demak menjadi pusat perkembangan agama Islam di pulau Jawa yang diramaikan oleh para wali. Merekalah yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa sehingga tersebar luas, yang dikenal dengan istilah “Walisongo”.

Peran Penting Wali Songo Di Kesultanan Demak

Tentu masih banyak tokoh lain yang juga berperan untuk menyebarkan Islam di pulau Jawa. Namun peran merekalah yang sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di tanah Jawa, juga pengaruhnya terhadap masyarakat secara luas dan dakwahnya secara langsung kepada masyarakat. Hal itu membuat para Walisongo lebih banyak disebut dibanding dengan tokoh yang lain.

Semenjak Walisongo berada di pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam, ketika itulah berakhirnya dominasi agama Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan budaya agama Islam. Kerajaan Demak berkembang sebagai pusat perdagangan dan sebagai pusat penyebaran agama Islam. Wilayah kekuasaan kerajaan Demak meliputi Jepara, Tuban, sedayu Palembang, Jambi dan beberapa daerah yang berada di Kalimantan.

Sebagai kerajaan Islam yang pertama di pulau Jawa, Demak tidak bisa lepas dari peran Walisongo mulai dari pendirian hingga pemerintahannya. Menurut buku ‘Sejarah Kebudayaan Islam 2021 oleh Yusak Burhanudin, Walisongo yang berada di Demak adalah Sunan Ampel. Beliau merupakan putra Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Candrawulan, yang bernama asli Sayyid Muhammad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat.

Ia diberi gelar Sunan Ampel karena bertempat tinggal di daerah Ampel atau Ampel Denta yang sekarang menjadi bagian dari kota Surabaya. Sunan Ampel merupakan salah satu orang yang berjasa di Kesultanan Demak. Beliau juga merancang Kerajaan Demak dengan ibu Kota Bintaro atau Gelagah Wangi. Sunan Ampel ditunjuk sebagai penasihat kerajaan, hakim kerajaan, sekaligus panglima perang oleh Raden Fatah.

Ampel Denta adalah wilayah yang dihadiahkan oleh putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit kepada anaknya Raden Fatah, ia mulai membangun dan mengembangkan pondok pesantren yang dibantu oleh Sunan Ampel. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya dengan dakwahnya. Pada pertengahan abad ke-15 M, pesantren tersebut menjadi pusatnya Pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara.

Sunan Ampel itu menyebarkan santri-santrinya ke pelosok Jawa dan Madura untuk berdakwah menyebarkan agama Islam, termasuk Sunan Giri dan Raden Patah. Ada istilah yang diajarkan oleh Sunan Ampel yang menekan pada penanaman akidah dan ibadah. Dialah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni larangan yang disampaikan Sunan Ampel kepada masyarakatnya agar “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotika, dan tidak berzina.”

Pembangunan Masjid Demak

Selain Sunan Ampel, putranya, Sunan Bonang juga turut ikut serta menjadi penyokong penyebaran agama Islam di Kesultanan Demak. Ia terlibat dalam pembangunan masjid Agung Demak bersama wali-wali lainnya. Menurut cerita tradisional yang terekam dalam sejumlah naskah, Masjid Demak menjadi pusat kegiatan keagamaan, Pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Masjid ini didirikan dengan gaya arsitektur masjid yang mengandung unsur akulturasi budaya lokal Jawa, Hindu-Budha, dan Islam dari Arab.

Hal ini terjadi karena Masjid Agung Demak berdiri ketika Islam mulai berkembang di Jawa seiring keruntuhan Majapahit yang pernah menjadi kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Jawa, bahkan di Nusantara.

Masjid Agung Demak dahulunya adalah tempat berkumpulnya Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Inilah yang mendasari bahwasanya Demak mendapatkan sebutan kota para wali.  Raden Fatah bersama Wali Songo membangun masjid ini dengan memberi gambar serupa bulus yang merupakan candra sengkala memet yang bermakna Sirno Ilang kertaning bumi. Dari sisi arsitektur, Masjid Agung Demak adalah simbol arsitektur tradisional Indonesia yang sangat khas serta sarat makna. Tetap sederhana namun terkesan mewah, anggun, indah, dan sangat berkharismatik. Atap masjid berbentuk limas yang bersusun tiga merupakan gambaran akidah Islam yakni Iman, Islam, dan Ihsan.

Kesultanan Demak berada di bawah pemerintahan Raden Fatah sejak akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16 M. Dikatakan, bahwasanya Raden Fatah adalah hasil perkawinan salah seorang raja Majapahit dengan Muslimah keturunan Campa. Kepemimpinannya digantikan anaknya, Pati Unus. Menurut Tome Pires, Pati Unus baru berusia 17 tahun ketika ia naik ke singgasana menggantikan ayahnya sekitar tahun 1507. 

Demak di bawah pemerintahan Pati Unus adalah yang berwawasan Nusantara. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kesultanan maritim yang besar. Pada masa kepemimpinannya, Demak merasa terancam dengan pendudukan Portugis di Malaka. Dengan adanya Portugis di Malaka, kehancuran pelabuhan-pelabuhan nusantara tinggal menunggu waktu. Karena itu, Pati Unus menyerang Malaka yang ketika itu telah dikuasai oleh orang Portugis. Akan tetapi, tahun 1512-1513, tentaranya Pati Unus itu mengalami kekalahan besar. Pati Unus digantikan oleh Sultan Trenggono adik kandungnya sendiri, karena Pati Unus tidak meninggalkan keturunan untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Kejayaan Sekaligus Berakhirnya Kesultanan Demak

Sultan Trenggono yang bergelar Sultan Ahmad Abdul Arifin menjadi pemimpin ketiga Kerajaan Demak. Sultan Trenggono lahir pada tahun 1483 M. Ia naik tahta menjadi pemimpin di Kerajaan Demak saat berusia 38 tahun. Dengan di bawah pemerintahan sultan Demak yang ketiga ini, Islam tersebar sangat cepat  ke seluruh tanah Jawa. Ia juga berhasil merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran yang dipimpin Fatahillah serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana, menguasai Majapahit, dan Tuban sekitar tahun 1527.

Ketika Sultan Trenggono ingin melakukan penyerbuan di daerah Pasuruan, Sultan Trenggono tewas dalam pertempuran pada tahun 1546. Dan kerajaan Demak itu dipimpin oleh Sunan Prawoto putra dari Sultan Trenggono. Sepeninggal Sultan Trenggono, Kerajaan Demak menjadi kacau karena dilanda perang saudara. Pertentangan terjadi di kalangan keluarga raja antara Sunan Prawoto dengan Arya Penangsang. 

Sunan Prawoto pun terbunuh beserta keluarganya yang dihabisi oleh suruhan Arya Penangsang dengan secara sadis. Arya Penangsang menjadi penguasa Demak dikala itu, namun akhirnya ia berhasil dibunuh oleh pasukan Joko Tingkir, menantu dari Sunan Prawoto. Meninggalnya Sunan Prawoto pada tahun 1549 menandai berakhirnya kerajaan Demak. Joko Tingkir memindahkan istana Demak ke daerah yang bernama Pajang, dekat Kartasura. Dan di sana ia mendirikan kesultanan Pajang.

REFERENSI

  1. Anita. 2016. Walisongo: Mengislamkan Tanah Jawa. Suatu Kajian Pustaka. Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 1(2).
  1. H.J. de Graaf dan Th.G. Th. Pigeaud.1985. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Jakarta: Grafiti Press. 
  1. Hadi, Abdul. “Sejarah Intelektual Islam di Nusantara (2) Sastra Melayu Abad ke- 14-19 M” dalam mustolihbrs.wordpress.com/2007/00 orientalisme-vs-pemikiran-islam-di.html.
  1. Helmiati. 2014. Sejarah Islam Asia Tenggara. Pekanbaru: Lembaga penelitian Dan   Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
  1. Muhammad, Syamsu. 1999. Ulama Pembawa Islam di Indonesia. Jakarta: Lentera, hlm. 

Kontributor: Raden Adjie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *