saidusshiddiqiyah.ac.id—Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta resmi menggelar kegiatan Stadium Generale pada Selasa pagi, (10/02/2026) bertempat di Pendopo Pesantren Asshiddiqiyah. Kegiatan ini mengangkat tema “Filologi dan Turats: Menginovasikan Otentisitas Keilmuan Islam” dan dihadiri oleh para ustadz-ustadzah, mahasantri aktif, serta mahasantri pengabdian Ma’had Aly Jakarta.
Stadium Generale kali ini menghadirkan Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. KH. Oman Fathurrahman, M.Hum., sebagai narasumber utama. Acara dipandu oleh dosen Ma’had Aly, Ustadz Muhammad Abror, S.Ag., M.A., selaku moderator.
Dalam pengantar materinya, Prof. Oman menekankan pentingnya penguasaan ilmu nahwu dan sharaf sebagai fondasi utama dalam mendalami khazanah keilmuan Islam. Beliau mengisahkan perjalanan akademiknya, termasuk perjuangan menghafal Alfiyah Ibnu Malik. “saya dulu sampai menangis hafal alfiyah buat apa cuma buat begini, ujung-ujungnya jadi tukang rokok” ujar beliau. Namun, ketika memasuki dunia filologi, beliau mendapatkan pendampingan yang intensif. Berbekal penguasaan bahasa Arab, Jawi, dan Arab Melayu, beliau pun memperoleh kesempatan beasiswa.
Lebih lanjut, Prof. Oman mendorong para mahasantri untuk sejak dini merumuskan pertanyaan penelitian (research question) atau persoalan yang menarik untuk diteliti. “kalau lagi kuliah, pikirkan apa masalah yang bisa diteliti (research question) apa hal yang menarik. Nanti kalau sudah ketemu problemnya tinggal sharingnya”, jelas beliau.
Ketertarikan beliau terhadap penelitian semakin berkembang setelah bersentuhan langsung dengan manuskrip. Dari manuskrip-manuskrip tersebut, menurutnya, tersimpan khazanah keilmuan Islam yang sangat luas dan belum sepenuhnya digali.
Prof. Oman juga membagikan rumus bagi para peneliti, yaitu membangun diferensiasi dalam bidang ilmu, menghadirkan perspektif yang khas, serta menggunakan perspektif tersebut untuk berdialog dengan beragam disiplin ilmu. Beliau mengutip ungkapan, “Khālif tu‘raf” (berbedalah, maka engkau akan dikenal), sebagai motivasi agar para akademisi berani mengambil jalur keilmuan yang belum banyak diminati. Ia mencontohkan keputusannya memilih jurusan filologi dan meninggalkan beasiswa Islamic Studies pada masanya, ketika bidang filologi belum banyak diminati.
Dalam pemaparannya, Prof. Oman juga menjelaskan bahwa pusat kajian filologi dahulu berada di Leiden, Belanda. Namun, kini semakin banyak peneliti Indonesia yang mengkaji manuskrip Nusantara. “Sekaranglah saatnya Indonesia menjadi pusat dirāsāt al-makhṭūṭāt. Baik dalam kajian sirah nabawiyah, antropologi, maupun disiplin lainnya yang berbasis manuskrip,” tegasnya.
Beliau turut mengutip pernyataan A.H. Johns, (Seorang pakar kajian Islam Asia Tenggara), bahwa karya-karya tersebut menunjukkan bagaimana Muslim Indonesia menulis dalam bahasa mereka sendiri untuk merespons permintaan fatwa dan kebutuhan umat.
Menutup sesi, Prof. Oman berpesan bahwa siapa pun yang ingin memahami sejarah para masyayikh, ulama, dan tokoh-tokoh terdahulu hendaknya mengkaji manuskrip secara langsung sebagai sumber primer keilmuan.
Sebagai penutup, Ustadz Muhammad Abror menyimpulkan “Pada zaman yang serba mudah dan praktis ini, harus memiliki semangat yang kuat seperti Prof. Oman tersebut”, tegas beliau. semangat keilmuan yang kuat seperti yang dicontohkan Prof. Oman menjadi hal yang sangat penting untuk dimiliki.
Kontributor: Atikah Sa’idatus Zahra
