Ma’had Aly Jakarta Gelar Bedah Buku “Caught Between Three Fires”: Kupas Peran Penghulu di Masa Kolonial

saidusshiddiqiyah.ac.id—Pada Kamis (5/2/2026) Ma’had Aly Sa’idushiddiqiyah Jakarta menggelar acara Bedah Buku yang berlokasi di Pendopo Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta. Acara ini dihadiri oleh seluruh Mahasantri aktif, Mahasantri pengabdian, serta staf akademika Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta.

Buku yang dibedah pada kesempatan ini memiliki judul Caught Between Three Fires: Penghulu di Masa Kolonial Belanda (1882-1942) karya Prof. Muhammad Hisyam, MA. yang akan dibedah oleh Ustaz Dedi Slamet Riyadi, M.Ag dan Ustaz Moh. Syafaat, S.Th.I., serta dimoderatori oleh staf Ma’had Aly Jakarta, yakni Ustaz Robiihul Imam Fiddaroini, S.Ag.

Buku tersebut merupakan hasil terjemahan dari kedua narasumber yang mengkaji secara mendalam posisi dan peran penghulu pada masa kolonial Belanda sebagai bagian dari administrasi keagamaan di Indonesia.

Acara dibuka dengan pengantar dari moderator bahwa, “Penghulu yang kita ketahui hari ini hanya sekedar orang yang menikahkan dan mencatat administrasi kenegaraan, ini merupakan hal sepele, teman-teman setiap hari ketemu penghulu dan membutuhkan, tetapi belum tentu tahu bagaimana sejarahnya penghulu dari masa kolonial dan seterusnya. Padahal, jabatan penghulu terbentuk melalui proses sejarah panjang dalam sistem administrasi keagamaan di Indonesia,”jelas Ustadz Robiihul Imam.

Selanjutnya, dalam pemaparannya Ustaz Dedi menjelaskan bagaimana latar belakang riwayat dan maksud dari judul buku tersebut bahwa terjebak atau berada di tengah tiga lidah api, ini seakan-akan mengandung makna yang negatif.

“Teman-teman sejarah itu harus suka menghayal, supaya kita bisa melihat sejarah secara lebih efektif,” tambahnya.

Ustadz Dedi juga menjelaskan bahwa salah satu keistimewaan dari buku ini terletak pada kemampuannya menangkap posisi penghulu yang sangat krusial dalam menjaga keberlangsungan syariat Islam di tengah kekuasaan kolonial. Penghulu berperan sebagai penjaga ketetapan syariat melalui kolaborasi dengan pemerintahan kolonial tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Selain itu, penghulu pada masa lampau merupakan figur ulama yang memiliki tradisi keilmuan kuat, menguasai berbagai disiplin ilmu seperti fikih, ilmu falaq, matematika, bahasa Arab beserta cabang-cabangnya. Pada masa Kerajaan Islam, penghulu bahkan menjadi salah satu dari tiga pilar kekuasaan bersama raja dan adipati.

Menambahkan pemaparannya, Ustadz Syafaat juga menjelaskan bahwa para penghulu pada abad 14-19 M, tidak mengambil peranan di wilayah hukum pidana, tetapi mengambil strategi hukum di wilayah perdata.

“Penghulu terlibat di dalam hidup masyarakat, yaitu terlibat untuk membawa si akad terdaftar memiliki akta lahir, di tengah-tengah penghulu terlibat untuk mencatatkan perkawinan dan perceraian, setalah mati penghulu terlibat juga dalam proses kifayah”, ujarnya.

Pada akhir sesi moderator menyimpulkan bahwa para penghulu dan tokoh agama terdahulu memiliki kapasitas, kapabilitas serta posisi yang strategis. Buku ini membahas sejarah penghulu secara kompleks melalui pendekatan sosial, historis, dan politik.

“Buku ini diteliti langsung di Leiden dari Prof. Hisyam yang diterjemah oleh Ustadz Dedi dan Ustadz Syafaat banyak sekali sumber-sumber yang belum ditemukan. Jadi, teman-teman kalau baca buku ini harus benar-benar jernih dan menganalisis, mengurutkan kroniknya dan kronologi, karena banyak data yang di ambil dari naskah kuno, naskah kerajaan, sebagian dari penghulu jawa sentris, jadi banyak bahasanya”, rangkum Ustadz Robi.

Pewarta: Atikah Sa’diatus Zahra, Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *