saiidusshiddiqiyah.ac.id—Setelah kemenangan gemilang kaum Muslimin dalam peristiwa Fathu Makkah pengaruh dan kekuatan Islam semakin meluas di Jazirah Arab. Kaum Quraisy yang dulu menjadi musuh utama nabi Muhammad kini tunduk dan menerima ajaran Islam, namun kemenangan ini belum berarti seluruh wilayah arab menerima dakwah Rasulullah SAW, masih ada kabilah-kabilah yang merasa terancam dengan semakin membesarnya kekuasaan kaum Muslimin, terutama dari suku-suku yang tinggal di sekitar Thaif, yaitu suku Hawazin dan Tsaqif. Suku Hawazin adalah salah satu kabilah besar dan terpandang di arab mereka memiliki kekuatan militer yang tangguh dan terkenal sebagai penunggang kuda ulung. Bersama suku mereka, dari suku Tsaqif mereka memandang keamanan kaum muslimin di Mekkah sebagai ancaman serius terhadap sumber daya mereka.
Dalam pandangan mereka, bila kaum Muslimin di biarkan tumbuh kuat maka kekuasaan tradisional suku suku Arab akan tergeser sepenuhnya. Karena itulah, sebelum kaum Muslimin sempat mengonsolidasikan kekuatan pasca Fathu Makkah pasukan Hawazin dan Tsaqif segera menyusun kekuatan untuk menyerang kaum Muslimin. Mereka berangkat dengan membawa seluruh kekuatan yang mereka miliki, bahkan membawa keluarga, wanita dan harta benda mereka ke medan perang sebagai bentuk keyakinan bahwa mereka pasti menang. Pasukan Hawazin dan Tsaqif di pimpin oleh Malik bin Auf an-Nashri seorang pemimpin muda yang penuh semangat dan keberanian.
Jalannya Pertempuran
Rasulullah SAW segera mempersiapkan barisan kaum muslimin setelah mendapat kabar dari intelijen tentang pergerakan pasukan musuh, beliau memimpin langsung pasukan muslimin yang berjumlah sekitar 12.000 pasukan. 10.000 personil adalah pasukan yang ikut bersama Rasulullah dalam penaklukan Makkah sedangkan yang 2.000 lagi dari kalangan Quraisy yang baru masuk Islam, jumlah ini termasuk jumlah terbesar yang pernah dikumpulkan umat Islam dalam sebuah pertempuran. Namun kekuatan besar ini sempat menimbulkan ujian keimanan di kalangan sebagian kaum muslimin, beberapa orang sempat merasa yakin bahwa kemenangan pasti berada di pihak mereka karena jumlah pasukan yang besar. Mereka berkata “Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah.” Pernyataan ini menunjukan adanya kepercayaan pada jumlah bukan pada pertolongan Allah dan hal ini akan menjadi pelajaran penting dalam jalannya perang nanti.
Pertempuran terjadi di lembah Hunain, Sekitar 25 km dari Makkah menuju Thaif. Al-Waqidi (kitab al maghazi) menjelaskan bahwa pasukan Muslimin di sergap oleh panah-panah dari suku Hawazin yang telah bersembunyi di celah-celah lembah. Serangan mendadak ini membuat sebagian pasukan muslimin kocar kacir.
Sebagian besar pasukan Quraisy yang baru masuk Islam langsung mundur dan melarikan diri. Bahkan beberapa sahabat yang lama bersama Rasulullah pun sempat terpukul mundur karena situasi sangat genting. Dalam keadaan kacau itu, hanya segelintir sahabat yang tetap bertahan di sisi Rasulullah Saw. Namun beliau tidak mundur sedikit pun. Dengan keberanian luar biasa, beliau turun dari tunggangan dan berseru,
“Wahai hamba-hamba Allah! Aku adalah Rasulullah, Muhammad bin Abdullah!”
Suara lantang Rasulullah dan seruan pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, menggugah semangat pasukan yang sempat mundur. Abbas memanggil satu per satu kaum Anshar dan Muhajirin agar kembali ke barisan. Seruan itu membangkitkan kesadaran mereka hingga pasukan Muslimin mulai kembali mengelilingi Rasulullah dan membentuk barisan pertahanan.
Bangkitnya Pasukan Muslimin dan Turunnya Pertolongan Allah
Ketika pasukan inti kembali berkumpul, keadaan mulai berubah. Rasulullah Saw memimpin langsung serangan balasan. Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman dan menguatkan mereka. Barisan musuh yang sebelumnya dominan mulai goyah, kemudian pecah, hingga akhirnya melarikan diri meninggalkan harta, perkemahan, dan keluarga mereka. Akhirnya kemenangan besar pun akan diraih, namun kemenangan itu mengandung pelajaran mendalam sebagaimana ditegaskan dalam Surah At-Taubah ayat 25
قَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍۢ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْـًۭٔا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ ٢٥
Artinya: “Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam banyak medan pertempuran dan (juga) pada perang Hunain, ketika banyaknya jumlahmu membuatmu kagum, tetapi jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, lalu kamu berbalik ke belakang melarikan diri”.
Ayat di atas menjelaskan bahwa jumlah banyak tidak memberikan manfaat, dan kemenangan sejati hanya datang dari Allah.
Pengepungan Thaif
Setelah kemenangan di Hunain, sisa-sisa pasukan musuh dari suku Tsaqif melarikan diri ke kota Thaif, kota yang memiliki benteng kokoh dan pasukan terlatih. Rasulullah Saw memutuskan untuk melanjutkan operasi militer dengan mengepung kota tersebut.
Thaif terkenal sebagai kota yang makmur dan strategis, serta memiliki pertahanan yang sangat kuat. Pasukan Islam mencoba berbagai strategi, termasuk membangun manjaniq, yaitu alat pelontar batu besar teknologi baru bagi umat Islam pada saat itu. Mereka juga membuat perisai dari kulit dan logam untuk menahan serangan panah dari atas tembok.
Namun benteng Thaif sangat sulit ditembus. Setelah beberapa minggu pengepungan, Rasulullah Saw menilai bahwa melanjutkan pertempuran akan menguras tenaga pasukan dan logistik. Akhirnya beliau memutuskan untuk mundur dengan tenang. Keputusan ini bukan karena kelemahan, tetapi bentuk kebijaksanaan strategi seorang pemimpin yang tahu kapan harus berhenti demi kemaslahatan yang lebih besar.
Beliau juga menunjukkan etika perang yang tinggi, tidak merusak harta benda penduduk secara berlebihan dan tidak memperlakukan musuh secara kejam. Rasulullah Saw bahkan menyeru para budak Thaif yang ingin masuk Islam untuk dimerdekakan, sehingga beberapa orang pun keluar dari benteng dan memeluk Islam.
Ghanimah Hunain dan Ujian bagi Kaum Anshar
Setelah mundur dari Thaif, Rasulullah Saw dan pasukannya kembali ke Ji’ranah, tempat harta rampasan perang dari Hunain disimpan. Jumlahnya luar biasa besar: puluhan ribu unta, kambing, perak, serta ribuan tawanan wanita dan anak-anak.
Sebelum dibagikan, datang delegasi dari suku Hawazin yang memohon agar tawanan dan harta mereka dikembalikan. Rasulullah Saw mempertimbangkannya dengan bijak dan bersabda: “Yang menjadi bagian keluargaku akan kukembalikan, dan untuk bagian kaum muslimin, aku serahkan keputusan kepada mereka.”
Beliau kemudian mengajak seluruh sahabat bermusyawarah. Sebagian besar sahabat dengan lapang dada setuju mengembalikan tawanan dan harta itu kepada Hawazin. Inilah contoh nyata bahwa Islam mengajarkan musyawarah, empati, dan keadilan bahkan terhadap bekas musuh.
Namun ujian baru muncul saat pembagian harta rampasan. Rasulullah Saw memberikan bagian besar kepada tokoh-tokoh Quraisy yang baru masuk Islam, seperti Abu Sufyan dan Muawiyah. Tujuan beliau adalah untuk menguatkan hati mereka dalam keimanan (mu’allafatu qulubuhum). Sebagian kaum Anshar merasa tidak puas karena mereka tidak mendapat bagian yang sama.
Mengetahui hal itu, Rasulullah Saw mengumpulkan kaum Anshar dan menasihati mereka dengan kata-kata penuh cinta:“Wahai kaum Anshar, apakah kalian tidak rela orang-orang kembali membawa harta, sementara kalian pulang bersama Rasulullah ke rumah kalian?” Mendengar itu, kaum Anshar menangis tersedu-sedu, menyadari betapa mulianya kedudukan mereka di sisi Rasulullah Saw. Ujian ini menunjukkan bahwa keikhlasan dalam kemenangan jauh lebih berat daripada kesabaran dalam kekalahan.
Thaif dan Hawazin Masuk Islam
Meskipun Thaif tidak jatuh saat pengepungan, kekalahan dalam Hunain membuat dua suku besar Hawazin dan Tsaqif mulai melemah. Hawazin lebih dulu datang menyatakan Islam, disusul Thaif pada tahun 9 Hijriah. Delegasi Tsaqif sempat mengajukan syarat-syarat agar tetap dapat menyembah berhala dan bebas dari salat, namun Rasulullah Saw menolaknya secara tegas. Mereka akhirnya menerima Islam sepenuhnya. Berhala-berhala Tsaqif, termasuk Al-Lat yang terkenal, dihancurkan. Sejak itu Thaif menjadi bagian dari wilayah Islam.
Hikmah Spiritual dan Moral Perang Hunain
Perang Hunain memberikan pelajaran berharga dalam sejarah Islam: kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah pasukan, tetapi oleh kesiapan mental, ketepatan strategi, dan kesadaran spiritual. Kekalahan mendadak di awal perang bukanlah akhir, melainkan permulaan bagi kemenangan besar yang mengukuhkan kekuatan Islam.
Fase-fase yang dilalui pasca kekalahan mulai dari konsolidasi pasukan, serangan balasan, pengejaran strategis, hingga pengepungan Thaif semuanya menunjukkan kedewasaan militer kaum Muslimin. Kemenangan Hunain sekaligus menjadi titik penting yang mempercepat proses penyatuan jazirah Arab di bawah naungan Islam.
Dengan demikian, Perang Hunain bukan hanya catatan sejarah pertempuran, tetapi juga contoh hidup tentang bagaimana kebijaksanaan, keteguhan, dan ketundukan kepada Allah mampu mengubah kekacauan menjadi kemenangan amanah yang monumental.
Referensi
Al-Mubarakfuri, Shafiyyurrahman. 2001. Sirah Nabawiyyah. Terj. Hanif Yahya, Lc. et. al.Sunt. Abu Bakar Muhammad Altway, Lc. et. Al. Jakarta: Darul Haq.
Al-Buthy, Said Ramadhan. 2009. The Great Episodes Of Muhammad Saw. Terj. Fedrian Hasmand MZ.Arifin, dan Fuad SN. Sunt. Dedi Ahimsa dan M. Husnil. Jakarta Selatan: Noura Books.
Harun, Abdussalam Muhammad. 1989. Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam. Terj. Irwan Raihan. Sunt. Shofura M. Zuhda dan Aminah Sholihah. Sukoharjo: Al-Qowam.
Ridha, Muhammad. 2021. Perang Hunain dan Perang Tabuk. Yogyakarta: Hikam Pustaka.
Aizid, Rizem. 2015. Para Panglima Perang Islam. Yogyakarta: saufa.
Harianto, Y. A. (2022). Teknik Persuasi Nabi Muhammad Kepada Kaum Anshar Dalam Pembagian Ghanimah Perang Hunain. Jurnal Lentera: Kajian Keagamaan, Keilmuan dan Teknologi, 21(1), 1-15.
Akbar, T. M. W. (2023). Perang Badar dan Perang Hunain dalam Al-Qur’an (Studi Kisah Surat Ali-Imran Ayat 123-124 dan At-Taubah Ayat 25-27) (Doctoral dissertation, Institut Agama Islam Negeri Langsa).
Kontributor: Ani Fitriani
