saiidusshiddiqiyah.ac.id—Suku Tatar Krimea merupakan salah satu kelompok etnis yang memiliki sejarah panjang di Eropa Timur, dengan akar budaya yang erat terkait dengan agama Islam. Mereka berasal dari semenanjung Krimea, wilayah yang kini menjadi bagian dari Ukraina, namun sejak lama menjadi daerah yang penuh gejolak politik dan peperangan. Masuknya Islam ke wilayah Krimea bermula pada abad ke-13, seiring dengan ekspansi Mongol ke kawasan tersebut. Proses Islamisasi menguat pada awal abad ke-14 ketika penguasa Golden Horde, Uzbeg Khan secara resmi mengadopsi Islam sebagai agama negara. Keputusan ini berdampak besar, mendorong suku-suku yang berada di bawah kekuasaannya, termasuk Tatar Krimea, untuk memeluk Islam. Sejak saat itu, Islam tidak hanya berkembang sebagai sistem kepercayaan, tetapi juga menjadi landasan utama dalam struktur pemerintahan, hukum, serta tatanan budaya masyarakat Krimea.
Oleh karena itu, masa Golden Horde menjadi salah satu tonggak penting dalam meletakkan fondasi Islam di Krimea, yang kelak diteruskan oleh Khanate of Crimea. pada abad ke-15, setelah runtuhnya Golden Horde, Khanate of Crimea menjadi negara independen yang dipimpin oleh Dinasti Giray, dan Islam tetap dipertahankan sebagai agama resmi negara. Islam Sunni yang diterima oleh mayoritas penduduk Tatar Krimea, menjadi bagian penting dari identitas mereka. Dalam periode ini, madrasah mulai didirikan, para ulama diundang untuk menyebarkan ilmu, dan jaringan perdagangan Islam menghubungkan Krimea dengan dunia muslim lainnya seperti Anatolia, Persia dan Asia Tengah.
Aliansi dengan Kekhalifahan Utsmaniyah
Namun, perjalanan sejarah Tatar Krimea tidak terlepas dari peran besar kekhalifahan Utsmaniyah. Pada abad ke-15 sampai abad ke-18, Tatar Krimea memiliki hubungan yang erat dengan kekhalifahan Utsmaniyah. Meskipun Khanate of Crimea tetap merupakan negara yang berdiri sendiri, mereka memiliki aliansi yang sangat strategis dengan Utsmaniyah. Hubungan ini dipengaruhi oleh faktor agama, keduanya berbagi kepercayaan yang sama, yaitu Islam sunni. Lebih dari itu, secara politik, Tatar Krimea dan Utsmaniyah memiliki kepentingan yang saling melengkapi, terutama dalam menjaga pengaruh mereka di wilayah Eropa Timur dan Asia Tengah.
Tatar Krimea yang sering berperan sebagai sekutu utama bagi Utsmaniyah, terutama dalam menghadapi ancaman dari kekuatan Eropa lainnya, seperti Rusia. Dalam berbagai pertempuran, pasukan Tatar Krimea yang terkenal akan kemampuan berkuda mereka dan strategi perang yang efektif, sering kali membantu pasukan Utsmaniyah dalam ekspansi wilayahnya. Bahkan, pasukan Tatar Krimea berperan dalam ekspansi militer Utsmaniyah ke wilayah-wilayah yang lebih luas di Eropa dan Asia.
Pengaruh Utsmaniyah terhadap budaya Tatar Krimea sangat besar. Banyak aspek budaya Islam yang diperkenalkan oleh Utsmaniyah, mulai dari arsitektur, pendidikan, hingga seni Islam. Masjid-masjid yang dibangun di Krimea menunjukkan gaya arsitektur yang dipengaruhi oleh tradisi Utsmaniyah.
Namun, hubungan antara Tatar Krimea dan kekaisaran Utsmaniyah juga bukan tanpa tantangan. Seiring dengan ekspansi kekaisaran Rusia yang semakin mendekat ke Krimea pada abad ke-18, peran Utsmaniyah dalam menjaga Krimea menjadi semakin sulit. Ketika Khanate of Crimea akhirnya jatuh ke tangan Rusia pada tahun 1783 di bawah pemerintahan Tsarina Catherine II, pengaruh Islam dan budaya Utsmaniyah di Krimea mulai menurun. Suku Tatar Krimea mulai menghadapi babak baru yang penuh penderitaan, ini menjadi akhir dari kedaulatan Muslim di wilayah Krimea dan awal dari kebijakan asimilasi serta penindasan budaya dan agama.
Penindasan di Bawah Rusia dan Uni Soviet
Pemerintahan Rusia memberlakukan pembatasan terhadap praktik keagamaan Islam. Masjid-masjid ditutup, pendidikan Islam dibatasi, dan tanah-tanah milik suku Tatar asli disita. Tak sedikit dari mereka yang terpaksa meninggalkan kampung halaman dan bermigrasi ke wilayah kekhalifahan Utsmaniyah demi untuk mempertahankan kebebasan beragama. Sehingga terjadi gelombang migrasi besar-besaran pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Lebih dari setengah populasi Tatar Krimea meninggalkan tanah kelahirannya. Hal ini menjadi salah satu penghapusan identitas yang sistematis terhadap komunitas muslim di wilayah tersebut.
Penderitaan Tatar Krimea mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Joseph Stalin. Pada tanggal 18 mei 1944, seluruh populasi Tatar Krimea yang tersisa sekitar 200.000 orang dideportasi secara paksa ke Asia Tengah, khususnya wilayah Uzbekistan, dengan tuduhan kolaborasi dengan Nazi Jerman selama perang dunia II. Deportasi dilakukan tanpa peringatan, dan hanya dalam hitungan jam, keluarga-keluarga Muslim dipaksa naik ke gerbong-gerbong kereta ternak dalam kondisi yang tidak manusiawi.
Perjalanan panjang selama berminggu-minggu itu menyebabkan puluhan ribu orang meninggal sebab kelaparan, dehidrasi dan penyakit. Mereka yang selamat pun harus merasakan diskriminasi di tanah pengasingan, kehilangan hak untuk menggunakan bahasa mereka, menjalankan Agama, dan mengakses pendidikan. Tindakan ini kini diakui oleh banyak sejarawan dan lembaga hak asasi manusia sebagai bentuk dari genosida budaya. Uni Soviet dengan resmi membubarkan republik otonom Krimea dan menghapus semua referensi terhadap komunitas Tatar Krimea dari sejarah resmi negara.
Bangkit Kembali dan Tantangan Kontemporer
Setelah kematian Stalin dan berakhirnya era Uni Soviet pada awal tahun 1990, para pengungsi Tatar Krimea mulai pulang ke tanah leluhur mereka secara massal. Namun, kembalinya mereka tidak disambut dengan tangan terbuka oleh penduduk disana, banyak kesulitan yang mereka hadapi dalam memperoleh kembali tanah mereka serta hak kewarganegaraan. Akan tetapi, semangat dan daya tahan Tatar Krimea tetap kuat, mereka mulai kembali mendirikan masjid, sekolah dan lembaga-lembaga budaya Islam. Bahasa Tatar mulai diajarkan kembali di sekolah-sekolah komunitas. Mereka membentuk sebuah lembaga untuk memperjuangkan hak-hak politik dan sosial mereka di dalam negara Ukraina.
Kondisi kembali berubah pasca aneksasi Rusia atas Krimea pada tahun 2014. Meskipun Rusia menjanjikan kebebasan beragama, dalam praktiknya, komunitas Tatar Krimea kembali menghadapi intimidasi, penangkapan sewenang-wenang dan pembatasan kebebasan sipil. Banyak tokoh masyarakat Tatar ditangkap atau diasingkan karena dianggap menentang pemerintahan Rusia, media dan sekolah-sekolah berbahasa Tatar pun mengalami pengetatan kontrol.
Meski demikian, Tatar Krimea tidak berhenti memperjuangkan hak dan identitas mereka. Dukungan moral dan politik dari komunitas internasional dan dunia muslim menjadi eksistensi. Di tengah tekanan geopolitik, komunitas ini tetap menjadi simbol dari ketahanan dan komitmen terhadap nilai-nilai di Eropa Timur.
Jejak panjang sejarah Tatar Krimea merupakan narasi tentang keyakinan, perjuangan dan keteguhan dalam mempertahankan identitas Islam di tengah-tengah eropa yang terus berubah. Dari masa kejayaan Holden Gorde dan khanate of crimea, hubungan erat dengan kekhalifahan Utsmaniyah, hingga menghadapi penindasan dan pengasingan di bawah Rusia dan Uni Soviet, Tatar Krimea tetap teguh pada jati diri mereka sebagai muslim.
Hari ini, mereka berdiri sebagai bukti bahwa Islam bukanlah pendatang baru di Eropa, melainkan bagian tak terpisahkan dari sejarah benua ini. Mereka bukan hanya mewarisi tradisi keislaman, tetapi juga memperjuangkannya agar tetap hidup dan relevan di masa kini.
Referensi:
Arief, T. 2020. Kekaisaran Utsmaniyah dan Tatar Krimea: sejarah hubungan politik dan agama. Jakarta: Pustaka Indis.
Ilyas, M. 2016. Islam dan Politik di Krimea: sejarah dan perjuangan Tatar Krimea. Bandung: Pustaka Islamika.
Mc Krause, Stanford. Islam: dari invasi mongol ke kekaisaran timurid. Cambridge Stanford Books.
Maksudolgu, Mehmet. The Untold History of Ottoman: Menelusuri Daulah Islamiyyah Terbesar di Dunia dan Pemerintahannya. Jakarta Timur. Pustaka Al-Kautsar.
Setiawan, Y. 2019. Tatar Krimea: sejarah dan identitas Islam di Eropa Timur. Tasikmalaya: Penerbit layung.
Sutrisno, A. 2017. Peran Kekaisaran Utsmaniyah dalam Islamisasi di Krimea. Pustaka Sejarah Timur.
As-Sinan Sofwan. Krimea Negeri Islam yang Hilang. https://www.inilah.com/krimea-negeri-islam-yang-hilang / diakses pada 9 mei 2025 pukul 23.15 WIB.
Sodikin. Pahit Getir Muslim Tatar Krimea. Pahit Getir Muslim Tatar Krimea – Islampos/ diakses pada 9 mei 2025 pukul 23.35 WIB.
Kurnialam Alkhaledi. Sejarah Tatar Krimea, Komunitas Muslim di Tengah Perang Rusia-Ukraina. Sejarah Tatar Krimea, Komunitas Muslim di Tengah Perang Rusia-Ukraina | Republika Online/ diakses pada 9 mei 2025 pukul 00.00 WIB.
Kontributor: Fi’liyah, Semester V
Editor: S. Yayu. M
