saiidusshiddiqiyah.ac.id—Invasi Mongol pada abad ke-13 M merupakan salah satu ancaman paling besar terhadap eksistensi dunia Islam. Setelah menaklukkan wilayah luas di Asia dan Timur Tengah, pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan menghancurkan Baghdad pada tahun 1258 M, mengakhiri kekhalifahan Abbasiyah secara de facto. Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut lenyap dibumi hanguskan Mongol.
Perpustakaan Baghdad (saat itu Baghdad terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia) yang penuh dengan buku-buku sejarah, kedokteran dan astronomi dan lainnya dijarah dan semua bukunya dilempar ke Sungai Tigris, para saksi mata mengatakan Sungai Tigris berubah warnanya menjadi hitam dikarenakan saking banyaknya buku yang terendam sehingga tintanya luntur.
Hulagu khan berhasil menaklukkan Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad, Kekhalifahan Ayyubiyyah di Suriah dalam masa yang sangat singkat, namun pada akhirnya atas izin Allah, dengan perantara pemimpin terpilih, yakni Saifuddin Quthuz, ia berhasil meluluhlantahkan pasukan mongol. Terhapuslah kemenangan abadi mereka selama ini dalam peperangan yang disebut Perang Ain Jalut atau the Battle of Ain Jalut (Spring of Goliath).
Saifuddin quthuz sendiri ialah wazir dari khalifah Al-Manshur bin Ali al-Muiz, namun dengan hasil musyawarah dari para ulama dan pembesar Mesir pada waktu itu, salah satu nya ialah Syekh Izzudin bin Abdis Salam yang mana mereka melihat ketidakmampuan Sultan al-Manshur karena masih muda dan kondisi Mesir dalam situasi genting, karena berada dibawah bayangan Tartar, maka Quthuz diangkat menjadi Sultan menggantikan al-Manshur dengan gelar al-Malikul Muzhaffar.
Saat Hulagu berada di Syam, ia mengirimkan ultimatum kepada Quthuz untuk mundur dan memberikan Mesir sepenuhnya untuk Mongol. Namun Quthuz bukanlah pemimpin yang lemah, ia tidak mungkin memberikan Mesir semudah itu ke tangan Tartar. Sebenarnya jika dilihat dari jumlah pasukan, sulit bagi Mamluk Mesir untuk berdiri melawan Hulagu dan pasukan besarnnya, namun Allah menurunkan kekuatan-Nya kepada kaum muslimin melalui berbagai perantara.
Pertama, Hulagu meninggalkan Syam dengan terburu-buru menuju ibukota Mongol, karena pada waktu itu dikabarkan kematian khan Agung Monke secara mendadak. Kematiannya akan menimbulkan bibit perpecahan di Mongol antara dua saudara Hulagu, dan secara tidak langsung ia juga sangat menginginkan posisi tersebut. Kepergiannya memberikan secercah harapan bagi Quthuz dan Mamluk Mesir, karena Hulagu membawa pulang sebagian pasukannya, dan hanya meninggalkan sepuluh ribu prajurit yang dipimpin oleh Kitbugha, panglima perang kepercayaan Hulagu khan pada saat itu.
Kedua, berakhirnya aliansi kaum Salibis dan Mongol karena mereka tahu bahwa bangsa Mongol tidak mungkin membiarkan mereka membangun keemiratan sendiri, maka kaum Salibis memilih untuk memihak kepada kaum Muslimin dan ini membuka peluang kaum muslimin untuk meraih kemangan atas Mongol.
Ketiga, datang kepada Quthuz utusan dari Sharimuddin Aibak. Sharimuddin Aibak merupakan salah seorang muslimin yang menjadi tawanan Tartar, kemudian ia menerima tawaran untuk menjadi pelayan Tartar dan bergabung dalam barisan mereka. Ia mengutus seseorang kepada Quthuz untuk menyampaikan informasi penting yamg dibutuhkan Quthuz, juga untuk mengabarkan bahwan dirinya dan beberapa orang tawanan muslimin ikut bersama pasukan Tartar, namun mereka membentuk pasukannya sendiri. Pelayanan tunggal yang ia berikan ini seperti sahabat Nuaim bin Mas’ud pada peperangan Khandaq.
Keempat, Quthuz berhasil memperkuat front internal dan memobilisasi opini publik untuk mendukungnya dan mengamankan sumber daya yang diperlukan selama peperangan berlangsung, dan ia berhasil menarik pangeran Ayyubiyah dan Mamluk Bahri untuk menyatukan barisan Islam di negeri Syam dan Mesir berada dalam satu komando, juga kembalinya kepercayaan penduduk Palestina kepada pemimimpin Islam dengan melihat ketulusan Quthuz saat itu, karena sikap itulah yang membuat mereka datang berbondong-bondong untuk bergabung dengan pasukan muslimin demi menjemput kemenangan pasukan Islam.
Strategi Kemenangan Quthuz
Quthuz telah menyiapkan pasukan nya dengan sempuna. Ia telah menanamkan benih-benih kemanangan pada tentara Mamluk Mesir, seperti mempersiapkan pasukan muslim dengan sebaik-baik perisiapan, mempergagah penampilan personil militer, menyusun barisan sedetail mungkin, dan melatih kemahiran prajurit dalam memelihara persatuan kelompok. Namun mereka juga tak lupa untuk bersujud, bersimpuh kepada-Nya agar diberi kemudahan dan kemenangan atas musuh Allah.
Hari kemenangan Quthuz telah tiba, bertepatan dengan hari Jum’at, tanggal 25 Ramadhan tahun 658 H. Seiring dengan munculnya matahari di ufuk timur, pasukan muslimin mulai melihat dari jauh kerumunan tentara Tartar. Mereka mulai mendakati wilayah A’in Jalut dengan jumlah pasukan yang banyak serta kuat, persenjataan yang lengkap, dan ciri khas wajah mereka yang menyeramkan terlihat dengan jelas oleh pasukan Muslimin.
Quthuz memilih strategi yang belum pernah dikenali bangsa Tartar yaitu dengan menyembunyikan pasukan utamanya dibukit terdekat, dan meminta kepada panglima perang barisan terdepan, yakni Ruknuddin Baybars untuk memimpin pasukanya maju dan langsung berperang menghadapi Kitbugha dan pasukan Tartar. Ketika Kitbugha hanya melihat pasukan depan yang pimpin oleh baybars, ia mengerahkan semua anak buahnya untuk menyerang pasukan Mamluk yang ada di depannya, lantas baybars mundur ke bukit terdekat, sesuai rencana yang telah disiapkan sebelumnya.
Personil militer garis depan muslimin tidak turun dari balik bukit sekaligus, namun mereka menuruninya secara bertahap, dalam format satuan-satuan khusus yang mengundang rasa takjub. Kitbugha pun mengejar mereka. Tidak lama kemudian seluruh tentara Mongol berada dalam genggaman muslimin. Kitbugha dan pasukan Mongol terperangkap dalam perangkap penyergapan yang dipersiapkan untuknya.
Setelah semua kelompok dari pasukan muslim garis depan turun di bawah komando Baybars, sekelompok militer Mamluk lainnya yang bertugas menabuh alat musik muncul memasuki tempatnya. Mereka keluar dengan menabuh gendarang, meniup siput besar dan memukulkan simbal tembaga. Melalui pola tersebut Quthuz mengendalikan pasukan sesuai dengan rencananya.
Kitbugha yang baru sadar akan permainan yang dimainkan Quthuz, hanya bisa menelan kekesalan kepada dirinya, selama ini yang ia lihat hanyalah garis depan dari pasukan muslimin saja, ia tidak sadar sedikitpun bahwa bahwa pasukan inti kaum muslimin bersembunyi dibalik bukit bersama Quthuz. Padahal Kitbugha adalah seorang panglima yang menghabiskan masa hidupnya untuk memimpin peperangan, namun ia bisa dengan mudahnya masuk dalam perangkap Quthuz.
Selanjutnya, Quthuz dan semua pasukan muslimin memasuki daratan Ain Jalut dengan gagah menyusul pasukan terdepan sambil mengibarkan panji-panji Islam. Quthuz memimpin jalanya peperangan, ia bertempur dengan bertempur dengan semangat yang menggelora. Tentara Mamluk bersatu disekelilingnya, lalu melancarkan serangan hebat terhadapap pasukan Mongol. Mereka berjuang dengan gagah berani melawan tentara Tartar mulai dari fajar hingga matahari tepat berada di atas kepala mereka.
Legenda Kehebatan Tentara Tartar Telah Berakhir
Selama jalannya pertempuran, neraca kemenangan dan kekalahan sempat bergoncang beberapa kali; sesekali pihak Mamluk unggul, sesekali pihak Mongol unggul, sampai akhirnyaa kemenangan berada di tangan Mamluk sepenuhnya. Dikatakan, bahwa dalam pertempuran tersebut Kitbugha mati terbunuh oleh Jamaluddin Aqwasy syamsi. Seiring dengan jatuhnya pemimpin utama pasukan Tartar, maka jatuh pula mental personil tentara Tartar. Akhirnya kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran melawan pasukan Mongol dengan kemenagan telak.
Pasukan Tartar yang sebelumnya terlihat mampu mengendalikan medan pertempuran, tiba-tiba berguguran seperti lalat berjatuhan di medan perang. Legenda yang mengatakan “tentara Tartar tak pernah terkalahkan” pun terbantahkan, kehebatannya tumbang dan keperkasaan hilang, dan sekarang bendera Islam berkibar tinggi, sedangkan bendera Tartar jatuh.
Kondisi inilah yang dinantikan kaum muslimin sejak empat puluh tahun silam. Dikatakan bahwa semua personil Tartar yang terlibat dalam peperangan Ain Jalut semuanya mati binasa, tidak ada seorang pun dari mereka yang masih hidup. Sang pahlawan Ain Jalut menuruni kudanya dengan wira’i dan penuh wibawa, kemudian ia meletakkan wajahnya ke tanah, bersujud syukur atas apa yang telah diberikan Allah kepada dirinya juga tentaranya.
Lihatlah..! Tentara Tartar yang menguasai hampir separuh dunia telah binasa di tangan pasukan Muslimin.
Sungguh, pasukan muslimin telah meraih kemenangan yang gemilang dan spektakuler!
Referensi:
As-Sirjani, Raghib. 2019. Sejarah Bangsa Tartar. Diterjemahkan oleh Masturi Irham, Lc. dan H. M. Asmui Taman, Lc. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
Ibnu Katsir. 2018. Al-Bidayah wa an-Nihayah. Diterjemahkan oleh Farid Fahruddin. Jawa Tengah: Penerbit Insan Kamil.
Taqqusy, Muhammad Suhail. 2018. Bangkit dan Runtuhnya Dinasti Mamluk. Diterjemahkan oleh H. Masturi Irham, Lc. dan H. Abdul Majid, Lc. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
As-Suyuthi, Jalaluddin. 2014. Tarikh al-Khulafa. Diterjemahkan oleh Muhammad Ali Nurdin. Jakarta: Qithi Press.
Tim Riset dan Studi Islam Mesir. 2013. Ensiklopedi Sejarah Islam. Diterjemahkan oleh Hamzah Zaelani, dkk. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Alemdar, Saief. 2013. Dalam Dekapan Ramadan. Jakarta Pusat: PT Elex Media Komputindo.
Kontributor: Hilma Hamzani
