Jejak Islam di Tanah Jawa: Dari Wali Songo hingga Kerajaan

saiidusshiddiqiyah.ac.id—Sebelum datangnya agama Islam di Tanah Jawa, wilayah tersebut lebih dahulu dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha yang dibawa oleh para brahmana (pendeta) dan juga para waisya (pedagang). Akibat penyebaran agama tersebut, banyak masyarakat yang semula menganut kepercayaan animisme (keyakinan bahwa segala sesuatu di alam semesta memiliki roh atau jiwa) dan dinamisme (keyakinan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib atau supranatural) mulai condong kepada agama Hindu-Buddha.

Sejak abad ke-4, banyak kerajaan besar yang berdiri kokoh di Tanah Jawa. Contohnya adalah Kerajaan Tarumanegara yang berdiri pada abad ke-4, Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8, dan Kerajaan Majapahit yang berdiri sekitar tahun 1293 M.

Masuknya Islam di Tanah Jawa

Masuknya agama Islam di Tanah Jawa diperkirakan terjadi sebelum abad ke-13 M, yang merupakan awal mula tersebarnya Islam di Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan makam Islam di daerah Gresik, di antaranya makam Fatimah binti Maemun yang wafat pada tahun 1082 M, dan makam Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M.

Penyebaran Islam di Tanah Jawa dipelopori oleh para Wali Songo (Wali Sembilan). Masing-masing dari mereka menyebarkan Islam ke berbagai daerah di Tanah Jawa. Wali pertama yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Berkat jasanya, banyak masyarakat yang sebelumnya beragama Hindu-Buddha memeluk agama Islam.

Saat Kerajaan Majapahit masih berdiri, agama Islam perlahan mulai masuk ke lingkungan kerajaan. Pengaruh yang semakin besar menyebabkan agama-agama sebelumnya mulai melemah. Namun, proses penyebarannya berlangsung lama karena mayoritas penduduk saat itu beragama Buddha. Hingga akhirnya, Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran yang dimanfaatkan oleh Kerajaan Demak untuk melakukan penyerangan. Akhirnya, Kerajaan Majapahit jatuh dan wilayahnya berhasil direbut oleh Kerajaan Demak.

Salah satu bukti perkembangan Islam di Tanah Jawa saat itu adalah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, seperti Kerajaan Demak (1500 M), Kerajaan Pajang (1568 M), Kerajaan Mataram Islam (1584 M), Kerajaan Cirebon (abad ke-15 dan 16), serta Kerajaan Banten (1524 M).

Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam berdiri pada tahun 1584 M. Asal mula berdirinya kerajaan ini berawal dari pemberian Alas Mentaok (wilayah Yogyakarta tempo dulu) oleh Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir), Raja Pajang, kepada Ki Ageng Pemanahan. Pemberian tersebut merupakan bentuk penghargaan karena Ki Ageng Pemanahan dan putranya, Danang Sutawijaya, telah membantu Sultan Hadiwijaya dalam peperangan melawan Arya Penangsang.

Pada tahun 1577, Ki Ageng Pemanahan membangun istananya di Kotagede. Setelah wafat pada tahun 1584, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Danang Sutawijaya, yang bergelar Panembahan Senopati. Ia bercita-cita mendirikan kerajaan yang dapat menggantikan kekuasaan Kerajaan Pajang.

Pangeran Benowo, pengganti Sultan Hadiwijaya, menghadapi banyak pemberontakan di wilayah pesisir Kerajaan Pajang. Karena tidak mampu mengatasi situasi, ia menyerahkan kekuasaan kepada Danang Sutawijaya, yang menandai berdirinya Kerajaan Mataram Islam.

Perkembangan Islam pada Zaman Kerajaan Mataram Islam

Pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, agama Islam menjadi agama resmi Kerajaan Mataram Islam. Hal ini ditandai dengan diangkatnya para wali Kadilangu sebagai penasihat dan pembimbing kerajaan. Saat itu, nasihat para wali dan tokoh agama sangat berpengaruh dalam proses penunjukan pemimpin kerajaan.

Panembahan Senopati melakukan penaklukan ke berbagai daerah demi mewujudkan keinginannya menjadikan Mataram Islam sebagai pusat kebudayaan Islam. Ia mewajibkan masyarakat di wilayah yang ditaklukkannya untuk memeluk Islam, membangun rumah ibadah, serta menerjemahkan naskah Arab dan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa sebagai bagian dari kebijakannya.

Setelah wafatnya Panembahan Senopati, kekuasaan dilanjutkan oleh putranya, Mas Jolang (Panembahan Seda Krapyak). Pada masa pemerintahannya, Mataram Islam terus melakukan ekspansi ke wilayah pesisir. Ia wafat akibat kecelakaan saat berburu rusa di Krapyak, sehingga dikenal dengan julukan Panembahan Seda Krapyak (Panembahan yang wafat di Krapyak).

Kepemimpinan berikutnya dipegang oleh Mas Rangsang, atau Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di masa pemerintahannya, Mataram Islam mencapai masa kejayaan, baik dalam hal perluasan wilayah, perkembangan agama, maupun kebudayaan. Ia naik tahta saat berusia sekitar 20 tahun.

Sebagai raja, Sultan Agung sangat memperhatikan perkembangan Islam di Tanah Jawa. Ia dikenal sebagai pemimpin yang taat beribadah, sehingga mendapat simpati dari kalangan ulama. Kebijakan seperti tradisi khitan, memendekkan rambut pria, serta pengamalan syariat Islam diterapkan secara luas.

Sultan Agung juga menetapkan sistem penanggalan baru dengan menggabungkan kalender Hijriah yang digunakan oleh kaum pesantren dan kalender Saka yang digunakan masyarakat Jawa.

Ia juga menyelaraskan unsur budaya lokal dengan ajaran Islam. Misalnya tradisi Grebeg yang semula merupakan upacara pemujaan roh leluhur, kemudian disesuaikan menjadi tradisi keagamaan Islam agar lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Kemunduran dan Berakhirnya Kerajaan Mataram Islam

Setelah wafatnya Sultan Agung, tampuk kekuasaan berpindah kepada putranya, Amangkurat I. Dalam pemerintahannya, Amangkurat I menjalin kerja sama dengan Belanda, yang sebelumnya ditentang oleh Sultan Agung. Akibatnya, Belanda mulai membangun benteng-benteng di wilayah Mataram.

Kepemimpinan dilanjutkan oleh Amangkurat II. Di masa ini, Belanda berhasil menguasai sebagian besar wilayah Mataram, menyebabkan penderitaan rakyat.

Amangkurat II kemudian melarikan diri ke daerah pedesaan dan memindahkan ibu kota kerajaan ke Kartasura. Sebelumnya, ibu kota berada di Kotagede. Ia wafat dan dimakamkan di Kartasura.

Setelah wafatnya Amangkurat II, terjadi pertemuan antara dua kubu dalam Kerajaan Mataram yang terpecah. Pertemuan tersebut menghasilkan Perjanjian Giyanti, yang berisi kesepakatan untuk membagi wilayah kerajaan menjadi dua: Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Mangkubumi (Hamengkubuwono I) dan Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwono III.

Referensi:

Agustina, I. 2018. Kebudayaan dan Kerajaan Islam di Indonesia. Pontianak: Derwati Press

Al Adhim, A. 2012. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. Surabaya: JP Books. 

Permata, N. 2021. Sultan Agung Sang Pemersatu Tanah Jawa. Jakarta: Sulthan Press

Saputro, S. 2019. Mengenal Kerajaan-Kerajaan di Nusantara. Sukoharjo: Graha Pintama Selaras

Wahyudhi, F & Fattah, A. 2017. Raja-Raja Islam di Tanah Jawa. Sukoharjo: CV Sindunata 

Zamzami, R. 2018. Sejarah Agama Islam di Kerajaan Mataram pada Masa Panembahan Senapati, 1584-1601.  Jurnal Sejarah Peradaban Islam. Vol. 2, No 2.

Kontributor: Muhammad Farik Al-Farisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *