saidusshiddiqiyah.ac.id—Ketika kita membayangkan Eropa, yang terlintas dibenak sering kali adalah katedral tua yang megah, alunan musik klasik, dan jalanan bersalju tempat orang berlalu-lalang dalam mantel tebal. Tapi di balik menara-menara gereja dan gedung-gedung berarsitektur gotik, suara adzan kini juga ikut menggema meski pelan, namun pasti. Di sudut-sudut kota seperti Paris, Berlin, dan Rotterdam, ada anak-anak kecil yang membaca Al-Qur’an setelah pulang sekolah, ada perempuan berhijab yang menjadi dosen, arsitek, bahkan anggota parlemen.
Eropa, ternyata, tak lagi seputih yang kita kira. Di balik wajah modern dan sekulernya, tersimpan kisah tentang komunitas Muslim yang bertahan, beradaptasi, dan memberi warna baru bagi peradaban lama. Inilah cerita tentang mereka, tentang perjuangan, penerimaan, dan kontribusi yang tak selalu disorot, namun nyata menghidupkan keragaman Eropa hari ini.
Menjadi Muslim di Eropa: Antara Iman dan Tantangan
Kehadiran Islam dan kaum Muslim di negara-negara barat sebenarnya bukanlah hal baru. Namun, berbeda dengan perjumpaannya dengan Eropa abad pertengahan, di mana Islam dianggap turut andil mengokohkan pilar-pilar rasionalisme, sekularisme, serta modernitas pemikiran barat.
Hari ini, menjadi Muslim di Eropa berarti harus berhadapan dengan pergumulan identitas yang kompleks. Di satu sisi, ada semangat untuk tetap menjaga nilai-nilai keislaman. Di sisi lain, terdapat tekanan sosial dan budaya yang menuntut penyesuaian dengan nilai-nilai barat yang sekuler dan plural. Islamofobia, stereotip negatif, hingga kebijakan publik yang bias terhadap simbol keagamaan menjadi tantangan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah dua kecenderungan umum isolasi dan asimilasi yang sama-sama tidak menguntungkan baik bagi kaum Muslim maupun masyarakat barat, serta berbagai kendala bagi proses integrasi di satu sisi, di sisi lain, jumlah kaum Muslim di barat kian bertambah dari hari ke hari. Karena itu, persoalan apa makna menjadi Muslim di barat menjadi semakin penting bagi Islam dan barat sekaligus.
Meski menjalani rutinitas harian yang normal-normal saja seperti bekerja, mengantar anak, atau berbelanja, Muslim di Eropa kerap menghadapi tantangan tak terlihat. Menyesuaikan waktu salat di sela pekerjaan, mencari makan halal di sekolah, hingga menghadapi diskriminasi terhadap perempuan berhijab di tempat kerja menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Di balik itu semua, ada pergulatan identitas, antara keinginan untuk diterima dan komitmen untuk tetap menjadi diri sendiri.
Sejumlah pakar mengungkapkan kekhawatirannya bahwa apabila insiden islamofobia kembali terulang, stabilitas keamanan khususnya di negara-negara dengan mayoritas umat Islam bisa terganggu. Laporan European Islamophobia Report tahun 2019 yang disusun oleh SETA (Foundation for Political, Economic and Social Research), sebuah lembaga think tank independen yang berbasis di Turki, menuliskan bahwa Muslim yang tinggal di negara-negara Eropa cenderung mendapatkan perlakuan diskriminatif.
Laporan tersebut mengungkap bahwa jumlah insiden kebencian terhadap Muslim dan ketakutan terhadap orang asing mengalami peningkatan yang signifikan, terutama menjelang dan pasca pemilihan umum di parlemen Eropa. Selain itu, laporan juga menyoroti meningkatnya popularitas partai-partai ultranasionalis di beberapa negara sebagai salah satu indikator menguatnya sentimen anti-Muslim di Eropa.
Jumlah insiden kebencian pada muslim dan ketakutan pada orang asing juga meningkat kala itu. “Pemilihan umum di parlemen Eropa dan beberapa parlemen nasional memperlihatkan peningkatan popularitas partai ultranasionalis di beberapa negara,” demikian menurut temuan laporan riset tersebut.
Islamofobia dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari pelecehan verbal hingga kekerasan fisik. Di tempat kerja, sekolah, dan ruang publik, umat Muslim sering kali menjadi sasaran komentar bernada kebencian, diskriminasi dalam kesempatan kerja, dan pengucilan sosial. Dampak islamofobia sangat mendalam bagi warga dan komunitas Muslim. Rasa takut dan tidak aman menjadi hal yang sering dirasakan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah dengan tingkat kebencian yang tinggi.
Di balik itu semua, ada pergulatan identitas antara keinginan untuk diterima dan komitmen untuk tetap menjadi diri sendiri. Namun, gambaran penuh prasangka ini seolah menghapus jejak panjang sejarah Islam yang justru pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan peradaban Eropa itu sendiri.
Menurut Tariq Ramadan, meskipun kerap luput dari pantauan media yang lebih suka menyoroti sisi negatif, saat ini tengah terjadi apa yang ia sebut sebagai “revolusi dama” (silent revolution) di kalangan komunitas Muslim barat. Dari hari ke hari, semakin banyak kaum muda dan intelektual muslim yang berupaya menjaga kesalehan pribadi sembari aktif berkontribusi dalam masyarakat tempat mereka tinggal. Fenomena ini menunjukkan bahwa menjadi muslim di Eropa bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang bertransformasi dan membentuk wajah baru keberagaman yang inklusif.
Lebih dari Sekedar Minoritas: Peran Muslim dalam Membentuk Eropa Masa Kini
Padahal, jika menengok ke belakang, sejarah mencatat bahwa Islam bukanlah unsur asing bagi Eropa. Sebaliknya, ia pernah menjadi bagian penting dalam membentuk wajah peradaban barat melalui kontribusinya di bidang ilmu pengetahuan, filsafat, seni, hingga arsitektur. Kenyataan ini seolah terlupakan di tengah gelombang prasangka dan penolakan terhadap umat muslim hari ini.
Pengaruh Islam terhadap budaya Eropa di masa lalu sangatlah signifikan dan mendalam. Dari perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat, seni, hingga arsitektur, kontribusi peradaban Islam membentuk dasar peradaban Eropa modern. Selain itu, interaksi antara dua budaya yang berbeda ini menciptakan jembatan pemahaman yang saling menguntungkan. Dalam konteks ini, kita dapat melihat bahwa peradaban manusia adalah hasil dari kolaborasi dan pertukaran ide yang berkelanjutan.
Peradaban Islam tidak hanya menciptakan pengetahuan baru, tetapi juga berperan dalam pelestarian karya-karya klasik dari peradaban Yunani, Romawi, Persia, dan India. Ini membantu menjaga warisan budaya manusia dan memfasilitasi penyebaran kembali pengetahuan klasik ini ke Eropa Barat selama abad pertengahan.
Peradaban Islam sejak awal dikenal sebagai pelopor dalam pendidikan dan pembentukan pusat-pusat pembelajaran yang inklusif. Universitas seperti Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko yang dianggap sebagai salah satu universitas tertua di dunia. Menjadi bukti nyata komitmen Islam terhadap pencairan ilmu dan pengembangan intelektual. Tak hanya itu, peradaban Islam juga menjunjung tinggi nilai toleransi terhadap berbagai keyakinan dan budaya. Iklim keterbukaan ini menciptakan ruang bagi pertukaran ide lintas agama dan etnis, sehingga memperkuat tradisi dialog antar kebudayaan yang menjadi pondasi penting bagi Eropa masa kini yang multikultural.
Melihat kontribusi historis peradaban Islam dalam membangun pondasi intelektual dan budaya Eropa, serta perjuangan komunitas muslim hari ini dalam mempertahankan iman sekaligus berkontribusi di tengah masyarakat, tampak jelas bahwa Islam bukan hanya bagian dari masa lalu Eropa, melainkan juga bagian penting dari masa kininya. Melalui semangat belajar, keterbukaan, dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal, umat muslim turut menghidupkan kembali warisan keragaman yang menjadi denyut peradaban Eropa sejak dahulu. Di balik tantangan yang mereka hadapi, tersimpan kisah tentang daya tahan, integrasi damai, dan kontribusi nyata, bahwa menjadi muslim di Eropa hari ini bukan sekedar soal bertahan, tapi tentang harus memberi makna bagi wajah Eropa yang semakin plural dan inklusif.
Referensi:
Anisa, Darania. 2020. Hegemoni Wacana Islamophobia. Bogor: Guepedia.
Damayanti, Rizki. 2024. Kawasan Islam Kontemporer, Dinamika Integrasi, Tantangan Multikulturalisme, dan penguatan Diplomasi Global. Yogyakarta: CV Bintang Semesta Media.
Esposito, John L., 2010. Masa Depan Islam: antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat, terj. Eva Y. Nukman dan Edi Wahyu SM. Bandung: Mizan.
Markus, Sudibyo. 2019. Dunia Barat dan Islam “Cahaya di Cakrawala”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ramadan, Tariq. 2004. Western Muslims and the Future of Islam. Oxford University Press.
Salwa Salsabila, Syarifah. 2008. Islam, Eropa, & Logika. Yogyakarta: Panembahan Yogyakarta.
Eren Tatari. December 2006. “Review Article: Muslims in the West,” Journal of Muslim Minority Affairs. Vol. 26, No. 3,, h. 460.
Kontributor: Atikah Sa’diatus Zahra, Semester V
