saiidusshiddiqiyah.ac.id—Masjid Istiqlal merupakan salah satu lambang kebanggaan nasional Indonesia bagi masyarakat. Kehadirannya bukan hanya sebagai tempat ibadah biasa; Istiqlal mewakili kemerdekaan, persatuan, dan jati diri bangsa. Arti penting ini terlihat dari riwayat berdirinya, desain bangunannya, serta letaknya yang strategis di pusat Kota Jakarta.
Tanggal 22 Februari 1978 adalah hari bersejarah, karena pada hari tersebut masjid ini resmi dioperasikan dan bisa digunakan. Acara itu menandai akhir dari proses panjang mulai dari ide, rencana, sampai pembangunan nyata, sekaligus menegaskan bahwa Indonesia akhirnya punya masjid nasional yang indah dan mewakili bangsa.
Asal Mula Pembangunan
Ide untuk membuat masjid nasional muncul tak lama setelah Indonesia merdeka. Pada 1954, dibentuklah sebuah yayasan bernama Yayasan Masjid Istiqlal oleh para tokoh Islam dan ulama, sebagai langkah pertama untuk mewujudkan impian masjid yang membanggakan bangsa.
Kemudian, pada 22 Februari 1955, diumumkan lomba desain untuk Masjid Istiqlal. Dewan juri lomba ini dipimpin oleh Sukarno, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Indonesia menunjukkan bahwa proyek ini mendapat perhatian serius dari pemerintah sejak dini.
Pemenang lomba adalah Friedrich Silaban, seorang arsitek asal Sumatera Utara yang beragama Kristen Protestan, dengan rancangan bertajuk “Ketuhanan”. Pemilihan Silaban membuktikan bahwa desain masjid nasional lebih menekankan profesionalitas dan visi bersama daripada latar belakang agama atau etnis.
Oleh karena itu, bangunan Istiqlal bukan hanya tentang menyediakan ruang ibadah besar, tapi juga mencerminkan sikap saling menghormati, persatuan, dan komitmen bangsa untuk menghargai keragaman serta membentuk identitas bersama.
Rintangan Selama Pembangunan
Walaupun ide dan rancangan sudah ada sejak pertengahan 1950-an, pembangunan fisik Masjid Istiqlal berjalan lambat. Pemasangan tiang pertama baru dilakukan pada 24 Agustus 1961 oleh Presiden Sukarno menandai awal resmi konstruksi.
Namun, prosesnya kemudian dihadang berbagai masalah: perubahan situasi politik dalam negeri, krisis setelah upaya kudeta, dan masa ketidakstabilan yang mempengaruhi dana serta pengelolaan pembangunan Masjid Istiqlal, yang membuat proyek ini terhenti cukup lama.
Selain itu, juga ada tantangan teknis yang tak mudah untuk dilalui. Dengan ukuran masjid yang luas, desain modern berupa kubah raksasa dan menara tinggi, serta bahan seperti marmer dan baja tahan karat, semua butuh biaya besar, ahli teknik sipil, dan kerja sama antar bidang. Akibatnya, penyelesaian memakan waktu bertahun-tahun.
Karena itu, meski konsep dan desain sudah matang sejak pertengahan 1950-an, bangunan fisik baru selesai di akhir 1970-an, tepatnya diresmikan pada 1978, menunjukkan betapa berliku perjalanannya.
Menjelang Acara Peresmian
Menjelang akhir 1970-an, setelah melewati berbagai rintangan, tahap akhir pengerjaan Masjid Istiqlal mulai rampung: bagian dalam dan luar diperbaiki, kubah besar, menara, ruang utama, lantai, dinding marmer, sampai hiasan besi baja tahan karat dipastikan selesai.
Di tengah semua itu, minat masyarakat terhadap masjid ini semakin tinggi. Setelah menunggu bertahun-tahun, warga Jakarta dan seluruh Indonesia makin antusias menanti menggunakan untuk masjid ini. Bukan sekadar sebagai tempat ibadah, melainkan simbol jati diri dan kemerdekaan. Berbagai media dan kelompok masyarakat menyambut baik kabar peresmian. Harapan besar muncul di masyarakat, bahwa Istiqlal akan jadi pusat spiritual, persatuan, sekaligus tanda toleransi dan kebanggaan nasional setelah proses panjang, mimpi itu akhirnya terwujud.
Hari Peresmian: 22 Februari 1978
Tanggal 22 Februari 1978 adalah titik penting: pada hari itu, Soeharto resmi membuka Masjid Istiqlal untuk digunakan secara publik. Upacara peresmian ditandai dengan pemasangan prasasti di tangga pintu yang dikenal sebagai “As-Salam”.
Momen ini bukan hanya seremoni biasa bagi bangsa Indonesia, itu adalah hari di mana simbol kemerdekaan spiritual dan kebanggaan nasional resmi tegak di tengah ibu kota. Setelah perjuangan lama, Masjid Istiqlal siap jadi rumah ibadah nasional, siap menampung jamaah, berdiri sebagai monumen kemerdekaan dan persatuan. Sejak itu, tanggal 22 Februari ditetapkan sebagai Hari Istiqlal peringatan resmi tahunan kelahiran masjid ini, sebagai cara mengenang proses panjang dan arti besar dari keberadaannya.
Arti Desain dan Filosofi
Bangunan Istiqlal penuh dengan simbolisme. Nama “Istiqlal” sendiri dari kata Arab yang artinya “kemerdekaan” sebagai ungkapan syukur atas kemerdekaan Indonesia. Kubah utama berdiameter 45 meter, angka ini dipercaya sebagai lambang tahun kemerdekaan 1945. Keputusan membuat kubah sebesar itu jelas sengaja, bukan kebetulan. Ruang utama di bawah kubah ditopang 12 pilar besar, dan masjid punya lima lantai, unsur-unsur ini sering diartikan sebagai perwakilan nilai-nilai Islam dan Pancasila; seperti campuran antara identitas agama dan nasional. Menara tunggal setinggi sekitar 96–97 meter melengkapi kesan megah masjid, menjulang sebagai tanda kehebatan dan kehadiran nyata di pusat ibu kota. Yang menarik: arsitek Istiqlal, Friedrich Silaban, bukan Muslim, ia Kristen Protestan. Tapi perbedaan keyakinan itu tidak jadi masalah. Bahkan, pemilihannya menunjukkan semangat pluralisme, toleransi, dan persatuan di antara masyarakat Indonesia yang beragam, bersama membangun jati diri bersama. Dengan begitu, desain Istiqlal bukan hanya tentang struktur bangunan, tapi juga pesan moral dan sosial: kemerdekaan bukan sekedar politik, tapi juga spiritual dan sosial, rumah ibadah besar ini dibuat untuk semua, sebagai lambang persatuan dan toleransi.
Pengaruh Setelah Peresmian
Sejak diresmikan, Istiqlal berperan sebagai pusat aktivitas keagamaan, bukan hanya tempat ibadah sehari-hari, tapi juga salat jamaah Idul Fitri, Idul Adha, pertemuan umat Islam, dakwah, dan pendidikan Islam. Masjid ini juga menjadi basis berbagai organisasi Islam serta tempat kegiatan sosial.
Di luar fungsi agama, Istiqlal berkembang sebagai simbol toleransi dan diplomasi antaragama serta antarbangsa. Lokasinya yang dekat dengan Gereja Katedral Jakarta, dalam jarak yang mudah dijangkau, menyampaikan pesan kuat tentang kerukunan dan harmoni antar umat beragama di Indonesia. Selain itu, Istiqlal sekarang jadi salah satu tujuan wisata religi dan sejarah terpopuler di Jakarta. Banyak turis lokal maupun asing datang, tertarik pada arsitektur indah, riwayat panjang, dan makna simbolis di baliknya. Dengan semua peran dan arti itu, Istiqlal sudah melampaui sekadar bangunan, ia jadi bagian dari jati diri nasional, ruang bersama, dan cerminan semangat toleransi serta keragaman Indonesia.
Kesimpulan
Perjalanan dari ide pasca kemerdekaan, melalui lomba desain, rintangan panjang politik dan teknis, sampai akhirnya berdiri sebagai masjid kebanggaan bangsa. Semua itu menunjukkan bahwa Istiqlal tidak dibangun secara sembarangan. Ia dibuat sebagai wujud cita-cita kemerdekaan, persatuan, dan identitas bersama. Sampai sekarang, Istiqlal tetap penting bagi generasi muda: sebagai lambang kemerdekaan, toleransi, dan kebanggaan nasional. Kehadirannya mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang fisik atau politik, tapi juga tentang ruang spiritual dan kebersamaan. Semoga Masjid Istiqlal terus jadi inspirasi bagi banyak orang, menjaga nilai persatuan, toleransi, dan rasa bangga terhadap sejarah bangsa.
Referensi
Aryanti, Tutin & Amanda Achmadi. 2024. “Framing and Visualising Nationhood: Istiqlal Mosque and the Interiority of the Independence Square, Jakarta.” Interiority, Vol. 7, No. 2, hal. 251–272.
Azza, Muhammad Azka Rifqi & Anisa Anisa. 2019. “Kajian Arsitektur Simbolik Pada Bangunan Masjid.” Jurnal Arsitektur Purwarupa, Vol. 3, No. 3, hlm. 213–220
de Vletter, Martin (ed.). 2009. Masa lalu dalam masa kini: arsitektur di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2005. Sejarah dan dialog peradaban: persembahan 70 tahun Prof. Dr. Taufik Abdullah. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Salam, Solichin. 1990. Masjid Istiqlal: sebuah monumen kemerdekaan. Jakarta: Pusat Studi dan Penelitian Islam.Sari Narulita, Humaidi, Rihlah Nur Aulia, Firdaus Wajdi, Umi Khumaeroh, Arip Suprasetio, dan Azry Arvah Hidayat. 2025. Pariwisata Halal: Potensi Wisata Religi di DKI Jakarta. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada – Rajawali Pers.
Kontributor: Cantika, Smt 5
Editor: Rangga
