sa’iidusshiddiqiyah.ac.id—Dalam sejarah panjang peradaban manusia, kepemimpinan seringkali diartikan dengan kekuasaan, dominasi dan peperangan. Namun, dalam empat belas abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW menunjukkan pola pikir atau standar kepemimpinan yang sama sekali berbeda melalui peristiwa Fathu Makkah, sebuah momen bersejarah yang menunjukan akan puncak kemenangan Islam tanpa pertumpahan darah. Di saat umat Islam meraih kemenangan besar, Rasulullah SAW tidak memilih untuk membalas dendam kepada musuh-musuhnya. Justru Sebaliknya, beliau menunjukkan teladan kemanusiaan yang luar biasa dengan memberikan maaf, membangun kembali hubungan yang damai, dan menegakkan keadilan dengan penuh kasih sayang.
Peristiwa ini bukan hanya menjadi bagian penting dalam sejarah Islam, tetapi juga menjadi contoh nyata kepemimpinan yang damai dan berakhlak mulia. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk dunia masa kini yang masih dipenuhi dengan berbagai konflik, perpecahan, dan krisis moral.
Nilai-nilai kepemimpinan damai yang diperlihatkan Rasulullah SAW dalam peristiwa Fathu Makkah menunjukkan bahwa kekuatan seorang pemimpin sejati bukan terletak pada kemampuan mengalahkan musuh, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri dan menciptakan perdamaian. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kemenangan yang hakiki bukanlah ketika seseorang mampu menaklukkan wilayah, melainkan ketika ia mampu menyentuh hati manusia dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah memaafkan para pemimpin Quraisy yang dulu menentang dan menyakiti kaum Muslimin, bahkan memberikan jaminan keamanan bagi seluruh penduduk Mekah.
Dari peristiwa itu, kita bisa menemukan banyak nilai penting yang dapat dijadikan contoh dan pedoman bagi kepemimpinan di masa sekarang, yakni:
- Nilai Memaafkan
Rasulullah SAW menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh dikuasai oleh dendam. Meskipun beliau dan para sahabat pernah mengalami penindasan berat di Mekah, saat kemenangan diraih, beliau justru memaafkan musuh-musuhnya. Kalimat beliau yang terkenal, “Pergilah, kalian bebas,” menjadi simbol puncak kemanusiaan dan kasih sayang dalam sejarah kepemimpinan dunia. Sikap ini mengajarkan bahwa kekuatan moral lebih berharga daripada kemenangan fisik.
- Nilai Keadilan dan Empati
Rasulullah SAW tidak hanya memaafkan, tetapi juga menegakkan keadilan dengan sangat bijak. Beliau tidak menghapus hukum, namun menegakkan keadilan dengan penuh rasa kemanusiaan. Keadilan yang ditegakkan oleh Rasulullah selalu disertai empati, karena beliau memahami latar belakang dan kondisi manusia yang dihadapinya. Pendekatan yang lembut dan penuh kasih sayang membuat banyak orang akhirnya menerima kebenaran dengan sukarela.
- Nilai Tanggungjawab dan Pelayanan
Rasulullah SAW juga memandang kepemimpinan sebagai amanah, bukan alat untuk memuaskan ambisi pribadi. Dalam peristiwa Fathu Makkah, beliau tidak menganggap diri sebagai penakluk, melainkan sebagai pelayan umat yang bertugas menebar rahmat. Ketika beliau memasuki kota Mekah sebagai pemenang, tidak ada sikap angkuh atau rasa ingin membalas dendam. Rasulullah SAW tetap tampil sederhana, bahkan menundukkan kepala sebagai tanda syukur dan kerendahan hati. Ia tidak menganggap dirinya sebagai penakluk, melainkan sebagai pembawa rahmat bagi seluruh manusia. Sikap ini menggambarkan esensi dari konsep servant leadership yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan dan pengabdian, bukan pada dominasi.
Nilai ini sangat relevan dengan kondisi kepemimpinan modern saat ini. Di tengah krisis kepercayaan publik, penyalahgunaan kekuasaan, dan menurunnya integritas moral, para pemimpin di berbagai bidang perlu meneladani prinsip Rasulullah SAW memimpin dengan hati dan tanggung jawab moral. Seorang pemimpin sejati tidak hanya memerintah, tetapi juga melayani dan memastikan kesejahteraan orang-orang yang ia pimpin.
- Nilai Komunikasi dan Diplomasi Damai
Sebelum peristiwa Fathu Makkah terjadi, Rasulullah SAW telah membangun komunikasi yang baik dengan berbagai kelompok melalui perjanjian Hudaibiyah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa dialog dan diplomasi adalah jalan utama menuju perubahan yang berkelanjutan. Dalam dunia modern yang penuh polarisasi, pendekatan serupa dibutuhkan untuk meredam konflik dan menciptakan kerja sama lintas batas.
Demikianlah nilai-nilai yang dapat diambil dari sikap kepemimpinan Rasulullah SAW pada saat Fathu Makkah terjadi. Lalu, apa relevansinya dengan dunia modern saat ini?
Relevansi bagi Dunia Modern
Dunia saat ini masih dipenuhi dengan krisis moral, konflik sosial, dan perebutan kekuasaan. Banyak pemimpin yang terjebak dalam ambisi pribadi dan kehilangan arah kemanusiaan. Di sinilah keteladanan Rasulullah SAW melalui Fathu Makkah menjadi relevan. Prinsip rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) dapat dijadikan dasar dalam membangun tata dunia yang lebih damai, adil, dan berkeadaban.
Kepemimpinan yang damai tidak berarti lemah, melainkan menunjukkan kekuatan sejati yaitu kekuatan untuk menahan amarah, memaafkan, dan mengutamakan kepentingan bersama. Dunia modern sangat membutuhkan pemimpin seperti ini, yaitu pemimpin yang tidak hanya cerdas secara strategi, tetapi juga matang secara spiritual dan emosional.
Implementasi Nilai Fathu Makkah dalam Kepemimpinan Masa Kini
Nilai-nilai yang tercermin dari Fathu Makkah sejatinya bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan modern, baik dalam politik, pendidikan, organisasi, maupun lingkungan sosial. Dalam dunia kerja, misalnya, pemimpin yang meneladani Rasulullah SAW akan lebih menekankan pada kerjasama daripada kompetisi, keteladanan daripada paksaan, serta keadilan daripada kepentingan pribadi.
Dalam pendidikan, semangat Fathu Makkah mengajarkan pentingnya menumbuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Seorang guru atau pemimpin lembaga pendidikan seharusnya mampu menjadi contoh akhlak dan kedamaian, seperti halnya Rasulullah SAW menjadi sumber keteladanan bagi para sahabatnya.
Selain dalam dunia pendidikan, nilai-nilai Fathu Makkah juga dapat diterapkan dalam kehidupan sosial dan pemerintahan. Dalam konteks sosial, masyarakat modern sering kali dihadapkan pada perbedaan suku, agama, dan pandangan politik yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Teladan Rasulullah SAW saat menaklukkan Mekah menunjukkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk bermusuhan, tetapi justru peluang untuk membangun keharmonisan. Pemimpin masyarakat seharusnya meniru sikap beliau yang mengutamakan dialog, empati, dan penghargaan terhadap setiap manusia tanpa melihat latar belakangnya.
Dalam konteks pemerintahan, nilai kepemimpinan Rasulullah SAW menegaskan bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus digunakan untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan bersama. Seorang pemimpin yang meneladani Rasulullah akan mengutamakan kesejahteraan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai alat untuk memperkuat kekuasaan, melainkan sebagai sarana untuk menebarkan rahmat dan melayani masyarakat.
Sedangkan dalam ranah organisasi, nilai Fathu Makkah dapat diwujudkan melalui budaya kerja yang menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap sesama. Pemimpin yang memiliki jiwa melayani akan lebih mampu membangun kepercayaan tim, menciptakan suasana kerja yang harmonis, dan mendorong produktivitas tanpa tekanan. Prinsip ini sejalan dengan konsep kepemimpinan modern yang menekankan pentingnya emotional intelligence dan transformational leadership, yaitu kemampuan pemimpin untuk menginspirasi, memotivasi, dan membangun rasa saling percaya dalam timnya.
Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, setiap individu dapat menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Sebab, hakikat kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar memerintah orang lain, melainkan mampu mengendalikan diri, menebar kebaikan, dan membawa kedamaian.
Referensi
Saepudin. 2017. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press.
Al-Buraey, Muhammad. 1986. Islam Landasan Alternatif Administratif Pembangunan. Jakarta: Rajawali.
Al- Buthi, Said Ramadhan. 2009. Fiqh as-Sirah. Terj. Syaifudin Nur. Jakarta: Hikmah.
Hisyam, Ibnu. 2015. Terjemah Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. Terj. Nasrudin Albani Muhammad. Jakarta: Akbar Media.
Subarman. 2015. Sejarah Kelahiran, Perkembangan dan Masa Keemasan Peradaban Islam, Yogyakarta: Deepublish.
Pulungan, J. Suyuthi. 2017. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.
Kontributor: Ahmad Nafhan Fathy, Semester IV
