saidusshiddiqiyah.ac.id—Perang Khaibar menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam, karena keberhasilan dalam perang Khaibar mengakhiri ancaman-ancaman yang sudah berjalan selama bertahun-tahun bagi umat Muslim Madinah. Khaibar sendiri adalah pusat persekongkolan untuk melemahkan umat Muslim Madinah dengan konflik dan pengkhianatan bersama kaum Yahudi. Kemenangan umat Muslim atas Khaibar tidak hanya meneguhkan kekuatan umat Muslim, tetapi juga sangat membantu dalam perekonomian umat Muslim melalui kebun-kebun dan hasil pertanian Khaibar. Perang ini juga menunjukkan strategi cerdas, disiplin para sahabat, dan etika dalam peperangan walaupun terhadap pihak yang mengkhianati perjanjian. Dengan demikian Khaibar menjadi titik balik bagi umat Islam dan semakin memperkokoh stabilitas Madinah dan memperluas penyebaran agama Islam ke seluruh jazirah Arab.
Setelah perjanjian Hudaibiyah, kondisi politik bangsa Arab berubah secara signifikan.
Perjanjian Hudaibiyah menjadikan ruang aman bagi Madinah dan memudahkan Nabi
Muhammad dalam menyebarkan Islam tanpa ancaman-ancaman dari suku Quraisy dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Dengan amannya ancaman dari selatan Madinah, maka nabi memfokuskan kepada Khaibar dan benteng-bentengnya yang berada di utara Madinah yang kerap kali menjadi ancaman bagi umat Muslim Madinah.
Hubungan antara kaum Muslimin dan beberapa kabilah Yahudi memang mengalami pasang surut sejak awal hijriah. Pengkhianatan yang dilakukan Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah telah menimbulkan luka yang mendalam bagi umat Muslim, karena ketiga suku ini selalu melanggar perjanjian yang dibuat bersama dengan Nabi Muhammad. Bahkan, mereka terang-terangan berkhianat kepada Nabi pada saat perang Ahzab hingga mereka terusir dari Madinah dan melarikan diri ke Khaibar. Lalu, setelah mereka melarikan diri ke Khaibar, mereka mulai memprovokasi kabilah-kabilah lain yang menetap di Khaibar untuk bersatu melawan Madinah. Dengan ini Khaibar tidak bisa diabaikan begitu saja, karena ancaman serangan dari Khaibar begitu nyata, dan bisa sewaktu-waktu menyerang kaum Muslimin.
Khaibar sendiri berada di wilayah yang strategis, dengan kebun-kebun kurma, pertanian yang makmur, serta memiliki benteng-benteng yang menjaga wilayah mereka. Sehingga dengan ini menjadi ancaman serius bagi umat muslim Madinah. Mengapa menjadi ancaman serius? Karena Khaibar wilayah yang perekonomian mereka sangat baik dan memiliki cadangan makanan dan minuman yang sangat melimpah, dengan kata lain Khaibar dapat membayar prajurit, dan sangat mudah memprovokasi kabilah lain untuk memusuhi nabi Muhammad karena baiknya kondisi finansial mereka. Dengan ini Khaibar perlu segera ditangani agar tidak menjadi ancaman bagi umat Muslim Madinah.
Secara geografis, Khaibar terletak sekitar 150 km di utara Madinah, berada di jalur
perdagangan menuju Syam. Khaibar memiliki beberapa oasis, membuatnya menjadi tempat yang subur untuk pertanian, ditambah mereka memiliki 7 benteng besar dan memiliki persenjataan dan cadangan makanan yang berlimpah. Posisi Khaibar menjadikannya wilayah terkuat di Jazirah Arab. Maka dengan itu perlu kecerdasan dan strategi yang matang.
Strategi Militer Rasulullah
Setelah perjanjian Hudaibiyah, Nabi Muhammad tidak lagi memfokuskan perhatiannya kepada Quraisy, karena sekarang Khaibarlah yang menjadi ancaman yang nyata. Seperti dijelaskan oleh Syaikh Mubarakfuri pada kitabnya Rahiqul Makhtum, bahwa ancaman terbesar bukan lagi kaum Quraisy, melainkan benteng-benteng Khaibar yang memiliki kekuatan militer, kekuatan finansial, bahkan memiliki jaringan politik yang luas. Nabi sendiri menyiapkan pasukan berjumlah 1.400 pasukan dan sejumlah pasukan berkuda yang digunakan untuk serangan cepat. Menurut kitab Tahdzib Ibnu Hisyam, persiapan dilakukan diam-diam supaya pasukan Khaibar tidak mempunyai kesempatan untuk meminta bantuan kepada sekutu-sekutunya. Pada perang ini dipimpin oleh Rasulullah sendiri, dan Rasulullah yang membagi pasukan menjadi beberapa bagian yang tersebar ke beberapa titik strategis Khaibar.
Salah satu langkah cerdas nabi Muhammad adalah bergerak menuju Khaibar pada saat musim panen kurma. Langkah ini diambil dikarenakan membawa keuntungan bagi umat Muslim, yaitu Khaibar dalam kondisi lemah dikarenakan takut hasil panennya dijarah habis oleh kaum Muslimin, dan dapat memberikan tambahan logistik kepada pasukan Muslimin. Nabi juga mengambil langkah cerdas dengan mengambil jalur yang tidak biasa dilewati untuk mencegah mata-mata Khaibar mengetahui kedatangan kaum Muslimin.
Benteng-benteng Khaibar bukan hanya struktural biasa, melainkan bangunan yang dibangun pada bukit-bukit batu vulkanik yang sulit ditembus. Nama-nama benteng Khaibar diantaranya adalah Na’im, Qamus, dan Nizar yang masing-masing memiliki pertahanan berlapis. Disini Rasulullah menerapkan taktik pengepungan dengan memutus jalur suplai makanan dan minuman agar suplai konsumsi ke Khaibar terputus. Nabi sangat sabar dalam menjatuhkan benteng-benteng Khaibar secara bertahap, hingga semua benteng jatuh ke tangan umat Muslim.
Salah satu fase paling penting adalah ketika panji perang diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, yang sebelumnya panji dipegang oleh Abu Bakar namun gagal, lalu panji dipegang oleh Umar bin Khattab dan gagal juga. Nabi pun bersabda, “besok aku serahkan panji-panji ini kepada seorang yang dicintai Allah dan Rasulnya.” Ali pun ditunjuk sebagai pemegang panji padahal dia sedang sakit mata, tetapi Nabi Muhammad meludahi dan mengusap mata Ali sehingga sembuh. Diceritakan juga, Ali adalah pahlawan yang tampil untuk menghancurkan pertahanan terakhir Khaibar.
Setelah seluruh benteng jatuh ke tangan umat Muslim, Nabi Muhammad tidak mengusir mereka melainkan mengambil jalur diplomasi, dan membiarkan rakyat Khaibar menggarap pertanian mereka tetapi harus membagi hasil kepada Madinah. Adanya kesepakatan ini tidak hanya meredam konflik dan mengancam jalannya dakwah Islam, tetapi juga membantu perekonomian umat Muslim Madinah secara drastis.
Dampak Pasca Penaklukan Khaibar
Kemenangan kaum muslim dalam perang Khaibar membawa dampak besar terhadap posisi politik Madinah. Tidak ada kaum Yahudi yang mengancam posisi umat Muslim yang mengganggu atau mengancam Madinah. Madinah setelah mengepung dan menghancurkan Khaibar yang menjadi pusat persekongkolan umat Yahudi menyebabkan kondisi reputasi Rasulullah naik di mata bangsa Arab, dan bangsa Arab melihat Madinah menjadi kekuatan baru yang memiliki sistem yang baik, tidak mudah dijatuhkan, dan memiliki strategi militer yang matang. Dalam Tahdzib Ibnu Hisyam, setelah perang Khaibar banyak kabilah yang mengajukan perdamaian kepada Rasulullah, karena mereka sadar akan kekuatan umat Muslim.
Dari sisi ekonomi, dampak jatuhnya Khaibar ke tangan umat Muslim bahkan lebih besar. Khaibar sendiri adalah wilayah yang dipenuhi pertanian yang subur, terutama penghasil kurma terbaik di Hijaz. Setelah Rasulullah menang atas Khaibar, Rasulullah menandatangani perjanjian kepada pihak Khaibar yang mana perjanjian tersebut masih memperbolehkan rakyat Khaibar menggarap lahan pertanian mereka dengan syarat membagi setengah hasil pertanian kepada Madinah. Dengan ini membuat finansial Madinah menjadi lebih baik, karena Madinah mendapatkan pemasukan kas negara dan menyediakan suplai makanan kepada umat Muslim dalam jangka waktu yang panjang.
Dampak sosial dan keagamaan juga menjadi bagian penting dalam penaklukan Khaibar, meskipun Khaibar adalah kelompok yang memusuhi Rasulullah sejak lama, tetapi Nabi sendiri tetap menjaga koeksistensi terhadap kedua belah pihak. Penduduk Yahudi Khaibar tidak diusir dan tetap berada di Khaibar, Nabi juga tidak memperlakukan mereka semena-mena, bahkan mereka tetap diperbolehkan menggarap lahan pertanian mereka selama mereka tidak mengkhianati kembali perjanjian yang dilakukan bersama nabi. Ini adalah bukti keadilan yang diterapkan kepada non-Muslim, bahkan setelah memeranginya. Sikap Rasulullah yang mengedepankan stabilitas sosial dan kemaslahatan jangka panjang ini menjadi faktor penting mengapa Khaibar menjadi wilayah yang tenang dan produktif pasca penaklukan. Ini juga bukti bahwa nabi melakukan peperangan tanpa didasari dengan
kebencian, melainkan karena adanya ancaman bagi keberlangsungan dakwah Islam.
Hikmah dan Pelajaran dari Perang Khaibar
Menurut Syekh Ramadhan Al-Buthi, perang Khaibar menunjukan kecerdasaan strategi Rasulullah yang selalu mengedepankan jalan damai sebelum mengangkat senjata. Keputusan beliau berperang adalah karena mengedepankan keamanan dakwah Islam dari berbagai ancaman yang nyata. Ini menegaskan bahwa dalam Islam selalu dibingkai dengan hikmah dan moralitas.
Al-Buthi juga menyoroti keteladanan para sahabat yang tampil dengan penuh keberanian dan kedisiplinan, karena kemenangan ini bukan semata-mata Islam memiliki kekuatan, melainkan dari hasil disiplin, akhlak, dan keikhlasan. Nilai-nilai inilah yang membuat umat Muslim kuat dan relevan sampai kapan pun.
Setelah kemenangan, Rasulullah memilih bagi hasil dengan penduduk Khaibar, bukan
mengusir mereka. Ini merupakan kebijakan dan visi ekonomi yang adil yang diterapkan nabi Muhammad, serta memberikan gambaran bahwa tujuan Islam bukan menghancurkan tetapi dengan menegakkan keamanan, keadilan, dan kemaslahatan bersama.
Perang Khaibar bukan hanya soal kemenangan militer tetapi sebuah kecerdasan Nabi
Muhammad Saw, dan Rasulullah menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah
perpaduan antara ketegasan dan kasih sayang, antara keberanian dan kebijaksanaan.
Melalui perang ini umat Muslim belajar bahwa kemenangan bukan semata-mata untuk mencapai kejayaan, tetapi juga memikirkan dan membangun masa depan yang stabil.
Nilai-nilai yang dapat diambil dari perang Khaibar sangat relevan diterapkan pada masa modern. Ketegasan dalam menghadapi ancaman, kebijakan ekonomi yang adil, disiplin dalam bekerja. Hal tersebut hingga kini bisa menjadi pelajaran hidup. Islam bukan hanya mengajarkan agama, tetapi sistem kehidupan yang sarat dengan strategi, keadilan dan peradaban.
Referensi :
Al-Buthi, Muhammad Sa’id Ramadhan. 1990. Fiqh Sirah Nabawiyah. Beirut: Darul Fikr.
Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2002. Ar-Rahiq Al-Makhtum. Riyadh: Maktabah Darussalam.
Arifin, Yanuar. 2019. Muhammad the Great Leader: Kisah-Kisah Kemulian Nabi Muhammad dan Kepemimpinannya. Klaten: Caesar Publisher.
Bastoni, Hepi Andi. 2010. Belajar dari Perang Khaibar: Strategi Nabi Menentang Yahudi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Ibn Hisyam, Abdul Malik. t.t. Tahdzib Sirah Nabawiyah (Takhrij & Tahqiq oleh Ahmad Syakir). Beirut: Darul Ma’arif.
Kontributor: Aziza Sholahudin, Semester III
