Menelusuri Peristiwa Epik Isra Mikraj Rasulullah Hingga ke Sidratul Muntaha

saidusshiddiqiyah.ac.id— Isra Mikraj merupakan sebuah peristiwa yang menceritakan perjalanan malam hari Rasulullah SAW dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Bait al-Maqdis atau Masjid al-Aqsa di Palestina. Perjalanan tersebut kemudian dilanjutkan dengan menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang sangat agung dan penuh misteri. Di sanalah Nabi Muhammad SAW berjumpa dan berdialog dengan Allah SWT, hingga akhirnya menerima perintah untuk melaksanakan salat lima waktu yang diwajibkan bagi beliau dan umatnya dalam sehari semalam.

Namun, dalam peristiwa Isra Mikraj tersebut juga terdapat berbagai kisah lain yang belum banyak terungkap dan jarang disorot oleh media. Banyak peristiwa menarik yang menyertai perjalanan agung tersebut. Oleh karena itu, marilah kita membahas dan mengulas secara singkat kisah perjalanan Isra Mikraj Rasulullah SAW.

Peristiwa Isra Mikraj bermula ketika Rasulullah SAW berada di dalam Hijr Ismail di Baitullah, Ka’bah. Pada saat itu, beliau sedang berbaring dan ditemani oleh dua orang laki-laki. Tiba-tiba datang Malaikat Jibril bersama Malaikat Mikail serta seorang malaikat lainnya. Mereka kemudian mengangkat Rasulullah SAW dan membawanya ke sumur Zamzam, lalu merebahkannya di sana. Malaikat Jibril memimpin proses pembelahan dada Rasulullah SAW.

Malaikat Jibril membelah dada Rasulullah SAW mulai dari bawah leher hingga bagian perut. Jibril berkata kepada Mikail, “Ambillah sebuah wadah dan isilah dengan air Zamzam. Aku akan membersihkan hati Rasulullah SAW dan melapangkan dadanya.” Jibril kemudian mengeluarkan hati Rasulullah SAW dan mencucinya sebanyak tiga kali. Ia membersihkan segala kotoran yang ada di dalam hati tersebut, sementara Malaikat Mikail dengan setia bolak-balik mengambil dan menyerahkan wadah berisi air Zamzam kepada Malaikat Jibril sebanyak tiga kali.

Selanjutnya, Malaikat Mikail membawa sebuah wadah yang terbuat dari emas yang berisi hikmah dan iman, lalu menyerahkannya kepada Malaikat Jibril untuk dituangkan ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, dituangkan pula nilai kebijaksanaan, ilmu, keyakinan, serta sifat tunduk, patuh, dan pasrah. Kemudian Malaikat Jibril mengembalikan hati Nabi ke dalam dadanya, menutup kembali dadanya seperti semula, serta memberikan tanda kenabian di punggung beliau.

Setelah peristiwa tersebut, datanglah Buraq yang menjadi kendaraan Rasulullah SAW dalam perjalanan Isra Mikraj. Beliau pun berangkat dengan menungganginya. Setibanya di Masjid al-Aqsa, Rasulullah SAW turun dan melaksanakan salat dengan mengimami para nabi lainnya, sementara Buraq diikatkan pada tali pintu masjid.

Pada malam yang sama, setelah Rasulullah SAW melaksanakan salat bersama para nabi, beliau naik ke langit dunia bersama Malaikat Jibril. Malaikat Jibril kemudian meminta izin agar pintu langit dibukakan, dan pintu langit pun dibukakan bagi mereka.

Di langit pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam AS, bapak seluruh manusia. Rasulullah SAW mengucapkan salam kepada Nabi Adam AS, lalu beliau menjawab salam tersebut dan menyambut kedatangannya. Nabi Adam AS pun mengakui kenabian Rasulullah SAW. Pada kesempatan itu, Allah SWT juga memperlihatkan kepada Rasulullah SAW ruh-ruh para syuhada di sebelah kanannya dan ruh-ruh orang-orang yang sengsara di sebelah kirinya.

Selanjutnya, Rasulullah SAW naik ke langit kedua. Malaikat Jibril meminta izin agar pintu langit dibukakan untuk Rasulullah SAW. Di sana, beliau bertemu dengan Nabi Yahya bin Zakaria AS dan Nabi Isa bin Maryam AS. Rasulullah SAW memberi salam kepada keduanya, dan keduanya pun menjawab salam tersebut, menyambut kedatangannya, serta mengakui kenabiannya.

Kemudian Rasulullah SAW naik ke langit ketiga. Di sana beliau bertemu dengan Nabi Yusuf AS. Rasulullah SAW memberi salam kepadanya, lalu Nabi Yusuf AS menjawab salam tersebut, menyambut kedatangannya, dan mengakui kenabian beliau.

Setelah itu, Rasulullah SAW naik ke langit keempat. Di sana beliau bertemu dengan Nabi Idris AS. Rasulullah SAW memberi salam kepadanya, dan Nabi Idris AS pun menjawab salam tersebut, menyambut kedatangannya, serta mengakui kenabiannya.

Kemudian beliau naik ke langit kelima. Di sana Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Harun AS. Beliau memberi salam kepadanya, dan Nabi Harun AS menjawab salam tersebut, menyambut kedatangannya, serta mengakui kenabian Rasulullah SAW.

Selanjutnya, Rasulullah SAW naik ke langit keenam. Di sana beliau bertemu dengan Nabi Musa AS. Rasulullah SAW memberi salam kepadanya, lalu Nabi Musa AS menjawab salam tersebut, menyambut kedatangannya, dan mengakui kenabiannya.

Ketika Rasulullah SAW hendak naik ke langit berikutnya, Nabi Musa AS menangis. Ketika ditanya, “Apakah yang membuatmu menangis?” Nabi Musa AS menjawab, “Aku menangis karena ada seorang nabi yang diutus setelahku, tetapi jumlah umatnya yang masuk surga lebih banyak daripada umatku.”

Kemudian Rasulullah SAW naik ke langit ketujuh. Di sana beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim AS. Rasulullah SAW mengucapkan salam kepadanya, lalu Nabi Ibrahim AS menjawab salam tersebut, menyambut kedatangannya, serta mengakui kenabian Rasulullah SAW.

Setelah melewati tujuh lapis langit, Rasulullah SAW kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Setelah itu, Bait al-Ma’mur diperlihatkan dan dinaikkan untuk beliau.

Selanjutnya, Rasulullah SAW dimikrajkan menuju Allah SWT Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa. Beliau mendekat kepada-Nya hingga jaraknya kira-kira dua busur panah atau bahkan lebih dekat lagi. Pada peristiwa tersebut, Allah SWT mewahyukan kepada Rasulullah SAW kewajiban salat sebanyak lima puluh waktu.

Kemudian Rasulullah kembali hingga di langit keenam, beliau bertemu lagi dengan Nabi Musa AS. Nabi Musa bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang Allah perintahkan kepadamu?” Rasulullah menjawab, ”Lima puluh waktu salat.” Nabi Musa berkata, “Umatmu pasti tidak akan sanggup melakukan itu, kembalilah ke Rabb-mu dan mintalah keringanan untuk umatmu!”

Beliau menoleh ke arah Jibril seakan ingin meminta pendapatnya dalam masalah ini. Jibril pun mengisyaratkan persetujuannya jika beliau memang menginginkan hal itu.

Lalu Jibril membawa Rasulullah naik lagi hingga membawanya ke hadapan Allah SWT untuk yang kedua kalinya. Lalu Allah SWT mengurangi perintah waktu salat menjadi 10 waktu. Kemudian, beliau turun hingga bertemu dengan Nabi Musa lagi. Lalu Nabi Musa menanyakan berapa jumlah waktu salat yang diperintahkan Allah SWT kepada Rasulullah. Beliau pun menjawabnya bahwa Allah memberikan keringanan untuk umatnya menjadi perintah 10 waktu salat. Kemudian Nabi Musa meminta kepada Rasulullah agar kembali menghadap Allah SWT untuk meminta keringanan lagi. Karena Nabi Musa tahu umatnya Rasulullah tidak akan sanggup menjalani 10 waktu salat dalam sehari semalam.

Rasulullah terus bolak-balik antara Nabi Musa dan Allah SWT, hingga akhirnya Allah SWT menjadikan perintah salat menjadi 5 waktu. Namun Nabi Musa tetap memerintahkan Rasulullah agar meminta keringanan lagi kepada Allah SWT.

Rasulullah pun menjawab, “Sungguh aku malu kepada Rabb-ku. Aku rela dengan apa yang diperintahkan-Nya dan aku menerimanya.

Dalam perjalanan Isra Mikraj ini, Rasulullah melihat dan mengalami kejadian yang bervariasi:

  1. Beliau ditawari susu dan arak, lalu beliau memilih susu. Kemudian dikatakan pada beliau, “Engkau telah diberi petunjuk sesuai fitrah”.
  2. Beliau melihat empat sungai di surga; dua nampak dan dua lagi tersembunyi. Dua sungai yang nampak adalah Nil dan Eufrat, sedangkan dua sungai yang tersembunyi adalah sungai di surga.
  3. Beliau melihat Malaikat Malik sang penjaga neraka yang perawakannya tidak pernah tertawa, di wajahnya tidak ada kegembiraan dan keceriaan. Beliau juga melihat surga dan neraka.
  4. Beliau melihat pemakan harta anak yatim secara zalim. Mereka memiliki bibir seperti bibir unta, bibir-bibir mereka dilempari sepotong api dari neraka seperti batu sebesar genggaman tangan, lalu keluar dari dubur-dubur mereka.
  5. Beliau melihat para pemakan riba yang memiliki perut buncit. Hingga mereka tidak bisa beranjak dari tempat mereka
  6. Beliau melihat para penzina, di antara tangan-tangan mereka terdapat daging yang gemuk dan segar dan di sampingnya terdapat daging yang bernanah dan membusuk. Mereka pun memakan daging yang bernanah dan membusuk tersebut.
  7. Beliau melihat para wanita yang suka membawa masuk para laki-laki asing. Beliau melihat wanita-wanita tersebut bergelantungan pada payudara mereka.
  8. Beliau melihat rombongan peniaga penduduk Mekah sepulangnya dan ketika pergi. Beliau telah  menunjukkan kepada mereka perihal unta mereka yang melarikan diri dan meminum air milik mereka. Air minum ini berada di dalam wadah yang tertutup saat mereka tertidur, lantas beliau meninggalkan wadah tersebut dalam keadaan tertutup. Hal ini menjadi bukti akan kebenaran pengakuan beliau pada pagi hari dan malam Isra.

Sepulangnya beliau dari perjalanan Isra Mikraj, pada pagi hari ketika beliau berada di tengah kaumnya, beliau menceritakan kepada mereka perihal peristiwa Isra Mikraj yang beliau alami. Sontak hal ini pun membuat pendustaan, penyiksaan dan kesadisan terhadap beliau dari kaum Quraisy semakin menjadi-jadi. Demikianlah sikap kaum kafir Quraisy dalam menyikapi peristiwa Isra Mikraj Rasulullah SAW.

Pada momen ini, Abu Bakarlah yang tetap membenarkan peristiwa Isra Mikraj Rasulullah hingga Abu Bakar dijuluki sebagai Ash-Shiddiq (Orang yang selalu membenarkan Rasulullah SAW).

Peristiwa Isra Mikraj ini mengajarkan kepada kita bagaimana kita bisa mengimani dan menerima dengan akal untuk menggambarkannya, maka sesungguhnya mukjizat ini tidak jauh berbeda dengan mukjizat alam semesta dan kehidupan ini. Peristiwa ini juga bisa menjadi tolak ukur seberapa besar iman kita terhadap mukjizat yang dialami Rasulullah dan seberapa besar kita yakin bahwa Rasulullah memang benar utusan Allah.

Referensi

Abdussalam, Muhammad Harun. 2018. Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam. Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

Afifuddin, Muhammad. 2023. Kisah Inspiratif Muslim Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.  Lamongan: CV. Diva Pustaka.

Muhammad bin Alawi bin Abbas Al-Maliki. 2021. Al-Anwar Al-Bahiyyah min Isra’ wa Mi’raj Khair Al-Bariyyah. Yogyakarta: Hikam Pustaka.

Ridha, Muhammad. 2021. Isra’ Mi’raj dan Permulaan Masuknya Islam Kaum Anshar. Yogyakarta: Hikam Pustaka.

Al-Mubharakfury, Syafiyurrahman. 2017.  Rahiq al-Makhtum.  Mesir: Darul Wafa’.

Kontributor: Anggi Purnama, Semester III

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *