Letnan Kolonel Andi Aziz — kerap dikenal sebagai Andi Azis — menempati posisi yang unik dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam peristiwa Konferensi Malino, dinamika Negara Indonesia Timur (NIT), serta peristiwa Pemberontakan Makassar yang kemudian dikenal sebagai Pemberontakan Andi Aziz (1950). Di satu sisi, ia dipandang sebagai tokoh yang membela kepentingan daerah Sulawesi Selatan. Namun di sisi lain, ia dianggap sebagai pembangkang terhadap pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS).
Siapakah Andi Aziz?
Berdasarkan catatan Seminar Series in Humanities and Social Sciences (2019), Andi Aziz lahir di Simpang Binanga, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, pada 19 September 1924. Ia berasal dari kalangan bangsawan Bugis–Makassar, sebuah kelompok masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam struktur sosial Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Andi Djuanna Daeng Maliungan dan ibunya Becce Pesse. Andi Aziz merupakan anak pertama dari sebelas bersaudara.
Pada usia sembilan tahun, ia dibawa ke Belanda untuk bersekolah dan kemudian menempuh pendidikan militer. Selama Perang Dunia II, Andi Aziz bergabung dengan pasukan Sekutu. Ia terlibat dalam perlawanan bawah tanah serta menjalani pelatihan pasukan khusus di Inggris hingga mencapai pangkat sersan. Setelah Jepang menyerah, ia memilih kembali bertugas di Indonesia demi pulang ke kampung halamannya.
Sekembalinya ke tanah air, Andi Aziz bergabung dengan KNIL dan sempat menjadi ajudan Presiden Negara Indonesia Timur (NIT). Dalam perjalanan karier militernya, ia kemudian menjabat sebagai komandan kompi berpangkat kapten dalam APRIS. Pengalamannya di Eropa membentuk pandangannya yang cenderung mendukung sistem federal. Ia meyakini bahwa kemerdekaan Indonesia seharusnya dicapai secara evolutif (bertahap) bukan melalui revolusi, pandangan yang bertolak belakang dengan semangat perjuangan mayoritas rakyat Indonesia kala itu.
Faktor Penyebab dan Tujuan Pemberontakan Andi Aziz
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya berbentuk negara kesatuan, melainkan federasi dengan berbagai negara bagian. Akar pemberontakan Andi Aziz berawal dari hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) pada akhir 1949. Dalam perjanjian tersebut, KNIL dibubarkan dan NIT disahkan sebagai bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Banyak pihak menilai hasil KMB sebagai strategi Belanda untuk memecah belah Indonesia dan mempertahankan pengaruh kolonialnya.
Andi Aziz menentang kebijakan penyatuan NIT ke dalam RIS. Ia menilai NIT—yang terbentuk pada Desember 1946 dan meliputi wilayah Kepulauan Sunda Kecil (termasuk Bali)—seharusnya tetap berdiri dalam sistem federal. Perbedaan pandangan mengenai bentuk negara inilah yang memicu ketegangan, sebab sebagian rakyat menginginkan negara kesatuan, sementara yang lain mendukung sistem federasi.
Ketegangan semakin memuncak ketika NIT baru menerima kabar penyatuan dengan NKRI pada 4 April 1950. Andi Aziz dan pasukan eks-KNIL menolak rencana kedatangan pasukan APRIS ke Makassar karena khawatir akan mengalami perlakuan diskriminatif dari pimpinan militer pusat. Pasukan eks-KNIL yang bertugas di Makassar merasa tidak dilibatkan dalam transisi militer, sehingga mereka merasa terancam dan cenderung menolak perintah dari pemerintah pusat. Andi Aziz yang saat itu menjabat sebagai komandan militer di Makassar, merasa bahwa pasukan dari Jawa akan mendominasi militer di Sulawesi, sehingga ia dan pasukannya ingin mempertahankan pengaruh mereka. Ketegangan semakin meningkat ketika pasukan APRIS yang dikirim dari Jakarta tiba di Makassar untuk mengambil alih kendali keamanan. Andi Aziz dan pasukannya menolak kedatangan pasukan ini, yang akhirnya memicu pemberontakan pada 5 April 1950.
Jalannya Pemberontakan Andi Aziz
Pada 5 April 1950, Andi Aziz bersama sekitar 500 pasukan eks-KNIL melakukan aksi militer dengan menduduki kantor-kantor pemerintahan dan instalasi militer di Makassar. Mereka menguasai pusat komunikasi sehingga hubungan dengan Jakarta terputus, serta menahan sejumlah pejabat APRIS guna mencegah intervensi pemerintah pusat.
Pemerintah RIS di bawah Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta merespons dengan tegas. Pada 7 April 1950, sekitar 12.000 pasukan APRIS diterjunkan ke Makassar untuk menumpas pemberontakan. Sehari kemudian, pemerintah mengeluarkan ultimatum kepada Andi Aziz agar menyerah dalam waktu 4 × 24 jam atau menghadapi tindakan militer.
Meskipun Andi Aziz sempat berupaya melakukan negosiasi, tekanan militer yang semakin besar membuat posisinya kian terdesak. Pemerintah mengirim Brimob dan pasukan APRIS dari Jawa untuk menekan pemberontakan.
Akhir Pemberontakan Andi Aziz
Pada pertengahan April 1950, Andi Aziz mengakui bahwa gerakan yang ia lakukan dipicu oleh ketidakpuasannya terhadap kebijakan pemerintah RIS, khususnya terkait penataan militer APRIS. Ia menyerahkan diri pada 15 April 1950 dan dipanggil untuk berunding dengan pemerintah pusat ke Jakarta. Namun, terdapat perbedaan versi mengenai waktu dan prosedur penyerahan diri tersebut. Setelah menyerah, ia ditahan dan diadili atas tindakan pemberontakannya. Pasukan eks-KNIL yang masih bertahan di Makassar dilumpuhkan oleh pasukan pemerintah, sehingga pemberontakan ini dapat diakhiri tanpa peperangan besar.
Dalam artikel jurnal Universitas Hasanuddin (Bahtiar, Ansaar, dan Sritimuryati), disebutkan bahwa Andi Aziz menyerahkan diri pada 13 April 1950 dan menyerahkan pistolnya, dengan harapan memperoleh jaminan kebebasan sesuai isi telegram pemerintah. Ia juga diminta mengumpulkan pasukannya, membebaskan semua tawanan, serta mengembalikan senjata yang dikuasai. Permintaan ini disanggupi melalui pernyataan Letkol A.J. Mokoginta. Namun, penangkapan terhadap Andi Aziz setelahnya membuat ia merasa dikhianati, karena kenyataannya tidak demikian, Andi Aziz merasa kecewa dan sakit hati karena setelah menyerah ia kemudian ditangkap dan dipenjara. pemerintah menilai ia telah melewati batas waktu yang ditentukan.
Masa Penahanan dan Akhir Hayat
Andi Aziz menjalani masa penahanan di berbagai tempat: Penjara Wiragunan Yogyakarta selama tiga tahun, kemudian dipindahkan ke Cimahi selama tiga tahun. Di Cimahi ia sempat pula memberontak dengan melucuti penjaga, tetapi dapat ditangkap kembali. Kemudian ia dipindahkan ke penjara Ambarawa. Menurut Andi Aziz ia pernah didatangi oleh utusan Presiden Soekarno untuk menghadap kepada Presiden agar mau menjadi komandan Cakrabirawa tetapi ia tolak. Andi Aziz menjalani hukuman hingga selesai di Jakarta, selama setahun sesudah dilepas ia masih diharuskan melapor kepada pihak berwajib setiap hari Senin. Ia dibebaskan pada tahun 1958. Setelah bebas, ia menetap di Jakarta dan terjun ke dunia bisnis pelayaran bersama Soedarpo Sastro Satono di perusahaan Samudra.
Andi Aziz wafat pada 30 Januari 1984 di Rumah Sakit Husada Jakarta akibat sakit jantung. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Tuwung, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
REFERENSI
ANRI. Peristiwa Andi Aziz. Perpustakaan Arsip Nasional Republik Indonesia. https://perpustakaan.anri.go.id/index.php?id=3629
Detik.com. Pemberontakan Andi Aziz: Latar Belakang, Tujuan, dan Dampaknya. DetikEdu, 26 April 2022. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6052405/pemberontakan-andi-azis-latar-belakang-tujuan-dan-dampaknya
Historia. Andi Aziz, Tambora, dan Hutan. Historia.id, 4 Mei 2024. https://www.historia.id/article/andi-azis-tambora-dan-hutan-6a3nn
INCA.ac.id. Peristiwa Andi Aziz: Pemberontakan Militer di Makassar. INCA, 16 Maret 2025. https://www.inca.ac.id/peristiwa-andi-aziz/
Lampe, M. 2021. “Peristiwa Andi Aziz di Sulawesi Selatan 5 April 1950.” Sinar Santi: Jurnal Sejarah dan Humaniora, Vol. 3, No. 2, hlm. 112–125. https://journal.unhas.ac.id/index.php/SSIHSS/article/view/7623/4103
Matanisa, Petrik. 2009. Peristiwa Andi Aziz: Kemelut Mantan KNIL di Sulawesi Selatan Pasca Pengembalian Kedaulatan. Yogyakarta: Media Pressindo.
PijarBelajar.id. Latar Belakang Pemberontakan Andi Aziz. Pijar Belajar, 3 September 2023. https://www.pijarbelajar.id/blog/latar-belakang-pemberontakan-andi-azis
Sulfika, Sudarman. 2021. Makalah Pemberontakan Andi Aziz. SMK Negeri 1 Pinrang.
Zenius. Pemberontakan Andi Aziz: Latar Belakang, Kronologi, hingga Tokohnya. Zenius Blog, 7 Juli 2022. https://www.zenius.net/blog/pemberontakan-andi-azis/
Kontributor: Syufaeha
